Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 11 Desember 2011



NAMANYA mendadak populer, meski sedikit 'terganggu' dengan kepulangan Nunun Nurbaeti yang menderita lupa ingatan. Ya, kita hendak membicarakan Sondang Hutagalung, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno yang memilih cara nekat membakar diri sendiri dalam memperjuangkan misinya. Setelah sempat dirawat di RSCM karena menderita luka bakar lebih dari 90%, Sondang pun mati, Sabtu (10/12) kemarin.

Ada banyak pendapat terkait aksi Sondang. Yang menarik bagi saya, ayahnya sendiri menyayangkan tindakan putranya yang baru berusia 22 tahun itu.

Ini artinya, sebelum bertindak Sondang tidak memberitahu siapa-siapa, mulai dari pacar, teman seorganisasi, termasuk juga orang tuanya. Atau mungkin ia tidak mau niatnya kendor karena orang yang ia beri tahu jelas bakal melarang atau setidaknya menentang? Hanya Sondang dan Tuhan yang tahu.

Terinspirasi Mohammed Bouazizi?
Setahun lalu, tepatnya pada 17 Desember 2010, seorang penjual sayur Tunisia berusia 27 tahun melakukan aksi bunuh diri. Mohammed Bouazizi, nama si penjual sayur tersebut, merasa frustasi dengan kondisi yang terjadi di negerinya. Sebelum menjadi penjual sayur, ia dipecat dari sebuah perusahaan. Ia menjadi penjual sayur karena kesulitan mencari kerja.

Apes, suatu ketika dagangannya dirampas aparat karena tidak memiliki ijin. Ketika ia hendak membayar denda, polisi menampar dan meludahi wajahnya. Tidak terima dengan penghinaan itu, Bouazizi menuntut si polisi. Sayang, tuntutannya diabaikan begitu saja.

Bouazizi pun marah. Bukan saja pada penghinaan yang ia terima, tapi lebih kepada kondisi negerinya yang dicengkeram kekuasan tiran Ben Ali sehingga menyusahkan rakyat kecil sepertinya. Ia pun berbuat nekat dan membakar dirinya sendiri di depan kantor gubernur sebagai bentuk protes.

Kejadian ini lantas menjadi gong pembuka bagi aksi demonstrasi besar-besaran yang kemudian menggulingkan penguasa Tunisia. Revolusi di negeri sebelah utara Afrika ini kemudian merembet ke negara-negara Arab lainnya. Mulai dari Libya hingga ke Syria di Asia. Alan W. Dowd dalam artikelnya di TheMarkNews.com bahkan mengusulkan agar Mohammed Bouazizi dipilih sebagai Time's Person of The Year.

Apakah Sondang terinspirasi aksi Bouazizi? Bisa jadi. Sulit mengorek keterangan tersebut karena orangnya sudah mati. Apakah Sondang sadar aksinya itu bisa merenggut nyawanya sendiri seperti yang terjadi pada Bouazizi? Bisa jadi. Kalaupun tidak sampai mati, jelas membakar diri adalah tindakan mencelakai diri sendiri. Minimal ia bakal cacat permanen di sejumlah bagian vital tubuhnya seandainya selamat kala itu.

Cari Sensasi atau Frustasi?
Bouazizi, aksi bakar dirinya menjadi pemicu revolusi di Tunisia dan negara-negara Arab lainnya.Rasanya bakal sangat menarik untuk mengetahui sejauh mana rencana bakar diri yang direncanakan Sondang. Apakah sekedar menimbulkan buzz dan menjadi pusat pemberitaan, atau sengaja memartirkan diri? Kalau menilik isi pesan singkat yang ia kirim kepada temannya sebelum melakukan aksi tersebut, Sondang sadar risiko yang bakal ia hadapi adalah kematian.

Kalau niat awalnya hanya menarik perhatian, matinya Sondang jelas sebuah tragedi. Sudah banyak aktivis yang mati dalam menjalankan aksinya, tapi mati karena aksi membakar diri sendiri jelas tidak bisa dimengerti. Apalagi kondisi di Indonesia, rasa-rasanya, tak separah di Tunisia. Pun Sondang tak pernah terdengar punya masalah pahit seperti yang dialami Mohammed Bouazizi dengan aparat kepolisian di Tunisia.

Nah, kalau Sondang memang sengaja membakar dirinya sendiri dan pasrah dengan risiko kematian, ini juga mengundang pertanyaan besar. Sudah sedemikian putus asanyakah mahasiswa cerdas dengan IPK 3,7 ini dengan kiprah para penegak hukum dalam memberantas korupsi?

Tidakkah ia menonton program Tokoh di tvOne yang menghadirkan penasihat KPK Abdullah Hehamahua beberapa waktu lalu? Menurut Abdullah, jika KPK tegas dan powerful, Indonesia baru bisa bebas dari korupsi antara 15-20 tahun lagi. Itupun hanya dengan IPK (Indeks Persepsi Korupsi) 9, alias satu angka dari tingkat sempurna.

Banyak orang di luar sana yang mengelu-elukan Sondang Hutagalung dengan aksi bakar dirinya di depan istana pada 7 Desember lalu. Namun, maaf, bagi saya aksi ini sama sekali tidak cerdas. Apalagi bagi seorang mahasiswa ber-IPK 3,7 dengan kehidupan yang jauh dari penderitaan, kecuali--mungkin--penderitaan batin.

Saya rasa masih banyak cara lain yang lebih kongkrit untuk turut aktif memberantas korupsi, bukannya bakar diri dan mati konyol.

Jadi, menyamakan aksi Sondang dengan aksi Bouazizi sama sekali tidak fair. Jangan pula menuntut ketika pengorbanan Bouazizi melahirkan revolusi yang menggulingkan kekuasaan Presiden Ben Ali dan merambat ke negara-negara Arab lainnya, sedangkan di Indonesia aksi Sondang justru menjadi kontroversi.

"In the end we will remember not the word of our enemies but the silent of our friends," begitu kata Martin Luther King. Teman-teman seperjuangannya diam bukan karena takut, tapi karena merasa masih ada banyak cara lain yang bisa ditempuh untuk memberantas korupsi.

Pada akhirnya Sondang Hutagalung hanya akan dikenang sebagai aktivis-mahasiswa yang nekat membakar dirinya sendiri demi apa yang ia sebut 'perjuangan'.

Anyway, rest in peace, Sondang! May God bless you!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

6 komentar:

  1. bukan berarti harus memiliki penderitaan yang dialami di bangsanya bru layak melkukan hal bunuh diri. kalau menurut anda Indonesia blm separah di Tunisia dan blm layak ada yg melakukan hal bunuh diri, dari situlah yang membedakan kita dengan Sondang. kita melihat Indonesia masih wajar berjalan dengan keadaan seperti sekarang ini, tapi menurt Sondang sudah tidak wajar lagi Indonesia seperti ini, terlalu banyak pelanggaran HAM, korupsi dll yang lupt dari perhatian pemerintah justru dipelihara. kalau seandainya "gebrakan" yang dilakukan saudara Sondang tidak berarti apa2, brrti akan tidak berarti apa2 juga la yang akan kita lakukan selanjutnya baik itu demo, mengajak anti korupsi dll tu semuanya akan sia-sia.
    jadi jangan pernah menilai almarhum Sondang karena jelas almarhum lebih PEDULI, RELA BERKORBAN dan BERANI terhadap bangsa ini dibandingkan kita yang tahu akan kematiannya terlepas yg dilakukanya salah atau tidak.

    BalasHapus
  2. @nababan: Terima kasih tanggapannya, Bung. Tapi tolong catat poin saya: masih banyak cara lain yang lebih elegan untuk memperjuangkan keadilan. Bunuh diri itu cerminan keputus-asaan, merasa bahwa apa yang diperjuangkan tidak akan berhasil. Ini saya rasa dipengaruhi usianya yang masih sangat belia.

    Belajarlah dari sejarah. Berapa lama Bung Karno dan rekan-rekannya sesama pejuang yang lain memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kalau mereka bakar diri semua seperti Sondang, akankah Indonesia merdeka? Ingat juga, berapa lama Amien Rais harus menunggu Soeharto lengser sejak ia pertama kali menyampaikan ide tentang suksesi kepemimpinan? Kalau Amien Rais bakar diri waktu itu, akankah ada reformasi?

    Kalau memang bakar diri adalah cara kita menunjukkan kepedulian terhadap korban ketidak-adilan, kenapa Bung yang saya yakini sebagai aktivis juga tidak bakar diri? Mungkin kurang luas dan kurang kuat efeknya kalau yang bakar diri cuma seorang, kenapa tidak semua aktivis bakar diri saja?

    Tapi saya rasa aktivis yang berpikir matang dan dewasa tidak akan melakukan hal itu. Teman-teman seperjuangannya tidak ikut bakar diri bukan karena takut, tapi karena merasa masih ada banyak cara lain yang bisa ditempuh untuk memberantas korupsi, pelanggaran HAM, dan kesewang-wenangan pemerintah. Itu... (yang ini pake gaya Mario Teguh)

    Salam unjuk karya anti unjuk rasa.

    BalasHapus
  3. Lucu, masa iya seorang mahasiswa cerdas dengan IPK 3,7 mau melakukan tindakan yang di Tunisia dilakukan oleh seorang tukang sayur? Be a smart activist donk,,,

    BalasHapus
  4. usianya yang masih muda dan tindakannya mencerminkan sifat yang masih labil dalam menghadapi sebuah masalah,apalagi masalah kenegaraan yang menyangkut rakyat banyak. saya rasa bakar diri sangat salah walau akibatnya bisa membawa perubahan, bakar diri sama saja bunuh diri, apakah kita akan mengelu-elukan dan menjunjung tinggi tindakan bunuh diri? sangat kontras karena bunuh diri tidak dibenarkan oleh semua aspek, tetapi tindakan bunuh diri seseorang yang hanya karena ketidakpuasan pemerintah dihargai sangat tinggi seperti pahlawan. Pahlawan rela berkorban diri dan rela mati ketika dia harus mati melawan dan mengatasi segala rintangan, bukan mati karena tindakan bunuh diri.

    BalasHapus
  5. Saya setuju bahwa tindakan almarhum sangat disayangkan, dimana bunuh diri adalah bentuk keputusasaan yang bertentangan dengan harga diri dari manusia.
    Adalah lebih baik jika dapat meniru jejak dari para pahlawan HAM yang sejati seperti Munir dan pahlawan-pahlawan yang lain..
    Bisa jadi ini dpengaruhi oleh pemikiran dari seseorang yang tidak dipikirkan dengan matang, hanya melihat satu titik tanpa memikirkan keseluruhan konteks permasalahan Indonesia seperti kasus di Libia. Kalau begitu permasalahannya di pola pikir yang dibentuk oleh institusi ataupun oknum tertentu yang diterima tanpa pemikiran yang lebih kompleks dan komprehensif.
    Mari berpikir dan berkarya demi Indonesia yang lebih baik..

    BalasHapus
  6. apapun motivasinya ,, tetap gak setuju dengan pilihan bakar diri tersebut!!

    harusnya dengan kecerdsan yang dia miliki,,
    dia bisa lbh menggunakan logika..
    entahlah....

    hanya tuhan yg tau apa motivasinya.....

    wallahu alam.....

    BalasHapus