Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Kamis, 31 Maret 2011

Keyboard Rusak (Edited Version)


MASIH bingung membaca posting kemarin yang banyak sekali typo alias salah ketik? Ceritanya keyboard komputer saya rusak. Penyebabnya karena saya masih numpang di rumah mertua. Lho, apa hubungannya? Hubungannya adalah, saya tidak punya ruang khusus untuk mengetik. Komputer saya ditempatkan di kamar tidur di mana saya bersama istri dan anak tidur.

Foto: Koleksi pribadi
Si keyboard rusak itu.
Nah, di sinilah penyakitnya. Si kecil Damar sering sekali melihat saya asyik mengetik di depan komputer. Namanya saja anak kecil, lama-lama dia tertarik dengan komputer dan mulai mendekat. Mungkin dia kira mainan. Setiap kali saya lengah keyboard dan mouse dibanting-banting tanpa ampun.

Sekali-dua kali tidak apa-apa. Tapi setelah terlalu sering dibanting keyboard-nya tidak tahan dan rusak. Alih-alih membeli baru, saya coba menyervis keyboard rusak itu.“Jika barang atau alat elektronik rusak, maka tidak langsung membuangnya menjadi limbah atau sampah elektronik yang berbahaya, tetapi berupaya dahulu untuk melakukan perbaikan atau Repair,.”
gogreenindonesiaku.com
Yah, hitung-hitung turut menyukseskan salah satu program dalam 9 Program Go Green Indonesiaku. Toh, masalahnya cuma kabel yang menghubungkan keyboard dengan PC putus. Jadi saya sambung saja kabelnya. Alhamdulillah, problem solved dan keyboard mau menyala lagi.

Eh, walau mau menyala ternyata fungsinya tidak bisa pulih 100%. Sejumlah tuts tidak bekerja seperti seharusnya. Kalau tuts “K” atau “L” diketik, kedua huruf malah muncul bersamaan. Begitu juga dengan tuts “I” dan “O”, “8” dan “9”, “,” dan “.”, serta “<” dan “>”. Begitulah jadinya. Posting kemarin pun jadi aneh begitu.

Nah, sekarang Bung sudah tidak bingung lagi kan?

Selasa, 29 Maret 2011

KLeybioard Rusakl


JANGAN biongung duklu membaca judukl dan juga iosio piostiong ionio yang banyakl seklaklio typio aklioas saklah kletiokl,. Ceriotanya kleybioard kliomputer saya rusakl,. Penyebabnya klarena saya masioh numpang dio rumah mertua,. Klhio,. Apa hubungannya? Hubungannya adaklah saya tiodakl punya ruang klhusus untukl mengetiokl,. Kliomputer saya diotempatklan dio klamar tiodur dio mana saya bersama iostrio dan anakl tiodur,.

Fiotio: KLiokleklsio priobadio
Sio kleybioard rusakl iotu,.
Nah,. Dio sionioklah penyakliotnya,. Sio kleciokl Damar seriong seklaklio mekliohat saya asyiokl mengetiokl dio depan kliomputer,. Namanya saja anakl kleciokl,. Klama-klama dioa tertariokl dengan kliomputer dan muklaio mendeklat,. Mungklion dioa kliorioa maionan,. Setioap klaklio saya klengah kleybioard dan miouse diobantiong-bantiong tanpa ampun,.

Seklaklio-dua klaklio tiodakl apa-apa,. Tapio seteklah terklaklu seriong diobantiong kleybioard-nya tiodakl tahan dan rusakl,. Aklioh-aklioh membeklio baru,. Saya cioba menyervios kleybioard rusakl iotu,.“Jika barang atau aklat eklekltrioniok rusakl, makla tiodakl klangsung membuangnya menjadio kliombah atau sampah eklekltrioniokl yang berbahaya, tetapio berupaya dahuklu untukl meklakluklan perbaioklan atau repaior,.”
gogreenindonesiaku.com
Yah,. Hiotung-hiotung turut menyuklsesklan saklah satu program daklam 89 Priogram Gio Green IOndionesioaklu,. Tioh,. Masaklahnya cuma klabekl yang menghubungklan kleybioard dengan PC putus,. Jadio saya sambung saja klabeklnya,. Aklhamduklioklklah,. priobklem sioklved dan kleybioard mau menyakla,.

Eh,. Waklau mau menyakla ternyata fungsionya tiodakl biosa puklioh 100%,. Sejumklah tuts tiodakl beklerja sepertio seharusnya,. Klaklau tuts “KL” dan “KL” diokletiokl,. Kledua huruf maklah muncukl bersamaan,. Begiotu juga dengan tuts “IO” dan “IO”,. “89” dan “89”,. “,.” dan “,.”,. serta “<>” dan “<>”,. Begiotuklah jadionya,. Piostiong ioniopun jadio aneh begionio,.

Biongung baca piostiong ionio? Nantio deh cioba saya ediot dan diopiostiong klagio besiokl,.

Sabtu, 26 Maret 2011

Belajar dari LPI


KONFLIK sepakbola nasional semakin memanas. Setelah kubu status quo berusaha menjegal langkah Arifin Panigoro dan George Toisutta melalui Komisi Pemilihan, giliran Pemerintah melalui Menpora yang meminta Komisi Banding untuk “mengoreksi” keputusan Komisi Pemilihan tersebut. Ujung ceritanya sudah sama-sama kita ketahui. Komisi Banding malah membatalkan hasil verifikasi Komisi Pemilihan dan mengembalikan mandat kongres kepada Komite Eksekutif PSSI. Kongres pun ditunda, dan rencananya mulai digelar lagi 26 Maret mendatang.

Sungguh sangat disayangkan jika konflik ini terus berlanjut. Imbasnya bahkan sudah dirasakan Timnas U-23 yang akan melakoni laga leg kedua pra-Olimpiade melawan Turkmenistan di Ashgabat, Rabu (9/3) lalu. Pengucuran anggaran untuk Timnas Pra-Olimpiade dari Pemerintah tersendat, membuat Badan Tim Nasional (BTN) terpaksa menalangi seluruh dana operasional yang mencapai Rp 3 miliar (BOLA edisi 2.164).

Saya pribadi sependapat dengan apa yang dikatakan Pemred BOLA, Ian Situmorang, saat diundang tvone dalam program Apa Kabar Indonesia, Ahad (27/2) pagi. Dengan lugas Ian mengatakan, tidak selalu yang kita musuhi itu jelek. Jadi, solusi yang diusulkannya adalah PSSI dan Konsorsium LPI duduk bersama demi menemukan solusi terbaik bagi kemajuan sepakbola Indonesia.

Ilustrasi: Jurnal Perempuan
Nurdin Halid: Tetap ngeyel maju sebagai ketua umum PSSI meski kepemimpinannya "gatot" alias gagal total.
Ya, tidak selalu yang kita musuhi itu jelek. Terkadang justru ada banyak hal positif yang bisa dipelajari dari “musuh”. Dalam kaitannya dengan konflik PSSI vs Konsorsium LPI, secara jujur PSSI harus mengakui kalau LPI memiliki sejumlah hal positif yang bisa mereka adopsi demi meningkatkan kualitas LSI. Saya mencatat setidaknya ada 6 poin positif yang diajarkan LPI kepada PSSI.

1. Nama Klub Peserta Lebih Kreatif
Dalam rubrik Bolamania di BOLA edisi 1.316, 3 Juni 2003, saya sempat mengkritisi nama klub-klub Liga Indonesia yang nyaris seragam. Bahkan ada sejumlah klub yang namanya sama persis: Persiba Bantul dan Persiba Balikpapan, Persis Solo dan Persiss Sorong. Bukankah nama-nama seperti Bogor Raya, Bandung FC, Semarang United, atau Real Mataram lebih enak didengar?

2. Tidak Ada Iklan Rokok
Rokok dan kegiatan olahraga adalah 2 hal yang sangat berlawanan. Maka, iklan rokok di kompetisi sepakbola merupakan sebuah paradoks. Lucunya, sepanjang sejarah Liga Indonesia sponsor utamanya hampir selalu rokok! Selain sponsor utama yang produknya justru membuat tidak sehat, sponsor pendukung biasanya "hanya" perusahaan apparel klub tuan rumah, Bank Pembangunan Daerah setempat, dan koran lokal. Bedakan dengan LPI yang sanggup menggaet sejumlah perusahaan besar dunia seperti Coca Cola atau Microsoft.

Logo Liga Primer Indonesia3. Wasit Asing
Ketika penggunaan wasit asing di LSI masih sekedar wacana, pertandingan LPI, terutama yang disiarkan langsung, sudah memakai wasit luar negeri. Memang hal ini terbukti belum menjadi solusi atas jeleknya kinerja wasit lokal. Beberapa wasit asing yang didatangkan LPI malah dikeluhkan klub peserta. Tapi setidaknya LPI telah mengajarkan bahwa setiap ide itu harus dicoba untuk mengetahui hasilnya. Kini, PT Liga Indonesia sudah mulai menggunakan wasit asing di LSI.

4. Kualitas Siaran Langsung
Saya tidak tahu dengan daerah lain, tapi di kota Yogyakarta (saya 10 tahun di sana) dan Pemalang (tempat domisili saya sejak Mei 2010) siaran langsung LSI yang dipancarkan antv tidak pernah jernih. Ini ditambah lagi dengan host yang masih sering salah menyebut nama pemain dan hanya menyampaikan apa yang juga penonton lihat di layar kaca. Demikian pula dengan komentatornya yang kerap berkomentar secara subjektif.
Bandingkan dengan siaran langsung LPI yang disiarkan oleh Indosiar, Trans TV, dan Trans 7. Ketiga stasiun televisi ini mampu menampilkan gambar yang sangat jernih, serta kualitas host dan komentatornya—menurut saya—sedikit di atas kualitas host dan komentator siaran langsung LSI.

5. Lagu Indonesia Raya
Di LPI, sebelum kick off selalu diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Memang ini bukan aturan baku dalam sebuah pertandingan kompetisi lokal, namun pemutaran lagu kebangsaan sebelum pertandingan sedikit banyak akan meningkatkan rasa nasionalisme. Saya rasa ini hal positif.

Foto: PSSI
Irfan Bachdim: Nasibnya di Timnas bakal terus terkatung-katung akibat konflik PSSI vs Konsorsium LPI.
6. Tidak Menggunakan APBD
Velix Wanggai, salah satu staf Presiden SBY, sempat melontarkan pujian terhadap LPI di media. Poin plus LPI yang menurut Velix patut dicontoh adalah klub-klub pesertanya tidak menggunakan dana APBD. Di LSI, hanya Arema Indonesia, Persib Bandung, dan Semen Padang saja yang tidak dibiayai APBD. Lalu di Divisi Utama mungkin nama Pro Titan bisa disebut. Sampai kapan klub-klub Liga Indonesia lepas dari APBD? Atau, pertanyaan yang lebih tepat mungkin, bisakah klub-klub Liga Indonesia lepas dari APBD?

Selama ini PSSI hanya mengandalkan legalitas setiap membandingkan LSI dengan LPI. Oke, legalitas memang penting. Tapi, apa gunanya legalitas tanpa kualitas? Peringkat 8 besar Asia yang disematkan AFC pada LSI 2 tahun lalu nyatanya tidak terlihat dalam ajang Liga Champions Asia maupun AFC Cup. Bukti teranyar, Sriwijaya FC mampu ditahan imbang 1-1 di kandang oleh VB Sports dari Maladewa.

Jadi, benar kata Ian Situmorang dalam program Apa Kabar Indonesia yang disiarkan tvone, Ahad (27/2) pagi lalu. PSSI, Konsorsium LPI, dan juga Kemenpora harus duduk bersama untuk berdiskusi (bukan berdebat!) dalam kerangka memajukan sepakbola nasional. Bayangkan bila 6 kelebihan LPI di atas dipadukan dengan legalitas dan pengalaman yang dimiliki LSI, akan jadi seperti apa liga domestik Indonesia nantinya?

Salam sepakbola!

Catatan: Tulisan ini saya kirimkan ke rubrik Oposan di tabloid BOLA, tapi tabloid ini--yang nampaknya tidak setuju dengan adanya LPI--tidak memuatnya.

Rabu, 23 Maret 2011

Mejeng Sebentar di Wikipedia


ISENG-ISENG, saya bergabung dengan Wikipedia Indonesia. Niat awalnya sih ingin ikut-ikutan berbagi pengetahuan dengan menuliskan sejumlah artikel seputar dunia blogging, internet, numismatik, dan mungkin juga sepakbola. Paling tidak saya bisa menambah-nambahi artikel yang sudah dibuat member Wikipedia lainnya.

Eh, baru sekejap akun saya aktif, pikiran narsis timbul. Kenapa tidak menulis profil saya sendiri saja? Maka, begitulah, sambil belajar membuat halaman di Wikipedia, saya menuliskan profil diri sendiri. Mulai dari tempat tanggal lahir, masa lalu waktu kecil, sampai cerita masa SMA yang—sekarang saya baru sadar—sama sekali tidak penting diketahui. ^_^

Setelah mengotak-atik template Wikipedia dan menuliskan teks panjang lebar selama lebih dari 1 jam, jadilah halaman profil saya di Wikipedia. Ya, sama seperti profil sosok-sosok pujaan saya (Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, Will Smith, Steven Gerrard, dan tentu saja Nabi Muhammad) di situs ensiklopedia bebas rintisan Jimmy Wales itu. Alamat URL-nya http://id.wikipedia.org/wiki/Eko_Nurhuda. Dan, tampilan halamannya seperti ini:


Sayang, baru sekejap pula saya bergembira punya halaman profil di Wikipedia, eh, seorang member senior sekaligus moderator memperingatkan saya untuk segera menghapusnya. Alasannya, setiap artikel di Wikipedia harus berdasarkan referensi yang kredibel (buku, koran, majalah, situs), dan halaman profil saya sama sekali tidak mempunyai referensi. Saya sempat ngeyel—banyak halaman di Wikipedia Indonesia yang tidak didukung referensi memadai kok, tapi kemudian saya hanya bisa pasrah saat sang moderator menghapus halaman profil yang saya buat dengan susah payah itu.

Begitulah. Meski cuma sebentar, saya senang pernah ‘ada’ di Wikipedia. ;p

Komentar, hujatan, cibiran, silakan saja... ^_^

Senin, 21 Maret 2011

Solusi Bisnis dari Seberang


SUATU hari di awal Februari, saya iseng-iseng mengontak Jennie S. Bev (tahu dong siapa dia?) via Facebook untuk mengajukan permohonan wawancara. Saya bilang iseng-iseng karena saya sedikit agak tidak yakin Mbak Jennie bakal punya waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sudah saya siapkan sejak tahun lalu. Ya, daftar pertanyaannya sudah saya susun sejak awal 2010! Tepatnya setelah saya merangkum sejumlah wawancara dengan Jennie S. Bev dari berbagai situs dan mempublikasikannya April 2010 lalu. Tapi karena ragu-ragu, baru awal 2011 saya berani mengirimkannya.

Solusi Bisnis dari SeberangEh, tak disangka tak dinyana ternyata Mbak Jennie menyambutnya dengan senang hati. Saya langsung diminta mengirim daftar pertanyaan tersebut via email. Bukan itu saja, penulis Indonesia tersukses di Amerika Serikat ini bahkan memberikan bonus. Sungguh sebuah surprise bagi saya, Mbak Jennie juga meminta alamat saya karena ingin mengirimkan buku terbarunya yang berjudul Solusi Bisnis dari Seberang (Afton Asia, 2011).

Jelas saja saya jadi deg-deg plas dibuatnya. Menunggu buku itu sampai ke rumah mertua di Pemalang terasa sangat lama, padahal tidak ada sebulan. Dan, setelah diselingi paket dari blogDetik, akhirnya paket dari PT Afton Asia di Jakarta yang berisi buku terbaru Jennie S. Bev pun sampai ke tangan saya. Senangnya...

Sesuai janji saya pada Mbak Jennie, segera setelah membaca tuntas buku Solusi dari Seberang ini saya akan membuat resensinya untuk dikirim ke media cetak. Karena saya berdomisili di Jawa Tengah, kemungkinan besar media pertama yang saya sasar adalah Suara Merdeka. Sebagai iseng-iseng tambahan, mungkin saya juga akan mengirim kopinya ke Kedaulatan Rakyat di Jogja atau koran lokal lain di Jawa Tengah.

Hmmm, jadi tidak sabar untuk segera menuntaskan membaca buku kiriman Mbak Jennie dan membuat resensinya. Mohon doanya semoga resensi yang kelak saya kirim dimuat ya. Oya, hasil wawancaranya akan saya publikasikan di blog ini bulan depan. Mohon sabar, hehehe...

Jumat, 18 Maret 2011

Belum Rejeki...


DEG-DEGAN! Itulah yang saya rasakan sewaktu berada di Goethe Institut atawa Goethe Haus, Jl. Sam Ratulangi No. 9-15, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/3) malam kemarin. Bagaimana tidak? Setelah berhasil lolos ke 20 besar (dari total 1.110 peserta!), tidak ada harapan lebih besar kecuali menjadi 3 besar dalam Beat Blog Writing Contest yang diadakan VHR Media. Juara pertama dengan hadiah uang tunai Rp 5 juta plus sebuah Blackberry tentu jadi impian, tapi bagi saya masuk 3 besar saja rasanya bakal luar biasa sekali.

Foto: Dwin Friansi
Mejeng dulu, di depan pintu masuk tempat acara, Goethe Institute, Jakarta.
Saya tidak sendirian. Adik saya Dwin Friansi yang jadi guide plus tempat tumpangan selama di Jakarta, dan Mas Ismail yang bela-belain langsung datang ke Goethe Institute dari tempat kerjanya di kawasan Gatot Subroto, semuanya harap-harap cemas. Mas Is bahkan sempat update status di Facebook, memintakan doa untuk saya. Dari Pemalang, istri saya tak henti-hentinya berkirim SMS di sela-sela kerepotannya mengasuh si kecil Damar. Begitu juga ibu saya tercinta di Jambi.

Masuk 20 besar saja sebenarnya sudah merupakan prestasi tersendiri. Bayangkan, dari jumlah total 1.110 peserta, dewan juri mengerucutkannya menjadi 100 besar. Kemudian dilakukan penjurian ulang untuk menciutkan naskah menjadi 50 besar. Proses penjurian kembali dilakukan untuk menentukan 20 finalis. Jadi, tulisan 20 finalis sudah melalui 3 kali penyaringan! Artinya, menjadi finalis saja sudah untung. Tapi, masa iya cuma berharap jadi finalis sih? Kenapa tidak sekalian berharap jadi juara 1 atau setidak-tidaknya 3 besar? Toh, berharap (baca: bermimpi) tidak butuh biaya, bukan?Foto: GoodReads.com
Cado-Cado Kuadrat, salah satu isi goody bag saya adalah buku ngocol ini.


Sayang, harapan tak selalu jadi kenyataan. Ketika nama juara ketiga disebutkan pembawa acara, saya masih menaruh harapan besar untuk jadi juara 2 atau malah juara 1. Tapi, begitu nama juara 2 disebutkan dan itu bukan nama saya, saya langsung "turun ke bumi". Saya langsung sadar kali ini bukan jatah saya untuk menjadi pemenang kontes blog. Dan, sayapun harus puas hanya menjadi salah satu dari 17 finalis. Untunglah ada hadiah uang tunai sebesar Rp 500 ribu cash, juga posting yang masuk nominasi akan dibukukan oleh Gagas Media dengan judul (tentatif) Blogger Bicara Lingkungan. Ditambah goody bag berisi berbagai souvenir dari sponsor, kedua hal tersebut adalah pelipur lara yang setimpal.

Setidaknya, saya masih boleh berbangga hati. Kata adik saya, "Wah, berarti tulisan Kakak dibaca Happy Salma ya?" Memang, hanya naskah 20 finalis saja yang dinilai langsung oleh juri inti yang terdiri dari Happy Salma, IGG Maha Adi (direktur eksekutif Society of Environmental Journalists alias SIEJ dan wartawan National Geographic Indonesia), dan FX. Rudy Gunawan (penulis, wartawan VHR Media, dan pendiri Gagas Media). Sedangkan kata istri saya, "Lihat, Abi sudah menyingkirkan 1.090 peserta! Ini hebat!" Ibu saya lain lagi. Mungkin tahu saya kecewa tidak jadi pemenang, Ibu menulis SMS ke adik saya, "Kakakmu masih mau ikut kontes-kontes lagi, nggak?"

Foto: Dwin Friansi
Foto bersama: Para finalis berfoto bersama di atas panggung. Coba tebak, saya ada di mana?
Apapun hasilnya, saya mensyukurinya. Toh, tulisan yang masuk nominasi ini justru tulisan kedua. Saya mengonsepnya secara mendadak, menulisnya dalam waktu kurang dari sejam, dan mendaftarkannya di detik-detik akhir waktu penyerahan naskah! Tulisan pertama yang saya konsep dengan matang dan ditulis lamaaa sekali, malah tidak masuk 100 besar. Jadi, masuk 20 besar saja sudah sebuah anugerah luar biasa. Soal tidak jadi pemenang utama, rasanya benar apa yang dikatakan Mas Ismail malam itu.

"Belum rejeki, Mas. Sabar..." Bisiknya sesaat setelah nama saya tidak terdapat dalam 3 besar. Ya, memang belum rejeki saya mempunyai Blackberry, juga belum rejeki saya memperoleh hadiah jutaan rupiah (meskipun saya sangat membutuhkannya untuk persiapan biaya kelahiran anak kedua sekitar akhir April atau awal Mei nanti). Jadi, syukuri saja apa yang sudah didapat. ^_^

Buat rekan-rekan pengunjung bungeko.com, saya ucapkan rasa terima kasih yang tulus dari dalam hati atas support-nya.

Rabu, 16 Maret 2011

Menuju Jakarta...


PUKUL 14.46 WIB tadi, handphone saya berdering. Tidak cuma sekali, tapi sampai dua kali, dan dua-duanya tidak saya ketahui. Saya baru masuk kamar sekitar pukul 15.15. Nomor Jakarta, dan tidak ada di phonebook. Tadinya saya pikir dari salah satu penerbit Jakarta yang saya kirimi naskah buku, rupanya telepon itu dari VHR Media, penyelenggara Beat Blog Contest 2011.

Alhamdulillah, dari Mbak Wiwik, staf VHR Media yang menelepon tadi, saya diberi tahu kalau salah satu posting yang saya ikut-sertakan dalam Beat Blog Contest terpilih sebagai salah satu dari 20 nominator. Untuk itu, saya mendapat undangan menghadiri acara network gathering yang menurut rencana digelar di Goethe Insitute, Jakarta Pusat, besok (Kamis, 17/03/2011) pukul 18.00-22.00 WIB.

Foto: http://rossrightangle.info
Goethe Institute, Jakarta: Ke gedung inilah saya akan menghadiri acara pucak Beat Blog Contest 2011 yang diadakan VHR Media.
Awalnya saya tidak ingin hadir. Saya malah sudah menelepon adik saya yang di Jakarta untuk mewakili saya. Namun, setelah menimbang-nimbang saya memutuskan untuk datang langsung ke Jakarta. Bukan apa-apa, saya penasaran sekali dengan atmosfir acara yang tentunya bakal diikuti puluhan blogger dari mana-mana itu. Lagipula, saya sudah lama sekali tidak kopdar dengan sesama blogger. Terakhir kopdar ya dengan Mas Arif Fayantory di Semarang, Jumat (11/03/2011) belum lama ini.

Soal ongkos saya tidak perlu pusing. Sebagai salah satu nominator, saya sudah dipastikan memperoleh hadiah uang tunai sebanyak Rp500.000 cash. Rasanya uang begini banyak sudah lebih dari cukup untuk ongkos Pemalang-Jakarta PP. Berhubung saya tidak paham Jakarta, besar kemungkinan saya akan mengajak adik saya yang tinggal di sana. Teman saya di Jakarta rasanya bakal bertambah setelah Mas Ismail menyatakan bersedia menemani. Asyik... :D

Jadi, setelah diskusi singkat dengan istri barusan, saya memutuskan berangkat ke Jakarta sore ini juga. Ah, tiba-tiba ingat lagu Koes Plus, "Ke Jakarta aku kan kembali..." :D

Sabtu, 12 Maret 2011

Sehari di Semarang


KAMIS (10/3) siang jam 13.41 WIB, sebuah SMS dari satu nomer Simpati berakhiran 5555 masuk ke handphone saya. Isinya lugas, to the point, sekaligus membuat dada saya berdebar kencang saat membacanya. "Panggilan untuk Sdr.Eko pd hari jumat,10 maret 2011 jam 10.00..Ruang cybernews kantor suara merdeka jl. Pandanaran 30.. -HRD SM-" Begitulah isi SMS sesuai aslinya, yang ternyata salah tulis tanggal.



Deg! Jantung saya seolah berhenti berdetak. Bagaimana tidak? Saya memang pernah mengajukan lamaran ke Suara Merdeka CyberNews antara November atau Desember tahun lalu. Sudah sangat lama sekali, saya sendiri sudah tidak pernah mengingat-ingatnya. Lagipula saya merasa seperti pungguk merindukan bulan. Pikir saya mana mungkin aplikasi saya masuk kualifikasi karena banyak yang tidak sesuai dengan persyaratan.

Naik Kereta Api, Tut-tut-tut…
Posisi yang ditawarkan editor, dengan syarat lulus D3 atau S1, sedangkan kuliah saya di program D3 Jurnalistik Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY) sejak 2003 lalu sampai sekarang belum selesai. Pengalaman di dunia jurnalistik juga cetek, “hanya” menjadi reporter magang di mingguan Malioboro Ekspres (sudah tidak terbit lagi) selama kurang-lebih 3 bulan, ditambah 2,5 bulan di Harian Jogja edisi Minggu. Jadi, mengirim lamaran ke Suara Merdeka CyberNews kala itu memang saya niatkan sebagai sebuah gambling. Siapa sangka kok justru nama saya termasuk dalam 6 kandidat yang dipanggil wawancara ke Semarang.

Begitulah. Sore itu juga saya segera mempersiapkan perjalanan ke Semarang. Dimulai dari mengontak adik perempuan saya yang bekerja di Tangerang untuk meminjam uang untuk ongkos dan bekal secukupnya, mengecek jadwal keberangkatan kereta Kaligung Ekspres di Stasiun Pemalang, mencukur rambut, dan menyiapkan apa-apa yang sekiranya diperlukan selama wawancara. Jumat (11/3) jam setengah 5 saya berboncengan dengan istri berangkat ke stasiun. Jam 05.11 kereta api Kaligung Ekspres yang saya tumpangi pun berangkat.

Foto: Flickr
Kaligung Ekspres: Kereta bisnis jarak pendek jurusan Tegal-Semarang yang saya naiki.
Saya belum pernah bepergian ke Semarang dari Pemalang, apalagi naik kereta api. Maka, perjalanan sekitar 2,5 jam hari itu sangat saya nikmati. Sisa kantuk gara-gara menonton pertandingan Liga Europa antara Sporting Braga vs Liverpool saya tahan-tahan sekuat mungkin demi melihat pemandangan yang terbentang sepanjang Pemalang-Semarang. Jam 8 kurang 10 menit, kereta pun sampai di Stasiun Poncol, Semarang. Ah, akhirnya saya kembali menginjakkan kaki di kota yang konon dulu bernama Asem Arang ini.

Mengulang Memori di Jl. Pandanaran
Dengan hari itu, berarti saya sudah 3 kali datang ke Semarang. Kunjungan pertama sekitar November 2007, ketika rombongan mahasiswa AKY melakukan studi wisata ke Koran Sindo area Jateng-DIY (kini Koran Sindo Jateng dan DIY terpisah), Radio Trijaya FM, dan terakhir mangkal di Simpang 5 yang tersohor itu. Dari Simpang 5 itulah saya dan 2 teman iseng-iseng berjalan ke barat menyusuri jalan di selatan Masjid Agung, dan ujung-ujungnya membeli bandeng dan wingko ala kadarnya untuk oleh-oleh. Jalan itu ternyata bernama Jl. Pandanaran, di mana kantor Suara Merdeka berada.

Kunjungan kedua sekitar pertengahan 2008, berlangsung singkat karena judulnya menjenguk (waktu itu) calon kakak ipar di RS Karyadi. Jam 12 siang berangkat dari Jogja bermotor, sampai sekitar jam 5 sore, dan setengah jam kemudian sudah balik lagi ke Jogja. Lalu yang ketiga juga cuma numpang lewat, saya dan seorang teman iseng bermotor dari Jogja-Solo-Purwodadi-Kudus-Jepara lalu ke barat melewati Demak-Semarang-Weleri-Batang-Pekalongan dan finish di Pemalang, tempat (waktu itu) calon mertua. Setelah menginap semalam, pagi-paginya kami pulang ke Jogja dengan rute Pemalang-Purbalingga-Banjarnegara-Kebumen-Purworejo-Bantul dan berhenti di Kota Jogja (lewat jalur selatan).

Foto: Flickr
Bandeng Juwana, di depannya persis kantor Suara Merdeka berada.
Sungguh saya tak pernah menduga kalau 3,5 tahun kemudian saya bakal kembali lagi menyusuri Jl. Pandanaran. Kalau dulu jalan-jalan, maka kali ini saya berjalan mencari kantor Suara Merdeka. Ya, saya sengaja berjalan kaki dari Simpang 5 sampai ke depan kantor koran terbesar se-Jawa Tengah itu. Tentu saja keringat saya bercucuran, kaos dalam pun basah kuyup dibuatnya begitu sampai di tujuan. Untunglah ruang tunggu yang disediakan ber-AC, jadi ketika giliran saya tiba keringat dan pakaian sudah kering. Baunya? Emang gue pikirin! Hahaha…

Seperti wawancara-wawancara yang saya lakoni sebelumnya, kali itu bahan wawancaranya juga ringan-ringan saja. Durasinya pun cuma sekitar 15 menit. Dari sekian pertanyaan, hanya satu saja yang menyangkut langsung dengan dunia jurnalistik, yakni mengenai ritme kerja seorang editor situs berita. Selebihnya, saya bahkan diajak berpikir apa saja kendala yang akan saya hadapi jika harus ditempatkan di Semarang. Mulai dari tempat tinggal, kendaraan, adaptasi, dan lain-lain.

Saya mau diterima? Belum tahu. Yang jelas dari arah pembicaraannya saya menangkap sinyal positif. Kalau saya bersedia mengatasi kendala-kendala yang bakal terjadi, besar kemungkinan saya akan segera berkantor di Jl. Pandanaran No. 30 sebagai editor Suara Merdeka CyberNews. Tapi saya sendiri, setelah melakukan perhitungan di atas kertas, lebih memilih tetap di Pemalang. Jadi, semisal nanti HRD SM menelepon (seperti yang dijanjikan) saya akan coba minta posisi sebagai koresponden Pemalang saja. Meskipun gajinya bisa jadi jauh lebih kecil, tapi biaya hidup saya di Pemalang jauh lebih rendah dibanding jika harus pindah ke Semarang. Lagipula, saya tidak betah lama-lama jauh dari istri. Hehehe…

Tugu Muda, Lawang Sewu, dan Mas Arif Fayantory
Foto: The Jakarta Post
Lawang Sewu: Di depan bangunan bersejarah yang sedang dipugar inilah saya dan Mas Arif mengobrol selama sekitar 2,5 jam.
Seusai wawancara, sekitar jam 12, saya berniat langsung pulang. Jadi, dari kantor SM saya berencana berjalan kaki ke arah barat, menuju persimpangan Tugu Muda, lalu bablas ke Stasiun Poncol di utara. Eh, baru sampai di depan Lawang Sewu, Mas Arif Fayantory SMS kalau dia sudah on the way ke Jl. Pandanaran. Kami sebenarnya sudah janjian sebelumnya di Matahari Simpang 5 begitu saya tiba di Semarang. Tapi entah kenapa saya tunggu sampai jam setengah 10 Mas Arif tidak datang-datang. Baru ketika saya mau pulang dari kantor SM dia SMS lagi.

Awalnya saya berencana mengejar kereta Kaligung ekonomi yang berangkat jam 13.00. Tapi masa iya cuma mau ketemu beberapa menit saja dengan Mas Arif? Rencana langsung saya ubah, kepulangan ke Pemalang ditunda. Kebetulan masih ada kereta Kaligung Ekspres bisnis yang berangkat jam 5 sore. Kami pun ngobrol panjang-lebar sambil makan buah di depan Lawang Sewu. Dan, inilah uniknya blogger. Baru ketemu sekali, tapi akrabnya sudah seperti berteman bertahun-tahun.

Topik pembicaraan kami, apalagi kalau bukan, seputar dunia blogging dan make money online. Dari Mas Arif saya banyak belajar tentang perkembangan program-program periklanan online, trik-trik menghasilkan earning berlimpah, dan kisah-kisah sukses rekan-rekan sesama blogger. Tapi kami juga ngobrol soal keluarga lho. Bagi saya ini adalah topik wajib setiap kali bertemu dengan teman yang lebih senior dan lebih berpengalaman mengarungi kehidupan rumah tangga.

Time To Go Home
Sejak awal Mas Arif meminta saya menginap barang semalam di rumahnya, di daerah Semarang Atas, sekitar sejam dari pusat kota. Tapi saya sudah terlanjur janji pulang sore itu juga sama istri. Ya sudah, apa boleh buat? Sekitar jam setangah 4 kami pun berpisah. Saya menyeberang jalan menuju ke Jl. Imam Bonjol untuk mencari angkutan ke Stasiun Poncol, sedangkan Mas Arif balik lagi ke Jl. Pandanaran untuk mencari angkutan ke Semarang Atas.

“Petualangan” saya di Semarang berakhir ketika kereta Kaligung Ekspres meninggalkan Stasiun Poncol jam 6 lebih. Ya, sayangnya perjalanan seharian di Semarang nan mengesankan itu harus berakhir dengan sedikit menjengkelkan: kereta molor sejam lebih dari jadwal! Ini ditambah derita saya karena harus berdiri sepanjang perjalanan karena tidak ada tempat secuil pun untuk duduk. Tapi tak apa. Saya tetap berharap dapat kembali lagi ke Semarang suatu ketika.

Berhubung kamera saya rusak, terpaksa deh foto-fotonya mencomot di sembarang situs. Semoga hal ini tidak mengurangi kredibilitas posting ini.

Selasa, 08 Maret 2011

Mimpi ke Kampung 99 Pepohonan Depok


DARIPADA terus-menerus kecewa gara-gara hape Nokia Flexi Chatting dari blogDetik yang seharusnya menjadi milik saya sebagai salah 1 dari 10 pemenang blogDetik Writing Contest “Inspiring Woman” pertengahan tahun lalu akhirnya benar-benar tidak dapat saya peroleh, saya curahkan emosi yang begitu membuncah ini untuk mengikuti berbagai kontes blog. Mudah-mudahan saja kali ini saya lebih beruntung. Maksudnya, bukan cuma jadi pemenang, tapi juga mendapatkan hadiahnya. ^_^



Salah satu kontes yang saya ikuti adalah Beat Blog Writing Contest 2011, diadakan oleh VHR Media. Tema tulisan yang dipersyaratkan seputar lingkungan. Saya menulis 2 posting, Menabung Sampah Pangkal Selamat dan Jadi Pemulung, Yuk!. Dua-duanya tentang persoalan penanganan sampah yang terus-menerus menjadi PR tersulit di Indonesia. Meski sama-sama mengulas tentang problematika sampah, namun kedua tulisan tersebut menampilkan gaya yang sangat berbeda. I just did the best I can do, soal hasil saya serahkan kepada Yang Maha Pemurah.

Jalan-jalan Sambil Menulis di Kampung 99 Pepohonan, Depok
Beat Blog Writing Contest 2011 disponsori oleh sejumlah perusahaan besar. Mulai dari operator GSM Pro XL, penerbit Gagas Media, Djarum Foundation, hingga Ford Foundation. Dengan sederet sponsor top seperti ini, tak heran bila hadiah yang ditawarkan sangat menggiurkan. Juara pertama memperoleh uang tunai Rp5.000.000 plus 1 buah Blackberry. Tidak usah jadi juara, terpilih sebagai salah satu dari 17 nominator saja sudah sangat beruntung. Sebab, selain dapat uang tunai Rp500.000, posting para nominator akan dibukukan bersama posting-posting para pemenang utama. Asyik, bukan?

Asyiknya tidak berhenti sampai di situ saja. Melengkapi hadiah uang tunai senilai total puluhan juta rupiah, Blackberry untuk pemenang utama, serta pembukuan posting, 3 pemenang utama dan 17 nominator kontes bersama 10 jurnalis terpilih akan diajak mengikuti program Report from the Field. Program ini dilangsungkan guna memperingati Hari Bumi. Peserta akan tinggal di satu area konservasi selama beberapa hari dengan mengikuti pola hidup warga setempat, sembari membuat laporan pandangan mata tentang kegiatan tersebut.

Foto: wira186.multiply.com
Salah satu pemandangan di tepi sungai di Kampung 99 Pepohonan, Depok.
Menurut rencana, program Report from the Field dilaksanakan pada 23-24 April 2011 di Kampung 99 Pepohonan, Depok, Jawa Barat. Di situs resmi VHR Media disebutkan kalau waktu dan tempat ini masih tentatif, jadi masih bisa berubah lagi kelak. Saya sendiri berharap waktunya yang diundur menjadi Mei atau Juni, karena anak kedua saya diperkirakan lahir pertengahan April. Sedangkan tempatnya sebaiknya tetap di Kampung 99 Pepohonan, Depok.

Sekilas tentang Kampung 99 Pepohonan, Depok
Sesuai namanya, Kampung 99 Pepohonan adalah sebuah kampung artifisial yang penuh pepohonan. Selain rumah-rumah panggung dari kayu, lahan seluas 5 hektar di Desa Meruyung, Cinere, oleh Depok, Jawa Barat, ini dipenuhi deretan pepohonan. Di antaranya pohon mahoni, gandaria, ulin, menteng, meranti, trembesi, bintaro, kemang, dan beberapa rumpun bambu. Melengkapi keasriannya itu, di kampung ini juga terdapat lima ekor rusa jenis timorensis. Karenanya sebagian orang juga menyebut kampung ini sebagai Kampung Rusa.

Kampung 99 Pepohonan adalah sebuah area yang dirancang sebagai hunian yang bersahabat dengan alam dengan menjalankan konsep gaya hidup organik, kembali ke alam. Agar lingkungan asri dan udara segar terus didapatkan, seluruh penghuninya kompak tidak merokok. Lalu penghuni kampung juga dilarang menebang pohon, memetik daun, membuang sampah sembarangan, apalagi sampah plastik.

Hunian yang dibangun di kampung ini diupayakan ramah lingkungan. Tidak ada gedung, yang ada hanya rumah-rumah kayu. Luas setiap rumah tidak lebih dari 100 meter persegi, tanpa pagar, dan dibangun secara bergotong-royong oleh seluruh penghuni kampung. Di setiap rumah terdapat kolam penyangga untuk memelihara ikan atau ternak, serta kebun seluas setidaknya 100 meter persegi.

Foto: http://ibun.blogdetik.com
Rumah panggung dari kayu, ciri khas hunian di Kampung 99 Pepohonan yang alami nan asri.
Kegiatan sehari-hari anak-anak di kampung ini tidak lepas dari alam. Alih-alih bermain, anak-anak diajarkan untuk menanam pohon, menanam padi dan sayur-sayuran, menangkap ikan, dan membuat roti. Sementara penghuni dewasa setiap hari menanam setidaknya 10 pohon berbagai jenis. Lebih hebatnya lagi, pohon-pohon yang ditanam adalah pohon produktif yang dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari penduduk kampung. Mulai dari kelapa, sukun, hingga beragam jenis pohon buah-buahan.

Kini, hasil bumi Kampung 99 Pepohonan berlimpah-ruah. Hasil pertanian seperti padi dan sayur-sayuran lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan para penghuninya. Begitu pula dengan susu, madu, ikan, dan aneka buah. Kelebihan hasil alam itu kemudian dijual ke luar, sebagian lagi diolah menjadi produk-produk seperti yogurt, cuka apel, cuka kelapa, hingga yogurt sukun. Berbagai inovasi lain juga dilakukan. Misalnya dengan memproses air irigasi untuk mandi agar pemakaian air tanah semakin berkurang, serta pembangkit listrik sendiri dengan memanfaatkan tenaga kincir air.

Coba, siapa yang tidak tertarik mengunjungi kampung asri nan mandiri seperti ini? Saya mau sekali! Karena itulah saya ikut Beat Blog Writing Contest 2011 yang diadakan VHR Media. Mohon doanya ya, Bung...

Jumat, 04 Maret 2011

Ah, Ternyata Saya Pria Romantis...


TEPAT saat orang-orang merayakan Valentine’s Day, 14 Februari lalu, blogDetik mengadakan kuis menarik sepanjang hari itu. Nama kuisnya Kuis Kejutan Cinta. Ya, temanya memang Hari Kasih Sayang, maka pertanyaan-pertanyaannya pun seputar romantis-romantisan. Iseng-iseng saya ikuti kuisnya. Total ada 6 kuis dengan pertanyaan dan hadiah berbeda-beda, tapi saya cuma ikut 4 kuis. Sisa 2 kuis saya lewati karena sudah harus pulang dari warnet.

Foto: bungeko.com
Begitu paketnya tiba, Damar anak saya (9,5 bulan) dan istri (cuma terlihat sebelah kaki dan tangannya) langsung merubungnya karena penasaran.
Saya kira saya bukan pria romantis, jadi ikut Kuis Kejutan Cinta itu memang kegiatan iseng-iseng belaka. Melihat jawaban-jawaban dari peserta lain yang lebih muda, sebagian besar sepertinya masih anak-anak sekolah, terus terang saya pesimis. Eh, siapa sangka jika nama saya masuk daftar pemenang di kuis ke-2 yang dipublikasikan 16 Februari alias 2 hari setelah kuis digelar.

Hadiahnya lumayan, paket merchandise dari Speedy yang berisi kaos, topi, mug, ballpoint, dan blocknote. Asyiknya lagi, hadiah ini diberikan untuk saya dan pasangan. Artinya, saya bakal menerima sepasang kaos, sepasang topi, sepasang mug, sepasang ballpoint, dan sepasang blocknote. Tidak seperti hape Nokia Flexi Chatting yang tidak jadi saya dapatkan meskipun nama saya ada dalam daftar 10 pemenang blogDetik Writing Contest ‘Inspiring Woman’ pertengahan tahun lalu, alhamdulillah, kali ini hadiah Kuis Kejutan Cinta blogDetik sudah saya terima pada Jumat (4/3) kemarin via kurir JNE Pemalang. ^_^


Hore, akhirnya Damar bisa membuka paket dari blogDetik. Dan, inilah isinya: kaos, topi, mug, blocknote, dan ballpoint dari TelkomSpeedy, masing-masing 2 buah alias sepasang
(Foto: bungeko.com).

Oya, mau tahu pertanyaan kuisnya seperti apa? Pertanyaannya sebenarnya sangat sederhana dan tergolong klise, “Hal Romantis apa yang akan atau sudah kamu lakukan ke orang yang kamu sayangi di hari Valentine ini ??” Tapi untuk menjawabnya tetap saja membuat kepala puyeng. Setengah mengarang, saya pun menjawab seperti ini:

Foto: bungeko.com
Si kecil Damar sedang asyik mainan mug Speedy.
Kebetulan saya sudah berkeluarga, jadi jawaban saya ya sebagai seorang suami kepada istrinya.

Hal paling romantis yang akan saya berikan sebagai kado Hari Kasih Sayang? Hmmm, satu hal yang terlintas di kepala saya adalah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah (mulai dari mencuci baju, masak, menyaou rumah, mengepel, memandikan anak, menyuapi anak, mengasuh anak, dll) selama 24 jam di hari itu. Walau cuma satu hari, tapi mudah-mudahan ia tahu kalau saya siap melakukan apapun untuk menunjukkan kasih sayang padanya. ^_^

Bagaimana, romantis tidak jawabannya? Romantis tidak romantis, nyatanya saya dipilih jadi salah satu pemenang kuis tersebut. Jadi, mau tidak mau Bung harus mengakui kalau saya seorang pria romantis. Hehehe…
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama