Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Sabtu, 30 April 2011

NTLDR is Missing...


SELANG dua hari setelah Diandra lahir, adik perempuan saya yang di Jakarta datang ke Pemalang. Tujuan pertama malah mau tilik (=menjenguk) Damar, kakaknya Diandra. Tujuan kedua baru tilik si bayi sendiri. Nah, tujuan ketiganya adalah untuk meminjami saya laptop karena komputer saya rusak dan belum bisa membeli beberapa hardware yang harus diganti.

Adik saya membawa laptop Axioo NEON MNC yang ia beli di Glodok. Dan saya langsung suka pada pandangan pertama. Satu-satunya yang membuat saya kurang sreg dengan laptop itu adalah partisi harddisk-nya yang cuma dua, serta banyaknya virus shortcut di hampir seluruh bagian. So, PR pertama saya sebelum bisa bebas memakai laptop pinjaman si adik ini untuk menulis, adalah menginstal ulang sekaligus membagi harddisk-nya menjadi setidaknya empat bagian biar lebih nyaman.

NTLDR is Missing?
Foto: Axioo-shop.com
Axioo NEON MNC, murah meriah...
Berkat pergaulan dengan teman-teman jurusan TI/TK selama di Jogja, kalau cuma instal ulang dan partisi harddisk saja saya bisa. Well, sekitar sejam saja laptop itu sudah dipartisi sesuai keinginan, plus operating system-nya juga sudah memakai Windows XP yang biasa saya pakai selama ini. Tapi, maaf sekali, CD-nya bajakan. Itu pun hasil mengopi dari teman yang juga membajak. Don't try it at home, ya? Kasihan Bill Gates kalau program-program Microsoft dibajak terus. (^_^)

Masalah timbul ketika sehari kemudian tiba-tiba saja bermunculan balon-balon dialog di pojok kanan bawah monitor, memberi tahu sejumlah file di drive C: corrupt. Hmmm, alamat tidak enak ini. Benar saja. Ketika kemudian saya restart, alih-alih booting, monitor laptop itu malah menampilkan layar hitam pekat dengan tulisan putih berbunyi, "NTLDR is missing". Lalu di bawahnya ada tulisan, "Press Ctrl+Alt+Del to restart".

Foto: Lupa sumbernya
NTLDR is Missing: Bikin bingung saya selama semalaman.
Deg! Jantung saya langsung berdegup kencang. NTLDR? Apa itu? Seumur-umur memakai komputer, baru sekali ini saya menjumpai pesan serupa itu. Jadi, maklum saja kalau saya tidak tahu apa maksudnya. Yang saya tahu, laptop pinjaman di depan saya tidak mau booting, apalagi masuk ke Windows. Bahasa gampangnya, laptop itu tidak bisa dipakai! So, saya harus mencari tahu apa itu NTLDR dan bagaimana cara mengatasi problem tersebut.

Pada Google Kubertanya
Alhasil, saya jadi kelabakan dibuatnya. Pertama-tama mengirim SMS ke teman-teman 'ahli komputer' di Jogja. Setelah jawabannya dirasa kurang memuaskan, saya telpon satu-satu. Tetap juga tidak ada titik terang. Rata-rata teman saya bilang, "Wah, kalau tidak lihat sendiri susah je." Hmmm, ke mana lagi harus bertanya nih?

Ting! Tiba-tiba saja saya ingat internet, ingat Google. Begitulah. Setelah menidurkan Damar, saya langsung berangkat ke warnet, membuka Google, dan langsung searching segala hal seputar hilangnya si NTLDR ini. Alhamdulillah, Google langsung memberi daftar sumber-sumber yang bisa saya percayai untuk mencari tahu tentang NTLDR dan bagaimana cara mengatasi problem NTLDR is missing.

Dan, posting ini boleh dibilang merupakan hasil sampingan dari proses pencarian saya. Sekedar intermezzo, sama sekali tidak berniat membuat panduan atau tutorial.

Rabu, 27 April 2011

Selamat Datang, Diandra...


TEPAT sehari menjelang Hari Kartini, alhamdulillah, anak kedua saya lahir. Waktu persisnya adalah pada Rabu, 20 April 2011, pukul 19.00 WIB. Seorang bayi perempuan, bobotnya 2,8 kg. Setelah berdiskusi panjang bersama istri, mertua, adik-adik, dan juga orang tua saya di Jambi, akhirnya gadis kecil kami ini diberi nama Diandra Prameshwari Cahyaningtyas.

Artinya apa? Sang kakek, alias bapaknya istri saya, pengen nama Dian. Kebetulan kakaknya, anak pertama kami yang lahir 19 Mei 2010 lalu, diberi nama Fadhiil Akbar Damar Panuluh. Nah, Dian dan Damar itu artinya sama, yakni "lampu". Jadi, rasanya cocok deh. Kakaknya Damar, adiknya Dian.

Namun, saya merasa kurang sreg kalau cuma Dian saja, maka saya tambahkan frasa "dra". Ini adalah singkatan dari kata "candra" atau "condro" dalam bahasa Jawa, artinya "bulan". Kebetulan si kecil lahir pas tanggal 16 menurut perhitungan Jawa, tepat saat bulan purnama. Kata "diandra" juga bisa dipanjangkan (atau diplesetkan?) menjadi "dianing condro" alias "cahaya rembulan", menandakan kalau anak kedua saya ini lahir menjelang malam berbulan.Foto: Maulana Tri SC
Diandra, gadis kecilku.


Kata "prameshwari" sendiri merupakan sumbangan dari ibu saya di Jambi. Artinya "istri raja" atau "permaisuri". Tentu saja saya tidak berharap gadis kecil ini kelak jadi istri raja. Cukuplah ia menjadi berbudi sehalus dan bersikap sebaik seorang permaisuri. Dan, mudah-mudahan juga wajah dan penampilannya semenarik seorang permaisuri. Hmmm, orang tua mana sih yang tidak ingin punya anak gadis secantik Balqis, Ratu Kerajaan Saba', atau Cleopatra, Ratu Mesir Kuno?

Terakhir, kata "cahyaningtyas" adalah bahasa Jawa. Terdiri dari kata "cahya" atau "cahyo" yang berarti "cahaya", dan kata "tyas" yang berarti "hati" atau "jiwa". Kedua kata ini dihubungkan dengan kata "ing" atau di sini menjadi "ning" karena kata "cahya" berakhiran huruf vokal. Artinya kurang lebih "of" dalam tata bahasa Inggris. Jadi, "cahyaningtyas" bisa diartikan sebagai "cahaya hati" atau "cahaya jiwa".

Well, orang boleh bilang, "Apalah arti sebuah nama". Bagi saya, nama adalah doa. Amin...

Rabu, 20 April 2011

Safee Mirip Saya?


SUATU sore, saat saya sedang asyik menonton pertandingan Liga Super Indonesia antara Pelita Jaya melawan Deltras di Sidoarjo, handphone saya berbunyi. Nada pesan singkat alias SMS, ternyata dari Kang Nawar. Sejenak kemudian saya tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya. "Ah, Kang Nawar ini ada-ada saja!" Begitu kata saya dalam hati sambil geleng-geleng kepala.

Apa sih kata Kang Nawar dalam SMS-nya? "Sepintas wajah safee salee mirip wajah bung eko?" Begitu katanya. Bagaimana saya tidak tertawa terpingkal-pingkal dibuatnya? Entah bagaimana ceritanya sampai-sampai Kang Nawar bisa punya kesimpulan begitu. Saya sendiri baru mulai memperhatikan wajah Safee, orang yang paling tidak saya sukai di Piala AFF 2010 lalu, setelah membawa SMS tersebut.

Daripada penasaran, saya pun coba membanding-bandingkan diri sendiri dengan Safee. Dan, inilah tabel hasil perbandingan yang saya buat:

Safee Sali
VS
Eko Nurhuda aka Bung Eko

Mohd. Safee bin Mohd. Sali
29 Januari 1984
Kajang, Selangor
Laki-laki (belum terbukti)
170 cm & (?)
Belum beristri
Belum beranak (hahaha...)
Pesepak bola
(1) Top Scorer Piala AFF 2010
(2) Juara Piala AFF 2010 (Malaysia)
(3) Juara Malaysia Super League 2010 (Selangor FC)
(4) Juara Piala Merdeka 2007 (Malaysia U-23)

Nama Lengkap
Tanggal Lahir
Tempat Lahir
Jenis Kelamin
Tinggi & Berat Badan
Nama Istri
Nama Anak
Profesi
Prestasi

Eko Nurhuda
10 Desember 1982
Palembang, Sumsel
Laki-laki (terbukti!)
171 cm & 85 kg
Ratna Dewi
F.A. Damar Panuluh
Tidak jelas
(1) Finalis/20 besar Beat Blog Writing Contest 2011
(2) Salah satu pemenang Blogdetik Writing Contest “Inspiring Woman” 2010
(3) Juara 3 kontes menulis yang diadakan oleh BlogIsmail.com 2010
(4) Apa lagi?

Nah, setelah melihat tabel di atas, apakah Bung sepakat dengan SMS Kang Nawar? Atau malah dengan tegas bilang, "Mirip dari Hong Kong?" Hahaha...

Senin, 18 April 2011

Rindu Pesepak Bola Tionghoa


KONON, nenek moyang bangsa Indonesia adalah orang Yunan, sebuah wilayah yang sekarang menjadi bagian dari Republik Rakyat Cina. Dirunut lebih dekat lagi, sejarah mencatat orang Tionghoa sudah tinggal di kepulauan Nusantara sejak sekitar abad ke-4.

Melihat fakta ini, tak heran jika peran orang Tionghoa sangat kental mewarnai perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Peran tersebut juga tampak nyata di dunia sepak bola. Bahkan, mengutip Srie Agustina Palupi dalam buku Politik dan Sepak Bola di Jawa 1920-1942, dari orang-orang Tionghoa-lah penduduk pribumi mengenal sepak bola.

Sebelum PSSI lahir, orang-orang Tionghoa mendirikan Hwa Nan Voetbal Bond (HNVB). Organisasi sepak bola ini dibentuk untuk 'menyaingi' Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang Belanda-sentris. Klub-klub anggota HNVB pun sudah ada sebelum kaum bumiputra ramai bermain sepak bola. Sebutlah klub Union Makes Strength (UMS), Tionghoa (kini Suryanaga), dan Tjung Hwa (kini PS Tunas Jaya).

Foto: Wikipedia
Endang Witarsa: Mantan pemain dan pelatih timnas Indonesia. Ia lahir dengan nama Liem Soen Joe.
Yang bikin bangga, ketika PSSI didirikan klub-klub milik orang Tionghoa memilih bergabung dengan klub-klub perserikatan di bawah naungan PSSI. Klub UMS bergabung dengan Voetbalbond Indonesia Jacatra (VIJ, kini Persija), sedangkan klub Tionghoa bergabung dengan Soerabajasche Indonesische Voetbalbond (SIVB, kini Persebaya).

Hal ini membuat kekuatan PSSI berlipat ganda. NIVB yang kemudian berganti nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU) dibuat gentar karenanya. Apalagi dalam berbagai kesempatan tim PSSI selalu dapat mengungguli tim NIVU. Dalam kompetisi PSSI ke III tahun 1933 di Surabaya, SIVB yang diperkuat bintang-bintang andalan NIVU kalah 1-2 melawan VIJ. Kemudian dalam satu kesempatan uji coba dengan tim Nan Hwa dari Cina di Semarang tahun 1937, tim PSSI menang 2-0. Padahal sebelumnya tim NIVU dibekuk 0-4 oleh Nan Hwa.

Ketangguhan Indonesia mulai menjadi buah bibir, membuat FIFA mengundang Indonesia untuk mewakili Asia dalam Piala Dunia 1938. Sayang, kesempatan tersebut 'direbut' NIVU sehingga yang tampil adalah tim bentukan NIVU, bukan PSSI. Meski begitu, NIVU membawa banyak pemain Tionghoa ke Prancis. Sebutlah Tan Mo Heng, kiper andalan SIVB, bersama Tan Siong Houw, dan Pan Hong Tjien.

Di awal-awal kompetisi perserikatan yang diadakan PSSI, pemain Tionghoa mendominasi posisi penting di berbagai tim elit. Persija (VIJ) sempat punya gelandang jempolan seperti Tan Liong Houw (Latief Haris Tanoto) dan Thio Him Tjiang. Berikutnya ada bek tangguh Fan Tek Fong (Hadi Mulyadi) di lini belakang Macan Kemayoran. Jangan lupakan pemain bintang yang lantas menjadi pelatih Persija, drg. Endang Witarsa (Liem Soen Joe).

Union Makes Strength (UMS)Persebaya setali tiga uang. Pada era 1940-an dan 1950-an, Bajul Ijo punya trio penyerang maut berdarah Tionghoa: Tee San Liong, Bhe Ing Hien, dan Liem Tiong Hoo (dr. Hendro Hoediono). Selain ketiganya masih ada Kho Thiam Gwan, Liem Thay Hie, dan Phoa Sian Liong yang jadi langganan timnas.

Masih ingat saat Indonesia menahan imbang Uni Sovyet 0-0 di perempatfinal Olimpiade Melbourne 1956? Saat itu setidaknya ada lima pemain Tionghoa di atas lapangan. Mereka adalah Endang Witarsa, Kwee Kiat Sek, Tan Liong Houw, Phwa Sian Liong, dan Thio Him Tjiang. Medali perunggu Asian Games 1958 juga diraih Indonesia bersama pemain-pemain keturunan Tionghoa.

Jauh sebelum Kurniawan Dwi Yulianto membuat Indonesia bangga saat direkrut FC Lucern, Swiss, pada 1994-1995, Liem Soei Liang alias Surya Lesmana menjadi salah satu pelopor eksodus pemain Indonesia ke luar negeri. Tahun 1974, Surya dikontrak salah satu klub Hong Kong dengan gaji HKD 2.000/bulan. Sebuah jumlah yang sangat tinggi untuk ukuran saat itu.

Kini, tak banyak pemain keturunan Tionghoa di pentas sepak bola nasional. Di Liga Super Indonesia hanya ada Nova Arianto (Persib) dan Juan Revi (Arema). Sedangkan di Liga Primer Indonesia ada Irvin Museng dan Febryanto Wijaya (Medan Chiefs), serta Kim Jeffrey Kurniawan (Persema). Dari kelimanya, belum satu pun yang menjadi andalan timnas.

Di tengah gencarnya program naturalisasi pemain asing keturunan Indonesia, ada baiknya PSSI melalui BTN juga menjaring bakat-bakat pesepak bola pribumi keturunan Tionghoa. Untuk urusan loyalitas dan totalitas, saya kira pemain keturunan Tionghoa yang lahir dan besar di Indonesia lebih unggul dibanding pemain keturunan Indonesia yang lahir dan besar di luar negeri. Jika dulu timnas menjadi Macan Asia saat diperkuat pemain-pemain keturunan Tionghoa, siapa tahu prestasi serupa bisa diulangi lagi kini.

Bagaimana pendapat Bung?
Catatan: Posting ini merupakan naskah asli artikel berjudul Kilas Aksi Keturunan Tionghoa di rubrik 'Oposan' tabloid BOLA edisi 2.186, Kamis-Jumat 21-22 April 2011.

Senin, 11 April 2011

Malam di Alun-alun Selatan Yogyakarta


SEORANG pemuda menutup mata teman perempuannya dengan seutas kain hitam. Diikatnya penutup tersebut erat-erat agar mata teman perempuannya benar-benar tak dapat melihat. Setelah itu dituntunnya si perempuan ke tengah lapangan. Di satu posisi segaris lurus dengan bagian tengah lapangan yang diapit dua pohon beringin besar, dilepaskannya si perempuan berjalan ke depan.

Dengan mata tertutup rapat tentu sulit berjalan lurus melewati bagian di antara dua beringin besar di tengah lapangan. Begitu pula si perempuan tadi. Berulangkali ia harus ditangkap temannya karena berjalan miring ke kiri atau ke kanan. Orang banyak yang turut melihat sebagian ikut berteriak memberi petunjuk arah mana yang harus ditempuh. Tapi, tetap saja si perempuan tidak dapat berjalan lurus.

Itulah pemandangan yang terlihat di alun-alun selatan Yogyakarta setiap malam. Melewati bagian tengah alun-alun yang diapit dua beringin besar dengan mata tertutup seolah-olah sudah menjadi kewajiban bagi yang mengunjungi tempat ini. Boleh dibilang tidak afdol rasanya kalau mengunjungi alun-alun selatan tanpa melakukan kegiatan tersebut. Terutama bagi pendatang dari luar kota.

Tidak Remang-remang Lagi
Foto: Flickr.com
Plengkung Gadhing: Pintu masuk ke kawasan Keraton Yogyakarta dari arah selatan.
Alun-alun selatan adalah sebuah lapangan yang terletak di bagian selatan Kraton Yogyakarta. Orang Jogja biasa menyebutnya Alkid, singkatan dari alun-alun kidul (kidul = selatan). Sebagai bagian dari Kraton, Alkid termasuk dalam kawasan yang dikenal sebagai jeron betheng atau wilayah di dalam benteng Kraton. Karena itu, bila kita masuk dari arah selatan akan melewati gerbang selatan Kraton yang dikenal sebagai Plengkung Gadhing.

Dulu, gerbang di Plengkung Gadhing hanya dibuka antara pukul 06.00-22.00. Yang boleh masuk ke kawasan jeron betheng juga tidak sembarangan karena harus seijin prajurit yang berjaga di gerbang tersebut. Setiap gerbang akan dibuka atau ditutup diadakan satu upacara kecil yang sekaligus menjadi acara serah-terima tugas antara prajurit jaga dengan prajurit yang akan menggantikannya. Namun, beberapa tahun setelah Sri Sultan Hamengku Buwono X naik tahta gerbang tersebut tidak pernah ditutup lagi. Daun pintunya malah sudah tidak terlihat di gerbang bersejarah itu.

Awal tahun 2000-an suasana Alkid masih remang-remang. Pedagang juga tidak seramai sekarang. Penerangan yang tidak memadai membuat bagian tengah lapangan gelap-gulita. Kondisi ini dimanfaatkan oleh beberapa pasangan muda-mudi nakal untuk bercumbu ala kadarnya, baik di atas motor ataupun di atas rumput dengan beralaskan koran. Beberapa pekerja seks komersial juga menjadikan Alkid sebagai daerah operasi, membuat tempat ini mendapat cap buruk di mata masyarakat.

Usaha membersihkan Alkid dari praktik-praktik mesum mulai terlihat setelah Herry Zudianto menjabat sebagai Walikota Jogja. Penerangan ditambah sehingga seluruh bagian alun-alun terang benderang. Beberapa bagian yang berpotensi disalah-gunakan untuk berbuat mesum ditiadakan. Perubahan ini sempat membuat Alkid sepi pengunjung. Namun seiring berjalannya waktu Alkid kembali ramai dikunjungi. Tak hanya pasangan muda-mudi yang tengah kasmaran, banyak juga keluarga datang bersama anak-anak mereka ke Alkid untuk menikmati suasana malam sambil duduk melahap jajanan di atas rumput.

Tempat Wisata Keluarga
Bagian barat Alkid adalah tempat yang paling ramai. Selain lebih banyak pedagang, di tempat tersebut juga terdapat kandang gajah. Keluarga yang membawa anak kecil biasanya mengajak anak-anak mereka melihat gajah milik Kraton di kandang tersebut. Setelah puas melihat gajah, acara bisa dilanjutkan dengan membeli jajanan dan melahapnya sambil duduk santai beralaskan tikar di tengah lapangan luas.

Beragam jenis makanan dijajakan di Alkid. Mulai dari jajanan tradisional seperti kacang rebus, jagung rebus, kawi Malang, hingga jajanan yang lebih ‘modern’ seperti tempura, bakso. Mau makanan berat seperti nasi kucing dan gudeg juga ada. Setiap pedagang menyediakan tikar sebagai tempat duduk, namun kebanyakan pembeli lebih suka melahap jajanan sambil mengobrol di atas motor ataupun berdiri. Maka tak heran jika kebanyakan pedagang terlihat sepi karena pembelinya langsung pergi begitu mendapatkan pesanan yang diminta.

Di malam Minggu atau malam-malam liburan lainnya, bagian utara menjadi tempat paling ramai. Di sana para muda-mudi yang kebanyakan mahasiswa dan pelajar berkumpul untuk mencoba melewati bagian tengah alun-alun yang diapit dua beringin besar dengan mata tertutup rapat. Menurut kepercayaan sebagian orang, siapa yang dapat melakukan hal tersebut akan dikabulkan segala permintaannya.

Awalnya para muda-mudi ini hanya menutup mata mereka dengan penutup ala kadarnya. Ada yang memakai syal, sapu tangan, atau bahkan sekedar memejamkan mata tanpa ditutup apa-apa. Ramainya peminat kegiatan ini membuat beberapa orang berpikir kreatif untuk menyewakan penutup mata yang dibuat dari kain hitam. Harga yang dipatok cukup murah, yakni hanya Rp1.000 sekali pakai.

Semakin larut suasana Alkid menjadi semakin sepi. Pasangan-pasangan dan keluarga meninggalkan tempat ini seiring dengan semakin dinginnya hawa malam. Tinggallah para tukang becak dan bapak-bapak yang tinggal di sekitar Alkid duduk mengobrol tentang apa saja sambil menikmati kopi atau jahe panas di angkringan.

Posting ini adalah ungkapan rindu saya kepada Jogja, kota yang sempat saya diami selama 10 tahun (Juni 2000 – Mei 2010). Kota di mana saya menemukan identitas diri, kota yang telah mengajarkan banyak hal, serta kota tempat impian terbesar saya pertama kali muncul. Saya berharap bisa kembali ke Jogja untuk mewujudkan impian tersebut.

Kamis, 07 April 2011

Jennie S. Bev: Sukses Adalah Saya


MASIH ingat dengan Jennie S. Bev? Ya, penulis wanita asal Indonesia yang survive di tengah kerasnya persaingan di California, Amerika Serikat, itulah yang saya maksud. Bukan cuma bertahan hidup, Jennie bahkan sukses menyeruak dari ketatnya persaingan dunia kepenulisan dan tampil sebagai sosok yang boleh dikatakan sukses besar. Tak heran jika profilnya kerap menghiasi media cetak, baik di AS maupun di Indonesia. Prestasinya menjadi motivasi bagi sebagian besar penulis, termasuk saya.

Nah, setelah sempat menampilkan ringkasan sekaligus rangkuman wawancaranya dengan sejumlah media massa pada posting bertanggal 21 April tahun lalu, tepat pada peringatan Hari Kartini, April tahun ini saya berkesempatan melakukan wawancara langsung via email dengan wanita yang telah menulis lebih dari 1.000 artikel dan 80 ebook dan print book ini.

Awalnya saya ragu ketika hendak mengajukan pertanyaan. Draf pertanyaan sudah saya siapkan sejak pertengahan tahun lalu, tepatnya beberapa saat setelah posting di tanggal 21 April 2010. Namun kesibukan Mbak Jennie, demikian saya menyapanya, membuat saya ragu akankah pertanyaan-pertanyaan saya bakal dijawab. Akhirnya, keberanian itu timbul di tahun 2011. Ya, 10 Februari saya memberanikan diri mengirim draf pertanyaan ke Mbak Jennie. Setelah menunggu sebulan, 14 Maret jawabannya saya terima.

Oke, tanpa banyak basa-basi, berikut hasil wawancara saya dengan Jennie S. Bev. Semoga bermanfaat.
Jennie S. BevSelain krisis moneter, apa alasan Mbak Jennie merantau ke AS? Kenapa harus AS?
Melanjutkan studi pascasarjana tingkat Master dan Doktoral. Sejak usia 3 tahun, saya sudah bisa berbicara Bahasa Inggris dengan aksen Amerika, maka wajar kalau saya lebih tertarik ke AS daripada ke negara lain.

Saya baca dari beberapa referensi, Mbak Jennie sempat melakoni beberapa pekerjaan di AS sebelum akhirnya menekuni dunia tulis-menulis. Kalau boleh diceritakan, pekerjaan apa saja yang pernah Mbak Jennie jalani waktu itu?
Koki pembuat sushi, memandikan binatang piaraan, penjaga toko, asisten di law firm, analis di Depnaker California, antara lain.

Apa yang membuat Mbak Jennie akhirnya memutuskan total di dunia kepenulisan?
Perasaan nyaman dan menguasai ketrampilan tulis-menulis yang telah saya lakoni sejak di bangku kuliah di Universitas Indonesia dan menerbitkan artikel pertama di tahun 1994.

Persaingan di dunia kepenulisan di AS sedemikian ketat, bagaimana cara Mbak Jennie menembus ketatnya persaingan tersebut dan akhirnya menyeruak dari kerumunan?
Tidak kecil hati dan terus mengirimkan portfolio tulisan ke redaksi-redaksi dan penerbit-penerbit. Sesekali pasti ada editor yang tertarik, hubungan dibina dengan baik sejak itu sehingga pintu-pintu bisa terbuka lebih lebar di lain kali.

Berapa kali Mbak mengirim artikel ke media-media di AS sampai akhirnya dimuat untuk pertama kali? Boleh tahu judul artikel pertama Mbak Jennie yang dimuat di media AS dan (maaf) berapa honornya?
Sebenarnya saya hanya mengirimkan abstrak (pitch) dari artikel yang akan ditulis, dan ada editor yang tertarik. Saat itu saya baru memulai kegiatan fitnes, sehingga punya pengalaman-pengalaman menarik. Artikel pertama saya dimuat di sebuah majalah tentang kebugaran. Honornya $400.

Dari menulis di media cetak kemudian merambah dunia buku. Boleh diceritakan bagaimana awalnya sampai Mbak Jennie terjun ke dunia kepenulisan buku? Buku pertama yang ditulis/diterbitkan?
Buku pertama saya di mancanegara berbentuk ebook Guide to Become a Management Consultant diterbitkan oleh Fabjob, Inc. tahun 2002. Ini mendapatkan penghargaan finalis EPPIE Award for Excellence in Electronic Publishing tahun 2003.

Solusi Bisnis dari Seberang: buku terbaru Jennie S. Bev yang ditulis bersama suaminya, Dr. Beni Bevly.Sejauh ini Mbak Jennie sudah menulis lebih dari 1000 artikel dan 70 judul buku, baik yang dicetak maupun dalam bentuk e-book. Apa rahasianya sehingga dapat sedemikian produktif?
80 lebih ebook dan print books (belum dihitung satu per satu) sejak 2002. Kerjakan saja apa yang perlu dikerjakan setiap hari. Tidak perlu menunggu sampai dapat inspirasi. Jangan memanjakan diri dengan menganggap menulis adalah suatu pekerjaan super istimewa yang hanya bisa dilakukan kalau sedang mendapatkan “wangsit” atau inspirasi atau motivasi tertentu.

Buku terbaru ditulis bersama suami Dr. Beni Bevly, berjudul Solusi Bisnis dari Seberang yang berisi strategi-strategi aplikatif yang diambil dari studi-studi kasus mancanegara, untuk memecahkan masalah-masalah bisnis sehingga bisa bersaing di era kompetitif ini. Buku ini dikerjakan dengan kesadaran value added studi-studi kasus di AS untuk diaplikasikan di Indonesia. Jadi sering kali saya menulis karena melihat pentingnya memecahkan suatu masalah. Menulis sendiri adalah proses berpikir yang dituangkan dalam bentuk tertulis.

Rintangan apa saja yang pernah Mbak Jennie alami selama ini? Kalau boleh tahu, rintangan apa yang paling berat dirasakan yang mungkin sempat menghambat langkah Mbak Jennie?
Rintangan setiap hari pasti ada. Saya pernah ditolak menulis untuk suatu majalah karena tidak menguasai writing style tertentu. Untuk ini, saya kembali kuliah mengambil kelas-kelas jurnalisme dan creative writing, sehingga jelas apa bedanya dengan academic writing dan genre-genre lainnya.

Di Indonesia, sulit mengharapkan penghasilan berlimpah dari royalti buku. Apalagi penulis pemula yang naskahnya hanya dibeli dengan harga murah karena tidak memiliki nilai tawar di mata penerbit (contohnya saya yang hanya diberi Rp 2 juta/naskah). Penghasilan lebih besar justru didapatkan seorang penulis buku dari kegiatan-kegiatan di luar menulis, seperti menjadi pembicara seminar. Bagaimana pendapat Mbak Jennie mengenai kondisi ini? Apa yang harus dilakukan si penulis?
Saya pun tidak mengharapkan royalti dari beberapa buku berbahasa Indonesia yang diterbitkan di Indonesia. Juga karena kurang penghargaan, tidak transparansinya pembayaran royalti, dan banyaknya pelanggaran hak cipta. Untuk pasar Indonesia, memang buku-buku saya yang diterbitkan hanya berperan sebagai “kartu nama eksklusif” untuk sementara ini. Namun, bagi mereka yang berlatar belakang jurnalistik, ini sebenarnya sangat tidak menguntungkan. Strateginya mungkin bisa membangun website atau blog yang bisa dipakai sebagai platform untuk membangun personal brand. Dengan mempunyai personal brand, maka kita terpacu untuk terus meningkatkan ilmu sesuai brand yang kita miliki, sehingga juga menjadi semakin produktif. Saya percaya bahwa buku adalah jembatan antar umat manusia yang paling efektif. Semua pikiran besar dituangkan dalam bentuk buku. Buku-buku adalah pegangan hidup. Suatu saat pasti pikiran besar kita membawa hasil materil sesudah sedemikan banyak membawa hasil imateril.

Menurut Mbak Jennie, faktor apa sih yang paling memengaruhi kesuksesan seseorang?
Mindset. Sukses adalah saya. Saya adalah sukses. Default state saya adalah sukses, ketika jatuh, ini hanya untuk sementara dan tidak bisa mendefinisikan siapa saya.

Saya dengar Mbak Jennie begitu menekankan pentingnya konsep memberi dan berbagi pada sesama. Mengapa konsep ini penting? Dan apa pengaruhnya bagi perjalanan karir seseorang?
Ini sebenarnya hanya insting saja. Apalagi di rantau tidak kenal siapa pun. Bagaimana orang lain bisa mengenal isi hati dan pikiran kita jika kita tidak berbagi? Berbagilah, terutama informasi, kepada orang lain. Ketulusan hati pasti terpancar dan suatu hari akan membawa hasil walaupun tidak seketika. Bantulah orang lain, apa saja, tidak perlu yang besar-besar dan muluk-muluk. Justru yang kecil-kecil inilah yang mengesankan dan membina persahabatan.

Banyak orang-orang sukses mengatakan bahwa kesuksesan mereka diawali oleh sebuah impian yang menuntun mereka untuk terus bekerja keras mewujudkan impian tersebut. Bagaimana pendapat Mbak Jennie mengenai impian ini? Apakah seseorang harus memiliki impian untuk mencapai sukses?
Impian adalah target. Sukses sendiri bukanlah impian karena ini adalah mindset. Dengan mindset sukses, impian pasti tercapai, apapun itu. Siapa dan apa saya ditentukan oleh mindset yang akan menuntun kita kepada target dengan keberanian dan kebesaran jiwa.

Adakah penulis lain, mungkin penulis idola, yang memberikan pengaruh pada Mbak Jennie dalam menulis?
Banyak sekali penulis yang saya kagumi, biasanya setiap buku yang saya baca pasti saya kagumi kelebihan-kelebihannya. Yang jelas, saya sangat mengagumi penulis-penulis paling produktif sejagad. Barbara Cartland telah menerbitkan 732 buku dalam 60 tahun karirnya (kira-kira satu buku setiap dua minggu), Isaac Asimov telah menerbitkan 500-an buku, dan Jane Yolen 300 buku. Mereka berhasil menuliskan buku secara kontinyu berpuluh-puluh tahun lamanya. Ini menunjukkan betapa kemampuan berpikir dan otak manusia adalah sumber mata air yang tiada pernah berhenti. Mereka adalah sumber inspirasi saya.

Punya kutipan favorit? Kenapa menyukainya?
"I attempted to fracture the totalizing logic of their representational practices by othering myself from the stereotypical consolidation of the rich, non-resident Indian subject." (Gayatri Spivak)

"Let the dead have the immortality of fame, but the living the immortality of love." (Rabindranath Tagore)

"Do not go where the path may lead, go instead where there is no path and leave a trail." (Ralph Waldo Emerson)

Jelas kutipan-kutipan ini mencerminkan apa yang saya anggap paling penting di dalam hidup dan saya menerapkannya dalam kehidupan pribadi dan profesional.

Saya dengar sudah banyak tawaran menggiurkan untuk Mbak Jennie kalau mau pulang ke Indonesia. Adakah rencana pulang dan menetap di Indonesia?
Belum ada rencana pastinya karena sedang proses mengambil program doktoral satu lagi dibidang komunikasi psikologi.

Terima kasih banyak, Mbak. May God bless you… ^_^
Banyak terima kasih juga Eko. God bless you too.

Bung tertarik menyebar-luaskan wawancara ini? Silakan saja, asal jangan lupa menyebutkan alamat URL halaman ini sebagai referensinya. Sekali lagi, semoga bermanfaat.

Senin, 04 April 2011

Benarkah Rajin Menabung Pangkal Kaya?


“RAJIN menabung pangkal kaya.” Masih ingat dengan kalimat bijak yang diajarkan guru kita di Sekolah Dasar ini? Ada juga kalimat bijak lain yang masih berhubungan dengan tabung-menabung, “Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.” Maksudnya, jangan pedulikan seberapa sedikit uang yang ditabung, yang penting teruslah menabung secara rutin. Lama-lama, uang di tabungan akan bertambah banyak.

Pertanyaan saya sederhana saja, benarkah dengan rajin menabung kita bakal kaya? Logika sederhana kita bakal langsung mengatakan “ya”.

Ilusi Bunga Bank

Celengan: Lebih aman daripada tabungan di bank?
Kita tentu sama tahu kalau menabung di bank akan mendapat bunga. Saya tidak tahu berapa rate bunga tabungan ataupun deposito di bank dewasa ini, tapi yang jelas semua bentuk tabungan mendapat bunga sehingga bisa dipastikan jumlahnya bakal bertambah. Kalau tabungan tersebut tidak pernah diambil, tapi sebaliknya terus-menerus ditambah secara rutin, maka jumlah tabungan akan terus berlipat-ganda berkat sistem bunga berbunga.

Anggap saja Bung punya uang sebanyak Rp10.000.000 dan menabungnya di bank dalam bentuk deposito. Untuk deposito berjangka 1 tahun, Bung memperoleh bunga 8%. Memakai hitung-hitungan sederhana saja kita sudah tahu, setahun kemudian uang Bung akan bertambah menjadi Rp10.800.000. Pertanyaannya saya ulangi, apakah Bung bertambah kaya dibuatnya?

Kalau hanya melihat dari angka rupiah di tabungan yang semula Rp10.000.000 kemudian menjadi Rp10.800.000 setahun kemudian, memang Bung bertambah kaya. Tabungan Bung bertambah Rp800.000 dan itu berarti Bung bertambah kaya. Tapi coba lihat realita yang kita hadapi bersama, maka Bung akan tahu bahwa bertambahnya Rp800.000 ke dalam tabungan sama sekali tidak membuat Bung bertambah kaya. Kok bisa?

Nominal Bertambah, Tapi Nilai Berkurang
"...meskipun uang Bung bertambah Rp800.000 tapi Bung cuma bisa membeli bakso sebanyak 1.542 mangkuk atau 124 mangkuk lebih sedikit!"Saya beri contoh mudah. Kebetulan saya suka bakso, maka contohnya adalah harga semangkuk bakso yang dibandingkan dengan jumlah uang yang Bung punya.

Setahun lalu, pada saat menyetorkan tabungan ke bank, harga bakso masih Rp6.000/mangkuk. Dengan uang Rp10.000.000 Bung bisa membeli sekitar 1.666 mangkuk bakso. Setahun kemudian, pada saat tabungan bertambah menjadi Rp10.800.000 karena bunga, harga bakso sudah naik menjadi Rp7.000/mangkuk (cuma naik Rp1.000!). Sekarang coba hitung berapa banyak bakso yang bisa Bung beli dengan uang yang sudah bertambah banyak itu. Jangan kaget, meskipun uang Bung bertambah Rp800.000 tapi Bung cuma bisa membeli bakso sebanyak 1.542 mangkuk atau 124 mangkuk lebih sedikit!

Pertanyaannya saya ulangi sekali lagi, apakah Bung bertambah kaya? Kalau dihitung berdasarkan jumlah barang yang bisa Bung beli, menabung di bank rupanya tidak membuat Bung bertambah kaya. Benar tabungan Bung bertambah setahun kemudian, tapi jumlah barang yang bisa Bung beli dengan uang yang sudah bertambah itu malah semakin sedikit. Lucu, bukan?

Silakan disimpulkan sendiri-sendiri.

Jumat, 01 April 2011

Alternatif Nahkoda Baru PSSI


MENARIK sekali mengikuti gejolak di tubuh PSSI menjelang pemilihan ketua umum periode 2011-2015. Namun, kita semua tentu sepakat, bukan konflik berkepanjangan seperti yang ditunjukkan Nurdin Halid cs. versus Arifin Panigoro cs. (plus Pemerintah melalui Kemenpora) saat ini yang dibutuhkan sepak bola Indonesia. Mau dibawa ke mana sepak bola nasional jika pengurus PSSI terus-menerus bertikai?


Rasanya tidak perlu berdebat untuk mengatakan PSSI butuh perubahan sekaligus penyegaran demi kemajuan sepak bola nasional. Kepengurusan status quo yang telah menjabat selama delapan tahun terbukti minim prestasi. Karenanya, Nurdin Halid cs. mestinya legowo untuk menyerahkan kekuasaan pada sosok-sosok lain. Publik sepak bola nasional akan sangat menaruh respek tinggi pada NH jika ia rela tidak mencalonkan diri lagi.

Pertanyaannya sekarang, siapa yang layak menduduki kursi PSSI 1? Jika mengacu pada keputusan Komite Banding Pemilihan yang dipimpin Cipta Lesmana lalu, empat kandidat sebelumnya (NH, Nirwan Bakrie, George Toissuta, dan Arifin Panigoro) seharusnya tidak bisa mencalonkan diri lagi. Apalagi sesuai Standard Electoral Code FIFA, keputusan Komite Banding adalah final dan mengikat. Dengan demikian, PSSI butuh nama-nama baru sebagai calon nahkoda selanjutnya pada periode mendatang.

Sejumlah nama telah diapungkan, baik oleh para peserta kongres, pemilik hak suara, media, maupun para pengamat. Siapapun yang dicalonkan tentu sah-sah saja. Namun, mengingat PSSI adalah organisasi olahraga terpopuler sekaligus terfavorit di Indonesia, juga mengingat kondisi kritis sepak bola nasional yang terus menurun dari waktu ke waktu, calon Ketum berikutnya sudah semestinya disaring secara super ketat sebelum maju ke bursa pemilihan.

Saya pribadi melihat setidaknya ada lima faktor penting yang harus dimiliki seorang bakal calon Ketum PSSI 2011-2015. Kelima faktor tersebut adalah:

1. Menyukai dan paham sepakbola
Ini adalah harga mati. PSSI merupakan organisasi sepak bola, jadi sudah semestinya orang nomor satu di PSSI adalah seorang yang menyukai dan paham seluk-beluk sepak bola. Pengetahuan memadai akan sepak bola bakal sangat membantu Ketum PSSI dalam merumuskan kebijakan-kebijakannya, termasuk juga dalam hal-hal sepele tapi penting seperti hubungan PSSI dan pelatih Timnas.

2. Bukan bagian dari pengurus PSSI sekarang
NH dan kroni-kroninya yang berada di kepengurusan PSSI sekarang adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kemerosotan sepak bola nasional. Memilih Ketum baru dari kubu status quo sama saja dengan memilih NH untuk kali ketiga. PSSI butuh penyegaran, dan misi ini hanya akan berhasil jika posisi Ketum periode mendatang diisi sosok yang bebas dari pengaruh pengurus PSSI saat ini.

3. Tidak berafiliasi dengan Parpol manapun
Sudah dua periode PSSI diurus oleh para politisi. Hasilnya? Kita bisa lihat sendiri. Alih-alih menorehkan prestasi, sepak bola justru dijadikan kendaraan untuk meraih simpati publik. Bukti terbaru adalah politisasi Timnas saat berlaga di Piala AFF 2010 lalu. Belum lagi gelar juara diraih, politisi sudah ramai-ramai ‘menunggangi’ Timnas dengan berbagai kepentingan di luar sepak bola. Akibatnya, trofi yang di atas kertas dapat diraih dengan mudah justru melayang secara menyesakkan.

4. Memiliki skill manajerial mumpuni
Karena PSSI adalah sebuah organisasi besar dan terhitung kompleks, maka faktor satu ini merupakan kunci yang harus dimiliki calon Ketum PSSI mendatang. Untuk ini, tokoh-tokoh yang banyak berpengalaman di organisasi menjadi prioritas. Memiliki skill manajerial juga berarti memiliki strong leadership, sebab PSSI butuh pemimpin yang tegas dan tak mudah disetir pihak ketiga.

5. Mempunyai sokongan dana berlimpah
Meski PSSI memiliki sumber dana cukup banyak dari APBN dan juga sumbangan FIFA, namun calon Ketum yang mempunyai sokongan dana berlimpah tetap diperlukan. Membangun sepak bola Indonesia ke pentas dunia adalah proyek besar yang butuh dana tak terbatas. Hanya mengandalkan APBN saja tidak akan pernah cukup, begitu juga sumbangan FIFA yang jumlahnya terbatas. Karenanya, Ketum PSSI mendatang sebaiknya adalah orang yang pandai mencari dana untuk menyokong program-program PSSI.

Berpatokan pada lima poin di atas, saya melihat setidaknya ada tiga nama yang paling layak diajukan. Mereka adalah Sutiyoso, Agum Gumelar, dan IGK Manila. Nama Jusuf Kalla sebenarnya masuk kriteria. Sayang, JK sudah menyatakan tidak berminat menjadi Ketum PSSI. Dari kalangan generasi muda, nama mantan Menpora Adhyaksa Dault sebenarnya pantas disebut. Namun, Adhyaksa yang mendukung penuh langkah PSSI dalam mencalonkan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2018/2022 ini terlanjur lekat dengan salah satu Parpol pendukung pemerintah. Track record-nya di dunia sepak bola juga tidak meyakinkan.

Foto: bandarbola.com
Sutiyoso: Bersedia dicalonkan sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015.
Sutiyoso yang menjabat sebagai Pembina Persija bisa dijadikan pilihan pertama. Kegilaannya pada sepak bola tidak perlu diragukan lagi. Saat masih menjabat Gubernur DKI, ia menggagas kompetisi pramusim bertajuk Piala Emas Bang Yos. Memimpin DKI selama dua periode, sempat menjadi Ketum PBSI, dan saat ini masih menduduki kursi Ketum Perbasi dan Orari, membuatnya unggul dari segi pengalaman berorganisasi. Relasinya yang luas di Jakarta adalah senjata ampuhnya dalam menggalang dana.

Sedikit di bawah Sutiyoso, Agum Gumelar adalah pilihan yang sangat pantas. Pengalaman dan pencapaiannya sebagai Ketum PSSI sebelum digantikan NH adalah modal penting. Rencananya mendatangkan Manchester United medio 2009 lalu adalah bukti kegilaannya pada sepak bola, sekaligus kepiawaiannya dalam menggalang dana. Ingat juga, Agum merupakan salah satu penggagas Kongres Sepak Bola Nasional di Malang pertengahan tahun lalu. Meski sempat digandeng salah satu Parpol dalam Pilpres 2004 dan kemudian Pemilukada, Agum tidak berafiliasi dengan partai manapun.

Calon ketiga, IGK Manila, juga tak kalah bagus. Meski namanya tak sebesar Sutiyoso dan Agum Gumelar, tapi kualitas mantan manajer Persija ini beda-beda tipis dengan kedua nama dari kalangan militer tersebut. Yang paling penting, sama seperti Sutiyoso dan Agum, IGK Manila adalah sosok properubahan. Kehadirannya di kepengurusan PSSI mendatang bakal membuat hembungan angin reformasi semakin kencang menghembus Senayan.

Kita tunggu saja, akankah ketiga nama yang saya sebut di atas masuk bursa calon Ketum PSSI periode 2011-2015. (bungeko)
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama