Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Minggu, 29 Mei 2011

Barca, The King of Europe


BARCELONA kembali sukses menundukkan Manchester United di partai puncak Liga Champions. Setelah kemenangan 2-0 di Stadion Olimpico, Roma, pada final 2008/09, semalam (28/5) Lionel Messi dkk. menang 3-1 di Stadion Wembley untuk membawa pulang trofi Liga Champions keempat bagi klub Catalan tersebut.

Datang sekitar sepekan sebelum laga rupanya membawa berkah pada penampilan pasukan Josep Guardiola. Meski MU sempat menekan ketat di menit-menit awal, Xavi Hernandez cs. mampu lepas dari tekanan dan mencetak gol pertama di menit ke-27. Adalah Pedro yang membuat fan Barca di Wembley bersorak kala tendangannya tak mampu ditangkap Edwin van der Saar.

Gol Wayne Rooney di menit ke-34 sempat membuat kedudukan imbang hingga babak pertama usai. Namun, di babak kedua dominasi Blaugrana berlanjut. Penguasaan bola (ball possession) di atas 65% seperti ditunjukkan di babak pertama kembali diulangi Barca, membuat pemain-pemain MU hanya bisa membayang-bayangi pergerakan Andres Iniesta dkk.

Foto: fcbarcelona.com
Josep Guardiola, trofi Liga Champions keduanya sebagai pelatih Barca dalam tiga tahun.
Gol kedua Barca yang dicetak Messi di menit ke-54 membuat pasukan Sir Alx Ferguson tampak panik. Permainan keras mulai dikeluarkan. Antonio Valencia beruntung tidak sampai dikartu merah wasit Viktor Kassai. Beberapa kali MU mendapat peluang melakukan serangan balik, tapi selalu kandas dan bola kembali dikuasai Barca. MU semakin mati angin ketika David Villa mencetak gol ketiga buat juara La Liga 2010/11. Skor 3-1 berakhir hingga laga usai.

Wayne Rooney menangis, golnya tak kuasa membantu tim. Ryan Giggs menggeleng-gelengkan kepalanya karena dua kali dikalahkan tim yang sama di final Liga Champions. Van der Saar urung mengakhiri karirnya di dunia sepak bola dengan trofi di genggaman tangan. Javier "Chicharito" Hernandez tak kalah kecewa. Ia bahkan terus saja berjalan melewati Michel Platini yang hendak mengalungkan medali perak saat prosesi penyerahan trofi di tribun. Platini sampai menarik penyerang berwajah bayi itu agar medali dapat dikalungkan ke leher si pemain.Foto: fcbarcelona.com
David Villa, mencetak gol untuk trofi Liga Champions pertamanya bersama Barca.


Sportivitas Sir Alex
Saya menangkap satu momen menarik di akhir laga. Meski di atas lapangan timnya kalah segalanya, namun Sir Alex tak segan-segan menghampiri Guardiola. Bukan sekedar jabat tangan basa-basi, pelatih gaek ini juga menepuk-nepuk pundak rivalnya sambil tersenyum lebar--meski tetap mengunyah permen karet.

Dari mimik wajah dan gesture tubuhnya saat itu, saya melihat Sir Alex begitu kagum pada Guardiola. Ucapannya di media bahwa pelatih Barca itu layak menggantikan posisinya di MU suatu saat nanti, rupanya bukan sekedar basa-basi menjelang final. Bukan pula serangan psikologis yang biasa dilakukan kepada calon lawan menjelang laga. Sir Alex, pelatih dengan segudang prestasi di MU, tampak benar-benar mengagumi sosok Guardiola.

Sungguh satu pertunjukkan kebesaran jiwa yang patut ditiru oleh pelatih manapun di dunia. Dalam olah raga berasaskan fair play seperti sepak bola, sikap Sir Alex malam itu sungguh patut diacungi dua jempol.

Bravo, Barca!

Kamis, 26 Mei 2011

Head to Head Final Liga Champions Eropa 2011


DUEL super panas bertajuk final Liga Champions Eropa musim 2010/2011 bakal segera tersaji. Sabtu (28/5) mendatang, penggila bola di seluruh penjuru dunia bakal disuguhi pertandingan kelas dunia. FC Barcelona versus Manchester United, itulah 2 tim yang bakal bertanding di Stadion Wembley, London. Siapa yang bakal memenangkan duel super seru ini? Sebelum menebak-nebak, ada baiknya kita lihat dulu head to head kedua tim.

FC Barcelona
VS
Manchester United

Futbol Club Barcelona
29 November 1899
Estadio Camp Nou
Sandro Rosell
Josep "Pep" Guardiola
Lionel Messi, Xavi H.
La Liga (21 kali)
Copa del Rey (25)
Copa de la Liga (2)
Super Copa de Espana (9)
Copa Eva Duarte (4)
Liga Champions 3 kali (1992, 2006, 2009)
Piala UEFA 4 kali (1979, 1982, 1989, 1997)
FIFA Club World Cup (2009)

7 kali (1961, 1986, 1992, 1994, 2006, 2009, 2011)
2009 (2 tahun lalu)

Nama Klub
Berdiri
Stadion
Presiden
Pelatih
Pemain Kunci
Prestasi Lokal




Gelar Regional



Gelar Internasional


Final Liga Champions

Final Sebelumnya

Manchester United FC
1878, sbg. Newton Heath FC
Old Trafford
Joel & Avram Glazer
Alex Ferguson
Wayne Rooney, N. Vidić
Premiership (19 kali)
FA Cup (11)
Piala Liga (4)
FA Charity/Community Shield (18)
Liga Champions 3 kali (1968, 1999, 2008)
Piala Winner (1991)
UEFA Super Cup (1991)
Intercontinental Cup (1991)
FIFA Club World Cup (2008)
3 kali (1968, 1999, 2008)

2009 (3 tahun lalu)

Melihat deretan trofi yang dipunyai kedua tim di level domestik, tentu tak diragukan bahwa keduanya merupakan jagoan masing-masing negara: Spanyol dan Inggris. Begitu juga jika melihat koleksi trofi regional dan internasional yang mereka punyai, semakin sahlah jika duel keduanya Sabtu (28/5) nanti dilabeli final super panas.

Siapa yang bakal menjadi juara Liga Champions 2010/2011? Kita tunggu saja...

Rabu, 25 Mei 2011

Mourinho Bukan Pelatih Bintang


KEGAGALAN Real Madrid menuju final Liga Champions Eropa 2010/2011 seolah membenarkan asumsi saya bahwa Jose Mourinho masih belum pantas dijuluki pelatih terbaik dunia. Kenapa? Sebab, Mou mempunyai satu kelemahan: tidak bisa menangani tim bertabur bintang di turnamen antarklub Eropa!

Mari kita lihat jejak rekam The Special One. Nama Mou mulai diperhitungkan di kancah sepakbola Eropa ketika membawa Porto menjuarai Piala UEFA (kini Europa League) musim 2002/2003. Semusim berikutnya Mou membawa Porto menjuarai Liga Champions. Prestasi ini menjadi istimewa karena skuad Porto waktu itu sama sekali tidak diisi nama-nama mentereng. Malah dengan prestasi tersebut sejumlah pilar Porto menjadi bintang. Sebut saja Deco, Ricardo Cravalho, dan Paulo Ferreira.

Foto: esportmag.com
Mou, belum pantas terbaik.
Ketika menangani Chelsea, Mourinho memiliki skuat yang jauh lebih mentereng dibanding Porto. Selain Frank Lampard dan John Terry yang sudah menghuni Chelsea sejak lama, Roman Abramovich mendatangkan bintang-bintang Eropa. Mulai dari rising star seperti Didier Drogba, Michael Essien, dan trio mantan anak asuhnya di Porto, pemain-pemain berpengalaman seperti Michael Ballack, Mateja Kezman dan Andriy Shevchenko juga sempat jadi penghuni Stamford Brigde. Sayang, sampai 3,5 musim di Chelsea Mou sama sekali tak bedaya di Liga Champions.

Mou kemudian ke Italia untuk menangani Inter. Di sini, Mou boleh dibilang tak punya pemain bintang. Mungkin hanya Wesley Sneijder dan Samuel Eto'o saja pemain Inter yang bisa dikategorikan sebagai bintang saat menjuarai Liga Champions 2009/2010. Sisanya adalah pemain "kelas dua". Ternyata Mourinho meninggalkan kesan manis berupa raihan treble winner ketika meninggalkan Inter.

Musim ini Mou menerima tantangan menangani klub bertabur bintang Real Madrid. Sesuai julukannya, Los Galacticos, skuad Madrid bertabur bintang. Mulai dari Karim Benzema, Ricardo Kaka, Cristiano Ronaldo, hingga bintang-bintang lokal Spanyol seperti Iker Casillas. Hasilnya? Musim ini bisa dipastikan hanya Copa del Rey saja gelar yang diberikan Mou untuk klub ibukota Spanyol tersebut. Tentu saja ini bukan prestasi mentereng bagi pelatih terbaik dunia dan tim dengan skuat bintang-bintang kelas wahid.

Well, berdasarkan fakta-fakta inilah saya menyebut Mourinho bukanlah seorang pelatih bintang. Bagaimana menurut pendapat Bung?
Catatan: Posting ini merupakan naskah asli surat pembaca berjudul Mou, Bukan Pelatih Bintang di rubrik 'Rumah Suporter' tabloid BOLA edisi 2.193, Sabtu-Minggu 7-8 Mei 2011.

Minggu, 22 Mei 2011

Sepak Bola Indonesia Siaga Satu


ENTAH disengaja atau tidak, hari pelaksanaan Kongres PSSI 2011 yang ditetapkan Komite Normalisasi (KN) bertepatan dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Tanggal 20 Mei 1908, dr. Soetomo dan teman-temannya sesama mahasiswa kedokteran Stovia mendirikan Budi Utomo.

Organisasi berlandaskan kebangsaan Indonesia inilah yang menginspirasi bersatunya pejuang-pejuang kemerdekaan nasional dalam satu tujuan: kemerdekaan Indonesia. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya pada 28 Oktober 1928, pemuda-pemuda seluruh Indonesia berkumpul di Surakarta(?). Hasilnya, lahirlah Sumpah Pemuda sebagai sikap bersama segenap generasi muda nusantara terhadap tanah airnya.

Foto: Soccerfact.com
Agum Gumelar, wewenangnya sebagai Ketua Komite Normalisasi PSSI digoyang Kelompok 78.
Kongres PSSI yang dilaksanakan tepat saat Harkitnas pun tak pelak memunculkan optimisme. Hasil kongres diharapkan menjadi awal kebangkitan sepak bola nasional. Sejumlah pengamat bahkan menggadang-gadang 20 Mei 2011 sebagai Hari Kebangkitan Sepak Bola Nasional.

Kebetulan pula, sehari kemudian ada momen yang tak kalah penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Tanggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mundur dari jabatannya setelah berkuasa selama 32 tahun. Desakan reformasi yang disuarakan mahasiswa sejak setahun sebelumnya sukses meruntuhkan pemerintahan Orde baru yang korup. Era Reformasi bergulir membawa harapan baru.

Apa lacur, dua momen penting tersebut rupanya tak dihayati oleh sebagian peserta kongres. Kombinasi antara egoisme, aroganisme, kekeras-kepalaan, kebodohan, dan sifat materialistis dari sejumlah pihak membuat kongres buntu. Alih-alih menjadi awal kebangkitan sepak bola nasional, 20 Mei 2011 bisa jadi awal malapetaka. Sanksi FIFA mengintai Indonesia!

Kelompok 78 Ngotot
Buntunya Kongres PSSI tentu sangat disayangkan. Sebab, dengan agenda yang sudah jelas dan diketahui peserta kongres sebelumnya, semestinya tak perlu lagi ada pembahasan hal-hal yang tidak substansial.

Ini dia para pentolan K-78: Wisnu Wardhana, Usman Fakakubun, Saleh Mukadar, Halim Mahfudz, Dityo Pramono, Sihar Sitorus, dan Hadiyandra. Gugat mereka kalau sampai Indonesia dapat sanksi FIFA!!!Kengototan Kelompok 78 patut dituding sebagai penyebab buntunya Kongres PSSI. Selain ngotot mengegolkan GT-AP sebagai kandidat bakal calon duet pemimpin PSSI 2011-2015, kelompok ini juga ngotot menuntut Komisi Banding diberi kesempatan untuk menjelaskan alasan diterimanya banding jagoan mereka. Puncaknya, mereka ngotot meminta KN yang sekaligus bertindak sebagai pimpinan kongres diganti.

Kalau saja Kelompok 78 mau sedikit berpikir jernih, sesat pikir seperti itu tak akan terjadi, apalagi dipaksakan. GT-AP sudah jelas-jelas dicekal FIFA, dan ini bersifat final. Bukankah gugatan untuk FIFA yang mereka ajukan ke komite arbitrase olah raga (CAS) juga sudah ditolak? Sementara itu, penjelasan Komite Banding sejak awal memang tidak ada dalam agenda kongres.

Foto: Vivanews.com
Wisnu Wardhana, ngotot sampai mati demi GT-AP.
Hal paling konyol tentu saja niat menggusur KN. Sebagai badan yang dibentuk langsung oleh FIFA, menyusul kacaunya Kongres Pekanbaru pada Maret silam, KN tidak bisa dimakzulkan oleh Kongres PSSI. Bahkan, sekalipun 101 pemilik hak suara sepakat mengganti KN, tidak ada satu forum pun dalam lingkup PSSI yang dapat melakukannya.

Alasan bahwa keberadaan KN melanggar Statuta PSSI dan juga Statuta FIFA jelas menunjukkan betapa Kelompok 78 tak memahami aturan main. Statuta PSSI, Statuta FIFA, serta perangkat peraturan lain terkait pemilihan kepengurusan hanya berlaku dalam kondisi normal. Masalahnya, kisruh di tubuh PSSI yang berujung pada rusuhnya Kongres Pekanbaru membuat FIFA beranggapan PSSI dalam masalah serius sehingga tidak mampu menjalankan fungsinya. Karena itulah Komite Darurat FIFA membentuk KN untuk menormalisasi PSSI. FIFA baru akan menganggap PSSI normal jika kepengurusan baru sudah terbentuk. Saat itulah segala macam statuta dan kode etik berlaku lagi.

Darurat dan tidak normal, seharusnya dua kata kunci itu menjadi pegangan Kelompok 78 dalam bersikap. Kalau saja mereka memahami situasi yang berkembang belakangan ini, berbesar hati menerima keputusan FIFA adalah keputusan terbaik. Ingat, sepak bola nasional jadi taruhannya!

Kini, sepak bola nasional benar-benar dalam kondisi darurat. Setelah PSSI dua kali gagal menggelar kongres, rasanya FIFA akan lebih mudah menjatuhkan sanksi untuk Indonesia. Jika itu terjadi, bak seorang pilot yang pesawatnya meluncur deras ke bawah tanpa terkendali, segenap pecinta sepak bola nasional rasanya pantas berteriak, “May day, may day..!

Catatan: Posting ini merupakan naskah asli artikel berjudul May Day, May Day...! di rubrik 'Oposan' tabloid BOLA edisi 2.200, Senin-Rabu 23-25 Mei 2011.

Rabu, 04 Mei 2011

Stop Naturalisasi Pemain!


SETELAH dianggap sukses, program naturalisasi pemain yang dijalankan Badan Tim Nasional (BTN) semakin kencang. Menjelang SEA Games 2011 dan Prakualifikasi Piala Dunia 2014, tujuh pemain keturunan Indonesia yang berlaga di kompetisi luar negeri, plus dua pemain asing yang berkiprah di Liga Super Indonesia (LSI), siap diberi paspor hijau.

Dahaga publik akan prestasi dijadikan alasan bagi BTN untuk mengencangkan laju naturalisasi pemain. Target utama adalah merebut medali emas sepak bola di SEA Games mendatang. Target berikutnya, melangkah sejauh mungkin dalam Prakualifikasi Piala Dunia 2014. Bisa menjadi satu dari 32 tamu di Brasil tiga tahun mendatang tentu menjadi harapan kita semua. Namun, masuk ke babak utama prakualifikasi Asia saja sudah merupakan prestasi hebat.

Alasan lain, BTN menganggap proyek naturalisasi jilid I yang menghadirkan Cristian Gonzales sukses besar. Bersama Irfan Bachdim, striker kelahiran Uruguay ini tampil dominan di Piala AFF 2010 lalu. Dua golnya di dua laga semifinal kontra Filipina membawa Indonesia ke final. Crisgo dan Irfan pun jadi idola baru pecinta bola tanah air, menyingkirkan Bambang Pamungkas yang sebelumnya selalu dielu-elukan fans timnas.Cristian Gonzales, belum bisa dibilang sukses.

Pertanyaannya, benarkah program naturalisasi sukses? Bila acuannya prestasi di Piala AFF 2010, jawabannya "BELUM", kalau tidak mau dikatakan "TIDAK".

Ingat, Indonesia sudah tiga kali mencapai final Piala AFF (dulu bernama Piala Tiger) jauh sebelum program naturalisasi digulirkan PSSI. Ketiganya bahkan dicapai secara beruntun, yakni di tahun 2000, 2002, dan 2004. Final tahun lalu adalah yang keempat. Soal performa, timnas Piala Asia 2007 di bawah pelatih Ivan Kolev tampil sangat trengginas tanpa "pemain asing". Artinya, prestasi timnas yang berisi pemain naturalisasi hanya mampu mengulangi alias menyamai pencapaian sebelumnya. Padahal, kita berharap hasil lebih baik dari program andalan BTN ini.

Dengan demikian, bolehkah disimpulkan jika program naturalisasi sejauh ini belum memberikan efek positif dari segi prestasi. Timnas Piala AFF 2010 seolah-olah sukses karena begitu massifnya ekspos media massa. Belum pernah media, terutama televisi dan tayangan infotainment, memberikan perhatian sedemikian besar pada timnas. Tak heran bila Alfred Riedl sampai merasa perlu mengkomplain wartawan karena menganggap ekspos media bakal mengganggu konsentrasi pemain.

Mengancam Regenerasi
Andai BTN mau berpikir lebih jauh, program naturalisasi sejatinya justru merusak pola pembinaan di tanah air. Hadirnya pemain-pemain dari luar LSI jelas membuat potensi lokal tergusur. Jangankan menaturalisasi pemain asing untuk timnas, terlalu banyak pemain asing di liga domestik saja sudah dapat merusak regenerasi pemain lokal.

Foto: sport.manadotoday.com
Stefano Lilipaly, "mengancam" pemain-pemain asli Indonesia.
Ambil contoh Spanyol. Ketika Real Madrid jor-joran mengumpulkan bintang-bintang dunia ke Santiago Bernabeu, banyak sekali potensi muda asli Spanyol di Madrid yang lantas redup. Guti Hernandez salah satunya. Gelandang yang sempat menjadi harapan Spanyol ini tidak berkembang karena Madrid kala itu punya Zinedine Zidane, Luis Figo, dan lantas David Beckham. Era kejayaan Spanyol dimulai seiring dominannya Barcelona di La Liga. Berkebalikan dengan Madrid yang skuadnya lebih banyak diisi pemain asing, Barca malah mengandalkan jebolan akademinya sendiri. Kebijakan ini kian menguat di era Pep Guardiola. Dan, timnas Spanyol yang didominasi pemain-pemain Barca pun menjuarai Euro 2008, disusul Piala Dunia 2010.

Contoh berikutnya Inggris. Coba perhatikan, dari 8 tim papan atas Liga Primer Inggris yang bertarung di level Eropa, hanya Manchester City yang memasang kiper asli Inggris sebagai pilihan utama. Tim-tim elit seperti Manchester United, Arsenal, Chelsea, Liverpool, hingga Tottenham Hotspurs lebih memilih kiper asing. Akibatnya, kita sama-sama tahu kalau hingga kini Inggris masih kesulitan mencari sosok yang tepat di bawah mistar timnas.

"...penyebab mundurnya prestasi timnas adalah buruknya kompetisi dan sistem pembinaan. Akibat dari dua hal tersebut adalah jeleknya kualitas pemain yang dihasilkan untuk timnas."
-bungeko.com
Kembali ke program naturalisasi BTN, hendaknya program ini jangan dijadikan proyek jangka panjang. Percuma saja LSI digelar kalau untuk skuad timnas BTN justru sibuk mencari pemain keturunan Indonesia yang berlaga di kompetisi luar negeri. Bagaimana perasaan pemain-pemain lokal di LSI bila hal ini terus-menerus terjadi.

Bayangkan saja, untuk skuad SEA Games 2011 setidaknya ada empat slot yang dikhususkan untuk pemain naturalisasi. Mereka adalah Ruben Wuarbanaran, Stefano Lilipaly, Diego Michiels, dan Joey Suk. Berita jeleknya, bisa dipastikan keempat pemain ini bakal menjadi pilihan utama Riedl. Ini artinya, kesempatan pemain-pemain muda asli Indonesia untuk merasakan laga internasional di SEA Games tertutup.

Okelah kalau kemampuan para pemain naturalisasi tersebut jauh di atas pemain lokal. Pada kenyataannya, skill mereka, meminjam istilah Bambang Nurdiansyah, hanya rata-rata air alias tidak terlalu istimewa. Iklim kompetisi dan fasilitas pendukung yang lebih memadai saja yang membuat mereka terlihat berbeda kelas dibanding pemain lokal. Pendapat ini masuk akal. Sebab jika mereka betul-betul hebat, mana mungkin mereka mau membela Indonesia.

Jadi, penyebab mundurnya prestasi timnas adalah buruknya kompetisi dan sistem pembinaan. Akibat dari dua hal tersebut adalah jeleknya kualitas pemain yang dihasilkan untuk timnas. Kalau saja PSSI mampu menciptakan liga domestik seperti La Liga atau setidaknya Eredivisie, saya rasa BTN tidak perlu susah-susah keliling dunia mencari pemain keturunan Indonesia.

Bagaimana pendapat Bung?
Catatan: Posting ini merupakan naskah asli untuk rubrik 'Oposan' di Tabloid BOLA. Alhamdulillah, dimuat di BOLA edisi 2.186, Kamis-Jumat 21-22 April 2011. Sayangnya, alih-alih dimuat di rubrik 'Oposan', opini saya ini dimuat di rubrik 'Ola Ole'. Ya, tak apalah. ^_^
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama