Selamat datang di bungeko.com, blog pribadi Eko Nurhuda. Semoga tulisan-tulisan di blog ini memberi manfaat positif bagi Anda. Saran atau kritik dari Anda akan diterima dengan senang hati.

Menyambut Euro 2012

Hasil Undian dan Jadwal Lengkap Euro 2012

Piala Eropa 2012 di Polandia-Ukraina masih enam bulan lagi. Namun undian penentuan grup bagi ke-16 peserta putaran final sudah dilakukan di Kiev, 2 Desember lalu.

Baca juga:

»
» Ketika Blog Masih Dipandang Sebelah Mata



Sabtu, 18 Juni 2011

Reformasi Salah Kaprah


COBA Bung iseng bertanya ke masyarakat awam, lebih enak mana hidup di jaman Pak Harto dengan setelah reformasi 1998? Bisa dipastikan sebagian besar masyarakat bakal menjawab, “Enakan jaman Pak Harto dong. Apa-apa murah, nggak ada bom-boman. Sekarang?”

Apakah reformasi yang dimotori mahasiswa 13 tahun lalu gagal? Kalau ukurannya hanya pergantian tampuk kekuasaan, tentu saja gerakan ini sukses. Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun berhasil ditumbangkan. Tapi kalau ukurannya kepentingan masyarakat banyak, boleh dibilang reformasi malah membuat hidup sebagian besar rakyat Indonesia lebih susah.

Tak heran jika akibat melonjaknya harga kebutuhan bahan-bahan pokok, masyarakat memplesetkan kata “reformasi” menjadi “repot nasi”.

Cerita serupa tapi tak sama rupanya terulang di tubuh PSSI. Gerah melihat kepemimpinan negatif Nurdin Halid ditambah dengan minusnya prestasi timnas selama delapan tahun ke belakang, gerakan reformasi terjadi di sepak bola nasional. Seluruh elemen bersatu padu untuk melengserkan NH dari singgasananya. Mulai dari kelompok suporter hingga klub pemilik hak suara, semua sepakat ingin menurunkan NH.

NH sempat berusaha mati-matian mempertahankan diri. Namun “intervensi” pemerintah melalui Menpora Andi Alfian Mallarangeng yang membekukan kepengurusan NH, plus dibentuknya Komite Normalisasi oleh FIFA menyusul gagalnya Kongres Pekanbaru, membuat NH tak berkutik. Iapun mundur.

Melenceng
Reformasi sepak bola nasional sukses? Tunggu dulu. Menyingkirkan NH dan kroni-kroninya dari PSSI hanyalah babak awal. Ada tujuan yang jauh lebih penting dari itu, yakni memperbaiki kondisi sepak bola nasional.

Sayang, seperti halnya Reformasi 1998, reformasi sepak bola tahun ini justru berbuntut friksi di kalangan elite PSSI. Perebutan kursi PSSI 1 adalah pemicunya. Dan gagalnya Kongres 20 Mei lalu adalah akibatnya. Indonesia nyaris diskors, tapi kesempatan kedua justru diberikan FIFA.

Kali ini deadline yang wajib dipenuhi adalah tanggal 30 Juni. PSSI sudah harus memilih kepengurusan baru sebelum tanggal tersebut. Jika kembali gagal, sepak bola Indonesia musti siap-siap menjadi katak dalam tempurung.

Sayangnya, jauh-jauh hari sudah tercium aroma tak sedap berupa potensi deadlock seperti kongres sebelumnya. Lebih disayangkan lagi karena yang jadi penyebab identik: segelintir oknum pemilik hak suara ngotot mengegolkan pasangan bakal calon ketua umum dan wakil ketua umum yang didiskualifikasi FIFA.

Ironisnya, oknum-oknum yang awalnya dikenal sebagai Kelompok 78 dan lalu dilabeli Gerombolan 78 ini, sejak awal Juni mendeklarasikan diri sebagai Gerakan Reformasi Sepak Bola Nasional Indonesia (GRSNI). Dengan penuh percaya diri mereka mendengung-dengungkan bahwa kelompoknya adalah reformis yang siap mengubah wajah sepak bola Indonesia menjadi lebih baik.

Salah kaprah! Itulah dua kata yang patut ditujukan pada GRSNI. Jika betul-betul hendak mereformasi PSSI demi lebih baiknya prestasi Indonesia, ngotot sampai mati demi memperjuangkan pasangan bakal calon yang dilarang FIFA adalah tindakan kontraproduktif. Alih-alih membuat perbaikan, bisa-bisa sepak bola Indonesia malah jauh lebih buruk dari era kepemimpinan NH.

Jangan sampai masyarakat pecinta sepak bola nasional kelak berkata, “Enakan jaman Nurdin Halid dong. Biar nggak pernah juara, tapi kita bisa nonton timnas main di pentas internasional.” [en]

Selasa, 14 Juni 2011

Liverpool Tanpa Anggur


“Liverpool without European football is like a banquet without wine.”


PENGGEMAR Liverpool mana yang lupa dengan kalimat legendaris ini? Adalah Roy Evans, mantan bek (Oktober 1965-1970) dan manajer (Januari 1994-November 1998, sejak Juli 1998 menjadi joint-manager bersama Gerrard Houlier) The Reds, si pelontar kata-kata tersebut.

Meski sepanjang karirnya sebagai gaffer di Anfield tak menorehkan prestasi fenomenal—kecuali mengorbitkan Robbie Fowler dan Steve McManaman mungkin, ucapan Evans tetap pantas dikenang kubu Merseyside Merah. Ya, secara tradisional tempat Liverpool adalah 4 besar klasemen akhir Liga Inggris dan berlaga di kompetisi Eropa.

Kenny Dalglish tentu paham benar makna ucapan eks anak buahnya ini. Sebagai eks pemain, player-manager (Mei 1985-Februari 1991), dan kini manajer Liverpool, ia tahu ada sesuatu yang hilang kala pemegang 5 trofi Liga Champions, 3 tofi Piala UEFA (kini Europa League), dan 3 trofi Piala Super Eropa ini tak mengikuti kompetisi Eropa.

Lebih Baik di Eropa
Foto: sportsillustrated.cnn.com
Juara Liga Champion 2005, gelar prestisius terakhir Liverpool dalam 10 tahun terakhir.
Sejak terakhir kali absen di pentas Eropa pada 1999, tak sekalipun Liverpool gagal ke Eropa. Tidak selalu ke Liga Champion memang. Tapi, sejelek-jeleknya klub berseragam merah-merah ini dipastikan tampil di Piala UEFA. Uniknya lagi, prestasi Liverpool di kejuaraan kontinental malah sering lebih baik dari pencapaian di kompetisi domestik.

Ambil contoh saat The Reds meraih trofi Liga Champion ketiganya di Paris, 27 Mei 1981. Mencatat sejarah sebagai klub Inggris pertama yang mampu membawa pulang Si Kuping Besar sebanyak tiga kali, Liverpool malah cuma menempati posisi 5 di klasemen akhir Liga Inggris 1980/81.

Begitu juga saat The Reds meraih trofi Liga Champion kelimanya di Istanbul, Mei 2005. Heroisme Steven Gerrard dkk. mengalahkan AC Milan di Stadion Attaturk kala itu membuat final tersebut dilabeli The Miracle of Istanbul. Boleh dibilang, itulah penampilan terbaik Liverpool di Eropa sejak merajai Liga Champion pada era manajer legendaris Bob Paisley.

Ironisnya, akhir musim 2004/05 Liverpool tak mampu finish di zona Liga Champion. Untung saja UEFA memberikan dispensasi, sehingga anak asuh Rafael Benitez boleh bertanding ke kompetisi tertinggi Eropa itu di musim berikutnya dengan status juara bertahan.

Kemenangan di Turki itu nampaknya menjadi titik balik neraca peruntungan Liverpool di Eropa. Ketika harapan akan titel Premiership tak kunjung mendekat, prestasi di pentas antarnegara malah ikut-ikutan merosot sejak malam dramatis itu.

Benitez sempat hampir memberikan trofi Liga Champion kedua ketika Liverpool kembali bersua AC Milan di final 2006/07. Sayang, kali itu gantian Milan yang membawa pulang piala. Setelah itu Liverpool cuma mampu ke semifinal, dan musim lalu malah hanya berlaga di Europa League. Itupun mandeg di perdelapan final, kalah dari klub semenjana Portugal bernama Sporting Braga pula!

Visi King Kenny
Foto: thisislondon.co.uk/small>
Kenny Dalglish, asa baru Liverpudlian.
Ketika Benitez memilih pergi, kemudian Roy Hodgson yang menjadi penerus hanya bertahan setengah musim, asa Liverpudlian ditumpukan pada Kenny Dalglish. Bersama legenda hidup Liverpool inilah diharapkan kejayaan kembali ke Anfield. Harapan terbesar tentu saja mengulang masa keemasan di era Bob Paisley, ketika Liverpool meraih 3 trofi Liga Champion dalam rentang 5 tahun. King Kenny sendiri pasti mau mengulangi raihan double winner yang ia persembahkan pada musim 1985/86.

Melihat bagaimana Dalglish mengerek posisi Liverpool di klasemen dari peringkat 12 ke 6, Liverpudlian boleh berharap banyak. Visi Sang Raja dalam membangun tim juga patut diacungi jempol. Selain langkah beraninya melepas Fernando Torres ke Chelsea pada Januari lalu, kebijakannya soal pemain muda layak diapresiasi.

Setelah mempromosikan Jay Spearing, Martin Kelly, Jonjo Shelvey, John Flanagan, Jack Robinson, serta sejumlah pemain remaja lain dari akademi Liverpool, duo striker anyar yang direkrut saat transfer window lalu berkategori pemain muda. Luis Suarez masih berusia 24 tahun, sedangkan Andy Carroll malah dua tahun lebih muda.

Lihat juga siapa yang dibeli Liverpool menjelang awal musim ini. Gelandang anyar dari Sunderland, Jordan Henderson, berusia 20 tahun. Lalu Sebastian Coates yang notabene rekan Suarez juga baru 21 tahun. Bintang muda Irlandia, Alex O‘Hanlon, yang ditransfer dari St Kevins Boys malah masih 15 tahun. Pemain baru yang agak tua mungkin Charlie Adam (25 tahun) yang dibeli dari Blackpool, serta Stewart Downing (27, Aston Villa).

Melihat rataan umur skuad Liverpool, 26 tahun lebih sedikit, fan Liverpool boleh berharap Dalglish mampu menghadirkan kegembiraan di Anfield sebelum kontraknya berakhir Mei 2014 kelak. Andaipun tak bisa kembali menyejajarkan diri dengan Manchester United dalam mengoleksi gelar juara Liga Inggris, mereguk manisnya anggur bernama kompetisi antarklub Eropa di musim 2012/13 adalah target mutlak.

Ya, seperti komentar Evans kala melihat Liverpool terseok-seok di Premiership bersama Benitez, bagi The Reds, “Top four is a must!”. Untuk Dalglish, ucapan itu bisa diperlunak menjadi, “European football is a must!”.

Sabtu, 11 Juni 2011

Visi King Kenny untuk Liverpool


LIVERPUDLIAN boleh kecewa Liverpool hanya finish di peringkat 6 musim ini. Pemegang 5 trofi Liga Champion ini pun harus puas hanya berlaga di kompetisi domestik musim mendatang. Tapi, segenap pendukung Steven Gerrard cs. boleh berharap banyak musim depan.

Ya, kisah Liverpool bisa jadi sangat berbeda di musim 2011/2012. Adalah Kenny Dalglish si pemberi harapan itu. Sejak mengambil alih posisi manajer dari Roy Hodgson, King Kenny terus meningkatkan performa The Reds. Dari berperingkat 12 di paruh kompetisi, Liverpool dibawa naik 6 strip ke peringkat 6 di akhir musim.

Foto: LiverpoolFC.tv
Kenny Dalglish, tangan dinginnya mengangkat performa Liverpool.
Mungkin sejak awal sadar tak bisa terlalu banyak menolong eks klubnya, King Kenny membuat terobosan visioner di tim. Ia mengambil kebijakan jangka panjang dengan merekrut pemain-pemain muda yang sedang menanjak: Luis Suarez (24) dari Ajax dan Andy Carroll (22) dari Newcastle United.

Langkah tersebut diikuti dengan kerapnya pemain muda jebolan akademi Liverpool dipromosikan ke tim utama. Mulai dari Jay Spearing dan Martin Kelly yang baru berusia awal 20-an, hingga Jonathan Flanagan, Jonjo Shelvey, Conor Coady, Jack Robinson, dan Raheem Sterling yang masih berumur belasan tahun. Trio Spearing, Kelly, dan Flanagan bahkan sering dipercaya sebagai starter.

Dengan rataan usia pemain 26,6 tahun, Liverpudlian boleh berharap Liverpool dapat kembali ke level bergengsi dalam empat tahun ke depan. Dan, ‘tabungan’ King Kenny musim ini mungkin sudah bisa dinikmati musim depan. Kita tunggu saja.

You’ll never walk alone, Anfield Gank…

Selasa, 07 Juni 2011

2010/2011, Musim Kemenangan Akal


TAK terasa musim 2010/2011 sudah berakhir. Sejumlah liga di Eropa bahkan sudah mempunyai juara ketika kompetisi masih menyisakan 2 laga. Yang menarik bagi saya, musim ini boleh dibilang merupakan pertarungan antara klub berkapital besar melawan klub yang mengandalkan kecerdikan akal pelatih di tengah keterbatasan uang untuk belanja pemain.

Menariknya lagi, akhir musim ini menunjukkan betapa kapital besar tak berbanding lurus dengan prestasi besar. Klub-klub dengan sokongan dana berlimpah justru harus gigit jari karena gelar juara direbut pesaing yang tak terlalu mengandalkan kapital. Ya, 2010/2011 diakhiri dengan tampilnya klub-klub dengan skuad 'biasa-biasa' dan tidak jor-joran di bursa transfer sebagai juara.

Contoh paling mencolok adalah Bundesliga. Secara mengejutkan gelar Deutscher Meister justru direbut Borussia Dortmund. Padahal, anak asuhan Juergen Klopp ini hanya mengandalkan pemain-pemain muda, nyaris tanpa bintang. Mungkin cuma Nuri Sahin yang bisa disebut sebagai bintang, membuat sang pemain dilirik Real Madrid musim depan. Bila dibandingkan dengan Bayern Muenchen yang saat ini berada di peringkat 3 klasemen, dari segi kekayaan jelas kubu Dortmund kalah jauh.

Di Inggris, gelar juara sepertinya sudah hampir pasti direbut Manchester United yang tinggal membutuhkan 1 poin dari 2 laga sisa. Meski diperhitungkan sebagai tim besar, namun keperkasaan Setan Merah bukan dibangun dengan kekuatan kapital. Sudah menjadi rahasia umum kalau Sir Alex Ferguson adalah jagonya menemukan mutiara terpendam. Alih-alih membeli pemain bintang, ia justru kerap melahirkan bintang. Ryan Gigs, David Beckham, dan Cristiano Ronaldo adalah beberapa contoh pemain bintang skala dunia yang berangkat dari bukan siapa-siapa di MU.

Prestasi MU ini jelas menampar muka Chelsea yang sejak diakuisisi Roman Abramovich gemar mendatangkan bintang-bintang dunia. Begitu juga dengan Manchester City, klub paling boros dalam belanja pemain di bursa transfer Inggris. Chelsea tak mampu menyalip MU, sedangkan The Citizen sudah sangat bersyukur bisa memastikan tempat di Liga Champion musim depan.

Cerita serupa terjadi di Spanyol. Barcelona sudah memastikan diri sebagai juara La Liga musim ini, meninggalkan Real Madrid di posisi runner up. Kita sama-sama tahu, Real Madrid adalah klub yang begitu mendewa-dewakan uang. Florentino Perez adalah jenis presiden klub yang percaya bahwa uang bisa mendatangkan prestasi. Berkali-kali gagal setelah mengeluarkan terlalu banyak uang, Perez tak juga jera. Barcelona, yang mengandalkan pemain-pemain binaan sendiri, dari segi prestasi justru lebih mentereng dari Madrid.

Menarik ditunggu, akankah kekuatan akal masih mampu mengalahkan kekuatan kapital di musim depan?
Catatan: Posting ini merupakan naskah asli surat pembaca berjudul Kemenangan Akal di rubrik 'Rumah Suporter' tabloid BOLA edisi 2.196, Sabtu-Minggu 14-15 Mei 2011.

Sabtu, 04 Juni 2011

Liga Champions untuk Manchester City


SEGENAP fan Manchester City patut berbahagia musim ini. Kebahagiaan pertama jelas untuk trofi Piala FA, yang menjadi gelar pertama The Citizens sejak 35 tahun lalu. Kebahagiaan kedua, apalagi kalau bukan lolosnya Carlos Tevez dkk. ke Liga Champion musim depan.

Namun, City dan suporternya musti hati-hati. Keriaan itu bisa berbalik jadi kemurungan musim depan. Apa pasal?

Liga Champion adalah ajangnya tim-tim terbaik seantero Eropa. Syarat awal menjadi peserta memang peringkat terbaik di klasemen akhir liga domestik. Tapi, untuk mencapai sukses dibutuhkan prasyarat lain. Diantaranya manajemen, kekuatan finansial, kesiapan mental tim, kedalaman materi skuat, kualitas pelatih, hingga konsentrasi terbaik.

Foto: Zimbio.com
Carlos Tevez, andalan City.
Dari semua prasyarat di atas, anak asuhan Roberto Mancini baru terlihat unggul di segi kekuatan finansial. Padahal, kesuksesan di LC tak bisa ‘ditebus’ dengan uang. Real Madrid adalah contoh bagus dalam kasus ini. Sejak era Los Galacticos digulirkan 10 tahun lalu, Madrid cuma bisa meraih satu trofi Liga Champion.

Ada baiknya Mancini belajar dari pengalaman Tottenham Hotspurs dan Schalke. Dua tim anak bawang ini menorehkan prestasi gemilang dengan menembus perempatfinal dan semifinal. Schalke bahkan sempat mengalahkan juara bertahan Inter Milan dengan skor telak.

Sayangnya, prestasi bagus di level Eropa tidak dibarengi hasil positif di liga domestik. Spurs tak bisa kembali ke LC setelah hanya mampu finish di zona Liga Eropa dalam klasemen akhir Premiership. Sedangkan Schalke malah terperosok ke posisi 14 klasemen akhir Bundesliga. Gelar juara DFB Pokal pun sekedar menjadi pengusap air mata Raul Gonzalez cs.

Kalau tak mau bernasib seperti kedua tim tersebut, Manchester City harus pandai-pandai membagi konsentrasi dan energi. Keberhasilan meraih gelar juara Piala FA sekaligus menembus posisi 3 musim ini, bisa dijadikan modal bagus untuk mengarungi Liga Champion musim depan.
Catatan: Posting ini merupakan naskah asli surat pembaca berjudul Belajar dari Schalke di rubrik 'Rumah Suporter' tabloid BOLA edisi 2.202, Sabtu-Minggu 28-29 Mei 2011.
kata bijak Andrie Wongso

Gerakan 2012 Buku
untuk Pemalang

Buku yang sudah terkumpul
0 0 0 1 eks.

Masih butuh 2011 eks. lagi.

Bantu kami menyediakan 2012 eksemplar
buku bacaan untuk warga Pemalang.
Baca info selengkapnya di sini!


Rp1 Tahun 1956

Uang Mahar, Rp1 Tahun 1956

Obverse: Gadis Jawa di kanan, angka satu di kiri.
Reverse: Garuda Pancasila di tengah, diapit angka satu.
Kondisi: Baru (Uncirculated, UNC)

Rp10.000,-

per lembar

Recommended Posts
Recommended Video
GBK
Lagi, timnas Indonesia harus puas menjadi runner-up setelah kalah dari Malaysia di final SEA Games 2011. Dalam final yang sama-sama kita saksikan Senin (21/11) malam, timnas U-23 keok.
Bakso
Bakso umumnya memiliki bulatan-bulatan campuran tepung dan daging yang biasa disebut pentol. Di Pemalang, ada warung bakso yang menyediakan bakso tanpa pentol.
uanglama