Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 04 Februari 2012

Seorang teman blogger pernah bercerita, setelah mengenal Facebook, waktu onlinenya jadi terasa sempit sekali.



Dulu ia biasa menghabiskan waktu untuk blogging—menulis posting baru, mengunjungi blog lain, dan meninggalkan komentar, lalu sisanya untuk chatting menggunakan Yahoo!Messenger (YM). Menurutnya, dulu ia hanya menghabiskan 2-3 jam sekali tersambung di internet. Kini, duduk di depan internet sehari-semalam pun rasanya tidak cukup, terutama untuk ber-Facebook ria.

Ya, Facebook telah merenggut sebagian besar waktu online para pengguna internet yang mengenalnya. Mulai dari pelajar SMP, karyawan swasta, sampai pegawai negeri keranjingan Facebook. Berjam-jam mereka habiskan untuk meng-update status di Face-book, mengomentari status teman, chatting, atau sekedar melihat foto-foto kenalan baru. Tak jarang keasyikan ber-Facebook membuat waktu produktif jadi terbuang percuma, membuat sejumlah perusahaan dan instansi memblok akses Facebook di kantor mereka.

Kita tentu juga masih ingat sejumlah kasus menghilangnya gadis-gadis remaja yang dilaporkan dibawa lari teman baru yang ia kenal dari Facebook. Atau beberapa kasus penipuan yang dilakukan oleh oknum pengguna Facebook terhadap pengguna lain yang baru mereka kenal. Pemberitaan kasus-kasus seperti ini begitu marak di berbagai media, terutama televisi. Tapi, alih-alih membuat imej Facebook jelek, berbagai kasus negatif terkait Facebook ini justru membuatnya semakin terkenal, sekaligus mengundang pengguna baru untuk mendaftarkan diri. Dan, jika suatu saat masuk ke warnet, cobalah iseng-iseng melongok ke bilik sebelah dan lihat apa yang sedang diakses pengguna lain. Bisa dipastikan Facebook ada dalam deretan situs yang sedang dibuka.

Indonesia, menurut sebuah laporan yang diturunkan harian The New York Times pada April 2010, merupakan negara dengan jumlah pengguna Facebook terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Britania Raya. Jemima Kiss dalam Guardian edisi 8 Juli 2010 bahkan menulis jumlah pengguna Facebook di Britania Raya hanya 500 ribu lebih banyak dari Indonesia. Mengingat besarnya populasi Indonesia serta angka pengguna internet yang masih terus tumbuh, bukan tidak mungkin jika kelak Indonesia bakal melampaui negaranya Ratu Elizabeth tersebut dalam hal jumlah pengguna Facebook. Di tingkat Asia, jumlah pengguna Facebook Indonesia tidak tertandingi. Itulah sebabnya kemudian hadir Facebook versi bahasa Indonesia yang dirancang khusus bagi para penggunanya di Indonesia.

Kepopuleran Facebook memang luar biasa. Pertumbuhan angka penggunanya begitu cepat dari tahun ke tahun, membuat situs jejaring sosial hasil kreasi mahasiswa drop out Harvard University Mark Zuckerberg ini melampaui kepopuleran MySpace yang sebelumnya menjadi jejaring sosial terlaris di AS. Menurut data terbaru Google yang saya kutip pada awal Juli 2010 lalu, Facebook merupakan situs yang paling banyak dikunjungi dengan 540 juta unique visitor (jumlah pengunjung yang datang dari IP address berbeda) dan 630 milyar pageviews (total jumlah halaman yang dibuka pengunjung selama mengakses Facebook). Angka ini jauh melampaui MySpace yang menempati urutan 21 dengan jumlah unique visitor sebanyak 73 juta dan 17 milyar pageviews, atau Twitter di urutan 14 yang hanya dikunjungi sebanyak 97 juta unique visitor dan 5,8 milyar pageviews.

Data dari Google ini sungguh menarik, mengingat Facebook sendiri dalam rilis resmi di situsnya mengatakan bahwa mereka ‘hanya’ mempunyai sekitar 500 juta pengguna, itupun tidak semuanya merupakan pengguna aktif. Dengan demikian, Facebook ternyata tidak hanya dikunjungi oleh para penggunanya saja, melainkan juga oleh pengunjung lain yang mungkin datang dari mesin pencari atau situs-situs lain.

Berkat kepopuleran ini, sejak 2005 kata Facebook menjadi sangat familiar di masyarakat luas. Di AS dan sejumlah negara penutur bahasa Inggris lainnya, kata “facebooking” berarti menjelajahi profil atau mengomentari status Facebook seseorang. Tahun 2008, kamus Collins English Dictionary mengumumkan “facebook” sebagai kata baru dalam rilis terbaru mereka di tahun itu. Kemudian pada Desember 2009, kamus New Oxford American Dictionary memasukkan kata “unfriend” sebagai kata kerja baru (verb). Kata ini merupakan istilah yang biasa dipakai kalangan pengguna jejaring sosial, khususnya Facebook. Dalam kamus New Oxford American Dictionary, kata “unfriend” bermakna “to remove someone as a ‘friend’ on a social networking site such as Facebook”. Contoh penggunaannya dalam kalimat—sebagaimana tercantum dalam kamus tersebut, “I decided to unfriend my roommate on Facebook after we had a fight.”

Melihat briliannya ide penciptaannya serta bagaimana situs jejaring sosial ini tumbuh sebagai yang paling digandrungi, saya menempatkan Facebook pada urutan keenam dalam daftar 7 Wonders of Internet versi saya. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya Facebook ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul Facebook, Interaksi Online Gaya Baru. Inilah ebook keenam dari Seri 7 Keajaiban Dunia Maya.

Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan klik di sini (ukuran file 1.757 KB). Selamat membaca!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

5 komentar:

  1. Yuyut Wahyudi @ Berbagi = Peduli4 Februari 2012 05.36.00 WIB

    ahhh bosen lah facebookan, enakan ngeblog

    BalasHapus
  2. bener mas, facebook sekarang mengurangi waktu, khususnya untuk ngeblog..
    saya lebih sengan ngeblog ketimbang facebookan, dengan ngeblog, kita bisa membaca artikel2 bermanfaat, dan terntunya bisa berbagi artikel bermanfaat pula,, sedangkan facebook, hanya berisi keluh kesah, curhatan, pamer, dan kesombongan.. hanya sedikit info bermanfaat disana..

    BalasHapus
  3. Kalau saya menjadikan Facebook sebagai sarana untuk mempermudah komunikasi dan bertukar infromasi dengan teman-teman yang saya kenal di dunia nyata. Itu awalnya sih. Lama-lama, saya menyukai Facebook karena di situ cukup banyak grup/komunitas di mana saya bisa saling berdiskusi maupun sharing tentang sesuatu (sesuai minat).

    BalasHapus
  4. yup, bagi org yg bs menempatkan porsi waktu dan manfaatnya scara tepat, insya Allah facebook hanyalah sekedar penghilang rasa suntuk

    BalasHapus
  5. @Yuyut Wahyudi @ Berbagi = Peduli: Yup, saya setuju. Bloging is better than facebooking.

    @Dery: Hehehe, itulah sebabnya saya juga gak pernah buka FB kalo ol. Status saya semuanya otomatis, kiriman dari blog, dari eBay, dll.

    @iskandaria: Nah, itu dia salah satu manfaat positif FB. Tapi tak banyak yang menggunakan media sosial satu ini secara bijak seperti Bung Is. Kebanyakan cuma hahaha-hihihi gak keruan.

    @Sarah: Yap, itu seharusnya. Tapi kebanyakan pengguna FB cuma hahaha-hihihi menghabiskan waktu produktif.

    BalasHapus