Sebagai orang yang anti-seragam dan jam kerja, saya awalnya ogah-ogahan. Meski terlihat antusias bertanya ini-itu tentang Adira dan posisi yang ditawarkan, saya aslinya enggan. Apalagi posisi-posisi yang lowong semuanya tidak saya kenal, sama sekali tak ada gambaran. Karena kakak ipar menyarankan saya mengajukan lamaran untuk posisi Credit Marketing Officer (CMO), maka sayapun menulis lamaran untuk posisi tersebut.
Senin, 6 Februari 2012, seharusnya saya sudah berangkat ke Pekalongan. Namun hati saya bimbang. Bermula dari keengganan, lalu ditambah ketidak-tahuan, juga karena minimnya informasi yang diberikan kakak ipar, membuat saya membatalkan niat ke Pekalongan. Kebetulan pula mertua saya pada sibuk, jadi saya beralasan tak bisa pergi karena tak ada yang bisa dititipi anak.
Eh, tiba-tiba saja seorang teman SMA yang menjadi CMO di Indomobil sms. Awalnya cuma bertukar kabar dan bertanya-tanya soal kepenulisan dan dunia penerbitan mandiri. Lama-lama, karena saya ingat teman ini bekerja sebagai--menurut istilah saya--marketing, jadilah saya bertanya-tanya soal dunia marketing di perusahaan pembiayaan sama dia. Setelah berjam-jam bertukar sms, saya jadi mantap. Jadilah kemarin itu saya berangkat bermotor ke Pekalongan.
Bermotor 30 Menit, Menunggu 2 Jam
Berangkat pukul 09.25, sampai di Pekalongan pukul 10.10. Saya rasa ini waktu tempuh yang sangat bagus bagi seorang pemula seperti saya. Ya, saya belum pernah bermotor ke Pekalongan dari Pemalang. Apalagi yang dinaiki motor Cina merk Kymco yang di Pemalang sudah tak ada lagi dealer-nya. Ke kantor Adira yang terletak di kawasan Bendan, ke arah Ponolawen kalau dari barat, juga tak sulit. Saya cukup mengikuti arah bus AKAP dan truk-truk yang ke arah timur.Eh, waktu tempuh yang terbilang singkat itu ternyata harus ditebus dengan waktu menunggu yang sangat lama. Masuk ke kantor Adira, saya langsung menemui satpam dan mengatakan ingin bertemu dengan Manajer HRD. Setelah diinterkom ternyata orangnya tak ada di tempat. Hmmm, saya pun harus menunggu. Setengah jam, lalu sejam, dan akhirnya sampai 2 jam! Keren. Padahal satpam memberitahu saya kalau sang manajer sudah tiba di kantor saat saya baru menunggu sekitar 20 menit.
Okelah, it's fine. Saya pernah menunggu lebih lama dari ini. Apalagi kami memang tak ada janji sebelumnya, saya yang nyelonong begitu saja. Jadi saya berusaha enjoy saja. Ketika kemudian saya dipanggil ke ruangan sang manajer, saya membalas ucapan selamat siang manajer muda tersebut dengan acuh tak acuh, "Selamat siang, Pak. Atau saya kira malah sudah kesiangan." Dia agak terkejut, lalu berkata, "Sudah menunggu lama ya?" Saya cuma tersenyum.
Sesi wawancara pun dimulai. Dan, sama seperti wawancara-wawancara yang pernah saya lakukan sebelumnya, saya selalu menjalaninya dengan santai. Saya tak menganggap itu sebagai ajang jaim, karenanya harus bicara baik-baik. Tidak! Saya justru selalu menganggap wawancara seperti mengobrol, bincang-bincang biasa yang seharusnya dilakukan dengan rileks dan nyaman. Begitu juga dengan wawancara di Adira hari itu.
Satu momen menarik bagi saya adalah saat sang manajer meneliti pengalaman kerja saya. Awalnya dia menanyakan durasi kerja saya yang pendek-pendek di berbagai tempat. Saya jawab apa adanya, dan dia cuma manggut-manggut. Lalu sampailah pada saat tanya-jawab ini:
Manajer Adira: "Ini dari Juni 2009 sampai sekarang berarti menganggur ya?"
Saya: "Bisa juga dikatakan begitu."
Manajer Adira: "Ini Mas-nya ngapain aja selama itu?"
Saya: "Saya menggarap ini" (sambil mengeluarkan salah satu buku tulisan saya yang sudah terbit, sengaja dibawa untuk hal-hal tidak diinginkan seperti itu)
Manajer Adira: "Oh, Anda menulis buku? Wah, berarti penghasilannya banyak dong? Ini kan sudah ada pekerjaan?"
Saya: "Ya, itu bagi saya pekerjaan, tapi ternyata bagi orang-orang di sekeliling saya itu bukan pekerjaan. Makanya saya disarankan melamar kemari."
INTI POSTING: Menulis bagi sebagian orang bukanlah sebuah pekerjaan. Apalagi menjadi blogger! Jadi, kalau Bung punya cita-cita jadi penulis atau blogger, atau penulis sekaligus blogger fulltime, siap-siaplah mengalami apa yang saya rasakan ini. Tidak ada pengakuan dari orang-orang sekitar, bahkan yang serumah dengan kita. Kalau pengakuan saja tidak ada, apalagi dukungan? Kalau kita tak tahan dan menguat-kuatkan diri, habislah kita.
Well, ini memang saya masukkan ke label Curhat, jadi harap maklum ya kalau isinya terkesan lebay dan penuh emosi. :D
|
Tulisan berjudul Kisah 2,5 Jam di Pekalongan ini dilindungi lisensi Creative Commons. Anda bebas menyalin, mendistribusi, dan atau mentransmisi sebagian atau seluruh isi artikel untuk tujuan nonkomersil, serta dengan menyebutkan sumber artikel. Terima kasih. |



Baru ada 3 komentar. Tambahin lagi dong...
Klik di sini untuk langsung ke formulir komentar.Kisah yang bisa dijadikan pelajaran.
BTW. kisahnya sama dengan saya Bung, hanya perbedaannya adlah Bung sudah bisa menerbitkan buku dan mendapatkan penghasilan, sedangkan saya baru mulai dari awal. Istri sangat tidak mendukung karena keluarga membutuhkan penghasilan pasti, padahal saya sudah yakin dengan jalan mendapatkan uang dari internet. Jadinya sekarang saya harus kerja ekstra keras secara offline untuk mendapatkan penghasilan pasti, sedangkan kerjaan online dijadikan sambilan, yang tentunya hasil lebih lama karena waktu tersisa di pekerjaan offline. Tapi itulah realita buat blogger yang sudah berkeluarga seperti kita-kita ini Bung. Dapur harus tetap mengepul..
Oh iya, gimana dengan buku barunya Bung, apa sudah dicetak?
weh2....... emng lingkungan tu gitu y mas. klo gak pake seragam, gak kluar rumah, gak kerja namanya. pdhl dia punya penghsilan dr dunia luna maya :D
btw, ditrima gak mas di adira
@Agus Roma: He3, cuma satu kata buat kita, Bung: sabar. Orang-orang di sekitar kita hanya akan percaya kalau kita sudah bisa membuktikan dan menunjukkan apa yang kita hasilkan dari internet. Selama kita sama saja dengan yang lain, selama itulah kita dicibir.
@ientanainie: Dunia luna maya? Hahahaha. Sudah lebih dari sepekan gak ada telepon, besar kemungkinan gak diterima. Apalagi pas wawancara saya bilang kalau saya melamar pekerjaan karena disuruh, biar dapat status kaya yang lain. He3.
Poskan Komentar
Terima kasih telah mengunjungi bungeko.com. Semoga apa yang saya tulis di blog ini bermanfaat bagi Bung Pembaca. Silakan tinggalkan komentar untuk menanggapi, mengoreksi, atau bahkan mencaci isi posting ini. Tapi mohon dicatat, no SARA, no SARU. Salam.
NB: Saya sedang memikirkan untuk membuka kembali kontes komentator terbanyak, atau kontes lain yang berhubungan dengan komentar pembaca.