Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 29 Februari 2016


SAYA lupa kapan tepatnya saya mulai tertarik menulis. Yang jelas sejak Sekolah Dasar saya sangat suka membaca. Terima kasih banyak saya haturkan pada ayahanda Woko Sudjarwo yang telah membelikan saya berbagai buku bahkan sejak saya belum masuk sekolah! Juga kepada ibunda Sumiati yang memberi contoh langsung dengan rajin membaca apa saja yang bisa dibaca.

Bapak saya keras soal pendidikan anak. Konon, sejak menikah beliau punya cita-cita akan menyekolahkan anak-anaknya minimal sampai sarjana. Dengan kata lain, Bapak ingin anak-anaknya paling tidak lulus strata satu. Karenanya beliau sangat keras dalam mendidik anak-anaknya, terutama saya anak pertama yang diharapkannya bakal menjadi contoh bagi ketiga adik-adik saya.

Saya tak sempat mencicipi riang-gembiranya dunia Taman Kanak-kanak. Tapi sejak usia saya lewat empat tahun, Bapak setiap malam menggembleng saya dengan pelajaran-pelajaran kelas berat. Ya, seusia saya dibelikan dan dibacakan buku-buku ilmu pengetahuan umum semacam RPUL (Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap) atau RPAL (Rangkuman Pengetahuan Alam Lengkap). Tiap habis Magrib saya harus belajar membaca dan berhitung dengan Bapak di ruang tamu, dengan gayanya yang keras menjurus kasar.

Alhasil, saat mendaftar Sekolah Dasar di SD Negeri 373 Palembang pada usia 5,5 tahun, saya sudah lancar membaca dan berhitung. Padahal teman-teman sekelas saya yang usianya lebih tua malah belum kenal ABCD.

Perkenalan dengan dunia aksara dan kata yang terlalu dini itu membuat saya jadi rakus dengan bacaan. Kalau teman saya uang jajannya habis untuk membeli makanan dan minuman, maka saya memakainya untuk membeli komik Petruk-Gareng karya Tatang S. Uang saku saya Rp100 waktu itu, sedangkan harga komik Petruk-Gareng Rp150. Jadi saya harus mengumpulkan uang saku dua hari untuk bisa membeli satu komik terbitan Gultom Agency tersebut.

Kegilaan saya pada dunia bacaan disuburkan oleh Ibu yang juga sangat gemar membaca. Hampir setiap hari saya diajak Ibu meminjam majalah dan koran pada seorang tetangga kenalan baik beliau. Ibu membaca majalah Kartini atau tabloid Wanita Indonesia, saya pun ikut membaca keduanya. Saya paling suka membaca feature profil-profil dan wawancara sosok-sosok inspiratif yang ada di dua media tersebut.

Berawal dari Wiro Sableng
Naik ke kenal lima SD, saya diajak pindah ke Batumarta, sebuah kawasan pemukiman transmigrasi di wilayah Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Di tempat ini saya sangat kesulitan mendapatkan bahan bacaan karena tempatnya yang jauh di pelosok. Saya hanya bisa membaca buku-buku koleksi perpustakaan sekolah yang tak terawat.

Lalu suatu hari saya menemukan novel Wiro Sableng berjudul Singa Gurun Bromo di rumah salah seorang Pakdhe, saudara dari pihak Ibu. Entah milik siapa, saya bawa pulang dan lahap habis novel itu. Dan, saya langsung jatuh cinta. Setiap hari pasaran -- waktu itu pasar hanya ada tiap hari Kamis, saya menyempatkan diri ke pasar untuk mencari novel Wiro Sableng. Harganya Rp1.000 sebuah. Saya terpikat dengan gaya bercerita alm. Bastian Tito dalam mengisahkan petualangan pendekar rekaannya tersebut.

Dan, diam-diam saya mulai jadi peniru Bastian Tito. Ya, inilah proses awal saya dalam dunia kepenulisan. Saya baca satu novel Wiro Sableng berulang-ulang sampai hapal betul plot dan bahkan sebagian besar dialog di dalamnya. Kemudian saya tulis ulang kisah tersebut dengan nama tokoh, tempat kejadian dan konflik berbeda. Lahirlah karya-karya awal saya berupa novel silat dengan dua sosok pendekar bernama Kuda Wihara. Hahaha, jangan tertawa ya.

Dua tahun di Batumarta, saya kembali diajak pindah oleh orag tua. Kali ini lebih jauh lagi, ke sebuah daerah transmigrasi bernama Sungai Bahar di (waktu itu) Kabupaten Batanghari, Jambi. Tapi di sinilah kegilaan saya akan membaca dan menulis terpupuk. Saya mempunyai beberapa teman yang sama-sama suka membaca novel silat. Tak hanya Wiro Sableng, tapi juga pendekar-pendekar lain seperti Pendekar Rajawali Sakti, Rajawali Emas, Pendekar Slebor, Joko Sableng si Pendekar Pedang Tumpul 131, Gagak Rimang, Pendekar Romantis, dll.

Sejalan dengan kegilaan membaca, saya juga semakin rajin "berkarya" membuat novel jiplakan. Atau saduran? Lalu lambat laun saya mulai melepaskan diri dari bayang-bayang pendekar yang kerap saya baca. Saya mulai membangun tokoh sendiri, karakter sendiri, jalan cerita sendiri. Lahirlah tokoh Soko Gendeng si Pendekar Clurit Emas. Saya tulis beberapa episode, tiap episode sepanjang satu buku tulis setebal 30 halaman dan ditulis dengan tangan.

Teman sebangku saya Sukato sangat suka membaca kisah pendekar karangan saya ini. Setiap kali satu episode selesai, Sukato-lah yang jadi pembaca pertama. Tak jarang ia tertawa terkekeh-kekeh kalau ada bagian yang ia anggap lucu. Ia juga tak segan-segan memberi kritik kalau ada bagian yang ia tak suka.

Saya juga pernah membuat sebuah novel silat lebih panjang. Nama pendekarnya Jawara Loreng, terinspirasi dari tokoh Panji Tengkorak yang saat itu serialnya ditayangkan di Indosiar. Lulus SMA pada tahun 2000, satu kisah petualangan jauh lebih panjang juga rampung saya garap. Judulnya Pendekar Tongkat Naga. Tapi semua itu hanya menumpuk dan sekarang entah kemana.

Menunggu 12 Tahun
Sebagai penulis, tentu saja saya membayangkan buku-buku karya saya dicetak lalu dipajang di toko buku seluruh Indonesia dan dibaca banyak orang. Impian yang sudah membayangi angan-angan saya sejak kelas dua SMP. Saya bahkan berkhayal menemukan lampu ajaib Aladin sehingga saya bisa meminta tolong jin sakti di dalamnya untuk menerbitkan buku-buku karangan saya.

Cerpen saya memang pernah dimuat di koran Jambi Ekspres, tapi impian terbesar saya tetaplah menulis buku dan dikenal sebagai penulis buku laris. Sebuah impian yang baru akan terwujud 12 tahun sejak saya pertama kali mengangankannya.

Lulus SMA, saya masuk kuliah di sebuah pendidikan profesi pariwisata di Yogyakarta. Saat itulah saya berhenti menulis, meski masih terus lahap membaca. Dua tahun itu saya konsentrasi dengan dunia pariwisata dan berniat menjadi pemandu wisata, cita-cita yang nyaris terwujud tapi kemudian saya mentahkan sendiri karena merasa menulis adalah dunia saya.

Selepas dari pendidikan profesi dua tahun tersebut, saya masuk ke Akademi Komunikasi Yogyakarta. Sebuah akademi yang hanya menyediakan satu jurusan: Jurnalistik. Di sinilah saya mulai berkarya kembali. Tulisan pertama saya pun dimuat di media cetak, Sahabat Pena edisi Maret 2004. Tapi lebih banyak yang ditolak, terutama oleh Kompas, Kedaulatan Rakyat dan Minggu Pagi.

Saya juga mulai meluaskan topik dengan iseng-iseng mengirim surat pembaca untuk Tabloid Bola. Rupanya saya cocok dengan tema ini, atau saat itu belum banyak penyuka sepakbola yang gemar menulis. Tulisan saya jadi langganan rubrik surat pembaca tabloid olahraga terbesar itu. Lalu ketika Tabloid Bola berubah menjadi Harian Bola, saya masih setia mengisi. Kali itu bahkan menuliskan sejumlah artikel dalam kolom yang diberi nama Oposan. Dunia online juga saya rambah dengan mengirim artikel ke laman detikSport dan dimuat.

Ketika blog mewabah pada tahun 2005, saya ikut-ikutan membuat blog. Menulis apa saja yang terlintas di kepala, sampai kemudian saya tahu kalau blog bisa dipakai mencari uang. Rupanya inilah peruntungan saya. Inilah yang kemudian membuat impian saya sejak kelas dua SMP lalu terwujud. Ya, berkat blog nama saya dikenal di sana-sini. Tulisan-tulisan saya banyak disukai, termasuk sejumlah ebook panduan yang saya bagikan gratis.

Percaya diri saya tumbuh. Mulailah saya menulis naskah buku bertema internet dan blog. Naskah pertama saya kirim ke Penerbit Diva Press November 2009, dan alhamdulillah diterima! Senang? Tentu saja. Saya merasa ada kepuasan luar biasa saat editor Diva Press menelepon dan mengatakan naskah saya diterima. Jauh lebih bahagia mengetahui buku pertama saya akan terbit ketimbang saat meneken MoU dan mendapatkan honor beli putus sebesar Rp2.000.000.

12 tahun and I made it! Naskah pertama ini kemudian disusul naskah kedua, ketiga, dan seterusnya. Sejak Februari 2010, satu demi satu buku saya terbit dan beredar di toko-toko buku seluruh Indonesia. Nama saya pun mulai melambung, meski tak tinggi-tinggi amat. :)

Tapi, hitungan ini segera mandeg. Medio 2012 jadi kali terakhir buku saya terpampang di toko buku. Dari tujuh naskah yang diterima penerbit, hanya empat yang terbit. Sisanya batal diterbitkan karena dinilai tak lagi relevan. Lalu saya mulai merasakan susahnya menyesuaikan ide di kepala dengan selera pembaca yang menjadi pertimbangan utama penerbit. Semangat saya runtuh karena pernah ada satu naskah yang sampai ditolak LIMA PENERBIT berbeda! Dan saya pun berhenti menulis buku.

Kumpul Orang Saleh
Nyaris empat tahun kemudian, saya perlahan mulai kembali menumbuhkan motivasi dalam menulis. Mengingat petuah dalam lagu Tombo Ati, saya merasa perlu mendekati "orang-orang saleh" yang kalau dalam dunia kepenulisan tentu saja orang-orang yang produktif dalam berkarya. Sosok seperti Pakdhe Abdul Cholik merupakan salah satu inspirasi saya. Ingin sekali suatu saat kopi darat dan berbincang-bincang langsung ngangsu kaweruh kepada beliau.

Lalu saya juga merasa perlu bergabung dengan komunitas penulis. Cara ini sebenarnya gampang, yakni cukup kembali aktif ngeblog bertukar sapa dengan sesama blog lain. Bukankah blogger adalah penulis? Inilah yang kemudian membuat saya seolah kembali bangkit setelah membiarkan blog ini mati suri selama lebih dari dua tahun.

Terakhir, saya harus belajar lagi. Ya, saya pernah menerbitkan buku, saya juga pernah magang di media massa (lupa diceritakan di atas) meski tak sampai setahun, tapi saya merasa harus tetap banyak belajar. Kalau saya sampai absen menulis buku sekian lama tentu ada yang salah dengan diri saya, terutama skill saya, kemampuan saya dalam menangkap ide dan menuangkannya menjadi naskah.

Terpenting, karya pertama saya adalah kisah fiksi: Pendekar Clurit Emas, Jawara Loreng, Pendekar Tongkat Naga. Tapi hingga kini saya tak pernah menelurkan karya fiksi, apatah lagi sampai diterima oleh penerbit. Pada poin ini saya merasa harus belajar keras agar dapat menulis setidaknya satu novel seumur hidup. :)

Inilah sebabnya saya merasa saya harus mengikuti kursus menulis online yang diselenggarakan oleh Smart Writer. Kenapa?

Pertama, Mbak Leyla Hana dan Mbak Riawani Elyta yang menjadi mentor kursus ini adalah dua penulis buku jempolan dengan karya sangat banyak. Mereka juga kerap memenangkan lomba menulis dan piawai menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Saya yakin dengan berguru pada beliau berdua saya akan mendapat banyak sekali tambahan ilmu menulis, terutama menulis fiksi.

Kedua, Smart Writer diadakan secara privat sehingga setiap peserta mendapat bimbingan secara maksimal dari mentor. Yang lebih keren, satu peserta kursus akan dibimbing oleh dua mentor sekaligus dalam proses menulis novel. Mulai dari menyiapkan ide novel hingga mengakhiri kisah dalam novel tersebut. Apalagi kelasnya dilakukan secara online, sehingga saya dapat mempelajari modul-modulnya setiap saat sembari mengurus toko online atau di sela-sela mengajak bermain anak. Praktis! :)

Ketiga, di Smart Writer peserta tak hanya diberi modul-modul semata, tapi juga langsung diminta menulis novel. Setiap kali mendapat pelajaran baru, mentor akan meminta peserta untuk mempraktikkannya, sehingga dapat diketahui seberapa jauh kemajuan yang dicapai peserta. Kalaupun ada kendala, mentor dapat langsung membantu memecahkannya dengan berbekal pengalaman yang mereka punya.

Semoga di tahun 2016 ini saya dapat "berbuka puasa" alias kembali menelurkan buku, dan syukur-syukur merampungkan setidaknya satu naskah novel layak terbit. Khusus yang terakhir, saya sangat berharap dapat rejeki untuk bisa mengikuti kursus di bawah bimbingan Mbak Leyla Hana dan Mbak Riawani Elyta. Semoga.

Artikel ini diikutsertakan dalam 1st Giveaway Smart Writter





Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

0 komentar:

Poskan Komentar