Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 28 Februari 2016

Nebeng foto bareng MTSR alias ambulannya Sedekah Rombongan di RS dr. Sardjito Yogyakarta sewaktu menghadiri wisuda adik, 21 Februari 2013. Difoto oleh koordinator SR Pantura, Indra Destriawan.

MASIH banyak diantara kita yang berpikir bahwa membantu sesama itu urusan nanti setelah kita tak lagi dipusingkan dengan ini-itu. Padahal, justru dengan membantu sesama itulah segala urusan kita akan dibantu dan dimudahkan oleh Allah SWT. Semangat ini yang kemudian mendasari saya bergabung dengan gerakan Sedekah Rombongan pada akhir 2012 lalu.

Sekedar informasi bagi yang belum mengenal Sedekah Rombongan. Ini adalah sebuah gerakan yang dimotori oleh pebisnis muda asal Yogyakarta, Saptuari Sugiharto. Didirikan karena ingin membantu seorang pasien miskin di sebuah rumah sakit, Mas Saptu menjual sepeda motor sebagai donasi awal bagi Sedekah Rombongan.

Singkat cerita, bantuan untuk Sedekah Rombongan mengalir dari kanan-kiri, atas-bawah. Segala penjuru. Mulai dari mahasiswa yang hanya mentransfer puluhan dan ratusan ribu, pengusaha lokal Jogja hingga pengusaha nasional yang tak ragu-ragu menggelontorkan puluhan juga sebagai sedekah untuk dikelola oleh Sedekah Rombongan. Silakan kulik kiprah mereka yang terekam dengan baik di web www.SedekahRombongan.com dan akun Twitter @SRbergerak.

Kembali ke bergabungnya saya dengan Sedekah Rombongan. Ketika itu dagangan saya tengah laris-larisnya. Saya merasa sangat dimanjakan oleh Allah SWT dengan rejeki yang berlimpah hanya dari usaha dagang online memanfaatkan blog gratisan dan sebuah handphone seharga Rp150.000. Alhamdulillah...

Sembari berjualan, saya juga mengelola akun Twitter yang membagikan info seputar Pemalang. Dari situlah saya berkenalan dengan Sedekah Rombongan. Suatu hari ada mention tentang seorang anak di Kec. Comal yang sakit dan memerlukan biaya berobat. Saya tergerak membantu, tapi bagaimana caranya? Sedang asyik berpikir, rupanya tim Sedekah Rombongan sudah mengirimkan kurirnya untuk melihat anak tersebut.

Gerak Sedekah Rombongan sangat cepat. Hanya hitungan hari anak tersebut sudah dibawa ke RS Karyadi untuk dibantu pengobatannya. Rasa kagum pada Sedekah Rombongan pun terbit. Saya buka-buka webnya dan lihat-lihat akun Twitter-nya. Ternyata Sedekah Rombongan mempunyai ratusan kurir yang tersebar di segala penjuru. Kurir inilah yang bergerak menyurvei calon pasien berdasarkan masukan/laporan dari masyarakat lewat web dan Twitter. Berdasarkan laporan kurir, tim pengambil kebijakan di Yogya bakal memutuskan apakah pasien ini hanya akan diberi santunan uang atau dibantu biaya pengobatannya.

Lihat punya lihat, rupanya di Pemalang belum ada kurirnya. Saya pun mencari-cari info kontak yang bisa dihubungi untuk bergabung sebagai kurir. Ya, saya tergerak untuk membantu gerakan ini dengan menjadi kurir yang menyambungkan donasi dari donatur kepada mereka-mereka yang berhak menerimanya.

Prinsip Kehati-hatian
Kriteria Sedekah Rombongan simpel: Pasien dampingan adalah orang yang menderita sakit dan benar-benar berasal dari kalangan tidak mampu. Karenanya tim kurir ditatar betul-betul untuk mengamati kondisi calon pasien dampingan agar bantuan tak salah sasaran. Dicari tahu detil pasien ini pekerjaannya apa, orang tuanya siapa dan bagaimana, serta kondisi rumahnya seperti apa.

Yang bikin repot, masyarakat kita sangat senang sekali bermegah-megahan. Rumah bagus, sepeda motor tak hanya satu, tapi rupanya hutang menggunung di bank dan tak punya cadangan uang untuk biaya berobat saat ada anggota keluarga sakit. Survei ke calon pasien seperti ini bikin bingung. Di satu sisi mereka benar-benar tidak mampu berobat. Tapi rumah mereka bagus, kendaraan ada. Akhirnya tim pengambil kebijakan di Yogya tak meloloskan karena berdasarkan foto-foto dari kurir, calon pasien tersebut dianggap mampu.

Saya sendiri pernah didatangi saudara yang meminta diajukan ke Sedekah Rombongan agar dibantu pengobatan ke rumah sakit. Padahal beliau ini bukan dari kalangan tidak mampu karena berstatus pegawai negeri dan punya aset tanah dan rumah. Tentu saja saya harus menolak permintaan tersebut secara halus.

Tapi bila calon pasien benar-benar dari kalangan tidak mampu, demikian pula keluarga besarnya tak ada yang bisa membantu, instruksi dari Yogya biasanya cepat turun: Bawa ke rumah sakit terdekat! Tergantung penyakitnya, pasien bisa dikirim ke RSU Karyadi di Semarang, RSI Sultan Agung di Bantul, RSU dr. Sardjito di Yogyakarta, sampai RS Lavalette di Malang.

Lalu tergantung tingkat kegawatan penyakitnya, pasien ada yang langsung dipesankan kamar oleh tim di kota-kota tujuan sehingga begitu sampai langsung masuk ruang rawat inap. Tapi ada pula pasien dampingan yang hanya diantar ke Rumah Singgah, untuk selanjutnya ditangani oleh rekan-rekan koordinator dan kurir setempat.

Selama aktif membantu Sedekah Rombongan, saya pernah mengantar pasien dari Pemalang ke Yogya dan juga Malang. Sungguh sebuah perjalanan yang menggembirakan karena tahu pasien yang tengah dibawa sebentar lagi akan diobati penyakitnya. Melihat wajah-wajah gembira pasien yang diantar, hati menjadi tenteram sekaligus memanjatkan puji syukur karena telah diberi rahmat sehat oleh Allah SWT.

Coba bayangkan jika kita yang jadi pasien itu.

Suka-Duka Menjadi Kurir
Tentu ada pengorbanan yang harus saya keluarkan sebagai kurir Sedekah Rombongan. Pengorbanan paling besar bagi saya adalah waktu karena harus melakukan survei ke tempat-tempat yang seringkali tak dekat. Meskipun disebut sebagai kurir area Pemalang, tapi saya bisa melakukan survei pasien di Pekalongan juga Tegal. Itu sewaktu kedua kabupaten belum mempunyai kurir sendiri.

Survei di area Pemalang pun terkadang membutuhkan waktu ekstra, selain uang untuk bensin dan makan selama di perjalanan tentu saja. Pernah saya dan seorang teman melakukan survei ke sebuah desa di Kec. Watukumpul, wilayah selatan Pemalang. Jaraknya dari tempat saya tinggal sekitar dua jam perjalanan. Tapi saat kami meluncur ke lokasi, hujan deras sudah menghadang sejak separuh perjalanan.

Waktu itu kami berangkat selepas Ashar. Hujan rintik-rintik sejak daerah Bantarbolang membuat laju motor tak bisa dikebut. Perlahan-lahan kami melaju terus ke selatan. Langit semakin pekat, hawa semakin dingin. Sampai di perempatan Pasar Belik, hujan deras tumpah. Kami berteduh di sebuah musala dan salat magrib di sana dalam keadaan basah.

Selepas magriban, hujan masih belum reda. Saya dan rekan memilih nekat melanjutkan perjalanan. Tanpa memakai mantel atau jas hujan, kami simpan dompet dan hape ke dalam bagasi, lalu menembus pekatnya hujan menuju ke alamat sasaran. Yang pernah ke Watukumpul tentu paham betapa terjalnya jalan-jalan di sana. Ditambah lagi hujan, jadi kami harus ekstra hati-hati memacu motor.

Alhamdulillah, sampailah kami ke alamat yang dituju. Ndilalah, kami rupanya sudah kedahuluan. Calon pasien yang dilaporkan ke kami rupanya sudah dibawa ke rumah sakit di Purwokerto. Jadi kami hanya melakukan survei dengan bertanya-tanya pada tetangga sekitar dan mengambil foto rumah calon pasien. Lebih tepatnya rumah milik tetangga yang ditumpangi oleh si calon pasien, seorang bapak berusia di atas 60-an tahun.

Semuanya dilakukan sembari berhujan-hujanan. Tetangga calon pasien yang kami survei berbaik hati membuatkan minuman hangat, sehingga kami tertahan selama sekitar 15 menit untuk menghabiskannya sembari terus menggali informasi lain. Pulang dari sana hujan masih mengguyur. Jangan ditanya seperti apa rupa kami sesampainya di rumah. :D

Kadangkalah saya juga melakukan survei jarak dekat. Pernah ada tetangga yang saya survei karena mengalami penyakit gawat. Seringkali juga hanya ke desa tetangga, atau paling jauh ke kecamatan sebelah yang cukup ditempuh dengan naik motor selama 15-20 menit.

Tentu saja ada juga pengalaman menyenangkan selama melakukan survei. Bagi saya yang bukan warga asli Pemalang, saya jadi lebih paham daerah-daerah lain di Pemalang bahkan hingga ke pelosok. Yang lebih sering, beberapa pasien dampingan tetap melanjutkan silaturahmi hingga kini dan menganggap sebagai kerabat. Seperti seorang mantan pasien dampingan yang menjadi driver Gojek di Jakarta, yang setiap kali mudik ke Pemalang selalu memberi kabar dan meminta saya datang berkunjung.

Teman saya punya pengalaman lebih asyik. Seorang calon pasien dampingan yang kami survei di Kec. Comal susah sekali diajak ke rumah sakit karena berbagai alasan. Teman saya bolak-balik membujuk, tapi si ibu berkeras tak mau. Karena bolak-balik ini teman saya jadi sering mampir ke rumah tetangga si ibu yang selama ini membantu keluarga si ibu. Sebut saja nama tetangga si ibu tersebut Pak Wahyu.

Nah, teman saya jadi sedikit akrab dengan Pak Wahyu. Dan rupanya Pak Wahyu terpikat sama teman saya ini. Terlebih setelah diketahuinya teman saya masing lajang. Kok ya kebetulan Pak Wahyu punya anak gadis yang usinya pas untuk menikah. Jadi, ceritanya teman saya ini ditawari untuk menikahi anak Pak Wahyu. Sayangnya teman saya menolak. Hehehehe....

Kini, saya sudah tidak aktif lagi di Sedekah Rombongan. Tapi sepeninggal saya jumlah kurir di wilayah Pantura justru semakin banyak. Meski di Pemalang tetap tidak ada kurir, namun di Tegal dan Pekalongan sudah ada beberapa kurir baru yang lebih muda dan lebih gesit. Demikian pula di Slawi dan Brebes. Koordinator Pantura yang tadinya menetap di Yogya pun sudah pindah ke Batang, sehingga koordinasi semakin mudah karena bisa bertemu langsung.

Satu kesan yang saya dapat ketika aktif bersama Sedekah Rombongan adalah, berbagi itu membuat kita merasa bahagia. Dan berbagi tak harus dengan memberi uang (sedekah dan sebagainya), tapi juga bisa dengan membaktikan diri kita pada sebuah kegiatan bermanfaat bagi sesama. Dampak lain yang seringkali tak disadari, bantuan kita pada orang lain itu akan berbalik pada diri kita sendiri dalam berbagai bentuk: kesehatan, kebahagiaan, omset melesat bagi yang berdagang, pekerjaan lancar bagi yang bekerja, mendapat jodoh yang baik bagi yang jomblo, dan lain sebagainya.

Semoga bermanfaat.

Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayPeduliKasih


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

0 komentar:

Poskan Komentar