Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 31 Maret 2016


BEBERAPA hari lalu anak tetangga meninggal dunia. Usia si anak belum genap dua tahun, sedang lucu-lucunya. Anak tersebut juga tidak mengidap penyakit berat. Tapi turut cerita yang kami dengar, almarhumah kecil susah makan beberapa hari jelang kematiannya. Dua hari sebelum meninggal, kami selalu mendengar suara tangisannya di tengah malam buta.

Kematian memang tidak bisa ditebak kedatangannya. Andai saja masing-masing manusia tahu hari kematiannya, alangkah enaknya. Ibarat agenda wisata ke luar negeri yang sudah ditentukan waktu keberangkatannya, kita dapat dengan mudah mempersiapkan bekal. Mau bawa apa? Seberapa banyak? Semua dapat dikira-kira dan disiapkan sebaik mungkin karena tanggalnya sudah pasti.

Tapi tak ada yang tahu hari kematiannya sendiri. Seperti anak tetangga tadi. Kami masih melihatnya bermain di halaman warung sebelah kemarin sore. Ternyata keesokan paginya ia dibawa ke rumah sakit oleh ibunya. Lalu siang hari speaker musala dekat rumah mengumumkan si anak sudah tiada.

Usia juga tidak jadi ukuran dekat-tidaknya seseorang pada kematian. Tidak lantas orang yang sudah tua renta dekat dengan ajal. Kakeknya anak-anak sudah berusia 75 tahun dan, alhamdulillah, masih segar-bugar baik fisik maupun psikisnya. Beliau masih mampu menunaikan salat dengan sempurna, bahkan terkadang memanjat atap untuk mengganti genting bocor.

Menariknya, ayah mertua saya tersebut sempat divonis tak akan berusia panjang oleh seorang dokter lebih dari 10 tahun lalu. Ketika itu ayah mertua sakit dan mendatangi dokter. Entah atas alasan apa dokter itu mengatakan paling lama ayah hanya bisa bertahan hidup 4-5 tahun lagi. Tentu saja sekeluarga sangat kaget mendengarnya. Siapa sih yang ingin kehilangan anggota keluarga tercinta?

Ternyata ucapan si dokter meleset. Meleset jauuuh sekali. Ayah mertua terus melanjutkan kehidupannya. Beliau ikut menyaksikan anak pertama saya lahir, lalu anak kedua. Beliau juga kemudian menjadi saksi lahirnya cucu-cucu selanjutnya, mengikuti pertumbuhan mereka dengan gembira.

Passive Pahala
Begitulah. Kematian itu misteri. Alih-alih memusingkan waktu kematian yang entah kapan datangnya, bagi saya lebih baik isi kesempatan hidup yang masih diberikan Allah SWT dengan hal-hal bermanfaat. Tak cuma bermanfaat bagi diri sendiri, tapi juga bagi lingkungan sekitar. Syukur-syukur saya bisa meninggalkan sesuatu yang bersifat abadi dan terus dipergunakan orang lain bahkan setelah saya mati.

Bukankah hanya mempersiapkan diri yang bisa kita lakukan? Jadi, kenapa terlalu khawatir dengan persoalan lain yang semuanya di luar kuasa kita? Terus berbuat baik, jadilah manusia yang bermanfaat bagi orang lain, insya Allah kita sudah siap saat malaikat Izrail datang menjemput.

Kalau di dunia bisnis ada istilah passive income alias penghasilan pasif, maka saya menginginkan passive pahala sebagai bekal kematian. Saya ingin menyumbangkan apa saja yang bisa saya lakukan bagi kemaslahatan umat, dan mudah-mudahan kelak amal jariyah saya tersebut terus mengalirkan pahala meskipun saya sudah mati. Jadi efeknya dobel: bermanfaat bagi orang lain yang masih hidup, sekaligus menjadi sumber amal bagi saya yang sudah mati.

Mengutip sebuah hadits, ada tiga hal yang tidak akan putus pahalanya sekalipun seseorang sudah mati. Ketiganya adalah anak saleh/salehah, sedekah jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Bersandar pada hadits ini, saya sangat ingin melakukan tiga hal berikut dalam delapan hari jelang kematian. Cukup tiga hal ini dan saya bisa meninggalkan dunia dengan tenang.

Ya, ini seandainya saya tahu kapan saya akan mati.


1. Menyedekahkan Seluruh Buku Koleksi Saya
Secara ekonomi saya masuk golongan menengah ke bawah. Saya tak punya simpanan dalam bentuk materi. Yang ada hanya selemari penuh buku, beberapa tumpuk majalah dan sejumlah kliping. Semua ini saya kumpulkan sedikit demi sedikit sejak masih kuliah di Jogja, lalu beberapa lagi setelah menikah dan tinggal di Pemalang.

Karena tak punya harta untuk disedekahkan, jadi saya akan menyumbangkan seluruh buku dan bacaan koleksi saya tersebut. Ada seorang teman di Sumenep, Madura, yang berangan-angan membangun sebuah taman bacaan. Saya rasa sumbangan satu lemari buku akan sangat membantu baginya. Lebih-lebih bagi calon pembaca di daerah tersebut.

Kami pernah mendiskusikan hal ini lewat Facebook Messenger, SMS, dan juga telepon sekitar 1,5 tahun lalu. Saya malah sudah menyumbangkan satu dus buku. Tapi taman bacaan itu belum bisa diwujudkan karena ia belum menemukan lokasi yang pas (dari segi uang sewa) dan koleksi bukunya masih sangat sedikit. Mudah-mudahan sumbangan dari saya nantinya mempercepat terwujudnya taman bacaan ini.

2. Menulis Setidaknya Satu Buku Lagi
Sudah lama sekali saya tak menulis buku. Terakhir kali buku saya terbit sudah berlalu empat tahun lalu. Dan tak satupun dari buku-buku saya yang telah diterbitkan itu dicetak ulang, apalagi best seller. Dari empat judul, hanya satu yang dicetak lebih dari 3.000 eksemplar karena terpilih dalam proyek pengadakan buku. Jelas tak bisa disebut best seller.

Saya rasa penulis manapun menginginkan bukunya menjadi best seller. Demikian pula saya. Bagi saya, best seller bukan cuma persoalan popularitas dan materi. Buku menjadi best seller karena disukai pembaca. Itu artinya pembaca merasa buku tersebut memberikan manfaat bagi mereka. Dengan kata lain, sebagai penulis saya telah menghadirkan manfaat bagi orang lain melalui buku saya.

Kembali ke hadits di atas, ilmu yang bermanfaat adalah sumber pahala pasif. Dan rasanya buku best seller bakal memberikan pahala lebih besar karena bermanfaat bagi lebih banyak orang.

Tapi tak usahlah bermimpi menjadi buku best seller, saya hanya ingin setidaknya satu lagi buku saya terbit sebelum saya mati. Karena itu saya akan memanfaatkan delapan hari menjelang kematian semaksimal mungkin untuk merampungkan satu buku. Buku yang bisa menjadi solusi bagi pembacanya, buku yang bermanfaat.

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dalam sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." -- Pramoedya Ananta Toer

3. Mengajari Istri Saya Menulis
Ini hal penting bagi saya, bagi istri, terlebih bagi anak-anak. Istri saya berhenti mengajar di SD lima tahun lalu, tepatnya setelah anak kedua kami lahir. Belum berstatus pegawai negeri sipil sih, tapi banyak yang menyayangkan keputusan tersebut dengan pemikiran mana tahu nanti diangkat jadi PNS.

Kini, istri lebih banyak di rumah. Memasak, mencuci dan urusan rumah tangga lain. Terkadang ia ikut membantu mencari penghasilan dengan menggarap pesanan mahar atau hantaran. Hasilnya lumayan, tapi saya tetap ingin mengajarinya menulis. Saya ingin istri saya bisa menulis dan menghasilkan sesuatu dari karyanya. Saya juga akan mengajarinya membuat blog dan berinteraksi dengan sesama blogger. Dengan demikian mudah-mudahan ia bisa mencari-cari peluang penghasilan menggunakan blognya tersebut.

Persoalan materi jadi concern utama saya pada poin ini. Jika suami meninggal, otomatis tanggung jawab rumah tangga pindah ke pundak istri. Saya tak ingin istri kebingungan mencari uang untuk menafkahi kedua anak kami sepeninggal saya. Jadi, istri saya harus bisa menulis dan ngeblog.

Menulis adalah pekerjaan yang sangat pas dijalankan oleh seorang ibu rumah tangga seperti istri saya. Ia bisa memanfaatkan waktu kosong saat anak-anak di sekolah untuk menghasilkan artikel, cerpen atau setidak-tidaknya posting blog. Lalu malam hari saat anak-anak sudah tidur ia blogwalking untuk menjalin relasi.

Menulis merupakan pekerjaan abadi selama manusia ada di muka bumi. Teknologi boleh berubah dari cetak ke digital, tapi tulisan dan penulis tetap dibutuhkan. Pada kenyataannya, mencari penghasilan dengan menulis jadi jauh lebih mudah di era digital ini.

Coba kita sedikit hitung-hitungan. Jika satu artikel, cerpen atau posting berbayar yang ditulis menghasilkan honor Rp500.000, maka istri saya hanya perlu menulis enam judul setiap bulan untuk bisa hidup di atas standar hidup layak Pemalang. Ia masih punya waktu luang sangat banyak untuk melakukan hal-hal lain di luar mengurus anak-anak dan rumah.

Ini sebenarnya rencana lama. Saya ingin mengajari istri menulis sejak pertama kami menikah, tapi berbagai alasan membuat rencana ini terus tertunda. Termasuk alasan istri kalau ia tidak berbakat menulis. Well, saya orang yang paling keras menentang soal bakat ini.

Saya percaya setiap orang pada dasarnya bisa dan berbakat menulis. Hanya latihan, ketekunan, serta keseriusan yang kemudian membedakan kemampuan menulis satu orang dengan yang lain. Soal ide tulisan, kalau kita bisa terus mendapat bahan pembicaraan saat berkumpul dengan teman atau saudara, bagaimana bisa kehabisan ide tulisan? Bukankah berbicara dan menulis pada hakikatnya sama-sama mengungkapkan isi kepala?

Itu dia tiga hal yang paling ingin saya lakukan delapan hari sebelum mati. Jika waktu itu sudah sampai, semoga saya diberi khusnul khatimah dan amal ibadah saya semasa hidup diterima di sisi Allah SWT.

"Orang yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya, Mereka itulah orang-orang cerdas. Mereka pergi dengan membawa kemuliaan dunia dan kemuliaan akhirat." (HR. Ibnu Majah)

Tulisan ini diikutkan dalam dnamora Giveaway
Baca disclaimer blog ini selengkapnya di laman ini.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

7 komentar:

  1. @Bung Eko, wow keren banget nih tulisannnya.....saya suka....banyak inspirasi dalam tulisan diatas.....dan banyak pelajaran yang saya dapatkan setelah membacanya.....
    .
    Semoga nanti jadi pemenang ya.....aaammmiiinnn :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekeren-kerennya tulisan ini, lebih keren lagi yang membuatnya. Hehehehe... Insya Allah jadi pelajaran bagi semua, termasuk saya yang menuliskannya.

      Hapus
  2. Terimakasih tulisannya Mas Eko, Melimpah berkah segala urusannya,, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh, saya kok baru tahu ada komentar ini.
      Btw, ditunggu buku antologinya ya...

      Hapus
  3. Sedih bacanya, tapi sudah selayaknya setiap orang membuat catatan terakhir dalam hidupnya. Kalau tiba tiba sang pencipta memanggilnya:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak perlu sedih, karena kematian itu hal yang pasti dialami semua makhluk hidup di alam semesta. :)

      Hapus
  4. Salam dari Malaysia, terima kasih atas penulisan tuan ini, sangat membantu merencanakan hala tuju hidup saya sekarang :)

    BalasHapus