Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 29 Maret 2016


PUASA masih sekitar 60 hari lagi, tapi anak-anak saya sudah minum es cincau setiap hari. Kemarin sore, selesai bermain bola di halaman belakang Damar minta dibuatkan cincau hijau setelah melihat batang cincau hijau perdu yang merambat di pohon jambu biji. Jadilah saya bertiga dengan Damar dan Diandra mengeringkan peluh sembari memetik daun cincau.

Itu merupakan kali kedua saya memetik daun cincau tersebut dalam tiga hari terakhir. Sebelumnya saya sudah membuatkan cincau hijau untuk Damar, tapi begitu habis dia langsung minta dibuatkan lagi. Padahal tak sampai sepekan sebelum itu saya juga membuat cincau hijau. Tapi dia sangat doyan sekali melahap es cincau hijau racikan Abi dan Ummi-nya ini. Mungkin dia tahu, kami membuatnya dengan penuh rasa sayang. Cieeee....

Setelah dipetik, daun direndam dalam air bersih sebentar. Sebenarnya langsung dicuci saja tak masalah. Tapi daun cincau hijau perdu di halaman belakang banyak yang kotor oleh sarang laba-laba, debu, dan tak jarang ada kotoran serangga atau burung menempel. Jadi harus direndam barang 10-15 menit agar kotorannya lunak dan mudah dibersihkan saat dicuci.

Sembari menunggui anak-anak mandi, saya mencuci daun cincau perdu tersebut bersih-bersih dan membuang tangkainya. Dasar anak-anak, waktu mandipun dimanfaatkan untuk bermain-main. Saya tentu tak mau membuang kesempatan itu. Alih-alih meminta mereka cepat-cepat menyelesaikan mandinya, saya lebih memilih merampungkan pembuatan cincau hijau.

Cara membuatnya cukup mudah. Saya dapat ilmu pembuatan cincau hijau ini dari adik perempuan saya sewaktu kami masih tinggal di Sungai Bahar, Jambi. Daun cincau hijau perdu yang sudah dicuci bersih lalu ditaruh dalam wadah sedang, tambahi air hangat, lalu remas-remas sampai daunnya lembut selembut-lembutnya.

Dari remasan ini daun cincau mengeluarkan semacam gel (jeli) disertai aroma khas. Biasanya juga akan keluar buih dan air berubah mengental. Ini tandanya cincau hijau sudah hampir jadi. Langkah terakhir adalah memeras atau menyaring air perasan agar terpisah dari ampas. Ya, kita buang saja ampasnya karena kalau ikut dimakan tidak enak.

Diamkan air perasan daun tadi di wadah selama beberapa saat. Tutup rapat agar tak dimasuki debu atau serangga. Selama didiamkan itu gel yang keluar dari daun akan bersenyawa dengan air sehingga membentuk semacam agar-agar. Kenyal, hijau, kalau dimakan rasanya segar tak terkira.


Nah, kalau saya kebagian membuat cincau hijaunya, maka pelengkapnya disiapkan istri. Tergantung ketersediaan bahan di rumah saat itu, istri akan membuat juruh (cairan kental terbuat dari air dicampur gula merah) dan santan kepala, atau hanya juruh saja. Damar tak terlalu mempermasalahkan hal ini, jadi dia tak pernah protes. Hehehe...

Dan.... Jadilah cincau hijau ala Keluarga Bung Eko. Cara penyajiannya sangat gampang. Potong dadu cincau hijau, bisa juga langsung disendok saja, masukkan ke dalam gelas. Campurkan juruh dan santan, lalu tambahkan es batu jika suka. Kalau tidak cukup taruh di dalam kulkas selama beberapa menit. Beres! Selanjutnya tinggal menikmati. Segar.

Tanaman Berkhasiat
Rupanya es cincau hijau tak cuma segar dan nikmat di mulut. Daun cincau hijau perdu (Premna oblongifolia Merr.) menyimpan aneka khasiat bagi kesehatan tubuh. Satu yang jelas kelihatan adalah tanaman ini mengandung klorofil. Zat pemberi warna hijau pada daun ini bisa berfungsi sebagai antioksidan, antiperadangan dan antikanker.

Mengutip penelitian Prof. Dr. drh. Clara Meliyanti Kusharto, M.Sc. dari Departemen Gizi Masyarakat IPB, kandungan klorofil daun cincau hijau perdu sangat tinggi, yakni 1.709 ppm. Angka ini jauh lebih tinggi dari jenis daun lainnya, misalnya daun katuk (1.509 ppm), daun murbei (844 ppm), atau daun pegagan (832 ppm). Baca lebih banyak mengenai penelitian Prof. Dr. Clara di laman http://dauncingcau.innov.ipb.ac.id/.

Selain itu, daun cincau hijau mengandung senyawa dimetil kurin-1 dimetoidida, isokandrodendrin, alkaloid bisbenzilosukuinolin, S,S-tetandrin. Gabungan ketiga senyawa ini membuat cincau hijau mengandung khasiat untuk mengendurkan otot, mencegah perkembangan sel tumor ganas, baik bagi ginjal, menurunkan tekanan darah tinggi dan kolesterol.

Bagi yang ingin menurunkan berat badan, cincau hijau sangat cocok dikonsumsi sebagai salah satu sarana diet. Daun cincau hijau perdu diketahui sangat rendah kalori dan tinggi serat. Mirip snack yang biasa nongol di iklan televisi itu tuh, yang katanya kalau ngemil itu tidak bakalan bikin gendut. Bedanya, Premna oblongifolia Merr. tentu lebih alami dan terjamin ketimbang makanan buatan pabrik.

Daun cincau hijau juga kaya mineral, terutama kalsium dan fosfor. Kita tahu kalsium sangat dibutuhkan tulang dan gigi, sehingga bagus dikonsumsi anak-anak yang tulang dan giginya masih bertumbuh. Jadi, mudah-mudahan Damar dan Diandra tulangnya kuat serta giginya bagus karena hampir setiap hari minum es cincau hijau.

Penelitian terhadap daun cincau hijau perdu tak cuma dilakukan Prof. Dr. Clara dan IPB. Sejumlah universitas ternama lainnya pun pernah mengadakan kajian terhadap kandungan dan khasiat tanaman ini. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Dea Avrilda Kariza, mahasiswi D3 Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Negeri Semarang. Dea menemukan bahwa kandungan pektin dalam daun cincau hijau bisa dimanfaatkan untuk membuat gel pengharum ruangan. Skripsi Dea bisa diunduh melalui laman http://lib.unnes.ac.id/21350/.

Skripsi bertema daun cincau hijau perdu juga dilakukan oleh Rudi Hermansyah, mahasiwa Universitas Andalas. Judul skripsinya Karakteristik Mutu Ekstrak Liquid Klorofil Daun Cincau Hijau (Premna Oblongifolia Merr) Serta Aplikasi Pada Minuman Teh Hijau, disusun pada 2012 lalu. Sedangkan Ananda Eka Astirani dan Hesti Murwani Rahayuningsih dari pendidikan pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro menyusun tesis berjudul Pengaruh Pemberian Sari Daun Cincau Hijau (Premna oblongifolia Merr) Terhadap Kadar Kolesterol HDL dan Kolesterol LDL Tikus Sprague Dawley Dislipidemia pada Februari 2013.

Hasil penelitian Prajwalita Rukmakharisma Rizki, Rizca Dwi Jayanti dan Tri Dewanti Widyaningsih dari Universitas Brawijaya menyuguhkan fakta lain. Dimuat dalam Jurnal Pangan dan Agroindustri Unbraw, riset ketiganya menyoroti efek daun cincau hijau perdu terhadap glukosa darah. Hasilnya, konsumsi cincau hijau secara rutin dapat membantu mengontrol kadar gula dalam darah. Silakan baca artikelnya di laman http://jpa.ub.ac.id/index.php/jpa/article/view/202.

Dengan demikian, merangkum seluruh hasil penelitian akademisi yang telah disebutkan di atas, daun cincau hijau perdu memiliki beragam manfaat seperti:
  1. Kandungan tinggi klorofil dalam daun cincau hijau perdu saja sudah menghadirkan begitu banyak manfaat: meningkatkan kualitas darah dalam tubuh, mencegah kanker, mengobati infeksi, mencegah batu ginjal, sebagai antioksidan, menurunkan berat badan, dan detoksifikasi tubuh.
  2. Membantu menurunkan berat badan berkat kandungan tinggi serat serta begitu rendahnya kalori dalam daun cincau hijau perdu.
  3. Kandungan kalsium dan fosfor daun cincau hijau perdu sangat bermanfaat bagi pertumbuhan tulang dan gigi anak-anak.
  4. Mencegah penyakit diabetes melitus, karena daun cincau hijau perdu dapat mengontrol kadar gula dalam darah.
  5. Menurunkan kadar kolesterol dalam tubuh.

Okelah, kalau begitu mulai sekarang membuat es cincau hijau tak sekedar untuk menyenangkan anak. Mengingat begitu beragamnya khasiat daun cincau hijau perdu, saya tak keberatan jika harus membuatkan cincau hijau setiap hari.

Semoga bermanfaat!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

12 komentar:

  1. Wah, selain enak ternyata nyata khasiatnya. Ga salah menggemari es cincau hijau. Salam kenal... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya. Baru tahu juga sih manfaatnya segitu banyak. Selama ini tahunya cuma enak dibuat es :)

      Salam kenal kembali, Mbak.

      Hapus
  2. Wah asyik punya pohon cincau.
    Mudahkah menanam dan memeliharanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayanya bukan pohon ya, kaya anggur gitu sih. Merambat tapi batangnya keras dan bisa besar juga. Soal perawatan, selama ini cuma dibiarin aja. Hehehehe

      Hapus
  3. Segarnya, cincau hijau. Dulu pun saya suka membuatnya karena ada tanamannya di rumah. Harus tanam lagi nih. Selain berkhasiat, juga enak buat minuman. Persiapan puasa :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, latihan bikin kudapan buat berbuka. Minuman seger-seger seperti ini pasti jadi primadona pas puasa :)

      Hapus
  4. Aku pingin banget nih dapat bibit tanaman ini tapi kok belum ketemu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di belakang rumah ada nih. Kayanya bisa deh batangnya dipotong terus ditanam gitu. Mau?

      Hapus
  5. Mas, bagaimana cara menghilangkan buihnya setelah mengucek daun itu?
    Manfaatnya keren ya daun ini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mmmmm, selama ini sih buihnya dibiarin, Teh. Kadang buihnya hilang setelah didiamkan, tapi tak jarang masih ada juga walaupun air perasan sudah berubah bentuk jadi agar-agar.

      Hapus
  6. suka banget ama cincau baru kali ini lihat bentuk daunnya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih, Mbak? Kalau saya daun cincau hitam yang sampe sekarang belum pernah tahu wujudnya.

      Hapus