Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 31 Maret 2016


TEPAT pada 3 Juni 2016 nanti toko online saya genap berusia 7 tahun. Toko online yang saya bangun jelang menikah, dan hingga kini jadi salah satu sumber penghasilan kami sekeluarga. Awalnya hanya iseng sebenarnya, tapi ternyata sampai saat ini kami bisa melayani pembeli dari Aceh hingga Papua, bahkan beberapa kali mengirim ke luar negeri.

Jangan bayangkan toko online ini seperti yang biasa pasang iklan di televisi ataupun di web-web beken ya. Yang saya kelola sebuah toko online sederhana berbasis Blogspot. Jadi pada dasarnya itu adalah blog, namun tampilannya saya modifikasi sedemikian rupa. Sehingga ketika orang berkunjung ke sana langsung disuguhi berbagai foto produk berikut harganya di halaman utama.

Seperti saya bilang di paragraf awal, toko online yang beralamat di uanglama.com ini saya buat secara iseng pada Juni 2009. Tentu ada ceritanya kenapa saya sebut iseng. Waktu itu saya sedang magang di salah satu harian di Jogja dan mendapat tugas liputan mengenai komunitas numismatik. Jadilah saya berkenalan dan kemudian akrab dengan sejumlah kolektor uang lama Jogja. Karena para kolektor itu juga pedagang, saya jadi tahu kalau berjualan uang lama bisa menjadi bisnis. Bisnis bagus malah.

Setelah liputan selesai digarap, saya berselancar di internet untuk survei kecil-kecilan mengenai jual-beli uang lama. Dan ternyata saat itu belum ada satupun toko online yang khusus berjualan uang lama. Kalau pedagang uang lama banyak, tapi mereka berjualan lewat forum-forum tanpa mempunyai web sendiri. Selain itu, kebanyakan dari mereka berjualan uang-uang koleksi. Padahal ada satu kebutuhan akan uang lama yang, menurut saya, tak kalah menjanjikan hasilnya jika digarap.

Ini peluang, batin saya. Ya, saya langsung tertarik berjualan uang lama secara online. Khususnya uang mahar alias uang-uang lama pecahan kecil (Rp1, Rp2, Rp5 dan Rp10) yang biasa dipakai untuk mahar atau mas kawin. Pernah lihat kan teman menikah maharnya uang yang nominalnya sama persis dengan tanggal akad nikah mereka? Nah, calon-calon pengantin seperti itulah pasar yang saya bidik.

Sebagai blogger saya paham betul nama domain akan sangat menentukan jalannya usaha ini. Yang pertama melintas dalam benak saya tentu saja "uang lama", jadi saya ketikkan "uanglama.com" pada situs penyedia nama domain langganan. Voila! Saya beruntung sekali. Nama domain itu belum ada yang punya. Langsung saja saya ambil dan bayar dua tahun sekaligus.

Lalu, isengnya di mana? Di sini: Saat itu saya tak punya uang lama sama sekali! Rencana saya sederhana saja. Karena saya kenal baik dengan salah satu pedagang uang lama di Pasar Klithikan, juga seorang kolektor muda di daerah Sagan, saya cukup mendaftar barang apa saja yang mereka berdua punya. Saya foto beberapa koleksi plus uang-uang lama nominal kecil, kemudian saya pajang di web. Selesai.

Barulah saat ada pembeli saya datangi mereka, ambil uang-uang lama sesuai pesanan pembeli, bungkus dengan amplop khusus yang sudah saya siapkan, tinggal kirim. Pembeli tidak pernah tahu kalau saya tidak punya stok. Hehehehe. Tapi itu cerita lama. Alhamdulillah, usaha ini berjalan lancar sehingga tak sampai setengah tahun saya bisa menyediakan stok sendiri.


Transaksi Tradisional
Karena dibangun dengan platform Blogspot, pada hakikatnya uanglama.com adalah sebuah blog. Karenanya itu tak bisa benar-benar disebut toko online. Saya sendiri mengistilahkannya sebagai blogstore, jadi toko online berbentuk blog. Atau bisa juga blog untuk berjualan.

Proses transaksinya juga masih tradisional, di mana saya tetap harus melayani pembeli layaknya berjualan di warung. Tak ada otomatisasi seperti pada toko-toko online top di luar sana, di mana pembeli cukup klik sana-sini untuk melakukan pembelian. Di toko online saya, calon pembeli melihat-lihat barang di web, kemudian mengontak saya lewat SMS, WhatsApp, email atau telepon. Di sanalah kami bertransaksi.

Pembeli yang teliti biasanya sudah membaca semua ketentuan yang saya buat, sehingga saat mengontak saya cukup satu-dua SMS atau chat WA langsung transfer. Ada juga yang malah sudah transfer, lalu saat SMS/WA hanya memberikan nama dan alamat pengiriman. Nomor rekening memang saya cantumkan di web, bersama prosedur pembelian dan informasi penting lain seperti profil dan cara mengecek ongkos kirim.

Tapi pembeli seperti itu tidak banyak. Lebih sering terjadi saya harus melayani SMS/WA dengan sabar karena calon pembeli bahkan tidak tahu uang lama apa saja yang saya jual. Serius! Pembeli model begini biasanya mengawali kontak dengan SMS/WA berbunyi, "Ini yang jual uang lama ya?" atau "Ada uang lama gan?" Saya langsung tahu bakal sepanjang apa rangkaian SMS atau chat selanjutnya. Hehehehe...

Beres dengan barang yang mau dibeli, urusan selanjutnya adalah mengecek ongkos kirim. Tergantung request calon pembeli, saya akan buka situs jasa pengiriman pilihan mereka untuk mengecek tarif. Biasanya sih calon pembeli lebih prefer ke JNE, jadi saya buka www.jne.co.id. Selesai? Belum. Momen paling dramatis baru terjadi setelah kami menghitung total harga barang plus ongkos kirim.

Ya, benar sekali, momen paling krusial dari transaksi yang saya lakukan di uanglama.com adalah pembayaran. Karena ini usaha pribadi, saya memakai rekening pribadi. Saya buka empat rekening di empat bank berbeda, plus satu rekening di bank istri yang beda dengan milik saya. Jadi total ada lima rekening di lima bank berbeda. Tapi tetap saja banyak calon pembeli yang merasa kurang nyaman melakukan pembayaran dengan cara begini. Maklum, apa sih uanglama.com dan siapa sih Eko Nurhuda di mata calon pembeli? Faktor kredibilitas dan kepercayaan bermain di sini.

Beberapa dari mereka biasanya akan bertanya "Apakah ada cabangnya di kota saya?" Sedangkan beberapa lagi menanyakan kemungkinan melakukan cash on delivery (COD). Jawaban pertanyaan pertama tentu tidak ada. Sedangkan untuk yang meminta COD, kalau calon pembeli berdomosili di Pemalang dan sekitarnya saya minta kesediaannya untuk datang langsung ke alamat rumah yang tertera di web.

Sayangnya, lebih banyak dari calon pembeli ragu-ragu model begini yang akhirnya membatalkan pesanan. Macam-macam alasannya. Tapi saya mafhum, mereka kuatir jadi korban penipuan. Sekalipun mereka bisa melacak saya di Google, melihat buku-buku karya saya di GoodReads, atau stalking aktivitas harian saya di Facebook dan Twitter, kekuatiran mereka jauh lebih besar. Sekali lagi, ini soal kepercayaan.


Solusi dari MyCOD
Masalah ini terpecahkan dengan diluncurkannya fitur MyCOD dari JNE. Layanan ini terintegrasi dalam aplikasi MyJNE yang diluncurkan pada Februari 2016 lalu. Penjual online seperti saya bisa mengunduhnya di Google PlayStore dan memanfaatkan aplikasi ini untuk mengatasi keragu-raguan calon pembeli yang kuatir jadi korban penipuan.

Fitur dalam aplikasi MyJNE sendiri masih banyak lagi. Untuk mengecek tarif pengiriman ada My Tarif. Sedangkan untuk mengecek status pengiriman paket ada My Shipment. Kalau kebetulan berada di luar kota dan tak tahu alamat agen JNE terdekat, lacak dengan fitur My Location/nearby. Bagi saya, jagoannya adalah fitur MyCOD.

Kalau istilah "COD" yang biasa dipakai dalam transaksi online adalah akronim dari cash on delivery atau bayar di tempat, kepanjangan "COD" dalam MyCOD adalah cash on digital. Maksudnya? Fitur ini semacam rekening bersama (rekber). Jadi, MyCOD menjembatani pembayaran dari pembeli kepada penjual untuk meningkatkan kenyamanan bagi kedua belah pihak.



Meski belum sempat menggunakannya, saya rasa fitur MyCOD akan sangat membantu para penjual online seperti saya. Dalam kasus di atas, di mana calon pembeli ragu-ragu mentransfer karena kuatir jadi korban penipuan, kehadiran pihak ketiga yang lebih kredibel seperti JNE merupakan solusi. Pembeli menjadi lebih tenang karena uang mereka tak akan diterima penjual sebelum pesanan mereka sampai.

Sebagai penjual, saya juga diuntungkan karena tidak perlu menagih pembayaran langsung pada calon pembeli. MyCOD yang akan menagihnya lewat aplikasi yang terinstal di smartphone calon pembeli. Saya hanya perlu membuka fitur MyCOD di smartphone, lalu masukkan detil pembelian berisi nomor hape pembeli, harga barang, ongkos kirim, dan biaya lain sesuai kesepakatan. Selanjutnya MyCOD secara otomatis mengirim invoice kepada calon pembeli.

Khusus soal ongkos kirim, penjual juga diuntungkan sebab tak harus mengecek tarif lagi. Sistem MyCOD akan secara otomatis menghitung ongkos kirim berdasarkan data alamat yang diisi calon pembeli pada saat mengaktifkan aplikasi MyJNE di smartphone mereka. Hemat waktu dan tenaga, bukan?

Alur transaksi penjualan akan sedikit berubah, tapi ini sama sekali tak merepotkan. Jika selama ini usai chit-chat dan menghitung total yang harus dibayar saya memberi nomor rekening ke pembeli, sekarang saya tinggal minta bantuan MyCOD untuk 'menagih' pembayaran pada calon pembeli. Jadi berasa punya juru tagih gitu, hahahaha....

Pembeli akan mendapat notifikasi. Dalam invoice yang dikirim MyCOD tertera jumlah yang harus dibayar dan nomor rekening tujuan pembayaran. Setelah pembeli melakukan pembayaran, gantian penjual yang mendapat notifikasi. Sudah, tinggal kirim paket sesuai pesanan pembeli. Kemudian masukkan nomor resi pengiriman ke dalam akun MyCOD. Pembeli sekali lagi mendapat notifikasi begitu nomor resi diinput.


Bebas Rempong
Selain fungsi sebagai rekening bersama, manfaat positif lain dari MyCOD bagi pembeli dan penjual adalah membuat proses jual-beli jauh lebih efektif. Gak ribet. Ini mungkin terjadi karena semuanya berjalan serba otomatis. Begitu pembeli transfer penjual mendapat notifikasi, lalu saat penjual mengirim paket pembeli juga mendapat notifikasi. Langsung, gak pake nunggu ini-itu.

Selama ini pembeli biasanya diminta mengirim foto atau screenshot bukti transfer. Bagaimana kalau kertas di rol struk mesin ATM habis sehingga struknya tidak keluar? Bagaimana kalau tintanya yang habis jadi tulisan di struk kabur? Tak jarang terjadi pembeli lupa, karena kebiasan struk langsung dilempar ke tempat sampah. Waktu mau kasih kabar ke penjual baru ingat struknya tidak disimpan. Iya kalau ATM-nya di sebelah rumah. Lha, kalau jauh?

Saya pernah dengan terpaksa menahan pesanan seorang pembeli selama dua hari. Harusnya dikirim Senin, sampai Rabu baru saya kirim. Soalnya bukti transfer yang dikirim si pembeli tak bisa dibaca dengan jelas. Lalu saya cek di bank lewat internet banking mutasinya belum ada. Padahal pembeli mengaku sudah transfer dari pagi. Saya paham pembeli merasa kecewa, tapi mau bagaimana lagi?

Kini pembeli tak perlu mengirim foto atau screenshot bukti transfer. Kode pembayaran setiap pembeli dibuat unik. Sistem MyCOD dapat segera mengetahui begitu pembeli melakukan transfer. Kalau dana sudah masuk ke rekening MyCOD, sistem akan memberi notifikasi pada penjual. Simpel.

Dari sisi penjual, pernah nggak sih merasa dongkol sama pembeli yang cerewet sekali menanyakan nomor resi? Saya pernah, sering sekali. Transfer jam 08.00 pagi, eh, jam 10.00 sudah tanya resi. Setelah dikasih resi, besoknya nanya lagi, "Paketku sudah sampai mana ya, Kak?" Besoknya lagi tanya, "Kok paketku belum sampe gimana sih ini?" Sebel? Sama. Hahaha...


Pernah lho saya ditelepon pembeli tiga hari berturut-turut. Gara-garanya paket yang saya bilang standarnya tiga-empat hari kerja, ternyata sampai lima hari baru sampai alamat. Usut punya usut, ternyata alamat tersebut jauh dari kota. Tapi kan pembeli tidak mau tahu hal-hal teknis seperti ini. Ya harus sabar saja menerima setiap komplain sampai caci-maki mereka.

Pernah juga saya dapat pesan sadis. "Dasar penipu! Uang sudah ditransfer barang nggak dikirim-kirim juga!" Saya scroll pesan tersebut, dan ternyata saya lupa memberi tahu nomor resi. Padahal paket sudah dikirim sejak dua hari lalu. Nasib.

Semua itu sudah jadi masa lalu. Memanfaatkan layanan MyCOD, penjual bisa lebih tenang setelah mengirim paket. Tak perlu lagi berkirim SMS, WA, atau BBM mengabarkan nomor resi satu-satu ke pembeli. Cukup masukkan semua nomor resi ke dalam MyCOD, sistem yang akan meneruskannya pada pembeli. Tidak ada lagi cerita "diteror" pembeli yang paketnya tak kunjung sampai. Pembeli cukup buka aplikasi MyJNE di smartphone mereka, di sana bisa dilihat sendiri sudah sampai mana paketnya. Praktis.

Mau merasakan kemudahan berjualan online memakai fitur MyCOD? Klik saja banner di bawah untuk mengunduh aplikasi MyJNE di laman Google PlayStore. Semoga membantu!


Disclaimer: Artikel ini diikut-sertakan dalam Giveaway Review Aplikasi MyCOD yang diadakan oleh Fitrian.net. Baca disclaimer blog ini selengkapnya di laman ini.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

7 komentar:

  1. pengalamannya sama oom....pembeli yg cerewet itu biasanya justru yg order brg cuma 1biji...smntara yg beli karungan nyantai aja tuch hehehe.....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, kok tahu sih? Order sak uprit, tapi bikin ribet sejak dari tanya-tanya sampe barang sudah dikirim. Tapi ya gpp, namanya juga customer. :)

      Hapus
  2. wah punya toko oline yang unik, ini buat kolektir uang lama ya. Terima kasih sudah berpartisipasi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, tokonya seunik yang ngelola.
      Sama-sama, Mbak. Numpang ikut giveaway-nya ya. Hehehe...

      Hapus
    2. Iya, saya kemaren waktu tahu Mas Eko punya toko online yang unik ini langsung ngebayangin kalau ikutan dia cara Mbak Lid. ternyata bener ikutan. Hehehe :D

      Hapus
  3. Eh beneran Mas jualan uang lama. Saya punya beberapa dan memang senang ngumpulin juga. Kapan-kapan mampir olshopnya ah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan berkunjung, Mbak. Spesialisasinya uang mahar sih, tapi kalau mau cari uang koleksi juga bisa dibantu :)

      Hapus