Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 31 Maret 2016


SAYA lahir di Palembang. Sampai kelas IV Sekolah Dasar saya tinggal di ibukota provinsi Sumatera Selatan ini. Jadi, kenangan masa kecil saya berserakan di sini. Setiap kali melintasi Palembang, bahkan sekedar melihat tulisan atau mendengar namanya, memori saya langsung memutar bayangan-bayangan dari masa kecil di kota berslogan BARI ini.

Ada banyak sekali kenangan saya di Palembang. Salah satu yang masih berkesan adalah naik mobil ketek, yakni kendaraan umum khas Palembang berbodi kayu yang waktu itu banyak berseliweran di dekat rumah kami.

Bapak membuat rumah di sebuah lorong kecil di salah satu sudut Desa Sukajaya, Kecamatan Sukarami. Ini kecamatan yang terletak di pinggiran Kotamadya Palembang. Kami lebih sering menyebut daerah ini sebagai Lebong atau Lebongsiareng. Satu penanda Lebongsiareng yang saya ingat betul adalah persimpangan jalan yang dikenal sebagai Simpang Lima atau Simpang Limo menurut lidah penduduk setempat.

Dulu Simpang Limo ini jadi tempat mangkal mobil ketek. Ongkos dari Simpang Limo ke Pasar Paal V naik mobil ketek ini kalau tak salah ingat antara Rp25 atau Rp50. Itu lho, koin dari alumunium bergambar burung terbitan tahun 1971. Dari Paal V, atau kadang juga disebut Jalan Sosial sesuai nama jalan tersebut, kami bisa menuju ke pusat kota dengan menumpang angkutan umum lain seperti bis kota.

Mobil ketek adalah andalan warga Simpang Limo dan sekitarnya untuk mengakses kota. Rute angkutan umum yang aslinya merupakan jeep kendaraan perang ini adalah Paal V sampai perumahan militer yang waktu itu kami sebut sebagai Perumdam. Saya tidak tahu persis apakah penumpang yang lebih jauh dari Perumdam bakal diantar, sebab dulu saya paling jauh naik ketek cuma sampai Jl. Mayor Zurbi Bustan atau lewat sedikit dari Simpang Limo.

Pertigaan Jl. Sosial yang berdekatan dengan Pasar Paal V dan juga (waktu itu) Terminal Paal V jadi pangkalan utama mobil ketek jurusan Lebongsiareng dan Perumdam. Setiap hari belasan mobil ketek berjajar memanjang menunggu penumpang di sini. Antriannya terkoordinir rapi, di mana penumpang baru harus naik mobil paling depan. Begitu penuh, mobil terdepan jalan dan tempatnya digantikan oleh mobil di belakangnya. Begitu seterusnya.

Saya biasanya naik mobil ketek kalau diajak Ibu ke rumah seorang bude di kawasan Plaju. Dari rumah kami jalan kaki sebentar ke Simpang Limo. Kalau ada ketek mangkal kami langsung naik dan menunggu penumpang penuh, atau sesuai kehendak sopirnya. Tak jarang penumpang baru separuh sopir sudah menjalankan mobilnya. Turun di pertigaan Paal V, kami melanjutkan perjalanan dengan naik bis kota jurusan Indralaya.

Oya, penasaran kenapa dinamakan mobil ketek? Itu karena suara mobil ini berisik mirip seperti perahu ketek, yakni perahu mesin yang biasa lalu-lalang di Sungai Musi. Juga karena mobil ini tidak bisa melaju kencang. Maklum, Jip Willys keluaran tahun 1950-an ini adalah veteren perang peninggalan Belanda. Tenaganya sudah banyak diporsir saat perang, jadi sudah bisa jalan saja sudah sangat bersyukur. Hehehehe...


Pernah suatu ketika mobil ketek yang kami tumpangi mesinnya tidak mau hidup. Sopir berulang kali mencoba menghidupkan mesin dengan starter, tapi selalu gagal. Sopir lalu turun, mengambil sebuah besi berbentuk seperti pedal lalu memasukkannya ke dalam satu bagian mesin. Saya tak bisa melihat di bagian mana besi itu dimasukkan sebab duduk di kursi penumpang. Besi itu kemudian diputar-putar, dan tiba-tiba saja mesin mobil hidup.

Pada kesempatan lain saya akhirnya tahu kalau besi tersebut dimasukkan ke dalam sebuah lubang sedikit di atas bumper. Lubang itu memungkinkan besi mencapai mesin yang terletak di bawah kap. Jadi sebenarnya sopir menghidupkan mesin mobil dengan cara manual, yakni diputar tangan alias diengkol.

Selain cara di atas, cara lain untuk mengatasi mobil ketek yang mesinnya susah hidup adalah dengan didorong ramai-ramai. Penumpang diminta turun terlebih dahulu, lalu sopir-sopir mendorong mobil yang mogok. Setelah mesin mobil hidup penumpang dipersilakan naik kembali.

Karena usianya yang sudah tua, banyak mobil ketek dengan kondisi sangat tidak layak. Atap mengelupas sudah jadi hal yang lumrah terlihat. Saya sendiri pernah naik mobil ketek tanpa pintu. Terkadang hanya pintu sopir, tapi pernah pula yang tanpa pintu depan sama sekali. Tapi tak semuanya berkondisi jelek sih. Ada beberapa mobil ketek yang kondisi lebih bagus.

Satu lagi keunikan mobil ketek adalah posisi setirnya yang berada di sebelah kiri. Menurut sejarah kendaraan ini merupakan produksi Eropa sehingga posisi setir sesuai standar Eropa yang kebanyakan di sebelah kiri. Saat agresi militer pascaproklamasi Belanda membawa banyak sekali Jeep jenis ini sebagai kendaraan tempur ke Indonesia, termasuk Palembang. Ketika kalah dan dipulangkan, mobil-mobil ini ditinggalkan begitu saja oleh Belanda.

Sayang, kini mobil ketek sudah tak ada lagi. Sejak tahun 2004, Pemerintah Kota Palembang melarang kendaraan jenis ini beroperasi. Faktor keamanan dan kenyamanan penumpang jadi alasan di balik keputusan tersebut. Penguasa jalanan Palembang sejak tahun 60'-an itupun harus rela tergusur dan menjadi barang rongsokan.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. Di kampung saya, kendaraan yang lebih kurang sama juga menjadi andalan buat orang kampung ke pasar yang jaraknya sekitar 10 km. Kalau di Palembang jenis mobilnya Jeep Willis yang legendaris itu. Maka di kampung saya merek mobilnya adalah Chevrolet dan Dodge dan sudah di bentuk menjadi oplet untuk membawa para penumpang menuju pasar Bukittinggi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aslinya Bukittinggi ya, Pak?
      Di Palembang jaman saya kecil banyak sekali angkot dari mobil modifikasi kendaraan tempur. Selain mobil ketek yang dari jeep, ada lagi oplet yang oleh penduduk setempat disebut taksi. Kendaraan ini juga modifikasi mobil perang Belanda, seperti ketek tapi lebih panjang. Saya kurang tahu apa jenisnya.

      Hapus
  2. lucu juga ya nama mobilnya..mobil "ketek"..hehe
    baunya kayak bau ketek nggak mas Eko :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, dulu waktu kecil gak tahu kenapa dinamai mobil ketek. Ternyata karena mirip suara dan laju perahu ketek. Kalo sopirnya kayanya sih bau ketek :D

      Hapus