Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 28 Maret 2016


DULU sewaktu pertama kali datang ke Jogja untuk masuk kuliah, pertanyaan yang biasa ditanyakan orang-orang sekitar tempat kos adalah, "Dari mana, Mas?" atau "Aslinya mana, Mas?" Saya tentu saja langsung menjawab "Jambi" karena memang saya berasal dari Jambi. Atau setidaknya saat itu kami tinggal di Jambi.

Reaksi si penanya biasanya mengerutkan kening sambil mengamati wajah saya dalam-dalam. Ya, saya tahu wajah saya jawa banget. Apalagi kalau menyebut nama, Eko, tambah satu poin lagi kejawaannya. Karenanya orang suka heran bertemu seorang pemuda berwajah dan bernama Jawa tapi mengaku dari Jambi.

Lalu pertanyaan lanjutan yang biasa mereka lontarkan adalah, "Dulu orang tuanya ikut transmigrasi ya?" Jawaban saya bikin mereka kaget, "Tidak." Cerita selanjutnya akan sangat panjang sekali.

Saya 100% berdarah Jawa. Bapak dan Ibu saya dua-duanya Jawa, juga 100%. Terus diurut setidaknya sampai simbah buyut, saya tahu semuanya Jawa totok. Jadi tak heran kalau wajah saya jawa banget. Memang orang Jawa, mau bagaimana lagi?

Dari Jawa ke Sumatra
Meski Jawa tulen, saya tidak lahir dan dibesarkan di Jawa. Kakek-nenek dari pihak bapak saya sudah merantau ke Pendopo (kini masuk daerah administratif Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Sumatera Selatan) sejak jaman penjajahan Hindia Belanda. Kakek berasal dari Cepu, Jawa Tengah. Sedangkan nenek saya berasal dari Trenggalek, Jawa Timur.

Saat itu Pendopo berkembang pesat sebagai pusat pengeboran minyak terbesar di Asia Pasifik. Bapak saya tidak bisa memastikan kapan kedua orang tuanya masuk Pendopo. Yang jelas ia dan seluruh saudara-saudaranya lahir dan tumbuh besar di Pendopo. Satu hal yang diingat Bapak, kakek saya yang bernama Suwardi ketika itu bekerja sebagai penjaga gudang perusahaan kilang minyak Belanda. Sayang, lagi-lagi Bapak tidak tahu apa nama perusahaan tersebut. Tapi menelusuri beberapa referensi, satu-satunya perusahaan kilang minyak di Pendopo masa itu adalah Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM).

Menurut cerita Bapak, Kakek Suwardi kemudian berhenti dari perusahaan tersebut. Lalu ekonomi keluarga yang sempat jaya gilang gemilang perlahan surut sampai ambruk. Keluarga kakek pun cerai-berai. Anak sulungnya pergi merantau ke Pulau Jawa dan tak pernah pulang. Kabarnya baru didapat beberapa tahun belakangan. Ternyata pakdhe yang hanya saya tahu lewat foto itu sudah meninggal belasan tahun lalu dan anak keturunannya kini tinggal di Pringsewu, Lampung.

Bapak yang hanya sempat mengenyam sekolah hingga bangku kelas II SD lantas merantau ke kota Palembang. Jaraknya kira-kira empat jam perjalanan dari Pendopo. Kota yang kelak melahirkan saya dan dua adik, sebelum kami sekeluarga pindah ke Jambi di tahun 1995.

Dari pihak Ibu jalan ceritanya tak kalah berliku. Menurut cerita salah satu adik kakek, saya baru tahu kalau kakek saya dari pihak Ibu ternyata lahir dan besar di Malang. Selama ini kami tahunya beliau berasal dari Wonorejo, Situbondo, kampung halaman Ibu. Nama lahir kakek saya Kaseri, tapi beliau memilih nama dewasa Suro Karso. Semasa muda kakek merantau dan sampailah di Wonorejo, di mana beliau kemudian menikahi nenek saya dan melahirkan ibu dan pakdhe serta paman-bibi saya.

Sama seperti kakek dari pihak Bapak yang hidup makmur sebagai karyawan perusahaan kilang minyak, Mbah Kaseri terkenal sebagai petani sukses. Saya beruntung sekali sempat tinggal bersama beliau, baik semasa di Batumarta (kini masuk Kab. OKU Timur) maupun di Jambi. Dari beliau saya banyak diajari mengolah lahan dan bercocok taman. Juga belajar lagu-lagu Jepang yang sayangnya sekarang sudah saya lupakan semua.

Mbah Kaseri sangat senang bercerita. Mulai pengalaman beliau ditangkap serdadu Jepang, pengalaman memanen aneka tanaman di kebunnya yang maha luas, sampai mendongeng. Saya paling suka mendengar Simbah uro-uro. Menurut beliau, sekali panen bisa mengangkut cabe berkarung-karung yang untuk membawanya ke pasar tak cukup 2-3 cikar (semacam dokar, andong).


Lalu persoalan asmara membuat keluarga Mbah Kaseri berantakan. Nenek saya tidak mau dimadu, sehingga memilih pergi ke Sumatera menyusul pakdhe-pakdhe saya yang sudah terlebih dahulu merantau ke sana. Ibu saya masih sekolah sehingga harus tinggal bersama dua adiknya, paman dan bibi saya, yang juga kecil-kecil. Barulah saat drop out di kelas II SMP Ibu memutuskan pergi dari rumah. Meninggalkan Wonorejo.

Ibu mula-mula merantau ke Malang, baru kemudian menyusul ibu dan kakak-kakaknya ke Sumatera. Ibu bekerja sebagai mandor perusahaan perkebunan. Di daerah yang kelak bernama Batumarta itulah Ibu bertemu Bapak. Batumarta tengah membangun saat itu. Bapak yang bekerja sebagai mandor di perusahaan kontraktor milik saudaranya mendapat jatah proyek di sana. Mereka lalu berkenalan, menikah dan akhirnya tinggal di Palembang.

Saya dan dua adik lahir di kota ini. Kehidupan kami ditopang oleh perkejaan Bapak yang diuntungkan oleh hubungan kekerabatan dengan gubernur Sumatera Selatan jaman itu. Hubungan tersebut didapat dari sepupu Bapak yang dinikahi adik gubernur tersebut. Adik si gubernur inilah yang mempunyai perusahaan kontraktor dan menarik Bapak sebagai salah satu mandor.

Kisah lebih panjang tentang masa kecil saya di Palembang bisa dibaca di posting "Ibuku (Pernah Jadi) Tukang Cuci Pakaian" (klik saja).

Sungai Bahar, Jambi
Perusahaan kontraktor tempat Bapak bekerja perlahan-lahan "mati" ketika jabatan gubernur berganti. Sudah jadi rahasia umum, beda gubernur beda pula perusahaan kesayangan yang sering diberi proyek. Bapak pun menganggur. Keuangan keluarga kami morat-marit. Saya ingat betul nyaris setiap hari Bapak dan Ibu bertengkar di pagi hari. Ibu sembari menghadap kompor entah memasak apa, Bapak memasang alat-alat pertukangannya di boncengan sepeda, dan saya menangis sembari menyapu lantai rumah sederhana kami.

Kemudian datang info dari pakdhe di Batumarta, akan ada pembukaan lokasi trasnmigrasi baru di Jambi. Lokasinya bernama Sungai Bahar. Bapak diajak transmigrasi ke sana, sedangkan pakdhe-pakdhe berniat mencari kebun sawit sebagai investasi. Bapak pun merantau ke Jambi pada tahun 1990, meninggalkan kami di Palembang dengan segunung harapan.

Hidup tanpa kepala keluarga di Palembang, Ibu kemudian mengajak saya dan adik-adik pindah ke Batumarta. Saya baru saja naik ke kelas V SD waktu itu. Kami pun berkumpul dengan nenek dan pakdhe-pakdhe. Mbah Kaseri juga sudah pindah ke sana, meski statusnya dengan nenek menggantung. Tidak bercerai, tapi juga tidak pernah mau berada dalam satu ruangan bersama-sama. Ibu punya jatah kebun karet pemberian Simbah, dengan hasil kebun itulah Ibu menghidupi saya dan adik-adik.

Singkat cerita, Bapak kemudian menyusul kami ke Batumarta. Kepada Ibu beliau mengatakan sudah mendapat tempat di Jambi. Setelah tarik-ulur beberapa saat, kami kembali boyongan pada tahun 1995. Dari sebuah desa transmigrasi bernama Batumarta Unit VI di Sumatera Selatan, kami pindah ke desa transmigrasi lainnya bernama Sungai Bahar VI di Jambi. "Jadi sebenarnya kita tidak pindah, kan sama-sama Unit VI," kelakar Bapak waktu itu.

Dua tahun di Sungai Bahar, saya melanjutkan sekolah ke SMA Negeri 1 Muara Bulian. SMA yang lebih dekat ada, tapi saya ngotot minta disekolahkan di SMA terbaik di Kabupaten Batang Hari tersebut. Alhamdulillah, pendidikan saya lancar sehingga di tahun 2000 saya lulus. Bersama beberapa kawan sekolah, saya melanjutkan pendidikan ke Jogja.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Jogja inilah pertanyaan soal asal-usul kerap dilontarkan pada saya. Menjawabnya tentu mudah. Karena saya berasal dari Jambi, ya saya jawab saja saya orang Jambi. Tapi hal unik kemudian terjadi. Saya yang "orang Jawa" tulen oleh penduduk setempat disebut sebagai "orang Sumatra." Padahal semasa SMA di Muara Bulian, saya selalu dipanggil "jowo" atau "lelek" oleh kawan-kawan yang penduduk asli. Padahal saya lahir dan besar di Sumatera.


Perjalanan pendidikan dan pekerjaan kemudian membuat saya sempat tinggal si Solo selama enam bulan, lalu Padangsidimpuan selama dua bulan, serta bolak-balik ke Surabaya, Jakarta, Purwokerto, dan beberapa kota lain. Sampai kemudian saya menikahi seorang perempuan Pemalang dan kini menetap di kabupaten ini.

Jadi, leluhur saya dari Jawa yang kemudian merantau ke Sumatera. Sedangkan saya lahir dan besar di Sumatera, lalu merantau dan untuk sementara menetap di Jawa.

Warna-warni asal-usul ini membuat saya seringkali disebut sok akrab atau sok pedekate. Kalau ketemu orang Blora atau Cepu, saya langsung merasa ada kesamaan karena kakek dari pihak Bapak berasal dari sana. Lalu kalau berkenalan dengan orang Malang, kakek dari pihak Ibu lahir dan besar di Malang. Dengan teman kos-kosan orang Banyuwangi yang tinggal di perbatasan Situbondo, saya bisa dengan cepat ngobrol tentang daerah tersebut bermodal cerita masa kecil Ibu.

Lain saat saya berkenalan dengan seorang penulis asal Palembang. Tentu saja saya mendapat proximity kuat karena saya pun kelahiran Palembang dan tumbuh besar di kota tersebut. Anda orang Jambi? Saya menyelesaikan SMP dan SMA di Jambi, lalu setiap dua tahun sekali mudik ke Jambi. Orang Pendopo? Itu tempat kelahiran Bapak dan saya sempat beberapa kali ke sana. Adik bungsu Bapak juga masih tinggal di sana.

Oya, ada yang berasal dari Trenggalek? Oooo, ini merupakan daerah asal-usul nenek dari pihak Ibu. Sampai saat ini masih banyak saudara yang tinggal di sana. Namun karena sudah kepaten obor, saya tidak satupun kenal dengan keluarga di Trenggalek. Demikian pula di Blora dan Cepu. Keluarga di Situbondo jadi satu-satunya yang pada akhirnya berhasil kami kenali kembali karena masih ada paman yang tinggal di sana.

Well, dengan latar belakang seberagam ini, saya kadang sulit menentukan saya ini orang mana. Berdasarkan suku saya orang Jawa, tapi saya lahir di Palembang. Berdasarkan daerah, saya lahir di Sumatera Selatan tapi kemudian juga pernah tinggal di Batumarta, Jambi, Solo, Jogja dan akhirnya Pemalang. Jadi, saya orang mana?

Beginilah lika-liku jadi seorang putra Jawa kelahiran Sumatera. :)


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

3 komentar:

  1. jadi campuran ya pak hehehe putra jawa lahir sumatera. Saya sih tetep dari pulau jawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo darah sih masih orisinil, Mbak. Tetap orang Jawa tulen kok. Cuma jadi campur-aduk identitasnya karena pernah tinggal di banyak tempat dan ternyata asal-usulnya beragam. Hahaha.

      Hapus
  2. Wah mas sama donk saya jawa lahir sih di pendopo sama kaya ibu saya.. bapak sih solo ama bali.. alhasil ga bisa bahasa jawa bahasa palembang juga dikit.. sekarang tinggal di ranah sunda
    Intinya sih kita orang indonesia aja yang penting

    BalasHapus