Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 24 April 2016


SUATU sore seorang teman asal Kesesi, daerah asalnya Mbak Noorma, berkirim pesan via WhatsApp pada saya. "Njuh, maring Tegal," tulisnya singkat. Tanpa pikir panjang saya langsung menjawab lebih singkat, "Njuh!" Lalu dalam kepala saya terbayang-bayang sebuah gambar kami tengah duduk menyeruput coklat panas di sebuah kedai kekinian, AWE Chocolate and Milk.

Tidak ada alasan bagi saya untuk tidak mengiyakan ajakan itu. Saya punya beberapa teman di Tegal, satu di antaranya Mas Angga yang merupakan owner AWE Chocolate and Milk. Ini kafe yang tengah jadi lokasi favorit muda-mudi Tegal untuk nongkrong. Menu andalannya aneka varian minuman coklat, lalu kemudian menyusul disediakan pula bermacam-macam kreasi susu.

Saya kenal Mas Angga berkat Sedekah Rombongan. Waktu itu kami sama-sama kurir di gerakan sosial yang digagas oleh Saptuari Sugiharto ini. Saya kurir area Pemalang, Mas Angga wilayah Tegal bersama Mas Indrawan (owner GalGil), lalu teman saya yang asal Kesesi kurir Pekalongan. Tapi kini saya sudah tidak aktif lagi di Sedekah Rombongan. (Baca juga: Suka-Duka Jadi Kurir Sedekah Rombongan)

Kami pertama kali bertemu di tahun 2013 saat koordinator SR Pantura mengumpulkan kami di RM Pande Rasa, Pekalongan. Sembari menunggu Mas Koordinator yang datang sangat telat dari jadwal yang ia tentukan sendiri, kami pun saling bertukar cerita. Dari situlah saya tahu Mas Angga mempunyai usaha kuliner. Waktu itu namanya masih Kedai Awe alias Kedai AW.

Sejak itu saya selalu menyempatkan diri mampir ke Kedai Awe setiap kali ke Tegal. Seringkali sih tidak ketemu Mas Angga karena kedainya ditunggui dua karyawan. Masa itu kedai ini masih berlokasi di Jl. AR Hakim, dekat kantor Pegadaian. Wujudnya pun "hanya" gerobak angkringan, lalu pembeli duduk lesehan menikmati pesanan masing-masing di emperan toko sebelah kantor Pegadaian beralas tikar.

Meski masih level lesehan, Mas Angga sudah sangat sadar akan pentingnya branding. Karenanya ia aktif di media sosial, utamanya Facebook, Twitter dan Instagram. Kedai Awe ia buatkan akun dan aktif menyapa pelanggan. Masa itu menu andalannya coklat, jadi ia setiap hari mengunggah foto-foto minuman coklat di akun-akun tersebut. (Belakangan, Mas Angga hanya aktif di Instragram. Entah mengapa.)

Oya, sekalipun (saat itu) hanya bermodal gerobak angkringan, Mas Angga bercerita omsetnya bisa menyentuh angka rata-rata Rp 1 juta semalam. Bahkan di malam weekend setidaknya bisa terkumpul lebih dari itu. Artinya, dalam sebulan usahanya menghasilkan sekitar Rp 30 juta. Dikurang gaji karyawan, modal, serta pengeluaran lain untuk operasional harian, keuntungan bersih yang dikantongi Mas Angga masih lebih banyak dari gaji manajer rendahan.

Pindah ke Jl. Srigunting
Tahun berganti, Kedai Awe semakin laris manis. Konsumen utamanya adalah kalangan muda yang menghabiskan malam sembari berbincang-bincang dengan teman sebaya. Dari lesehan di emperan ruko, Mas Angga kemudian mampu menyewa ruko tepat di sebelah Pegadaian. Dulunya ruko itu berjualan ayam goreng, tapi entah kenapa kemudian kontraknya tak diperpanjang.

Sejak itu pembeli punya dua pilihan untuk menikmati minuman khas Kedai Awe. Yang biasa duduk lesehan bisa menuju ke emperan toko seperti sebelumnya, sedangkan yang ingin duduk di kursi dipersilakan masuk ke dalam ruko yang disulap jadi sebuah kafe sederhana.

Tak ada lagi gerobak angkringan. Dapur pengolahan dipindah ke dalam ruko, yang sekaligus berfungsi sebagai kasir. Karyawannya juga bertambah, tampak seorang perempuan muda di belakang meja kasir. Pembayaran pun sekarang dilengkapi nota. Sebelumnya, pesanan dibuat di gerobak angkringan, lalu pembayaran dilakukan sembari berdiri di samping atau depan gerobak, tanpa nota.


Pembeli semakin membludak. Kafe mungil dan tikar-tikar di emperan toko tak mampu lagi menampung pembeli, terutama di malam-malam weekend. Selain itu, Mas Angga juga ingin menjadikan kafenya tempat nongkrong yang lebih berkelas. Tetap menyasar kaum muda dari kalangan menengah, tapi tempatnya dibuat lebih nyaman. Ia ingin say goodbye pada lesehan di emperan toko.

Lalu disewalah sebuah lokasi di Jl. Srigunting. Tempatnya besar. Mas Angga menyulapnya menjadi sebuah kafe yang semarak. Sebagian ruangan ia tinggikan, dikungkungi oleh pagar artifisial, hanya ada meja tanpa kursi. Ini tempat khusus bagi yang suka lesehan tentu saja. Lalu sebagian rungan lagi diisi seperangkat meja kursi.

Seisi ruangan dihiasi dengan berbagai hiasan menarik. Ada mural artistik di bagian rolling door, yang jika pintunya dibuka mural tersebut berada tepat di sisi-sisi ruangan. Ada pula foto-foto berbingkai di bagian lain. Tak lupa, dipajang pula foto-foto Kedai Awe di masa lalu, sejak mulai berjualan dengan gerobak angkringan di Jl. AR Hakim.

Yang menarik perhatian saya adalah foto Presiden Soeharto yang memegang segelas coklat sembari tersenyum di sebelah kasir. Lalu ada pula foto bintang sepakbola terkenal yang juga memegang segelas coklat Awe. Tentu saja foto-foto tokoh ini hasil olahan komputer. Tapi ide kreatif tersebut setidaknya mampu membuat pengunjung menyunggingkan senyum.

Keseluruhan interior Kedai Awe sangat menarik dipandang. Banyak pengunjung yang dengan bangga berfoto selfie di kafe ini, lalu mengunggahnya di media sosial. Karenanya sebuah media online lokal memasukkan Kedai Awe sebagai salah satu kafe yang instagramable.

Jarang Bayar
Kembali ke ajakan Mas Furqan hari itu, menjelang Ashar kami pun meluncur ke Tegal. Setelah menyelesaikan urusannya di suatu tempat, kami mengarahkan kemudi ke Jl. Srigunting. Ini kali pertama saya mengunjungi Kedai Awe sejak pindah dari Jl. AR Hakim.

Sesampainya di sana saya langsung berdecak. Terbayang dalam ingatan saya bagaimana dulu, kira-kira 3-4 tahun lalu, kafe ini "hanyalah" sebuah kedai lesehan dengan gerobak angkringan di emperan toko. Saya masih ingat betul saat tengah nongkrong di Kedai Awe hujan turun, kami harus duduk menempel rolling door toko agar tak terkena percikan air hujan.

Sore itu juga saya baru tahu kalau branding Awe sudah berubah. Logo yang dulu berupa biji coklat (atau biji kopi?) berwarna coklat, berganti jadi kepala sapi. Tak ada lagi Kedai Awe Coffe and Chocolate, namanya berganti jadi Awe Chocolate and Milk seiring tekad Mas Angga untuk memasyarakatkan minum susu.

Sore itu saya memesan segelas coklat panas, mi telur dan sepiring mendoan. Sedangkan Mas Furqan memilih es susu segar sebagai minuman, makanannya sama. Kami pun menunggu Magrib sembari menyantap mi telur dan mendoan, diselingi menyeruput minuman masing-masing.

Kami sengaja tidak mengabari Mas Angga. Pengalaman yang sudah-sudah, Mas Angga tidak membolehkan kami membayar kalau dia tahu kami berkunjung ke kafenya. Sewaktu masih di Jl. AR Hakim pernah saya ngotot pada karyawannya agar mau menerima uang pembayaran, tapi karyawan tersebut tak kalah ngotot menolak karena sudah dibisiki Mas Angga. Ya sudah, cuma tukang parkir yang mau menerima uang kami. Hahaha.

Sebenarnya sih mau juga bertemu Mas Angga, sekedar ngobrol karena sudah lama tidak bertemu. Tapi sore itu kami benar-benar tak mau kedatangan kami ke Awe Chocolate and Milk diketahui pemilik nama lengkap Anggoro Wibowo tersebut. Selepas menghabiskan pesanan, kami mampir sebentar ke masjid untuk salat Magrib, lalu kembali ke Pemalang.

Ini dia video saya bersama Mas Furqan menikmati coklat dan susu segar di Awe Chocolate and Milk.





Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

12 komentar:

  1. wuohhh cokelat selalu menyenangkan, sayangnya sekarang lagi batuk jadi udah lama gak minum es cokelat yang di mix gitu dengan susu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cepet sembuh ya, Mbak. Kalo main ke Tegal jangan lupa mampir ke Kedai satu ini :)

      Hapus
  2. itu foto minumannya kayaknya enak banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa sih? Masa fotonya enak? Hehehehe...

      Hapus
  3. Wiih...jd pengen icip2 ke sana niih... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo donk, Mbak! Hehehehe
      Sekarang bisa order online yang bentuk sachet lho.

      Hapus
  4. pengen nyoba..... tapi jauh...... mungkin mas eko nurhuda bersedia mengartarkannya ke rembang....? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang versi sachet bisa diorder online kok, Mas :)

      Hapus
  5. Susu coklat tambah whipped cream? Duh manisnya :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Manis? Ini saya apa coklatnya? Hahahahaha
      Makasih udah berkunjung ya...

      Hapus
  6. Jadi penasaran sama suasana caffee nya Pak...
    Ih, pengen punya usaha kaya gitu, ajarin saya gitu Pak, bilangin sama Mas Anggoro Wibowonya ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, saya juga pengen punya usaha begitu. Cuma mentalnya belum ada nih untuk mengawali dari angkringan begitu. Memang harus banyak berguru sama Mas Angga nih :)

      Hapus