Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 06 April 2016


AIH, sebenarnya agak malu pakai istilah "pemred" di judul. Tapi mau bagaimana lagi, memang begitulah dulu sebutannya. Sekalipun media yang dipimpin cuma setingkat majalah sekolah, tetap saja nama posisinya Pemimpin Redaksi yang disingkat Pemred. Sayang, ini sebenarnya kisah gagal saya ketimbang sebuah kebanggaan.

Saya menulis sejak Sekolah Dasar, kurang-lebih sekitar kelas V. Kalau teman-teman pernah membaca posting "ini" dan "ini" sebelumnya, di sana saya ceritakan bagaimana awal mula saya tertarik menjadi penulis. Ya, novel Wiro Sableng yang bagi sebagian orang merupakan karya picisan itulah penyulutnya.

Tinggal di desa transmigrasi dan jauh dari akses ke buku maupun bacaan apapun, hanya Wiro Sableng-lah referensi menulis saya. Novel ini yang bisa saya jumpai di pasar desa saat itu. Jadilah saya penulis cerita silat seperti Bastian Tito, pencipta sosok Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212.

Oh ya, saya lupa menyebut komik Petruk karya Tatang S. Ini juga sangat berpengaruh besar mengembangkan imajinasi saya saat kecil. Sehingga menurut editor di sebuah penerbit tempat buku saya diterbitkan dulu, gaya bahasa saya naratif, mengalir, sehingga enak dibaca. Sedangkan menurut seorang pembaca buku saya yang juga blogger dan arsitek di Cilacap, cara menulis saya mengingatkannya pada Ismail Marahimin. Entahlah, saya sendiri sampai saat ini belum menemukan karya penulis satu ini.

Sampai kelas I SMP, saya hanya menulis di buku tulis. Entah itu cerita silat, entah itu cerita pendek remaja, semuanya saya tuliskan di buku tulis. Tak ada yang tahu saya menulis selain saya dan buku tulis itu, juga Allah SWT. Boleh dikatakan saya seorang otodidak karena hanya mempelajari cara bercerita lewat membaca buku cerita: Wiro Sableng dan komik Petruk.

Waktu itu saya bersekolah di SLTP Negeri yang terletak di Batumarta VI. Hanya setahun saya di sana karena begitu naik ke kelas II saya dibawa pindah ke Jambi. Di SMP inilah saya berkenalan dengan majalah dinding. Saya masih ingat betul momen ketika Bapak Kepala Sekolah (semoga beliau dilimpahi kesehatan jika masih hidup) mengumumkan soal mading tersebut di upacara bendera hari Senin.

Saya langsung menghampiri mading itu saat istirahat pertama. Melihat-lihat kartun lucu yang dipajang, lalu membaca tulisan-tulisan lainnya. Ada puisi, ada cerita lucu, juga ada semacam feature. Meski saya sendiri sedang getol-getolnya menulis, entah kenapa saat itu tak tergerak untuk ikut mengisi. Apalagi ternyata gerakan mading tersebut hangat-hangat tahi ayam, hanya bertahan beberapa edisi saja lalu menghilang.

Cerita Silat di Mading
Saya mulai terlibat aktif dalam mading saat duduk di kelas III SMP di Sungai Bahar, Jambi. Madingnya sendiri sudah ada sejak pertama kali saya pindah, tapi saya lagi-lagi tak tergerak mengisi. Barulah saat naik ke kelas III saya ikut mengisi karena dilibatkan oleh pengurusnya. Tahu karya pertama saya yang ditayangkan di mading tersebut? Cerita silat! Hahaha...

Ya, karya pertama saya yang dimuat di mading adalah sebuah cerita silat bersambung. Rupanya guru Bahasa Indonesia yang bernama, kalau tak salah ingat, Nirmawati Pohan selalu mengikuti cerita-cerita saya. Dari beliaulah saya kemudian tahu prospek sebagai penulis profesional. Beliau juga yang mendorong saya untuk terus menulis dan mencoba mengirim ke media.

Sejak pindah ke Jambi bacaan saya semakin berwarna. Adik saya tumbuh menjadi seorang gadis remaja, beberapa tahun di bawah saya. Jika saya ke pasar untuk membeli novel Wiro Sableng, adik saya membeli majalah remaja kadaluarsa seperti Anita Cemerlang atau Aneka Yess. Dari situlah saya mengenal cerita pendek remaja dengan topik-topik percintaan.

Namanya penulis ababil alias masih mencari-cari jati diri, saya coba-coba menulis cerpen remaja seperti itu. Cerita silat saya tinggalkan, terutama setelah masuk SMA. Bacaan saya berganti dari Wiro Sableng menjadi Ceria Remaja, majalah yang isinya cerpen-cerpen dan puisi remaja. Saya juga mengikuti cerpen-cerpen di surat kabar lokal seperti Independent (kini jadi Jambi Independent) dan Jambi Ekspres.

Saya semakin gandrung menulis cerpen remaja setelah berkenalan dengan Dian Nurdiansyah, teman sekolah sesama perantauan asal Sungai Bahar. Lalu Surya Kaur Saputra, ketua OSIS yang suka menulis puisi, turut bergabung dalam lingkaran pertemanan kami. Jadilah kami trio sastrawan sekolah. #ngakungaku

Meski kemudian aktif di band sekolah dan Pramuka, saya terus menulis dan tetap rakus membaca. Bahan bacaan saya kian bertambah berkat koleksi perpustakaan sekolah. Tiap istirahat, saat teman-teman lain ke kantin, saya berbelok ke perpustakaan. Membaca-baca majalah Horison, novel NH Dini, atau cerpen-cerpen karya Nugroho Notosusanto dan AA Navis.

Saya juga mulai merambah media cetak. Mula-mula hanya mengirim beberapa surat pembaca di Independent, lalu memberanikan diri mengirim cerpen ke Jambi Ekspres. Tak disangka-sangka ternyata cerpen saya dimuat! Sayangnya saya tak kehilangan kipling cerpen tersebut saat lulus SMA.

Puspa Mega
Majalah dinding SMA saya terhitung aktif meski juga tak bisa dibilang hidup. Pembina OSIS membuat kebijakan tanggung jawab penerbitan majalah dinding digilir tiap lokal, berganti-ganti setiap Senin. Karena jumlah lokal di sekolah saya waktu itu hanya ada sembilan (masing-masing 3 lokal untuk kelas 1, 2 dan 3), jadi mading hanya terbit sembilan kali dalam satu tahun ajaran. Selebihnya papan mading hanya berisi pengumuman dari pihak sekolah.

Saya lalu usul ke Surya agar sekolah mencetak majalah sekolah. Usulan tersebut disampaikan ke Pembina OSIS, Bapak Nuriwan Bhakti. Setelah ditimbang-timbang, usulan itu diwujudkan dan majalah sekolah kami itu diberi nama Windi. Kabar baik itu disampaikan Surya pada saya. Lalu pengumpulan naskah dimulai. Saya, Dian dan seorang kawan sekelas bernama Diana Aprilia ikut mengirimkan karya masing-masing untuk memperebutkan satu-satunya slot cerpen yang tersedia.

Alhamdulillah, entah atas pertimbangan apa cerpen saya yang terpilih untuk dimuat. Coba kita tanya pada rumput yang bergoyang. Hehehe...

Tapi majalah sekolah itu kemudian mandeg. Dari harusnya terbit tiap caturwulan (empat bulan) sekali, hingga catur wulan ketiga edisi kedua tak kunjung jelas nasibnya. Sedangkan "arisan" mading juga sudah lama berhenti.

Melihat kondisi ini Dian mengajak saya membuat majalah dinding sendiri. Pengurusnya hanya kami berdua, dengan seluruh biaya pembuatan juga kami tanggung. Kami matangkan rencana ini lalu menghadap Pak Iwan, panggilan Pembina OSIS kami, untuk meminjam tempat memajang mading kami. Sesuai harapan kami, Pak Iwan mengijinkan meski kami diberi jatah di sisi yang menghadap ke matahari. Agak kurang menguntungkan karena pembacanya bakal berpanas-panasan.

Proyek mading kami itu membutuhkan biaya sebesar Rp10.000 sekali terbit. Itu biaya untuk membeli karton, foto kopi, beli kertas HVS putih, kertas warna, juga lem kertas. Kami patungan masing-masing Rp5.000. Sebagai gambaran, biaya hidup kami sebagai anak kos waktu itu sebesar Rp100.000 sebulan. Jadi untuk biaya pembuatan mading mandiri tersebut saya dan Dian harus menyisihkan 5% dari jatah bulanan.

Kami menggarap mading tersebut dengan sungguh-sungguh. Jika biasanya mading hanya ditulis tangan, kami menggunakan mesin tik. Tentu saja pinjam. Kami juga bermain-main dengan penataan gambar, kolom, dan warna sehingga tampilan mading lebih menarik. Dan kami akan merasa sangat senang sekali melihat dua-tiga siswa berdiri membaca hasil karya kami.

Saya lupa berapa kali persisnya kami menerbitkan mading swadaya ini. Tapi rupanya Pak Iwan memperhatikan keseriusan kami. Pada satu kesempatan saya dan Dian dipanggil mengikuti rapat OSIS. Mendadak sekali. Di sana rupanya mereka tengah membahas nasib majalah sekolah yang menggantung. Begitu kami duduk, Pak Iwan memberi tawaran pada salah satu dari kami untuk menjadi Pemimpin Redaksi Windi sekaligus bertanggung jawab atas penerbitan edisi kedua.

Dian dapat kesempatan menjawab pertama, dan ia tegas mengatakan menolak tawaran tersebut. Ia ingin fokus di majalah dinding yang sedang kami kelola. Lalu Pak Iwan meminta jawaban saya. Berbeda dengan Dian, saya merasa ini tawaran yang tak boleh dilewatkan. Maka saya pun menerima tawaran tersebut. Seluruh pengurus OSIS yang menghadiri rapat itu bertepuk tangan.

Tepatkah keputusan saya? Tepat tidak tepat. Rupanya sebagai Pemred saya tak cuma mengurusi naskah mana saja yang layak dan tak layak muat. Lebih repot dari itu, saya yang harus meminta-minta naskah dari teman-teman satu sekolah, mendatangi rumah mereka satu per satu, bahkan pernah mencegatnya di jalan untuk menagih naskah, juga mengetiknya di komputer teman kalau naskah itu masih berupa tulisan tangan, dan kerepotan-kerepotan lain yang di luar bayangan saya.

Singkat cerita, saya gagal sebagai Pemimpin Redaksi majalah sekolah. Sesuatu yang masih saya sesali hingga sekarang. Windi gagal terbit hingga kami naik ke kelas III. Pak Iwan terus menekan saya, tapi saya ternyata bukan tipe organisatoris handal sehingga tak bisa me-manage teman-teman redaksi dengan baik. Deadline demi deadline terlampaui dan majalah tersebut tak kunjung terbit, sampai akhirnya saya mengajukan pengunduran diri.

Ah, andai saja dulu saya ikut langkah Dian, menolak tawaran tersebut dan fokus pada majalah dinding kami. Andaikan...

Pada akhirnya kami lagi-lagi membuat proyek majalah dinding. Pemrakarsanya tetap Dian. Dia beralasan, sebagai anak Jurusan Bahasa kami harus punya media tempat unjuk karya. Dian mengajak saya berdiskusi karena saya ketua kelas, selain juga karena dia tahu saya selalu sependapat dengannya dalam hal-hal seperti ini.

Begitulah, saya dan Dian lantas mengajak dua teman lain (seingat saya Kusmardianti dan Rudi Widodo) untuk menggarap majalah dinding yang kami namai Puspa Mega.

Kredit Foto: https://sisihidupku.wordpress.com


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

6 komentar:

  1. Waaa toss mas Eko, Wiro Sableng juga bacaan saya saat SD heheh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, entah kenapa saat itu yang asyik cuma baca Wiro Sableng, Mbak.. :)

      Hapus
  2. Bacaan menentukan usia kita ya Pak, hehehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmmmm, kira-kira begitu, Mbak. Hahaha.

      Hapus
  3. Karya satu puisi sepertinya tidak dapat dimaknai seseorang jadi sastrawan dech, rasanya Pak Eko terlampau mendalami studi 'majas hiperbola' dan pintar banget menyanjung orang lain..hehe.. Kalaulah boleh dimisalkan maka ibarat sebuah gunung yang memuji lembah hijau dibawahnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu puisi rasanya sudah cukup untuk menyebut seseorang sastrawan. Hehehehe... Kalo kemudian dia nggak berkarya lagi, ya kita sebut saja sastrawan pensiun. Hahaha...

      Hapus