Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 07 April 2016


JUM'AT, 11 Maret 2011. Pagi masih gelap, namun saya dan istri sudah berboncengan naik motor ke Stasiun Pemalang. Saya hendak ke Semarang pagi itu. Sebuah pesan singkat dari Bagian HRD Suara Merdeka meminta saya ke kantor koran terbesar di Jawa Tengah tersebut untuk wawancara kerja.

Mundur sehari sebelumnya, saya dibuat kaget saat hape saya menampilkan pesan singkat dari satu nomor tak dikenal. "Panggilan untuk Sdr.Eko pd hari jumat,10 maret 2011 jam 10.00..Ruang cybernews kantor suara merdeka jl. Pandanaran 30.. -HRD SM-" Begitu isi short message yang ternyata dari Suara Merdeka CyberNews, saya salin plek 100% sama termasuk kesalahan penulisan tanggal.

Baca juga: Sehari di Semarang

10 Maret 2011 yang dimaksud dalam pesan singkat tersebut bukan hari Jumat. Maka saya menelepon nomor tersebut, sekedar hendak memastikan. Ternyata betul. Saya bersama enam kandidat lain mendapat panggilan wawancara sehubungan surat lamaran yang saya kirim pada November 2010. Aplikasi yang sebenarnya sudah saya lupakan.

Iseng saja saya mengirim aplikasi tersebut. Suara Merdeka CyberNews membuka lowongan editor, dengan persyaratan begini-begitu yang semuanya tidak saya penuhi. Fresh graduate bukan, pengalaman sekian tahun di media juga tidak punya. Saya hanya memasukkan artikel-artikel yang (saat itu) baru saja dimuat di berbagai media nasional, juga blog ini, dalam curriculum vitae.

Oya, saya juga memasukkan sejumlah nama yang tergolong senior di dunia jurnalistik Jawa Tengah sebagai referensi. Ada nama editor saya sewaktu magang di Harian Jogja, lalu Pemred saya sewaktu magang di Malioboro Ekspres yang juga seorang penyair nasional, juga eks redaktur senior Suara Merdeka sekaligus eks Wapemred Solopos yang kala itu tengah merintis sebuah blog hobiis burung.

Dasar rejeki, rupanya CV saya sukses menarik perhatian bagian rekrutmen Suara Merdeka CyberNews. Ah, atau mungkin lebih tepatnya daftar nama di bagian referensi itulah yang sebenarnya menarik perhatian mereka. Siapa tahu karena kenal tim rekrutmen SMCN menelepon orang-orang hebat yang saya cantumkan tersebut, sekedar konfirmasi apakah saya sok kenal atau benar-benar kenal. Entahlah.

Yang jelas saya bergegas menyiapkan keberangkatan ke Semarang. Malam sebelum tidur saya beres-beres, pakaian apa yang akan dipakai selama perjalanan, pakaian mana yang dikenakan saat wawancara, serta keperluan lain seperti air minum, cemilan dan dompet. Ya, saya tipe orang yang terlalu tegang bila hendak bepergian, sehingga segala sesuatunya saya persiapkan sesempurna mungkin jauh sebelum berangkat.

Kaligung Ekspres
Berbekal uang seadanya untuk beli tiket kereta api, ongkos angkot dan makan, saya diantar isteri ke stasiun. Pas sekali loket tiket baru buka. Waktu itu beli tiket masih bisa langsung di stasiun jelang keberangkatan. Harga tiket KA Kaligung Ekspres kalau tidak salah ingat Rp40.000.

Perjalanan lancar. Belum ada pukul setengah delapan saya sudah sampai di Stasiun Poncol. Ini Stasiun Poncol lama yang dulu di bagian bagunan bundarnya itu ada loket tiket. Setelah tanya seorang Satpam, saya berjalan kaki ke selatan. Mampir sebentar di warung makan untuk sarapan. Bukan, bukan di restoran itu kok. Tapi agak ke selatan sedikit lagi. Hehehehe....

Habis sarapan, saya berjalan lagi sebentar sampai menemukan angkot menuju ke Simpang Lima. Entah karena masih ngantuk atau apa kok saat itu saya turun di Ciputra. Padahal jurusan ke Jl. Pandanaran kan ada di sisi lainnya. Entahlah, mungkin memang trayek angkotnya begitu dan saya tidak begitu memperhatikan.

Karena masih pagi, wawancara dimulai pukul 10.00 WIB, saya memutuskan berjalan kaki mengitari Simpang Lima ke arah Jl. Pandanaran. Rupanya kantor Suara Merdeka CyberNews jauh juga kalau dari Simpang Lima. Sempat ingin memberhentikan angkot lagi, tapi akhirnya saya putuskan tetap jalan kaki. Diselingi mengelap keringat dan minum air dari botol, akhirnya tibalah saya di Gedung Suara Merdeka.

Tapi saya tidak langsung masuk. Karena kaos saya berkeringat parah, saya cari toilet umum untuk membersihkan diri dan ganti baju. Sialnya tak ada toilet umum di sana. Nekat, saya permisi ke sebuah hotel terdekat dan meminjam toilet karyawan. Saya pun cuci muka, membasuh keringat, buang air kecil, lalu berganti pakaian. Lebih tepatnya ganti kaos dengan kemeja batik sih.

Singkat cerita, masuklah saya ke dalam gedung. Tanya Satpam lagi, dan akhirnya sampai di ruang CyberNews. Di sana sudah ada enam orang lain sedang menunggu diwawancara. Untung ruangannya ber-AC, sehingga saya bisa ngadem mengeringkan keringat.

Satu, dua, tiga, empat orang dipanggil masuk ke dalam ruang wawancara. Jam sebelas lewat, giliran saya dipanggil. Dua orang laki-laki yang sedikit di atas usia saya duduk menunggu. Lalu tanya-jawab soal dunia jurnalistik dan tugas-tugas wartawan, utamanya jurnalis online. Semakin ke ujung, saya menangkap mereka sepertinya keberatan menggaji orang luar daerah. Bukan apa-apa, gaji dari SMCN jadi kelihatan kecil karena dipotong biaya mengontrak, makan, dll.

Ada satu momen yang tidak saya lupakan dari wawancara ini. Satu momen ketika saya mengubah posisi tangan duduk, salah satu dari peawancara terlihat berubah mukanya. Matanya tajam melihat ke satu arah di bagian tubuh saya: ketiak. Tapi saya cuek, dan tak berpikir apa-apa selain menjawab pertanyaan yang saat itu diberikan pada saya.

Setelah dijanjikan akan dikabari dan bersalaman saya keluar. Langsung menuju ke Lawang Sewu, menyeberangi lampu merah dan menghentikan mobil tujuan luar kota untuk menumpang hingga Stasiun Poncol. Malang, kereta yang saya kejar sudah berangkat, jadi saya terpaksa naik kereta terakhir. Lebih malangnya lagi, kereta tersebut terlambat satu jam!

Kesialan saya rupanya tak berhenti di situ. Ketika akhirnya kereta datang, saya tak kebagian tempat duduk. Jadilah saya berdiri, berpegangan pada gantungan-gantungan yang disediakan. Setengah capek, setengah pusing karena belum makan.

Lama-kelamaan saya perhatikan beberapa penumpang di dekat dan depan saya memperhatikan saya. Lebih tepatnya ke satu bagian tertentu, bagian sama yang diperhatikan pewawancara di Suara Merdeka tadi: ketiak! Reflek, saya meraba bagian tersebut.

Astaga! Ketiak kemeja batik saya bolong rupanya. Besar sekali, jadi penumpang-penumpang tadi pasti bisa melihat rambut ketiak dan sebagian tubuh saya dengan jelas. Juga pewawancara di gedung Suara Merdeka CyberNews tadi. Alamak!

FOTO: Viva.co.id


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

6 komentar:

  1. Hhehehe... sering banget ya bapak2 mengalami itu, suami saya juga :D :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, dulu itu saya nyiapin apa-apa sendiri. Istri lagi hamil gede + punya anak umur 10 bulan. Ternyata saking gugupnya milih baju batik yang ketiak bolongnya belum dijahit, padahal sudah ketahuan sejak pas dicuci sih.

      Hapus
  2. Ambune rek
    Pantes nggak lulus hahahaha
    Rapopo Mas
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, nasib buru-buru nyiapin baju.
      Kalo keterima saya pindah ke Semarang itu. :)

      Hapus
  3. Wkwkwkwk.. Aku pernah, ga tau pake batik bolong pas ngajar.. Untuk saya segera sadar, jadilah mhs belum mengetahuinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, nek saya begitu sadar langsung malu besar. Wong itu robeknya lebaaaar banget. Habis itu ta inget-inget, pantesan sejak nunggu antrian wawancara sampe naik kereta kok pada ngeliatin semua. Hahaha

      Hapus