Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 01 April 2016


PERNAHKAH kamu membayangkan negara atau kota apa yang ada tepat di bawah kakimu? Ya, kalau kita gali tanah tempat kita berpijak, teruuus menggali sampai menembus inti bumi dan seterusnya, ujung-ujungnya kita akan keluar di sisi lain bumi. Sisi bumi yang tepat satu garis lurus dengan tempatmu berdiri. Nah, di manakah itu?

Konon, novel Journey To the Center of the Earth terinspirasi dari pemikiran seperti ini. Imajinasi Jules Verne membayangkan apa jadinya kalau manusia menembus tanah terus hingga ke pusat bumi. Bertemu dengan kehidupan lainkah? Atau hanya melihat bebatuan, pasir dan lava panas? Yang tersaji di dalam novel tersebut, dan kemudian film berjudul sama, adalah apa yang ada dalam khayalan Jules Verne.

Saya sendiri semasa kecil pernah berpikir soal menembus sisi lain bumi ini. Pikiran anak-anak. Melihat tetangga menggali sumur yang dalamnya tidak terkira semasa di Palembang, saya membayangkan kemana si penggali sumur itu sampai kalau ia terus menggali ke bawah. Ke Eropa atau Amerika?

Rupanya banyak juga yang mempunyai khayalan serupa itu. Konon, selama ini orang Amerika percaya kalau mereka menggali tanah terus ke bawah sampai menembus sisi lain bumi, maka mereka akan sampai di Tiongkok. Nyatanya, kalau si orang Amerika tersebut menggali tegak lurus tidak berbelok-belok satu incipun, mereka bakal menembus Samudera Hindia di barat daya Australia. Lihat saja peta antipodes di atas.

Kalau orang Indonesia yang menggali tanah sedalam-dalamnya sampai menembus bumi, kira-kira nongolnya di mana ya?

Tak perlu repot-repot menyiapkan linggis dan cangkul, apalagi mesin bor. Cukup buka situs AntipodesMap.com dan kamu akan tahu jawabannya. Di situs ini tersedia dua buah peta berjejer. Peta sebelah kiri adalah posisi kita berada, sedangkan peta sebelah kanan adalah posisi antipodes-nya atau sisi lain bumi yang segaris lurus dengan tempat kita berada.

Peta dalam situs ini sudah otomatis menyesuaikan dengan letak geografis kita. Jadi ketika saya membukanya di browser, peta sebelah kiri akan langsung menunjukkan lokasi Desa Banjardawa, Kec. Taman, Pemalang. Lalu berdasarkan posisi geografis, peta sebelah kanan menunjukkan di kota dalam negara mana antipodes kita.

Wow, ternyata kalau saya menggali tanah terus sampai menembus bumi, maka saya akan sampai di Kolombia. Tepatnya di Arauca, wilayah Kolombia dekat perbatasan Venezuela.


Setelah Pemalang, iseng-iseng saya memasukkan nama Sungai Bahar yang merupakan tempat tinggal orang tua saya sekarang. Jreng! Tembusnya masih sama-sama di Kolombia, tapi di bagian selatan negara tersebut. Lokasi tepatnya di kota San Agustin, Provinsi Huila.

Rupanya sebagian besar wilayah Indonesia merupakan antipodes Amerika Selatan, tepatnya sisi sebelah utara benua yang juga dikenal sebagai Amerika Latin itu. Hanya Aceh dan sebagian Sumatera Utara yang tidak ber-antipodes sama. Jika warga Aceh dan sebagian Sumatera Utara menembus bumi, mereka bakal tenggelam di Samudera Pasifik.

Mengutip info dari AntipodesMap.com, ada dua kota di Indonesia yang terletak satu garis lurus dengan kota lain di Amerika Selatan. Keduanya adalah Palembang (kota kelahiran saya, hore!) yang ber-antipodes dengan kota Neiva di Kolombia -- ibukota Provinsi Huila yang merupakan antipodes Sungai Bahar, dan Padang yang antipodes-nya kota Esmeraldas di Ekuador.

Penasaran dengan antipodes kota atau desamu? Buka saja AntipodesMap.com dan bersenang-senanglah!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. Sebuah ide yang menarik... Kalau begitu yuk mari kita mulai menggali pakai sendok dan garpu.... Hahahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, kalao menggali capek sendiri, Pak. Pinjem mesin bornya Lapindo aja, biar keluar gas dan lumpur :)

      Hapus
  2. wah mas Eko, toss dong, saya waktu kecil pun pernah membayangkan hal yang sama, sampai akhirnya nulis cerita anak dengan tema seperti itu, hehehe. Langsung meluncur ke AntiPodesMap.com ahhh..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, apa judul ceritanya? Anak-anak saya pasti senang baca kisah-kisah petualangan setengah mengkhayal seperti itu. Namanya juga anak-anak :)

      Hapus