Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 05 April 2016


INI sebenarnya bukan resep andalan keluarga seperti disyaratkan oleh Teh Ani Berta sih. Tapi keluarga saya memang tak punya resep andalan, soalnya semua masakan Ibu saya handal. Hehehe. Nah, sambal goreng tempe ini merupakan lauk favorit saya. Ibu hapal betul ini. Karenanya setiap kali saya mudik ke Jambi pasti dibuatkan sambal tempe.

Sambal tempe buatan Ibu sangat istimewa. Saya selalu dibuat ketagihan olehnya. Rasa sambalnya yang pedas tapi bercampur manis sedikit, lalu tempe kecil-kecilnya yang digoreng renyah. Sambalnya garing, tapi tidak kering (bingung nggak sih?) alias masih terasa lumer menempel di tempe. Saya paling suka mengambil sambalnya banyak-banyak, lalu tempenya biasa dijambal belakangan.

Setiap kali mengingat Ibu, bayangan sambal tempe ini otomatis melintas di kepala saya. Kalau saya di rumah dan Ibu masak tempe, beliau pasti akan bilang ke adik-adik saya, "Ini sambal tempe kesukaan kakakmu." Lalu saat saya mudik lebaran tahun 2014 lalu Ibu juga bilang ke anak-anak saya, "Ini sambal tempe kesukaan Abi."

Menikmati sambal tempe buatan Ibu cukup dengan nasi putih hangat, sudah ueenaaak luar biasa. Tapi Ibu lebih sering menyajikannya bersama lalapan berupa kacang panjang dipotong-potong pendek, kol atau daun kemangi. Kadang-kadang juga ada terong atau labu rebus. Semuanya sama enak bagi saya.

Sewaktu masih kos di Jogja dulu saya kerap coba memasak sambal tempe ala Ibu. Maklumlah, tempe adalah lauk favorit anak kos. Jaman itu tempe plastik merek Pedro harganya Rp700 sebungkus. Kalau mau lebih murah lagi beli tempe yang dibungkus kecil-kecil dengan daun jati, harganya saat itu masih Rp100.

Tapi sambal tempe buatan saya beda sekali dengan masakan Ibu. Hasil masakan saya biasanya sambalnya terlalu kering, atau malah kurang matang. Lebih sering lagi terlalu banyak minyak, jadi kesan basahnya bukan karena sambal tapi minyak. Mungkin karena saya memasaknya hanya berdasarkan ingatan sewaktu membantu-bantu Ibu memasak jaman masih tinggal serumah. Mungkin...

Jadi, demi memenuhi challenge One Day One Post hari ke-8, saya pun mengontak Ibu di Jambi dan meminta beliau mengirimi resep sambal goreng tempe buatannya. Ini dia resepnya:

Bahan-Bahan:
- Tempe, potong kecil-kecil memanjang
- Kacang tanah yang sudah dikupas kulitnya
- Ikan teri, belah dua


Bumbu-Bumbu:
- Cabe merah secukupnya
- Cabe rawit secukupnya (khusus yang suka super pedas)
- 5 siung bawang merah
- 3 siung bawah putih
- Asam jawa secukupnya, rendam dengan air
- Garam secukupnya
- Gula pasir secukupnya
- Gula merah secukupnya


Cara Memasak:
1. Goreng kering semua bahan.
2. Peras air rendaman asam jawa, lalu campur dengan semua bumbu, blender halus.
3. Tumis bumbu di atas api sedang sampai benar-benar matang agar tidak cepat basi.
4. Setelah sambal matang, matikan saja apinya.
5. Campurkan tempe, kacang tanah dan ikan teri yang sudah digoreng dengan sambal. Aduk rata.
6. Selesai.

Mohon maaf kalau resepnya tidak terlalu rinci menyebut takaran. Kata "secukupnya" di bagian bumbu berarti sesuaikan dengan selera ya. Juga sesuaikan juga dengan bahan-bahannya tentu saja.

Kata Ibu saya, gula merah tidak perlu dipakai kalau tidak suka manis. Karena saya lama tinggal di Jogja, lidah saya agak berubah jadi selera Jogja. Makanya Ibu tambahkan gula jawa dalam resepnya. Kreasi sambal tempe ini akan tampil lebih cantik kalau hanya memakai cabai merah. Tapi semisal ingin sambal yang super pedas ya tambahkan cabe rawit atau cabe hijau sesuai selera.

Satu lagi, fotonya saya comot dari laman qudapan.blogspot.com yang ternyata diambil dari Flickr.com.

Selamat mencoba resep sambal goreng tempe ala Ibu saya!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

14 komentar:

  1. ini pas kalau untuk cemilan di kami, atau disantap pas sama nasi kuning. nyaaammm

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, iya tuh biasanya memang untuk lauk pelengkap nasi kuning. Kalo saya biasanya malah dijambal aja. Hehehe.

      Hapus
  2. Aku suka sambal goreng tempe apalagi masakan ibu. Sayangnya ibu kalau masak nggak pernah ditakar bumbunya apalagi dicatat. Jadi ya saya juga belum bisa masak seenak buatan ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itu dia masalahnya. Sama berarti. Semua seolah sudah otomatis, masak tempe sekian potong cabenya berapa, bawangnya berapa, dll. Jadinya susah ditiru plek. Paling nggak kalau ada panduan kan bisa sedikit menyamai.

      Hapus
  3. Resep sama beda tangan hasilnya beda bung... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh, jumpa lagi kita? Hehehe.
      Apa kabar Semarang?

      Hapus
  4. Saya juga suka makanan ini Mas.
    Dulu di Akabri juga lauk ini hahahaha
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Pakde.
      Ini favorit saya, lauk kesukaan yang diinget betul sama Ibu.

      Salam kembali dari Pemalang.

      Hapus
  5. Hm... terinya nih yang bikin yummy banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, teri sama kacangnya kasih teksktur crunchy jadinya enak gitu.

      Hapus
  6. Waah ini enak banget.. Ada resepnya lagi, makasih ya pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, untuk minta resepnya langsung ngontak ibu saya di Jambi sana. :)

      Hapus
  7. liat gambarnya biking ngeces deh, itu sambal tempenya keliatan kriuk, cocok dimakan sama nasi uduk ditemani bumbu kacang dan kerupuk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gambarnya boleh nyomot, Mbak. Kalo nunggu masak dulu baru bikin posting, keburu deadline deh. Hehehehe...

      Hapus