Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 03 April 2016


WISATA keluarga sudah jadi salah satu kebutuhan tambahan prioritas bagi saya. Mengajak anak dan istri berlibur melepaskan diri sejenak dari kesibukan harian sangat membantu kami untuk lebih menikmati hidup. Bagi anak-anak, mereka senang sekali dibawa ke tempat-tempat baru. Kalaupun tempatnya tidak baru, suasananya yang baru.

Meski senang berlibur, saya jarang mengajak keluarga berlibur terlalu jauh dari Pemalang. Kami lebih sering berlibur di sekitaran Pemalang. Pertimbangan pertama tentu saja biaya, dan alasan kedua keleluasaan waktu.

Butuh biaya tidak sedikit untuk bepergian empat kepala, sekalipun yang dua kepala masih bocah. Liburan sekeluarga pertama kali kami lakukan pada pertengahan 2013. Tiga malam di Jogja, kami menghabiskan uang yang tidak bisa dibilang sedikit untuk ukuran kami. Dan ternyata anak-anak kami terlalu kecil untuk bisa menikmati wisata luar kota seperti itu.

Saya dan istri lalu berpikir. Daripada wisata ke kota yang jauh tapi hanya sekali setahun dan bikin capek, lebih baik kami berlibur ke sekitaran Pemalang. Poin plusnya, kami bisa lebih sering berlibur karena tak butuh biaya banyak dan juga tak harus meluangkan waktu terlalu panjang.

Bagi kami yang terpenting adalah kepergian hari itu menyenangkan. Benar-benar refreshing sehingga sepulang dari berlibur secara psikologis kami merasa bersemangat kembali. Lalu anak-anak dapat menghilangkan kejenuhan sehingga kembali ceria dan riang gembira.

Di Pemalang ada banyak sekali tempat wisata menarik yang belum seluruhnya kami kunjungi. Tapi dua tempat wisata andalan kami adalah Pantai Widuri dan Alun-alun Pemalang. Lalu terkadang kami menghabiskan waktu liburan dengan berenang di sebuah waterboom. Di lain kesempatan hanya makan di tempat makan kesukaan anak-anak.



Pantai Widuri
Pantai Widuri jadi tempat wisata yang paling sering kami kunjungi. Saya pertama kali mengajak anak-anak ke pantai saat si sulung Damar berusia 3 tahun dan adiknya Diandra 2 tahun. Saya masih ingat betul, Dian belum terlalu pintar berjalan ketika ia pertama kali menginjakkan kaki di pasir pantai.

Berangkat pukul 06.00 WIB dari rumah, tak sampai 30 menit kemudian kami sudah sampai tujuan. Pantai masih belum terlalu ramai di jam-jam itu. Dulu sewaktu Damar belum sekolah, saya sengaja betul pergi ke pantai di hari kerja agar tak banyak pengunjung. Serasa pantai pribadi, karena hanya kami yang berenang dan bermain-main di sana. Hehehehe...

Untuk berlibur ke Pantai Widuri tak butuh biaya banyak. Asal kendaraan ada bensin, cukup siapkan uang Rp12.000 untuk bayar kamar mandi saat membilas badan usai berenang di laut. Istri saya biasanya menyiapkan sarapan dari rumah. Kalaupun tak sempat menyiapkan sarapan, beli saja tempe goreng dan lontong di warung-warung yang ada di sepanjang pantai. Rp5.000 juga sudah kenyang kok kalau hanya untuk mengganjal perut.

Anak-anak saya belum bisa berenang, tapi mereka suka sekali bermain di laut. Kalau air sedang surut, kami akan ke tengah dan duduk di dalam air. Tinggi permukaan air hanya sedada atau seleher orang dewasa duduk. Anak-anak saya pangku atau berdiri. Mereka begitu menikmati saat-saat ombak datang menghantam badan mereka.

Bosan berendam, kami membuat istana pasir. Istri saya paling pandai membentuk pasir menjadi berbagai macam "bangunan", lalu Damar dan Dian jadi perusaknya. Hehehe.

Usai berenang di laut, pulangnya kami mampir ke warung bakso langganan di dekat Pasar Pemalang atau di sebelah barat BRI Taman. Nah, justru di sini pengeluaran lebih banyak keluar. Maklum, meski masih kecil kami selalu memesankan porsi penuh untuk anak-anak. Terkadang bakso porsi dewasa itu mereka habiskan, tapi sering juga kami yang harus menghabiskan.

Berapa anggaran untuk wisata ke Pantai Widuri? Kami biasanya hanya membawa uang sebesar Rp100.000, dan tidak pernah habis sebanyak itu. Untuk bayar portal pantai Rp3.000, bayar kamar mandi Rp12.000, dan kalau mampir ke warung bakso habis kisaran Rp50.000-Rp55.000. Masih ada kembalian paling tidak Rp25.000. Murah, bukan?


Alun-alun Pemalang
Ini tempat wisata favorit kami. Atau lebih tepatnya favorit anak-anak. Di alun-alun banyak kendaraan wisata yang disebut odong-odong. Mulai dari mobil kayuh berbentuk aneka figur kartun, aneka hewan, lalu mobil kayuh berbentuk mobil mini, juga andong yang ditarik kuda.

Waktu paling pas untuk ke alun-alun adalah sore hari. Tidak disarankan ke alun-alun Pemalang di atas pukul 16.30 WIB karena biasanya odong-odong belum datang. Tapi kalau mau sekalian mencoba berbagai jajanan yang dijajakan warung-warung di seputaran alun-alun, ya lebih baik datang lebih siang.

Jarak alun-alun dari rumah hanya sekitar 15 menit naik kendaraan dengan kecepatan sedang. Kami biasanya memarkir kendaraan di halaman Gedung Kridanggo, lalu langsung menuju ke tengah-tengah alun-alun. Istri membawa nasi dan lauk, lalu anak-anak dibiarkan berkeliaran di tengah-tengah alun-alun sembari disuap.

Selesai makan, barulah sesi yang paling disukai anak-anak tiba: naik odong-odong. Tak cukup sekali, anak saya paling tidak meminta naik odong-odong dua kali. Sekali naik dua putaran, tarifnya seragam Rp4.000 per kepala dan sekarang naik jadi Rp5.000.

Kendaraan favorit Damar adalah andong. Ia senang sekali duduk di samping kusir, tepat di belakang ekor kuda. Sedangkan Diandra lebih suka naik odong-odong berbentuk figur kartun atau hewan. Lalu sejak ada mobil kayuh, mereka jadi lebih suka naik mobil-mobilan yang menurut cerita salah satu pemiliknya dipesan dari Jogja ini.

Berapa biaya untuk menghabiskan sore di alun-alun Pemalang? Naik odong-odong Rp5.000 per kepala (anak-anak maupun dewasa), parkir sepeda motor Rp1.000 dan parkir mobil Rp2.000. Kami jarang makan di alun-alun, tapi pernah beberapa kali membeli es buah seharga Rp7.000/porsi. Kami lebih suka mampir ke warung bakso langganan ketimbang makan di alun-alun.


Zatobay Waterboom
Waterboom ini terhitung baru, tapi segera jadi idola karena nyaris tak ada wisata air di Pemalang kota. Kami tak terlalu sering ke sini karena biasanya ramai pengunjung. Anak-anak tak terlalu suka keramaian, demikian pula saya dan istri. Dulu sebelum Damar sekolah kami biasa datang saat hari kerja dan jam kerja, jadi kolam renangnya sepi semua. Tapi sekarang tak bisa lagi.

Di sini kegiatannya hanya berenang dan bermain air. Tersedia berbagai kolam mulai dari balita, anak-anak, hingga dewasa. Kolam khusus bagi yang sudah mahir berenang dipisah dari kolam anak-anak dan remaja.

Air di kolam renang balita terlalu dangkal, sehingga Damar dan Dian lebih suka nyemplung di kolam anak-anak. Dalamnya sekitar 1,5 meter, jadi sebenarnya anak-anak saya tenggelam. Tapi mereka biasanya hanya duduk-duduk di tangga atau kalaupun nyemplung tangannya berpegangan pada besi penyangga. Lebih sering sih saya menggendong atau memapah anak-anak ke tengah.

Bosan di kolam tengah, kami berpindah ke kolam arus yang mengitari kolam balita dan anak-anak. Dalamnya sekitar 1 meter sehingga anak-anak saya tetap harus digendong atau dipegangi. Kami berputar mengelilingi kolam ini bisa sampai berkali-kali. Anak saya paling suka momen ketika melewati jembatan buatan yang memancarkan air.

Untuk jajanan, terdapat beberapa warung di sekitar kolam. Mau yang hangat-hangat ada Pop Mie atau teh dan kopi. Kalau suka makanan alami ada lontong dan tempe goreng. Ada juga warung yang menyediakan nasi sayur. Pengunjung bisa menikmati santapan mereka di tenda-tenda kecil yang tersebar di seluruh area pemandian.

Tiket masuk Zatobay sebesar Rp15.000 di hari kerja dan Rp17.000 di hari libur. Sedangkan untuk harga makanan, Pop Mie besar Rp7.000 dan Pop Mie kecil Rp5.000, lontong Rp1.000/buah, gorengan Rp5.00/buah. Kami tidak pernah memesan minuman karena biasanya membawa air putih dari rumah. :)


Itulah tiga destinasi favorit saya untuk berlibur murah meriah bersama keluarga di Pemalang. Selain hemat biaya, juga hemat waktu karena cukup meluangkan waktu beberapa jam atau setengah hari untuk menikmatinya.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

16 komentar:

  1. wah asik ya liburan keluarga bisa membentuk kedekatan dengan anak-anak, ga perlu jauh-jauh yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya. Beruntung sekali di sini tempat wisata lokalnya gak jauh-jauh banget. Ada sih yang agak jauh, tapi buat nanti. Hehehe

      Hapus
  2. Balasan
    1. Ayolah kapan diagendakan bareng kawan-kawan yang lain. Bikin Pantura Blogger atau apalah, supaya gak selalu nunggu acara di Semarang atau Jakarta. Kalo kita solid, datengin narsum dari kota lain lebih enak. :)

      Hapus
  3. Zatobay tiketnya naiikk mas

    Hari kerja 17 rb, hari libur 20 rb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, sudah naik lagi? Atau aq sing lupa-lupa ingat, soale yang biasa beli tiket istri. Hehehehe.

      Hapus
  4. Gorengan 10 rb seporsi, isinya cuma 13 .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini harga gorengan di mana? Zatobay apa Widuri. Biasanya beli nibakke sih, jadi gak tahu harga fix-nya berapa.

      Hapus
  5. Waaahhh baca artikel ini saya jadi pengen jalan-jalan ke sana sama keluarga...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo! Ke Pemalang bisa naik kereta lho, hotel juga banyak :)

      Hapus
  6. Wah, di Pemalang ternyata banyak juga ya tempat wisatanya.. salam kenal kembali..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, banyak. Itu yang deket-deket rumah aja. Kalo mau eksplore lebih jauh ada buanyaaak banget.

      Hapus
  7. pemalang ya, seringnya lewat doang. kapan2 harus diagendakan main kesana ah, tfs :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo ke Pemalang, hehehehe...
      Kalau mau eksplore wilayah selatan Pemalang tempat-tempat wisatanya jauh lebih banyak dan lebih asyik. :)

      Hapus
  8. PAntai Widuri, dulu saat saya ke Batang nggak jadi ke sini. Akhirnya hanya keliling seputar Pekalongan. Museum Batik dan Panti apa ya lupa namanya. Pokonya ada pentas lumba-lumbanya.

    Salam kenal Mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari Batang malah mending ke pantai-pantai di Pekalongan aja. Ada banyak juga pantainya dan sama aja sih dengan Pantai Widuri :)

      Hapus