Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Rabu, 11 Mei 2016


BELUM lama ini adik saya mengunggah foto-fotonya di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, jelang kembali ke Jakarta. Sebuah bandara yang terlihat bagus sekali. Saya jadi teringat Bandara Talang Betutu, bandara yang semasa saya kecil adalah pintu gerbang menuju Kota Pempek melalui jalur udara. Apa kabar, Talang Betutu?

Talang Betutu sebenarnya nama sebuah kelurahan di Kecamatan Sukarame, Kotamadya Palembang. Penamaan bandara sesuai nama tempat bandara tersebut berlokasi adalah hal lumrah pada masa lalu. Jika Palembang pernah punya Bandara Talang Betutu di Kelurahan Talang Betutu, maka di Jakarta dulu ada Bandara Kemayoran yang terletak di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat.

Pada jaman pemerintahan Hindia Belanda, Kelurahan Talang Betutu berada di luar wilayah administratif Kotapraja Palembang. Kawasan ini baru dimasukkan dalam area kota pada jaman pendudukan Jepang.

Pembangunan Bandara Talang Betutu dimulai pada tahun 1920, berupa sebuah bandara perintis untuk mendaratkan pesawat Fokker dari Eropa. Oya, ejaan lamanya Bandara Talang Betoetoe. Papan nama bandara dengan ejaan lama ini masih bisa saya lihat di masa kecil, kira-kira tahun 80'-an.

Lalu pada masa pendudukan Jepang kawasan bandara diperluas sehingga pesawat-pesawat lebih besar dapat mendarat. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mendaratkan pesawat-pesawat tempur?

Pada Perang Dunia II, bandara ini dimanfaatkan betul oleh Jepang dan kemudian Sekutu untuk memasok tentara dan persenjataan ke Palembang. Sekutu juga membawa banyak sekali kendaraan tempur ke Palembang, yang usai kemerdekaan berseliweran di jalanan kota sebagai angkutan umum. Termasuk mobil ketek yang pernah saya ceritakan di posting Mobil Ketek Tinggal Kenangan.

Sebagai objek vital, Bandara Talang Betutu jadi sasaran utama pengeboman di masa perang. Entah berapa puluh atau mungkin ratus bom dijatuhkan di kawasan ini. Belum lagi ranjau yang tertanam di dalam tanah. Cerita penemuan bom atau ranjau di kawasan ini sudah biasa terdengar. Ketika Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II dibangun, berita ditemukannya bom dan ranjau oleh pekerja proyek kerap menghiasi halaman surat kabar.

Hingga tahun 1980-an, Bandara Talang Betutu menjadi bandara transit bagi pesawat-pesawat jarak jauh. Pesawat rute Jakarta-Medan biasa transit dulu di Palembang, demikian pula pesawat rute Jakarta-Singapura.


Terbengkalai
Setelah ada bandara baru, seluruh aktivitas penerbangan komersial dipindah ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II yang lebih keren dan canggih. Bandara Talang Betutu pun ditinggalkan, terbengkalai. Landasannya masih digunakan oleh TNI AU, namun gedung-gedung bekas terminal tak terurus. Sebagian ada yang ambruk atapnya, lalu yang lainnya dipenuhi semak dan perdu.

Sempat ada wacana menjadikan eks Bandara Talang Betutu sebagai terminal khusus haji pada tahun 2010, namun saya tak paham bagaimana realisasinya. Tiga tahun berselang, muncul berita TNI AU berniat menghancurkan sejumlah bangunan bandara yang sudah rusak. Mengutip Sriwijaya Post, Danlanud Palembang (waktu itu) Letkol Pnb. Ramot CP Sinaga mengatakan tower dan anjungan yang sudah rusak bakal diratakan dengan tanah.

Pendapat berbeda diberikan Danlanud Palembang yang baru, Kolonel Pnb. Ronald Lucas Siregar. Kepada media pada Februari lalu, Ronald mengatakan eks Bandara Talang Betutu sangat potensial untuk dimanfaatkan mendukung event Asian Games 2018. Palembang sudah ditunjuk sebagai salah satu kota tuan rumah Asian Games 2018 bersama Jakarta.

Menurut Ronald, jika direvitalisasi Bandara Talang Betutu setidaknya bisa dipergunakan sebagai lapangan parkir pesawat kontingen negara peserta. Namun untuk itu seluruh kawasan eks bandara perlu dibenahi agar sedap dipandang.

"Kalau kondisi Bandara Talang Betutu begini dilihat orang asing apa kata mereka, kok bekas bandara tidak dirawat. Lihat ada pohon tumbuh dalam bangunan Bandara Talang Betutu, kok seperti ini," katanya seperti dikutip dari laman Berita Pagi.



Saya pribadi tak punya banyak kenangan bersama Bandara Talang Betutu. Kami tak pernah keluar Sumatera Selatan waktu itu. Seingat saya, kepergian kami paling jauh hanya ke Batumarta dan Pendopo. Tempat pertama adalah tempat keluarga dari pihak Ibu berkumpul, sedangkan yang kedua tempat kelahiran Bapak dan seluruh saudara kandungnya. Tentu saja kami tak perlu naik pesawat untuk menuju kedua tempat tersebut.

Tapi, menurut Ibu, saat masih kecil saya pernah diajak naik pesawat terbang dari bandara ini ke Bangka. Yang mengajak pacar paman saya yang hingga kini masih harmonis membina rumah tangga bersama paman. Saya sama sekali tak ingat kejadian itu. Satu-satunya kenangan tentang Bandara Talang Betutu yang masih saya ingat betul adalah saat ikut Ibu dan beberapa saudara menjemput entah siapa. Kalau tak salah sih menjemput besan Simbah yang baru pulang haji.

Saya tak ikut masuk ke terminal, hanya duduk-duduk di parkiran mobil bersama seorang sepupu. Dengan takjub saya mendengarkan suara gemuruh pesawat terbang naik-turun di landasan, juga lalu-lalu mobil keluar-masuk area parkir. Meski hanya duduk-duduk di separator parkir, saya merasa senang sekali. Itulah kali pertama saya menyaksikan pesawat terbang dari jarak sangat dekat. :)

Kesenangan saya bertambah karena Ibu membelikan Chiki, jajanan yang jarang-jarang bisa saya nikmati di masa kecil. Berdua dengan seorang sepupu, anak bude, saya duduk tenang di separator memperhatikan aktivitas bandara sembari melahap Chiki tersebut. Lihat saja di foto berikut ini. Saya yang memakai kemeja putih.


Kembali ke soal Bandara Talang Betutu yang terbengkalai. Sebagai orang kelahiran Palembang dan menghabiskan 10 tahun pertama dalam kehidupan saya di kota ini, saya berharap Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan mengeluarkan kebijakan positif mengenai Bandara Talang Betutu. Sinergi dengan TNI AU sebagai pemilik lahan sangat diperlukan agar tempat bersejarah ini tetap lestari.

Bagaimanapun, bandara ini merupakan bagian sejarah Kota Palembang. Inilah bandara pertama di Kota BARI, yang menjadi saksi jaman penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan, Perang Dunia II, sampai agresi militer Belanda. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya?

Banyak cerita bisa disuguhkan dari sejarah panjang Bandara Talang Betutu bagi generasi sekarang. Contohnya kecelakaan tragis yang menimpa pesawat milik maskapai Belanda KLM pada 6 Oktober 1937. Pesawat tipe Douglas DC-3 PH-ALS `Specht' rute Batavia-Singapura, transit di Palembang, terhempas dan rusak parah tak lama setelah take off. Kapten F.M. Stork, teknisi J.J. Ruben, operator radio J.J. Stodieck, dan seorang penumpang bernama Mr. G.A. Steenbergen tewas. Sedangkan kopilot dan enam penumpang lain mengalami luka ringan.

Di jaman lebih modern, ada Peristiwa Woyla yang melibatkan Bandara Talang Betutu dalam jalan ceritanya. Pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan 206 yang dibajak lima teroris Komando Jihad, transit di bandara ini sebelum melanjutkan perjalanan dari Jakarta menuju Medan. Peristiwa ini tak hanya menggegerkan Indonesia, tapi juga Thailand sebagai negara tempat kejadian peristiwa serta dunia.

Rasanya masih banyak kisah-kisah menarik lain dari Bandara Talang Betutu. Jika dikemas dengan apik, ditambah potensi lain yang ada di sekitarnya, kawasan eks bandara ini dapat berkembang menjadi lebih menjanjikan. Semoga saja dalam 5-10 tahun ke depan kondisi Bandara Talang Betutu tak merana lagi.

Sumber referensi: Wikipedia, Yahoo! Groups, Berita Pagi, Sriwijaya Post


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

9 komentar:

  1. Sedih juga ya mas kalau lihat bangunan yang pada masanya begitu vital keberadaannya sekarang tidak ada yang memperhatikan. apalagi punya nilai sejarah bagi kita..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tak cuma vital, bandara ini sangat bersejarah dan menjadi saksi perjalanan Kota Palembang dari waktu ke waktu. Saya rasa layak didirikan museum di daerah ini.

      Hapus
  2. Ya ampuuun itu foto jadulnya masih ada.
    Saya, pertamakali ke Palembang mendarat di Talang Betutu Om. Sekali itu saja, selanjutnya pindah ke SMB 2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, foto jadul tersimpan berkat visi seorang adik yang mendigitalkan seluruh album keluarga yang sebagian besar sudah rusak :)

      Hapus
  3. Kasihan lihat bentuk bandara yang rubuh itu. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bandara lama itu, Mas.
      Kalo bandara baru sih megah banget.

      Hapus
  4. saya jadi sanggat miris sekali dgn kondisbandara betutut seharusnyah jadl JARMERAH= peninggalan sejarah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Talang Betutu ya, bukan betutut. Tar salah baca jadi butut lagi :D

      Hapus