Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 03 Mei 2016


SEBUAH kabar duka datang dari Palembang, kota kelahiran saya, tepat sepekan lalu. Simbah dari pihak Bapak meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Ingin sekali saya langsung terbang ke Palembang, tapi terlalu banyak yang harus dipertimbangkan sehingga hanya menulis ucapan duka lewat Facebook yang bisa saya lakukan.

Tampaknya saya satu-satunya cucu Simbah yang tidak hadir ke Palembang. Belum lama adik perempuan saya yang tinggal di Jakarta mengunggah foto dirinya bersama adik bungsu kami, plus sepupu-sepupu dan seorang paman, di pelataran Benteng Kuto Besak. Tentu saja dengan latar belakang Jembatan Ampera nan legendaris itu.

Ngiri? Tentu saja. Lahir dan tumbuh besar di Palembang, belum pernah sekalipun saya berfoto di Benteng Kuto Besak. Apalagi di spot yang kini jadi favorit selfie wisatawan. Yang ada hanya foto berlatar belakang Monumen Penderitaan Rakyat (Monpera) yang berada tak jauh dari Jembatan Ampera, tapi jembatannya tidak kelihatan. Kata Ibu usia saya masih kisaran 3-4 tahun saat itu.

Sebenarnya adik perempuan saya sudah bolak-balik menelepon, mengajak saya ke Palembang untuk mengikuti kenduri nujuh hari Simbah. "Anda berangkat dengan Ibu, Bapak jugo berangkat motoran dari Jambi. Adik Fajar ikut dengan Win dari Jakarta," dia membeberkan.

Anda adalah panggilan untuk adik kedua saya, seorang dokter hewan yang berdinas di Sungai Bahar, Jambi. Anda lahir tepat setelah Win, adik perempuan saya yang menelepon ini. Sedangkan Fajar merupakan adik bungsu yang tengah menempuh kuliah di Institut Pertanian Bogor. Ceritanya, Anda bersama Ibu bermotor dari Sungai Bahar ke Jambi, lalu sepeda motornya dititipkan di rumah seorang teman dan perjalanan disambung naik bus ke Palembang. Sedangkan Bapak sepertinya akan kembali bermotor seperti saat hari Simbah meninggal.

Meski sangat ingin ikut, saya harus memendam dalam-dalam keinginan 'mudik' ke Palembang. Selain mengikuti kenduri nujuh hari Simbah di Lebong Siareng, Sukarami, saya juga kangen dengan kota kelahiran ini. Saya terakhir kali ke Palembang pada tahun 2007. Simbah masih sangat sehat waktu itu, masih kuat berjualan di sebuah kios kecil dekat mulut Lorong Mufakat III yang menghadap ke Jl. Pipa Reja. Disebut Jl. Pipa Reja karena di sepanjang pinggiran jalan ini terdapat jaringan pipa gas.

Ketika itu ceritanya saya hendak berangkat ke Jogja setelah menghabiskan Ramadhan dan berlebaran di Jambi. Mampir sejenak di Palembang sudah jadi tradisi setiap kali mudik, paling sedikit dua hari. Selain Simbah, masih ada seorang paman yang tinggal di Jl. Mayor Zurbi Bustan, tak jauh dari rumah Simbah. Juga ada seorang bude yang rumahnya berpindah-pindah sehingga sulit sekali ditemui.

Kalau sedang berada di Palembang seperti itu saya akan bagi-bagi waktu kunjungan. Semalam menginap bersama Simbah, lalu malam lainnya menginap di rumah paman. Sungguh tak disangka, rupanya suatu malam di tahun 2007 itu menjadi malam terakhir saya mengunjungi Simbah di rumahnya. Entah ini dinamakan firasat atau bukan, beberapa hari sebelum Simbah meninggal saya sempat chat dengan adik sepupu di Pendopo dan bilang, "Kangen sama Simbah."

Pandai Memasak
Harus diakui saya tak terlalu dekat secara emosional dengan Simbah. Pun dengan simbah-simbah yang lain. Tapi Simbah inilah yang mengikuti pertumbuhan saya dan adik-adik semasa kami tinggal di Palembang. Rumah kami waktu itu berjejer dengan rumah Simbah. Sumurnya malah jadi satu, sedangkan kamar mandi hanya dibatasi tembok dengan bak mandi yang bersambung.

Boleh dikatakan setelah Ibu peran Simbah sangat mendominasi selama 10 tahun awal kehidupan saya di dunia ini. Bapak jarang sekali di rumah masa-masa itu. Pekerjaan sebagai buruh bangunan mengharuskannya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain di Sumatera Selatan, mengikuti proyek yang sedang digarap perusahaan kontraktor milik bos yang juga saudara sepupunya.

Tapi jangan bayangkan saya diasuh Simbah, digendong-gendong ke sana-sini sementara Ibu saya membereskan pekerjaan rumah. Tidak. Simbah terlalu sibuk berjualan. Sebelum Subuh beliau sudah berangkat ke Pasar Paal Limo yang ada di mulut Jl. Sosial untuk kulakan sayur-mayur. Lalu pulangnya menata dagangan di warung mungilnya yang berdiri di atas sebidang tanah kosong entah milik siapa. Seharian penuh Simbah berada di sana. Bahkan masak pun di warung itu.

Biasanya saya yang iseng mengunjungi warung Simbah. Kalau ada jajanan pasar tersisa, itu akan jadi jatah saya. Hehehe... Tapi sering kali tak ada apa-apa untuk saya, kecuali es lilin titipan tetangga. Sebagai gantinya Simbah memberi sekeping dua uang Rp50 atau Rp100 untuk jajan. Jaman itu snack bungkusan kecil yang sekarang (di Pemalang) dijual Rp500 masih seharga Rp25. Malah ada satu mi instan bermerek Doremi yang harganya hanya Rp150 sebungkus.

Satu hal yang paling saya ingat dari Simbah, beliau sangat pandai memasak. Konon, dari beliaulah Ibu belajar memasak dan sampai kini dikenal sebagai juru masak paling enak di kalangan keluarga besar. Selain masakan besar, Simbah pun mahir membuat aneka jajanan khas Palembang. Sebut saja pempek, tekwan, laksan, model, sampai makanan kreasi yang tak pernah lagi saya nikmati setelah meninggalkan Palembang: rujak mi. Pun demikian masakan Jawa karena beliau berasal dari Trenggalek.

Setelah dibawa ke Batumarta pada tahun 1992, saya baru kembali bertemu Simbah pada pertengahan 1995. Waktu itu Ibu memboyong saya dan adik-adik pindah dari Batumarta ke Jambi mengikuti Bapak yang merantau ke propinsi tetangga tersebut sejak 1990. Kunjungan ke Palembang berikutnya baru terjadi di tahun 2000, selepas lulus SMA.

Lalu saya kuliah di Jogja dan menetap di kota tersebut sampai 2010. Saya selalu menyempatkan diri ke Palembang setiap kali mudik ke Jambi. Biasanya dalam perjalanan kembali ke Jogja. Dari Jambi naik bus Banyu Asin atau IMI ke Palembang, lalu setelah menginap barang dua malam saya naik bus Ramayana atau Putra Remaja untuk ke Jogja. Tapi sejak keenakan mudik naik pesawat, saya tak pernah lagi mampir ke Palembang.

Saya terakhir kali mampir ke Palembang pada 2007, menginap di rumah Simbah dan menghabiskan satu malam untuk bercerita tentang sosok Simbah Lanang yang tak pernah saya kenal. Kemudian saya mengunjungi rumah paman di Pendopo dan menghabiskan nyaris sepekan di sana. Pendopo adalah tempat tinggal Simbah saat pertama kali datang ke Sumatra dan bekerja di sebuah perusahaan minyak Belanda, tempat kelahiran Bapak dan seluruh saudaranya. Di sini pula makam Simbah Lanang berada.

Dua tahun berselang Simbah datang ke Jambi bersama keluarga besar dari Palembang untuk menghadiri pernikahan adik saya. Tak disangka, rupanya itulah pertemuan terakhir saya dengan Simbah. Tujuh tahun saya tak pernah lagi bertemu dengan beliau, hingga kabar duka itu disampaikan pada saya.

Selamat jalan, Mbah...


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

10 komentar:

  1. Meskipun tidak terlalu dekat tapi kehadiran sosok beliau begitu kuat ya Bang Eko. Turut berduka cita ya Bang.

    BalasHapus
  2. semoga khusnul khotimah yaa om...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin. Insya Allah.
      Terima kasih, Mbak...

      Hapus
  3. semoga simbah tenang di sisi-Nya ya mas Eko, sabar untuk keluarga yang ditinggalkan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kak. Terima kasih.
      Simbah memang sudah waktunya istirahat, fisik beliau semakin kemari semakin rapuh. Sebelum meninggal kata Bapak sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi.

      Hapus
  4. Innalillaahi wa inna ilaihi roji'uun. Semoga simbahnya bung Eko husnul khotimah

    BalasHapus
  5. Turut berdukacita. Doa, sejauh apapun akan disampaikan-Nya. :)

    BalasHapus