Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 29 Mei 2016


ORANG bilang cinta pertama tidak bakal pernah terlupakan hingga akhir hayat. Sayangnya, tak semua orang dapat mempertahankan cinta pertamanya. Saya termasuk beruntung, sebab cinta pertama saya masih terus menemani hingga kebersamaan kami memasuki tahun ke-15. Inilah kisah cinta saya dengan BNI, Bank Negara Indonesia.

Saya berkenalan dengan BNI medio 2000. Lulus dari SMU Negeri 1 Muara Bulian, Jambi, saya memutuskan merantau ke Jogja. Pilihan jatuh pada satu program pendidikan pariwisata setara DII di bawah naungan Universitas Negeri Yogyakarta. Tanpa gelar, tapi peluang kerja sangat besar karena tenaga-tenaga terampil di bidang pariwisata masih terus dibutuhkan.

Program pendidikan yang oleh alumnusnya disebut Profeta ini menerima pendaftaran jarak jauh. Saya dan beberapa teman yang berminat cukup mengirim berkas pendaftaran ke alamat yang tertera di brosur. Begitu diterima, kami diminta membayar biaya pendidikan melalui transfer bank. Nomor rekening yang diberikan adalah rekening BNI.

Momen saat mentransfer biaya pendidikan Profeta inilah kali pertama saya mengenal BNI. Di Muara Bulian belum ada kantor cabang BNI saat itu, jadi saya harus ke Kota Jambi. Setelah naik angkutan Muara Bulian-Kota Jambi, saya ke Bank BNI Jambi dengan angkot. Sopir angkot yang saya tumpangi rupanya tahu betul tentang bank ini.

"BNI 46 ya?" tanya si sopir angkot setelah saya menyebutkan tujuan.

Saya bingung. "Memangnya ada berapa bank bernama BNI?" pikir saya.

Bapak sopir angkot rupanya tahu kebingungan saya. "BNI dulu dikenalnya BNI 46 karena didirikan tahun 1946," cerita bapak yang entah siapa namanya itu.

Jaman itu internet masih barang mewah, jadi saya tidak bisa googling untuk cross check mencari tahu benar-tidaknya cerita tersebut. Baru bertahun-tahun kemudian saya tahu kalau bapak sopir itu berkata benar. Jangan-jangan dia nasabah BNI? Entahlah.


Sebagai peminat sejarah, saya sangat terkesan pada fakta bahwa BNI sudah ada sejak 1946. Tepatnya 5 Juli 1946. Artinya, BNI dibentuk kurang dari setahun sejak Republik Indonesia diproklamasikan. Sesuai namanya yang memakai kata 'negara', inilah bank pertama yang didirikan oleh pemerintah. Bank pertama milik pemerintah Indonesia.

Ketika kemudian berkecimpung dalam dunia numismatik, saya dibuat tercengang karena BNI juga sempat menjadi bank sentral RI. Mata uang resmi pertama keluaran pemerintah, Oeang Repoeblik Indonesia (ORI), dicetak dan diedarkan oleh BNI. Bagaimana BNI mendistribusikan ORI ke seluruh wilayah Indonesia yang baru saja merdeka adalah cerita lain yang tak kalah menarik disimak.

Bank Pilihan Mahasiswa
Pertemuan kedua saya dengan Bank BNI terjadi awal 2001. Ceritanya saya diminta Ibu di Jambi untuk membuka rekening. Selama ini Ibu mengirim uang menggunakan wesel pos. Dan Ibu dibuat kuatir setengah mati setelah oknum pegawai kantor desa di kampung ketahuan mencairkan wesel pos milik seorang warga.

Diminta membuka rekening bank saya malah bingung. Bank apa? Saya lantas mendatangi kantor cabang sebuah bank BUMN dekat kos. Tidak dekat-dekat amat sih, jalan kaki kira-kira 7-10 menit. Setelah bertanya-tanya pada petugas, tanpa pikir panjang saya mengisi formulir buka rekening. Tapi bank satu ini langsung membuat saya kapok. Pasalnya, uang transferan dari Ibu baru sampai ke rekening tiga-empat hari kemudian!

Ibu yang tahu hal itu minta saya ganti bank. Barulah saya meminta pendapat teman. Saya tanyai satu-satu teman kos, bank apa yang mereka pakai. Tentu saja jawaban mereka beragam. Tapi seorang kawan bernama Darman asal Sumatera Utara memberi penjelasan yang membuat saya tertarik membuka rekening di BNI.

Darman menjelaskan di BNI setoran awalnya rendah. Ini penting bagi mahasiswa seperti kami karena membuka rekening berarti merelakan sebagian biaya hidup bulan tersebut ditahan bank. Kami baru bisa mengambil uang yang jadi setoran pertama setelah kartu ATM jadi. Untuk itu kami harus menunggu hingga lima hari kerja.

Kelebihan lain BNI seperti dijelaskan Darman adalah biaya administrasi bulanannya lebih rendah dari bank-bank populer lain. Lalu kantor cabang BNI merata di seluruh (waktu itu) 24 provinsi di Indonesia. Demikian pula ATM-nya. Masa itu hanya dua bank komersial yang punya prestasi demikian. BNI terbilang lebih unggul dari bank satunya karena juga punya banyak cabang di luar negeri.

Teman saya yang lain, Edi asal Bondowoso, memberi informasi dari sudut pandang berbeda yang paling menarik bagi saya. "Di sini (Jogja) cuma BNI yang masih menyediakan ATM Rp10.000," kata Edi.

Memang benar. Saya sendiri merasa sangat terbantu dengan keberadaan ATM nominal Rp10.000 ini. Maklumlah, rekening mahasiwa saldonya cuma keluar-masuk. Waktu itu ada dua lokasi ATM pecahan Rp10.000 yang saya tahu. Satu di KCU Jogja, satu lagi di Jl. KH Ahmad Dahlan.

Begitulah, saya pun mantap memilih BNI. Darman ikut mengantar saya ke Bank BNI KCU Yogyakarta di perempatan titik nol. Dari kos kami jalan kaki sebentar ke Jl. DI Panjaitan, lalu naik bus kota jalur 15 dan turun persis di lampu merah sebelah pintu masuk basement gedung BNI.

Saya lupa siapa customer service yang melayani pembukaan rekening. Tapi saya dibuat terkesan oleh pelayanan Mbak CS tersebut. Dengan ramah ia menjelaskan setiap pertanyaan saya yang masih bingung dengan ketentuan ini-itu. Maklumlah, ini kali kedua saya membuka rekening dan pengalaman pertama saya dengan bank boleh dibilang tidak mengenakkan. Karenanya saya memuaskan diri bertanya-tanya sebelum rekening dibuat.

Singkat cerita, atas bantuan Mbak CS rekening BNI saya pun selesai dibuka. Sebuah buku tabungan bergambar perahu layar diberikan pada saya. Kartu ATM baru tersedia dalam lima hari kerja, jadi saya diminta datang sepekan ke depan pada pekan tersebut karena ada Sabtu dan Minggu. Tak apalah, saya sudah sangat senang sekali akhirnya mempunyai rekening bank yang membuat uang transferan dari Ibu bisa sampai di hari yang sama.


Tapenas untuk Modal Kawin
Sejak itu saya menjadikan BNI sebagai nomor rekening utama. Segala urusan keuangan pribadi saya percayakan pada BNI. Transferan dari Ibu selama saya kuliah selalu tertuju ke BNI. Saya terus mengandalkan bank ini sampai gambar perahu layar dihilangkan dari logo, juga ketika nomor rekening yang belasan angka diringkas menjadi 10 digit.

Harus diakui saya kerapkali "selingkuh" dengan membuka rekening di bank lain. Alasannya macam-macam. Ada yang karena tuntutan pekerjaan, di mana perusahaan mengharuskan seluruh karyawan mempunyai rekening bank tertentu untuk keperluan transfer gaji. Perusahaan A transfer gaji dengan bank biru, kemudian ketika pindah ke perusahaan B ganti ke bank hijau.

Meski demikian tetap saja semua keperluan personal saya percayakan ke BNI. Segala transfer honor artikel di media, misalnya, saya arahkan ke rekening BNI. Hingga saat ini salah satu penerbit terkemuka nasional masih mengirim royalti buku pada saya melalui BNI.

BNI juga turut berjasa dalam pembiayaan pernikahan saya lho. Jadi ceritanya saya membuka rekening Tapenas sebagai tabungan biaya pernikahan. Tapenas ini aslinya tabungan pendidikan berjangka. Tapi saya pikir tak ada salahnya memanfaatkan model tabungan begini untuk perencanaan kebutuhan lain.

Yang saya suka dari Tapenas, uang tabungan kita utuh tanpa potongan apapun. Tak ada biaya administrasi bulanan, yang ada hanya pembagian keuntungan berdasarkan perkembangan dana kita yang terkumpul. Dengan demikian uang yang akan diterima penabung pada akhir masa tabungan lebih besar dari jumlah total setoran.

Satu lagi, tabungan bisa diambil kapan saja tanpa harus menunggu jatuh tempo. Seluruh keuntungan yang menjadi hak kita juga bisa dinikmati ketika melakukan pencairan sekalipun masa tabungan belum berakhir. Hanya saja BNI mengenakan semacam denda untuk pencairan sebelum masa waktu berakhir seperti ini. Itupun jumlahnya tergolong ringan kok.

Waktu itu saya membuka Tapenas dengan jangka waktu lima tahun dan setoran bulanan Rp300.000. Tak sampai dua tahun, tabungan sudah saya tutup karena tanggal pernikahan kian dekat. Dengan uang Tapenas itulah saya membelikan mas kawin berupa emas 10 gram untuk calon istri, plus segala pelengkapnya sebagai hantaran seperti seperangkat alat salat, pakaian lengkap dari kepala hingga ke kaki, juga satu set kosmetika.

Sebenarnya sayang sih sampai menutup Tapenas. Mbak CS di KCU BNI Jogja yang membantu saya berkali-kali berusaha "menggagalkan" niat tersebut. "Nggak sayang nih? Serius mau ditutup?" katanya sembari mengulang-ulang berbagai keuntungan Tapenas dibanding tabungan biasa. "Ya, saya paham sih, Mbak. Tapi saya butuh uang untuk menikah," jawab saya dalam hati.

Berbagai kelebihan Tapenas membuat saya kembali membuka rekening ini di BNI Pemalang pada 2013. Kali ini benar-benar untuk tabungan pendidikan kedua anak saya. Sayang, toko online saya lambat laun surut dan sepi pembeli. Dengan sangat terpaksa lagi-lagi saya harus menutup rekening Tapenas medio tahun lalu. Kelak saat kondisi finansial kembali membaik, saya berniat membuka rekening Tapenas lagi untuk persiapan biaya sekolah anak-anak.


Ganti Kartu ATM di Padangsidimpuan
Satu pengalaman bersama BNI yang paling berkesan bagi saya adalah saat ganti kartu ATM di Padangsidimpuan. Bayangkan, saya membuat rekening di BNI Yogyakarta, lalu sejak 2010 KTP saya berganti alamat jadi Pemalang, dan saya mengganti kartu ATM yang kadaluwarsa di BNI Padangsidimpuan!

Asal tahu saja, saya membuka rekening dengan KTP Jambi. Jadi alamat saya dalam data BNI masih alamat Jambi. Awalnya saya ragu-ragu, tapi karena terdesak mau tidak mau saya beranikan diri masuk ke BNI Padangsidimpuan untuk mengajukan pergantian kartu ATM yang tinggal beberapa hari lagi kadaluwarsa. Alhamdulillah, Kakak CS yang melayani saya memberi solusi dengan sangat baik.

Saya merantau di Padangsidimpuan selama kurang-lebih 1,5 bulan. Mendekati masa berakhirnya pekerjaan, saya baru tahu kalau kartu ATM akan kadaluwarsa dalam hitungan hari! Untung saja saya tahu di hari kerja. Jadi usai bekerja saya langsung naik angkot ke pusat kota Padangsidimpuan, dilanjut jalan kaki ke kantor BNI.

Untungnya lagi antrian CS tidak panjang hari itu. Saya hanya perlu menunggu beberapa belas menit. Sayang, saya lupa siapa nama Kakak CS yang melayani saat itu. Tapi ia sosok yang menawan, dengan rambut pendek di atas bahu dan senyum menawan. Hehehe...

Lalu berceritalah saya soal kartu ATM yang akan kadaluwarsa dalam hitungan hari. Prosedur standarnya saya harus menunjukkan KTP asli dan buku tabungan. Sayangnya buku tabungan saya ada di Pemalang. Keadaan bertambah rumit karena alamat saya dalam data BNI tidak sesuai dengan alamat KTP yang saya tunjukkan.

Saya sudah pasrah sekiranya Kakak CS tersebut menolak membantu, atau mempersulit saya. Tapi ternyata tidak begitu. Kakak CS nan baik hati itu hanya meminta saya menjawab beberapa pertanyaan, mungkin sebagai cross check kalau saya benar-benar pemilik kartu ATM yang hendak diganti.

Pertama menanyakan nomor rekening, lalu nama gadis ibu kandung, alamat Jambi yang saya pakai saat buka rekening, alamat di Jogja yang pernah saya laporkan ke BNI KCU setempat, ditanyakan juga transaksi terakhir apa, kapan dan di mana. Semuanya saya jawab dengan benar. Tentu saja, lha wong itu rekening saya kok.

Urusan ganti kartu ATM pun jadi lancar. Empat hari berselang saya kembali untuk mengambil kartu ATM. Ah, senangnya! Tanpa menunggu lama saya aktifkan kartu tersebut di mesin ATM yang terletak dekat pintu masuk gedung.

*****

Tahun ini genap 15 tahun saya menjadi nasabah BNI. Bukan waktu yang sebentar. Sebuah kesetiaan yang tidak perlu diragukan lagi. BNI bahkan lebih lama menemani saya dari siapapun yang saya cintai saat ini. Istri saya saja baru mendampingi selama tujuh tahun, atau 10 tahun kalau tanggal pertunangan yang dipakai.

Terdengar agak sentimentil, tapi rekening BNI ini bukan sekedar deretan angka bagi saya. Banyak kenangan yang tersimpan bersama rekening ini dalam 15 tahun kebersamaan kami. Yang saya ceritakan di atas hanyalah sekelumit kecil, kenangan-kenangan paling berkesan dan paling indah sepanjang ingatan saya saat menulis posting ini.

Ah, namanya juga sudah cinta, sudah terlanjur sayang, tak terbayang rasanya kalau kebersamaan selama 15 tahun nan penuh kenangan ini berakhir. Tidak, saya tidak pernah berpikir demikian. Sekalipun saldo dalam rekening saya lebih sering tak bisa ditarik lewat ATM, saya tak sedikitpun berniat menutup rekening BNI. Saya sudah bertekad untuk mempertahankan rekening ini selama mungkin. Kalau perlu hingga saya tutup usia.

Selamat ulang tahun, BNI.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

12 komentar:

  1. Ya ampuns etia banget ya mas jadi nasabah setia BNI.
    Kalau memiliki bank yang dapat dimanfaatkan, insyaAllah jadi semangat menabung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, saya susah pindah ke lain hati kalau sudah merasa nyaman sama sesuatu, termasuk bank.

      Hapus
  2. Wuiih mantap pak. Ternyata ada yang lebih lama dari saya ya. Saya juga tetap pakai BNI untuk segala finansial. Salam kenal. Saya juga ikutan nih. Semoga sukses untuk kita semua

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho, kalau Mas Hendra berapa lama jadi nasabah BNI? Saya dari usia 18 tahun, setengah tahun setelah lulus SMA alias semester pertama kuliah :)

      Hapus
    2. Saya dari tahun 2002 pake BNI. Berarti udah 14 tahun ya

      Hapus
    3. Iya, berarti 14 tahun.
      Kalo saya Januari 2001, jadi udah lebih dari 15 tahun :)

      Hapus
  3. Balasan
    1. Berbagai pengalaman bersama Bank BNI yang lagi merayakan ulang tahun, Pak :)

      Hapus
  4. Belasan tahun yang sangat membantu dgn adanya BNI ya :)

    BalasHapus