Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 27 Juni 2016


PALEMBANG sedang ramai-ramainya pertengahan Mei itu. "Nggak tahu ada event apa aja, tapi semuanya penuh," cerita Mbak Ira Hairida sembari menyetir mobil membawa saya dan beberapa rekan blogger berkeliling kota. Yang dimaksud "semuanya penuh" oleh Mbak Ira adalah hotel-hotel di Kota Pempek, rata-rata fully booked.

Ahad itu, 15 Mei 2016, adalah hari kedua saya di Palembang. Saya bersama dua blogger lain diundang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan untuk menyaksikan etape terakhir International Musi Triboatton 2016 dilanjut upacara penutupan kompetisi internasional tersebut. Kami tidak hanya bertiga, karena Kementerian Pariwisata RI sudah terlebih dahulu mengirim sejumlah blogger top sejak pembukaan pada 14 Mei.

Bisa jadi gelaran Musi Triboatton 2016 yang membuat hotel-hotel di Kota Palembang penuh. Kami pun harus jadi musafir, menginap di dua hotel berbeda dalam dua malam. Tapi kondisi ini seolah berkah tersembunyi, karena kami berkesempatan menginap di Aziza Inn Hotel (sebelumnya bernama Hotel Azza). Sebuah hotel yang terletak tepat di jantung kota Palembang.

Setelah seharian berkeliling mencicipi berbagai makanan khas Palembang, termasuk menyeberangi Sungai Musi menuju Pulau Kemaro, sore harinya kami check in ke hotel. Kami harus istirahat sebentar dan mandi, sebelum kembali keluar untuk mengikuti acara penutupan di Benteng Kuto Besak pada pukul 19.00 WIB.

Kesan pertama begitu melihat Aziza Inn, hotel ini kental dengan nuansa etnik sekaligus minimalis. Dinding bangunan di dekat jalan masuk berupa jalinan teralis besi yang dirambati tanaman menjalar. Nama hotel dengan huruf hijau dan merah terpampang di atasnya. Keesokan harinya saat sarapan saya baru tahu kalau dinding tersebut adalah bagian luar restoran.

Tepat di samping pintu masuk lobi hotel terdapat dua patung hewan berleher panjang dari kayu saling berhadapan. Saya kira itu patung jerapah, tapi entahlah tepatnya apa. Lalu tak jauh dari meja resepsionis terdapat seperangkat tempat duduk dari kayu berukir. Untuk yang suka tempat duduk empuk, di bagian tengah lobi terdapat seperangkat sofa.

Oya, welcome drink yang disajikan hari itu jus nanas, lengkap dengan potongan nanas kecil-kecil. Rasanya segar sekali, perpaduan antara manis dan asam yang pas. Saya sampai minum dua kali dibuatnya. Hehehe...


Si Minimalis nan Lega
Aziza Inn adalah hotel berbintang dua di bawah naungan Horison Group. Hanya terdiri dari tiga lantai, dengan 52 kamar dalam dua tipe: Superior Room dan Deluxe Room. Saya dapat kamar di lantai dua malam itu, tepatnya nomor 215. Semua blogger Musi Triboatton 2016 ditempat di lantai yang sama. Tak menunggu lama, langsung saja kami semua naik ke kamar masing-masing untuk mandi dan beristirahat sejenak.

Karena kamar dipesankan oleh Disparbud Sumsel, saya tak bisa memilih yang twin atau double. Tapi rupanya saya dapat double bed. Bakalan nyenyak nih tidur di kasur gede sendirian. Kamarnya sendiri tak terlalu lebar, tapi penataan ruang yang efektif membuatnya terkesan lega. Cat putih di seantero ruangan ikut memberi kesan luas, sekaligus bersih.

Dua buah lampu dengan cahaya redup di sudut-sudut ruangan menyambut saya begitu membuka pintu kamar. Di seberang ranjang terdapat sebuah meja ringkas. Dua botol kecil air mineral, beberapa leaflet hotel, kalender meja, gelas dan remote control tergeletak di atasnya. Lalu di tembok menempel sebuah televisi layar datar.

Pandangan saya langsung tertuju pada kasur berseprai putih yang diapit meja-meja sudut. Tanpa tunggu lama-lama segera saja saya rebahkan badan ke atasnya. Nyamannya... Kalau saja tak ingat malam itu ada acara yang harus dihadiri, saya lebih memilih memejamkan mata dan tertidur di atas kasur empuk saat itu juga.




Oya, buat yang biasa traveling membawa banyak gadget, di kamar terdapat banyak sekali colokan untuk mengecas semua perangkat sekaligus. Selain di atas meja kecil di sudut, colokan bisa ditemui di kedua sisi meja televisi, juga di kamar mandi. Benar-benar surga ngecas.

Saya bergegas ke kamar mandi begitu jarum jam menunjukkan pukul lima sore lewat sedikit. Kamar mandinya juga terkesan minimalis, tapi fungsional dan lengkap. Sabun cair, sampo, pasta gigi dan sikat gigi kecil semua tersedia bersama handuk tebal. Jadi buat yang tidak biasa bepergian membawa toiletris tidak perlu kuatir.

Mumpung di hotel saya memilih mandi air hangat. Ya, kapan lagi bisa mandi air hangat cuma modal memutar kran. Di rumah saya harus merebus air dulu kalau mau mandi air hangat, hahaha. Selesai mandi saya bermaksud salat Ashar, tapi sayang tak ada space yang cukup untuk dipakai salat mengikuti arah kiblat sesuai tanda di langit-langit kamar. Untungnya saya ingat di samping lobi ada musala. Jadi, saya pun turun ke bawah.

Kira-kira jam setengah enam kami dibawa Mbak Ira menuju ke kawasan Plaza Benteng Kuto Besak.

Lokasi Strategis
Bagi peminat wisata belanja, Aziza inn dikelilingi pusat perbelanjaan ternama Palembang. Yang terdekat adalah Palembang Icon Mall (PIM) yang terletak persis di seberang jalan. Di mal ini ada berbagai gerai ternama, juga kafe-kafe dan restoran untuk nongkrong cantik seperti Starbucks, Baskin Robbins, Pizza Hut atau J.CO. Tinggal pilih.

Dari Aziza Inn ke PIM sebaiknya berjalan kaki saja menyeberangi Jl. Angkatan 45, sebab kalau naik kendaraan harus memutar sejauh kira-kira 1,5 km. Jl. Angkatan 45 terdiri atas dua lajur dengan separator tinggi di tengah, jadi harus lihat-lihat dulu bagian jalan mana yang bisa dilewati.

Satu mal besar lain yang tak terlalu jauh dari Aziza Inn Hotel adalah Palembang Square Mall. Menurut Google Map jaraknya 750 meter menyusuri Jl. Angkatan 45 ke arah barat laut. Di dalam mal ini terdapat berbagai tempat makan berkelas seperti Solaria dan Es Teller 77. Nyaman untuk kongkow atau meetup dengan sejawat.


Kalau ingin suasana berbeda, ada warung makan Ikan & Ayam Bakar Joglo di sebelah utara hotel. Tak jauh dari sana terdapat Tempat Makan Ikan Bakaran. Pilihan lain ada Bakso Gobud, Warung Solo Berseri Mbak Anny, Roti Bakar Narsis, 1000 Rasa Coffee Shop, atau Golden Abalone Restaurant yang kesemuanya berada dalam radius 100-250 meter dari hotel.

Mau mencicipi makanan khas Palembang? Coba saja datangi Kedai Pempek Dos 171 di Jl. Sulaiman Amin. Jaraknya hanya 270 meter dari Hotel Aziza Inn, cukup berjalan kaki kira-kira lima menit dan sampailah sudah. Tak jauh dari sana terdapat Warung Tekwan 99, kira-kira 300 meter dari Kedai Pempek Dos 171 atau 400 meter dari hotel.

Satu tempat makanan khas Palembang lain yang jalanable dari Aziza Inn adalah Nasi Pindang Kuyung di Jl. Kapten A. Rivai. Jaraknya hanya 350 meter ke arah selatan, tak akan membuat badan kurus kok. Di sini kita bisa menikmati aneka jenis pindang nan lezat.

Mau makan di tempat yang lebih ngetop? Langkahkan kaki sedikit lebih jauh ke arah selatan, hanya berjarak kira-kira 50-75 meter dari Nasi Pindang Kuyung kita akan sampai di RM Pempek Pak Raden yang berada di kawasan Jl. Radial. Ini tempat makan pempek legendaris di Palembang. Belum afdol ke Kota Pempek kalau belum mencicipi Pempek Pak Raden.

Jarak ke tempat-tempat wisata seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, dan sekitarnya memang agak jauh kalau ditempuh dengan berjalan kaki. Tapi jangan khawatir. Begitu keluar dari lobi hotel, tepat di pinggir Jl. Angkatan 45 terdapat jejeran driver Go-Jek yang siap mengantar kemanapun kita pergi. Taksi? Ada juga.

Sayangnya saya tak sempat menjelajahi seputaran Aziza Inn Hotel. Waktunya yang tak memungkinkan. Kami check in sore, lalu keluar lagi sampai jelang tengah malam. Tidur sampai pagi, keesokan harinya sarapan dan check out. Berharap sekali suatu saat kembali lagi ke sini dan eksplor tempat-tempat di atas berjalan kaki.

Nah, ngomong-ngomong soal sarapan saya dibuat puas sekali oleh menu yang disajikan. Saya turun dari kamar kira-kira jam delapan pagi. Lihat-lihat situasi tampaklah satu meja berisi buah-buahan. Saya yang sebisa mungkin sarapan buah langsung saja mencomot beberapa potong melon, pepaya dan semangka. Habis dua piring! Hahahaha...

Berfoto bareng Mas Bolang usai sarapan di Aziza Inn Hotel Palembang. Foto diambil oleh salah satu staf restoran. Abaikan siluetnya, perhatikan suasana di dalam restoran yang jadi latar belakang.

Karena baru akan dijemput saudara jam 10 lewat, saya memilih tetap di restoran sembari memantau timeline media sosial. Tak terasa sejam lebih berlalu. Eh, kok, perut merasa lapar lagi ya. Karena sudah melebihi jarak aman dari waktu sarapan buah, saya berani mengambil nasi gemuk. Ini istilah orang Palembang untuk nasi gurih. Ditambah sayur, sambal dan kerupuk, sarapan ronde kedua pun dimulai.

Belum lama makanan di piring saya habis, Mas Sutiknyo atau yang lebih beken disapa Mas Bolang muncul. Setelah mengambil sarapan dan meminta telur goreng pada staf restoran, ia duduk di meja saya. Kami pun sarapan sembari ngobrol tentang banyak hal. Beruntung sekali saya sempat bertemu dengan travel blogger top satu ini.

Well, kira-kira jam 10 lewat sedikit sepupu saya menjemput. Begitu kunci kamar saya serahkan pada petugas resepsionis, berakhir sudah kebersamaan saya dengan Hotel Aziza Inn Palembang. Hanya semalam, namun pengalaman ini sangat berkesan. Seperti saya bilang di atas, kalau ada kesempatan saya ingin sekali kembali ke hotel ini dan mengeksplorasi tempat-tempat makan di sekitarnya.

Pasti bakal menyenangkan sekali, sekaligus mengenyangkan! :D

Hotel Aziza Inn Palembang
(sebelumnya bernama Hotel Azza)
Jalan Kapten Anwar Sastro No. 1296
Sungai Pangeran, Ilir Timur I
Kota Palembang 30129

Telp.: (0711) 315574, 314410
E-mail: azzahotelpalembang@yahoo.com



Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

18 komentar:

  1. Wis jadi pengen coba nih untuk merasakan langsung.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cobalah, tarifnya juga nggak bikin kantong bolong kok. :)

      Hapus
  2. Wah kalo mudik lewat darat ke padang bisa mampir nginap sini dulu brarti ya. Sepertinya adem dan asri hotelnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nginap semalam aja, pagi sampe siang jalan-jalan ngerasain Kota Palembang beserta kuliner khasnya. Sore-sorean lanjut jalan ke Padang. Kayanya asyik :)

      Hapus
  3. Menarik sekali cerita nginap di hotelnya mas, jadi pengen ke Palembang suatu saat nanti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Palembang kota tertua di Indonesia, Mas. Sejarahnya sangat panjang, sekaligus sangat agung. Jadi rasanya memang wajib dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup :)

      Hapus
  4. Kasurnya gede, luas lagi. Ayo kita bikin acak-acak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, hahaha. Pas itu dapet double dan sekamar sendirian. Asyik!!!

      Hapus
  5. Suasananya homey, apalagi lantai keramiknya itu kayak di rumah sendiri :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bangat, Mbak Aprie.
      Tidur di sana nyaman banget, kalau aja nggak harus pulang rasa-rasanya maulah extend setidaknya semalam lagi :)

      Hapus
  6. Hehehehe... telat nih baru baca... baru kunjungan ke Palembang :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Next visit ya nyobain nginep di Aziza :)

      Hapus
  7. Kece Mas. Terus mengekspor potensi blog ya mas. Saya meski nginapnya biaya kantor juga saya review. Siapa tahu ke depan mancing rezeki. Ha..ha..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya baru coba-coba, Mbak. Ini review hotel pertama, mumpung ada fotonya juga sih. Terima kasih sudah ikutan baca :)

      Hapus
  8. Tempat tidurnya pengen bikin langsung rebahan. Kayaknya comfy banget ya. Aku belum pernah overnight di Palembang. Pengen ke sana kalau ada kesempatan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Saya tidurnya nyenyak banget malam itu. Deket jalan raya padahal, tapi nggak berisik sama sekali. Ayolah ke sana :)

      Hapus
  9. Rate permalamnya berapa mas? Siapa tau kalau saya lg di Palembang bisa mampir :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, kalau buat Mbak Putri mah tinggal kirim rate card aja. Hikhikhik... :)

      Hapus