Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Minggu, 05 Juni 2016


PENUMPANG pesawat Nam Air penerbangan Palembang-Jakarta pada 17 Mei 2016 siang itu sudah turun semua. Saya masih berpura-pura sibuk dengan tas di kursi yang kanan-kirinya telah kosong ditinggalkan. Mata saya melirik ke depan, kosong. Lalu lirikan beralih ke arah belakang pesawat. Ah, di sana dia rupanya!

Saya tersenyum simpul, lalu menggendong tas dan melangkah menuju pintu keluar bagian belakang. Dua pramugari berdiri di ambang pintu keluar, seorang di antaranya berhijab. Pramugari ini yang saya "incar" untuk difoto sejak pertama kali melihatnya saat masuk pesawat di bandara Palembang.

Sebenarnya agak ragu sih, khawatir ditolak atau dibilang genit atau apalah. Tapi sudah diniati dari tadi ya sudah, jalankan saja. Mbak pramugari berhijab itu seingat saya nama depannya Tria. Begitu dekat saya tersenyum sembari meminta ijin untuk mengambil fotonya.

"Mbak Tria, boleh saya foto?" kata saya sembari mengeluarkan ponsel dari tas kantong celana.

Mbak Tria balas tersenyum. "Boleh," jawabnya singkat. Lalu melanjutkan dengan ucapan yang tidak terpikir oleh saya sebelumnya, "Fotonya sama bapaknya sekalian aja."

Tolong abaikan kata 'bapak' itu ya... :D

Oke. Saya mengiyakan saja. Suer, niat saya sejak awal hanya mengambil foto Mbak Tria, bukan foto bersama. Tapi ya sudahlah, tawaran itu tentu saja tidak saya sia-siakan. Sehabis mengambil foto Mbak Tria dengan pose berdiri di lorong pesawat, saya serahkan smartphone pada pramugari satu lagi. Minta difotokan dengan Mbak Tria.

Jreng, jreng! Jadilah dua foto berikut yang segera saya unggah ke berbagai akun sosial media begitu memasuki terminal kedatangan Bandara Internasional Soekarno Hatta. Dan begini penampakannya di Facebook. #Eaaa



No Photo, Hoax!
Berkali-kali naik pesawat, baru sekali ini saya melihat pramugari berhijab di penerbangan domestik. Hijab yang sebenar-benarnya, bukan sekedar asesoris seperti seragam pramugari beberapa maskapai Timur Tengah. Karena itulah saya tertarik mengabadikan Mbak Tria, pramugari berhijab dalam penerbangan Nam Air tersebut.

Alasan lain juga ada. Saat pertama kali melihat Mbak Tria, sontak saya teringat pada anak perempuan yang setiap ditanya cita-cita selalu menjawab, "Jadi pramugari!" Waktu itu saya tak bisa membayangkan anak gadis saya memakai seragam pramugari yang (maaf) sebagian besar tak menutup aurat. Tapi begitu melihat Mbak Tria saya jadi membatin, "Baiklah, Nak, kamu boleh jadi pramugari karena sekarang pramugari juga bisa berhijab."

Di luar faktor hijab Mbak Tria, satu lagi yang membuat saya berani meminta foto adalah smartphone yang ada di kantong: ASUS Zenfone C. Ponsel yang saya beli tepat di hari keberangkatan menuju Palembang untuk menyaksikan event International Musi Triboatton 2016.

(Baca juga: Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri (Wisata Palembang bagian I))

Saya sempat panik bukan main sewaktu hendak berangkat ke Palembang. Pasalnya saya tak punya ponsel dengan kamera memadai untuk mengabadikan perjalanan ini. Tidak terbayang saya rajin update status selama di Kota Pempek tapi tanpa foto. Bisa-bisa dibilang hoax.

Punya sih smartphone berkamera, tapi kualitas foto yang dihasilkan perangkat ini tak pernah maksimal. Apa yang bisa diharapkan dari kamera 2 MP dengan resolusi 320 x 240 piksel? Saya tak ingin menyesal dengan tetap mengandalkan kamera ponsel ini untuk mendokumentasikan perjalanan wisata di Palembang.

Bukan bermaksud menjelek-jelekkan produk orang ya. Saya sudah memakai smartphone ini sejak 2012. Selama ini hasil foto dan videonya selalu bagus sih, dengan catatan kalau kita mengambil fotonya di luar ruangan dan cuaca cerah ceria. Harus benar-benar terang. Ambillah foto di pagi hari saat matahari belum tinggi benar, atau pada sore hari ketika pergantian siang ke malam, atau di dalam ruangan dalam kondisi minim cahaya, maka hasil fotonya jadi tak karuan.

Pernah saya dibuat kecewa oleh kamera ponsel dimaksud. Ceritanya saya menghadiri seminar Saptuari Sugiharto di Pekalongan di tahun 2013. Saya datang sebagai undangan karena waktu itu masih berstatus kurir Sedekah Rombongan wilayah Pemalang. (Baca juga: Suka-Duka Jadi Kurir Sedekah Rombongan) Tapi sekalipun tidak diundang saya bakal tetap mau datang dan membayar HTM. Seminarnya Saptuari gitu lho!

Habis seminar, panitia menjamu Mas Saptu dan undangan di sebuah rumah makan di bilangan Jl. Imam Bonjol. Selesai makan dilanjut acara foto-foto dengan Mas Saptu jadi "piala bergilir" alias harus berganti-ganti melayani ajakan foto bersama. Saya tak mau ketinggalan. Dengan bantuan seorang kenalan, saya sukses berfoto bersama Mas Saptu. Yes!

Sampai di rumah, saya pindahkan foto tersebut ke laptop untuk dicetak. Niatnya mau dilaminating dan ditempelkan di tembok. Begitu kertas foto keluar dari printer, saya melongo. Gambarnya pecah-pecah alias blur parah. Oh, tidak!


Kamera Hebat, Harga Bersahabat
Tentu saja saya tak mau kejadian mengecewakan seperti itu terulang di Palembang. Saya butuh kamera ponsel yang lebih keren dari yang sekarang sudah dipunyai. Namanya saja wisata, siapa yang tahu kondisi seperti apa yang bakal kita hadapi di perjalanan nanti. Iya kalau cuaca terus-terusan cerah merona. Lha, kalau gelap gundah gulana? Padahal pihak pengundang sudah memberi tahu bakal ada satu acara yang harus kami ikuti, dan acara itu digelar malam hari. Wew!

Jumat, 13 Mei 2016, adalah hari keberangkatan saya menuju Jakarta, sebelum terbang ke Palembang keesokan paginya. Kereta api Tawang Jaya yang akan saya tumpangi berangkat jam 15.56 WIB, tapi sampai jam 10.30 WIB saya masih belum memegang ponsel dengan kamera memadai. Artinya, karena harus salat Jumat saya hanya punya waktu satu jam untuk mencari smartphone ideal.

Sempat berpikir pakai ponsel istri yang kameranya sedikit lebih baik dari smartphone yang saya ceritakan tadi. Tapi untuk mengeset ulang hape tersebut dan mengganti semua akun media sosial istri dengan punya saya, terbayang ribetnya tak cukup satu jam. Solusi lain terlintas: beli ponsel baru saja. Tinggal pilih deh yang kameranya bagus.

Sepertinya ini memang solusi paling masuk akal. Memilih ponsel dengan kamera bagus tidaklah sulit. Tinggal lihat saja saja berapa MP kameranya, lalu fitur-fitur apa yang terdapat di dalamnya untuk mendukung kemampuan pengambilan gambar. Betul, bukan?

Baiklah, kita beli smartphone baru saja. Istri saya yang baik hati meminjamkan Rp1.000.000. Uang itulah yang saya bawa berputar-putar kota Pemalang mencari ponsel dengan kamera aduhai. Hmmm, uang segitu bisa dapat apa? Mungkin ada yang berkata begitu. Percayalah, rejeki saya sedang baik hari itu.

Di satu konter yang lumayan ternama saya berhenti, langsung bertanya sama pegawainya, "Hape ekonomis tapi kameranya bagus yang mana?" Awalnya ditunjukkan satu tipe dengan merek yang sedang digandrungi banyak pengguna Android. Cuma harganya satu koma sekian juta, di atas budget.

"Yang lain ada?" tanya saya lagi. Berusaha tidak menunjukkan ekspresi kaget mendengar harga lebih banyak dari yang ada di kantong.

Pegawai konter itu memberi tahu kalau ponsel ASUS sedang turun harga, dan saya dikasih lihat ASUS Zenfone C. Dual camera, dengan kamera belakang 5 MP dan kamera depan kualitas VGA. Saya bukan tipe blogger suka selfie. Tak masalah kamera depan mau bagaimana, rasanya saya bakal jarang sekali memakainya. Jadi fokus saya hanya pada kamera belakang. Kamera 5 MP rasanya sudah lebih dari cukup.



Oya, layarnya 4,5" lho. Tergolong lebar, sekaligus tidak terlalu besar sehingga pas di genggaman tangan. Desainnya yang minimalis tapi fungsional juga sukses memikat hati saya. Saya memang tipe minimalis dan cenderung pragmatis.

"Berapa ini?" lagi-lagi saya bertanya pada pegawai konter sembari memegangi boks ASUS Zenfone C. Dijawab dengan menyebut sejumlah nominal di bawah sejuta. Ah, cocok ini! Pikir saya. Kamera 5 MP itu sudah sangat mewah sekali untuk ukuran smartphone berharga di bawah Rp 1 juta. Tapi saya harus memastikan kamera ponsel ini sesuai harapan.

"Hasil fotonya gimana?" kata saya lagi, bawel. Kebetulan pegawai lain di konter itu pemakai ASUS, tipe sama tapi yang versi RAM 2 GB. Jadilah saya dipinjami ponselnya untuk melihat-lihat langsung sekaligus mencoba kameranya. Dengan seijin si empunya ponsel, saya lihat-lihat juga galeri foto dalam perangkat tersebut.

Puas melihat-melihat dan mencobai kameranya, saya mantap membeli ASUS Zenfone C itu. "Bungkus!" kata saya pada pegawai konter. Tepat sebelum adzan salat Jumat berkumandang, saya sudah kembali ke rumah membawa ponsel baru.

Mengabadikan Palembang dengan ASUS Zenfone C
Saya tak sempat mencobai ponsel baru tersebut. Hanya mengecas baterainya, lalu bersiap ke masjid bersama anak sulung. Pulang jumatan jam 12.45 WIB. Dipotong makan siang dan menyuap anak sebentar, kemudian sudah dilanjut berkemas karena paling telat jam 15.30 WIB harus ada di stasiun. Itu artinya jam 15.00 WIB berangkat dari rumah.

Kamera ponsel ASUS Zenfone C baru bisa saya coba di Stasiun Pemalang. Sembari menunggu kereta datang, saya coba memotret istri dan anak-anak yang mengantar sore itu. Untuk apalagi kalau bukan update status di Facebook dan Twitter, hehehe...



Ups, kok fotonya tidak terang ya? Batin saya setelah melihat hasil jepretan. Jangan-jangan salah pilih nih? Kecewa? Nanti dulu. Rupanya saya yang belum paham cara kerja kamera ponsel ASUS Zenfone C ini. Kameranya sudah memakai teknologi PixelMasters yang menjamin foto selalu jernih, bahkan di saat pencahayaan minim sekalipun. Ini karena PixelMasters membuat foto lebih terang 400% alias empat kali lipat.

Saat pertama membuka kamera biasanya tampilan memang terlihat gelap. Tapi coba arahkan kamera pada objek dan diamkan selama beberapa detik, maka secara otomatis kamera akan mengatur pencahayaan untuk membuat foto terlihat lebih terang dari aslinya. Terus jepret deh.

Kalau masih kurang terang, gunakan mode cahaya redup. Saat kita mengambil foto dalam suasana redup, akan muncul gambar kepala burung hantu di monitor. Sentuh saja dan lihat bagaimana tampilan foto jadi semakin jernih. Untuk mengatasi kontras yang berlebihan, ASUS Zenfone C menyediakan mode HDR (High Dynamic Range) sehingga foto terlihat lebih keren.

Dan semua itu baru saya tahu saat tiba di Palembang. Jadi harap maklumi saja kalau foto-foto pertama selama berwisata di Kota Pempek masih terlihat agak-agak gelap. Masalahnya begitu kamera on dan bidikan dirasa pas, langsung deh pencet tombol jepret. Saya tidak menunggu kamera menyesuaikan pencahayaan agar lebih terang dulu.

Maklumlah, namanya juga inreyen. Masih kagok ceritanya. Hehehe...

Destinasi pertama kami di tanggal 14 Mei adalah mengikuti kelas Akber Palembang dengan narasumber travel blogger top, Muhammad Arif Rahman. Setelah itu dilanjut makan siang di atas rumah makan terapung yang ada di tepian Sungai Musi, di bawah Jembatan Ampera. Mumpung di Palembang, kita makan pindang dulu...




Warung makan terapung di tepian Sungai Musi, suasana dapur di warung tempat kami makan siang, dan pindang patin dengan es jeruk yang saya pesan. Semua foto diambil menggunakan ASUS Zenfone C.

Hari kedua saya sudah semakin mahir memaksimalkan kamera ASUS Zenfone C. Ditambah lagi cuaca Palembang pada tanggal 15 Mei itu cerah ceria. Menjurus panas sebenarnya. Langit biru terang dengan awan putih bak kapas bergumpal-gumpal bergerak perlahan ditiup angin.

Kalaupun harus mengambil foto dalam kondisi kurang cahaya, saya tahu apa yang harus dilakukan. Tinggal tunggu sebentar sampai kamera menyesuaikan pencahayaan secara otomatis, kalau kurang terang aktifkan mode cahaya redup. Masih gelap? Pakai saja mode HDR. Beres!

Pagi hari begitu membuka jendela Hotel Amaris saya sempatkan mengambil foto langit Palembang yang biru bersih. Kamar saya berada di lantai 8, jadi pemandangannya sangat bagus untuk diabadikan. Cari-cari view terbaik, tunggu sebentar agar kamera "menyesuaikan diri", dan cekrek!

Jadilah foto langit Palembang yang biru dengan saputan awan putih, di bawahnya terlihat atap-atap bangunan berjejer. Hasilnya langsung saya unggah di Instagram.

Selamat pagi dari lantai 8 Hotel Amaris Palembang. Langitnya cerah banget pagi ini.

A photo posted by Eko Nurhuda (@bungeko_) on



Selepas mencicipi Mie Celor HM Syafei, kami diajak menyeberangi Sungai Musi menuju ke Pulau Kemaro. Wah, ini saat yang paling saya tunggu-tunggu! Baterai smartphone dan kamera digital sengaja saya awet-awet demi mengabadikan perjalanan air ini. Perjalanan yang sontak mengingatkan saya pada lagu Sebiduk di Sungai Musi milik Alfian.

Di atas perahu ketek, sembari menemani Mamang Perahu di belakang kemudi saya mengambil banyak foto menggunakan ASUS Zenfone C. Sebagian saya unggah di Instagram, beberapa lainnya di Twitter, sisanya di Facebook. Tak lupa pula saya abadikan buritan perahu dengan latar belakang air sungai, dan Jembatan Ampera terlihat sangat kecil di kejauhan.

Saya juga mulai bermain-main dengan angle. Ya, supaya hasil fotonya tak cuma kapal atau rumah-rumah panggung di tepian Sungai Musi saja. Obyek lain yang saya bidik adalah Mamang Perahu, yang terlihat tenang-tenang saja sewaktu saya mengambil fotonya saat tengah mengemudikan perahu ketek. Juga polah teman-teman seperjalanan.



Mamang Perahu mendorong perahu dari dermaga di tepian sungai, teman-teman blogger terlihat menikmati perjalanan menyusuri Sungai Musi menuju ke Pulau Kemaro. Semua foto diambil menggunakan ASUS Zenfone C.

Langit cerah di atas Sungai Musi, Jembatan Ampera di kejauhan.

A photo posted by Eko Nurhuda (@bungeko_) on



Singkat cerita, sampailah kami di Pulau Kemaro. Begitu menginjakkan kaki di atas pulau yang terletak di tengah-tengah Sungai Musi tersebut, teman-teman lain langsung sibuk mengeluarkan kamera masing-masing. Travelmate saya saat itu serombongan travel blogger top. Bekal mereka kamera DSLR, minimal ya kamera mirrorless. Hanya saya yang cekrak-cekrek pakai kamera ponsel. :D

Tapi saya tak mau kalah. Pede saja saya arahkan kamera ASUS Zenfone C ke berbagai sudut untuk mengabadikan Pulau Kemaro nan legendaris berbalut mistis. Hasil fotonya membuat saya tersenyum puas.

Kembali ke Kota Palembang, sejumlah agenda lain menanti kami. Salah satunya jamuan makan siang bersama Ibu Irene Camelyn Sinaga, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Selatan. Kami diajak makan di RM Pempek Pak Raden yang terkenal itu. Ah, akhirnya makan pempek juga! Seru kami bertiga, senang.

Pempek Pak Raden masuk dalam daftar rekomendasi tempat makan pempek di Palembang. Karenanya kami senang bukan main sewaktu tahu diajak ke sana. Tentu saja pempek-pempek yang terhidang di meja jadi obyek foto terlebih dahulu sebelum masuk ke mulut. Maklumlah, kami ini blogger rempong. Hehehe...

Saya sendiri memanfaatkan momen ini untuk menjajal kemampuan ASUS Zenfone C mengambil foto di dalam ruangan. Meski saat itu siang bolong, ruangan VIP RM Pempek Pak Raden tertutup rapat. Dari tiga sisi tembok, hanya satu tembok yang berjendela dan menghadap sumber cahaya. Itupun jendelanya tertutup kain gordin merah, lalu di bagian luar terdapat halaman parkir beratap yang penuh dengan deretan mobil.

Pendek kata, pencahayaan di dalam ruangan tersebut tak memadai untuk kamera ponsel. Tapi coba lihat hasil jepretan saya yang diunggah ke Instagram berikut ini.

Pempek Pak Raden, Palembang. With @travelerien @relindapuspita

A photo posted by Eko Nurhuda (@bungeko_) on



Di akhir perjalanan, saya bersyukur sekali telah memilih ASUS Zenfone C jelang keberangkatan ke Palembang. Tanpa bermaksud menyanjung, saya merasa sangat puas dengan hasil-hasil foto kamera smartphone satu ini. Begitu jernih dan tajam untuk ukuran kamera ponsel. Kunjungan ke Kota Pempek terasa lebih berkesan karena saya bisa mengabadikannya dalam bentuk foto.

Saya juga tak risau soal media penyimpanan. ASUS Zenfone C dibekali internal storage sebesar 8 GB. Dikurangi 4 GB yang dialokasikan bagi kinerja sistem dan aplikasi-aplikasi pendukungnya, masih ada ruang sebesar 4 GB yang sangat besar digunakan menampung foto.

Setelah menghabiskan tiga hari di Palembang dan mengambil begitu banyak foto, ruang penyimpanan ponsel saya masih sangat lega saat kembali ke Jawa. Karenanya begitu melihat pramugari berhijab di pesawat, saya tak membuang-buang kesempatan untuk mengabadikan sosoknya.

"Terima kasih ya, Mbak," kata saya pada Mbak Tria dan rekannya sembari menuju tangga pesawat, turun ke landasan. Keduanya membalas dengan ucapan sama, diiringi senyum manis dan dua telapak tangan tertangkup di depan dada.

Ah, sayangnya saya tak menanyakan akun media sosial Mbak Tria. Ada yang tahu?



Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

37 komentar:

  1. Hasil jepretan kameranya bagus ya :) mantap dech

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dia yang bikin saya suka. Langsung impress sama hasil jepretannya. Nggak kebayang kalo pake seri yg lebih bagus, yg kameranya 13 MP. Wow!

      Hapus
  2. EH kok sama ya dengan smartphone yang dipakai suamiku Zenfone C, tapi kayaknya Zenfone laser sama Selfie, lebih besar MP kameranya ya, pasti lebih bagus lagi deh hasilnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas beli sama petugas konternya dikash tahu ada dua tipe Zenfone C, cuma saya nggak terlalu memperhatikan karena yang tersedia yg akhirnya saya beli ini. Mayanlah buat jepret-jepret, ada flash-nya juga.

      Hapus
  3. wih ada juga pramugari berkerudung toh mas eko,,,langka tuh. hehehe

    bagus juga hasil jepretannya mas,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Kang. Saya juga baru pertama kali lihat itu, makanya langsung diajak foto :)

      Hapus
  4. bung Eko keren ih postingan lombanya.. super lengkap
    semoga dapat satu lagi ponsel Asus

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, makasih banyak, Kakak. Namanya juga usaha. Doanya saya aminkan saja ya? :D

      Hapus
  5. waah keren, super lengkap tulisannya. good luck untuk GA nya dan salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, makasih ya. Ada yang masih kelupaan diceritain, tapi kalo ditulis juga nggak nyambung sama ceritanya. :)

      Hapus
  6. Haha...ngga nahan panggilan "Bapak" nya. Wkwkwk.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, muka saya boros sih ya. :)

      Hapus
  7. Wah, keren ceritanya.. gak jadi ikut give way ah.. aku dukung kisah ini aja yg jadi pemenang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah, jangan begitu, Mas. Buat aja, buat yang lebih bagus dari artikel saya ini. Tapi makasih untuk doanya. :)

      Hapus
  8. Hahahaha dasar mbak pramugari yang genit ... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, setelah itu jadi nggak enak sama pramugrai satunya yang dimintai tolong ambil foto. :D

      Hapus
  9. Ceritanya woww...lengkap. sukses ya untuk GAnya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, saya nahan malu nyeritain ini padahal :)

      Hapus
  10. Salam kenal :D
    Pramugari nya cantik, adem liatnya
    Hasil fotonya juga keren :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal lagi, Mas Handiko? Boleh wis. Padahal kayanya bulan kemarin udah nulis komen bilang salam kenal juga. Hihihihi...

      Hapus
  11. Keren banget Story nya bang eko, ditambahlagi fotografinya yang sangat bagus. Pencahayaannya keren punya. boleh dong ajarin cara potret yang bener :) hehe

    baca juga kisahku yah bang eko, sekalian bw :D http://goo.gl/OPYTBq

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, terima kasih pujiannya. Saya cuma menceritakan pengalaman saja, dan soal fotografi itu tentu terbantu sama perangkatnya juga sih. Iya nggak sih? :D

      Hapus
  12. Balasan
    1. Ah, Kang Didik kembali mampir.
      6 Juni dan sekarang 4 Juli, dua-duanya ninggalin komentar. Makasih banyak, Kang. Mbak Tria emang cantik, mudah-mudahan bisa ketemu lagi kalo naik Nam Air :D

      Hapus
  13. Keren Artikelnya, Ceritanya juga bagus. Smoga mnang bung eko :D salam kenal

    BalasHapus
  14. kualitas kamera yang bagus memang bikin kita semangat jeprat-jepret ya mas. saya juga pernah gitu foto sama musisi yang saya sukai, hasilnya mengecewakan karena kamera hapenya nggak mendukung :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hsehe, dulu jaman anak-anak masih kecil suka ajak jalan-jalan malam, ngerekam kok hasilnya cuma bagus di hape itu aja. Kalo diputar di laptop atau tablet yang agak gedean hasilnya gak bagus. Sekarang pake ASUS Zenfone C hasilnya keren :)

      Hapus
  15. Palembang, menjadi salah satu kota yang ingin kukunjungi. Semoga suatu saat jodoh dan rejeki bisa membawaku kesana. Amin... Salam dari Pontianak ya Mas Bro... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum pernah ke Palembang ya? Kalo saya dulu punya kawan asal Pontianak, juga Singkawang, jadi lumayan terobsesi sama Kalbar. Terlebih pas kawan ngasih tahu dari Ponti bisa ke Kuching naik bus. Wah, pengen! :)

      Hapus
  16. Wah... kualitas potonya ASUS Zenfone tetep kece oke ya kak...
    Bonus bngt bisa poto bareng pramugari loh, eciee hheee
    Kamera smartphonenya hampir sama punya saya, kamera depanmash VGA hhee
    Lebih kece ini ASUS Zenfone 2 LAser ZE550KLnya hee

    Sukses utk GA nya yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, entah kenapa pas itu begitu liat mbak pramugari ini langsung kepikiran ngajak foto bareng. Sengaja banget turun paling belakang buat meminimalisir rasa malu :D

      Hapus
  17. Saya juga mikir, kenapa pramugsri berhijab belum mulai diperbolehkan oleh maskapai domestik? Padahal bisa kelihatan smart, modis dan elegan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang jelas bikin imej pramugari gak negatif lagi. Banyak desas-desus soal kehidupan pramugari yang, konon, lekat dengan dunia bebas termasuk seks bebas. Meski hijab bukan ukuran, tapi setidaknya pramugari berhijab cukup tahu menjaga diri dari hal-hal yang tidak diperbolehkan menurut norma agama :)

      Hapus
  18. Weheheee... Mas Eko modus banget nih ke Mba Tria. Etapi emang cantik buanget ya Mba Tria, sekaligus tampil sebagai pramugari anggun.

    Terima kasih sudah ikutan GA Aku dan #KameraPonsel. Good luck.

    BalasHapus