Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 17 Juni 2016


SAYA lupa nama masjid ini. Terletak di tengah-tengah perkampungan transmigrasi Blok A Batumarta VIII, Kec. Madang Suku III, OKU Timur, Sumatera Selatan. Saya masih kelas V SD saat masjid ini didirikan medio 1993, alias 23 tahun lalu. Satu hal yang saya ingat, masjid ini berdiri berkat kekompakan serta pengorbanan warga di sekitarnya.

Awalnya Blok A hanya punya satu langgar kayu kecil sebagai pusat peribadatan. Tentu saja tidak cukup karena langgar ini begitu kecil. Utamanya saat salat tarawih dan salat Ied. Jamaah tumpah ruah hingga ke halaman, menggelar tikar atau potongan karung di atas tanah.

Pak Salim sebagai Ketua RT sekaligus tetua kampung tanggap dengan situasi ini. Beliau menggagas sebuah usulan visioner: setiap kepala keluarga diminta menyedekahkan satu baris dari kebun karet masing-masing untuk biaya pembangunan masjid. Ya, alih-alih meminta sedekah uang, Pak Salim justru meminta sumber uangnya!

Warga kompak menyepakati usulan ini, secara sukarela melepas satu baris kebun mereka. Itu berarti sekitar 10 batang. Garis batas kebun diubah dengan kesepakatan bersama, sehingga Blok A punya kebun khusus inventaris kampung. Hasil panen kebun karet tersebut sepenuhnya untuk membiayai pembangunan masjid.

Tak berhenti sampai di situ, warga bergotong-royong menyumbangkan tenaga saat proyek pembangunan masjid dimulai. Kurang dari setahun sejak pondasinya ditanam, masjid kebanggaan warga Blok A Batumarta VIII ini pun berdiri megah.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis "1001 Kisah Masjid”


Word count (menurut WordCounter.net): 210 kata, 1.448 karakter


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

22 komentar:

  1. Subhanalloh, warga desanya kompak ya... sampai merubah garis batas kebun. Oh ya, kalo garis batasnyadi rubah, berarti mempengaruhi sertifikatnya, kan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mmmm, saya kurang paham juga apakah sampai sertifikatnya diubah, atau hanya kesepakatan bersama saja batasnya digeser dan diingat sama-sama. Saya nggak kepikiran sampai sana waktu mendengar cerita ini, masih kelas V SD. Kalau sampai ubah sertifikat ya mayan juga tuh.

      Hapus
  2. kupikir ini masjid kuno yang dibangun dg keajaiban getah karet.mirip2 candi gitu mba hahaha
    Tapi keren, mba..pasti jadi kenangan indah ya masjid itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, judulnya menjebak ya, Mbak? Maafkan kalo gitu. :)

      Hapus
  3. wah pasti masjidnya indah banget ya mas Eko, insah karena dibangun dengan sukarela dan penuh kebersamaan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masjidnya nggak terlalu besar. Waktu saya masih di sana masjidnya sederhana saja. Entahlah sekarang seperti apa bentuknya, harusnya dengan sumber pembiayaan tetap ada perkembangan dan lebih terawat.

      Saya pengen banget menyambangi masjid ini lagi. Sudah 20 tahun nggak solat di sana.

      Hapus
  4. masjid yang penuh berkah karena dibangun dengan kebersamaan, teman ku kerja di OKU, katanya hutan banget tempatnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, banyak kebon karetnya. Jarak antar satu kampung ke kampung lain jauh banget, lebih banyak perkebunan ketimbang pemukiman warga.

      Hapus
  5. Waah ternyata pembangunan masjidnya dari getah karet ya Mas.Saat membaca judulnya kirain ada masjid dibuat dari getah karet....Ajaib bener.Tapi salut buat warga yang bergotong royong membangun masjid.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, satu lagi yang terjebak. Tapi maknanya sama saja kan ya. Jadi biaya pembangunan masjid ini dari hasil penjualan getah karet, hihihi...

      Pembangunan masjid ini masih jadi inspirasi bagi saya. Terutama kerelaan warganya yang mau menyedekahkan satu baris dari kebunnya. Hanya satu baris, tapi kalau tidak ikhlas ya tidak akan mau.

      Hapus
  6. Nah yg begini saya suka. Swadaya untuk bersama... semoga semangat kebersamaannya terus terpelihara ya mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Inspiratif sekali pengorbanannya.

      Hapus
  7. Saya sudah datang ke sini dan membaca tulisan ini
    Terima kasih telah berkenan untuk ikut meramaikan Lomba Menulis : 1001 Kisah Masjid di blog saya
    Semoga sukses.

    Salam saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Pak.
      Kontesnya menarik sekaligus menantang :)

      Hapus
  8. Ternyata tidak ada yang tidak mungkin :)

    BalasHapus
  9. Tak kirain beneran dari getah karet, ternyatahhhh... Salam kenal dari @Pontianak Bang Bro :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, maaf ya, Bang. Judulnya gak salah kan, cuma memang persepsi orang langsung ngirain masjidnya beneran literally dibangun dengan getah karet.

      Hapus
  10. Waah, sudah puluhan tahun yang lalu. Kenangan indah, dan mudah2an masjidnya ada terus.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masjidnya masih ada kok, Mbak. Itu di Google Maps masih kelihatan. Cuma memang itu entah citra kapan. Tapi saya lihat banyak sekali perubahan, jadi sepertinya map tersebut kondisi terkini.

      Hapus