Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 13 Juni 2016


SALAH satu lagu lawas yang saya hapal di luar kepala ada Sebiduk di Sungai Musi-nya Alfian. Maklum saja, Sungai Musi sangat lekat dengan masa kecil saya yang lahir dan dibesarkan di Palembang. Jadi saya merasa punya keterlibatan secara emosional dengan lagu tersebut. Siapa sangka jika kemudian saya benar-benar mengalami perjalanan naik biduk di sungai legendaris itu.

Oya, sebelum kita lanjutkan, posting ini adalah lanjutan dari bagian pertama yang bisa dibaca di Jadi Turis di Kota Kelahiran Sendiri (Wisata Palembang bagian I).

Setelah melihat etape terakhir ajang International Musi Triboatton 2016 dari plaza Benteng Kuto Besak pada 14 Mei, hari kedua di Palembang kami habiskan dengan menyusuri objek-objek menari di sepanjang Sungai Musi. Masih "dikawal" Mbak Ira Hairida dan Mas Jony dari Tim Digital Marketing Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Palembang, destinasi pertama kami adalah Pulau Kemaro.

Wah, agenda ini kontan membuat saya bersemangat. Sudah lama sekali saya dibuat penasaran oleh Pulau Kemaro. Berawal dari cerita Bapak sewaktu saya kecil yang sekali waktu mengatakan, "Di tengah Sungai Musi tuh ado pulau, namonyo Pulau Kemaro." Bapak tak banyak bercerita mengenai pulau berbalut mistis ini. Namun keberadaan pulau di sebuah sungai sudah menarik saya sebagai seorang anak.

Masa itu saya hanya tahu Pulau Samosir sebagai pulau di dalam pulau. Rupanya selain Samosir ada pula Pulau Kemaro. Bedanya, Samosir berada di tengah danau sedangkan Kemaro berada di tengah sungai. Dua-duanya sama-sama ada di Pulau Sumatera.

Begitu mengenal internet, saya puaskan rasa penasaran terhadap Pulau Kemaro dengan Google Earth. Juga berbagai bacaan mengenai pulau ini. Dan ketika secara resmi diumumkan sebagai salah satu pemenang lomba blog Jelajah Musi Triboatton 2016, saya kembali intens melahap berbagai referensi mengenai Pulau Kemaro. Terutama sekali video di YouTube.

Pagi hari selepas mandi dan berkemas saya turun ke restoran Hotel Amaris Palembang untuk sarapan. Ah, melihat sawi putih ditumis dan kentang rebus besar-besar saya jadi kalap. Sat-set, sat-set, beberapa potong kentang rebus berpindah ke piring menemani tumis sawi. Sampai di meja saya baru sadar kalau porsi saya terlalu besar. Padahal Mbak Ira berencana mengajak kami sarapan mie celor, salah satu kuliner khas Palembang.

Tapi pantang bagi saya menelantarkan makanan yang sudah tersaji di piring. Okelah, kita kunyah pelan-pelan. Saya sampai ditinggal Mas Wira Nurmansyah dan Mas Jony karena terlalu lama sarapan. Untunglah tak lama kemudian duo blogger perempuan sesama pemenang lomba blog Jelajah Musi, Mbak Relinda Puspita dan Mbak Katerina S, datang mengambil tempat duduk di meja saya.

Sempat dibahas sih porsi sarapan saya yang terlalu banyak itu. Saya masih ingat lirikan Mbak Relinda ke piring di hadapan saya pagi itu. Mbak Rien mengingatkan kalau kami akan dibawa mencicipi mie celor. Saya pasrah. Perut sudah terlalu kenyang oleh kentang rebus dan tumis sawi. Lagipula entah kenapa saya kurang berselera mendengar kata "mie" tadi. Mantan anak kos, saya terlalu akrab dengan mi instan.

Sesampainya di Mie Celor HM Syafei di kawasan 26 Ilir, saya hanya memesan es jeruk dan mengambil beberapa bungkus kerupuk ikan. Mas Wira berulang kali menggoda, sampai akhirnya saya tergoda juga mencicipi barang sesendok dari piringnya. Dan, cukup, saya memang tidak dibuat berselera oleh makanan satu ini.



Sebiduk di Sungai Musi
Lepas itu kami langsung bertolak ke kawasan dermaga di bawah Jembatan Ampera. Mbak Ira memarkir mobil di pelataran parkir Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Begitu kami keluar mobil, segerombolan mamang perehu ketek mendekati kami. Negosiasi singkat, kamipun sepakat memakai jasa salah satu dari mereka.

Perahu yang kami tumpangi tak terlalu besar, bermesin diesel sehingga saat berjalan mengeluarkan suara yang terdengar berbunyi "ketek-ketek-ketek-ketek..." Dari sinilah asal-usul penyebutan perahu ketek. Sebutan asli untuk perahu yang lalu-lalang di Sungai Musi adalah biduk. Ingat judul lagu Alfian tadi?

Harus saya akui, inilah kali pertama saya naik biduk. Ya, saya lahir dan menghabiskan 10 tahun pertama dalam kehidupan saya di Palembang. Sungai Musi juga sangat akrab bagi saya masa itu, tapi naik biduk soal lain. Berulang-kali mengunjungi Palembang setelah pindah dari kota tersebut pada 1992, tak sekalipun terbersit keinginan untuk naik perahu ketek.

Air sungai tengah pasang ketika kami dibawa menyeberang ke hilir. Ombak besar membuat perahu bergoyang-goyang kencang, terutama jika berada di tengah-tengah sungai. Saya yang tadinya duduk di bangku bersama Mbak Gladies, istri Mas Muhammad Arif Rahman, pindah ke bagian buritan demi mendapat pemandangan lebih lepas. Sempat mencoba berkomunikasi dengan si mamang, tapi suara mesin terlalu keras untuk dihalau oleh teriakan kami.

Di dekat pabrik PT Pusri, mesin perahu mati sendiri. Mamang perahu ketek sigap membuka lantai perahu di dekat kemudi untuk mengecek kondisi mesin. Lalu ia membuka kaos dan mencemplungkan separuh badannya ke air, mengecek buritan perahu.


"Ngapo, Mang?" saya tak bisa tidak bertanya ketika si mamang keluar dari air.

"Ada sampah nyangkut," jawab si mamang singkat sembari tersenyum. Meski saya mengajaknya berbahasa Palembang, ia selalu menjawab dalam bahasa Indonesia. Hanya lidahnya saja yang masih kental logat Palembang.

Si mamang kembali ke balik kemudia dan menghidupkan mesin. Sekali-dua ayun mesin masih belum mau hidup. Perahu sempat terbawa arus dan berubah posisi jadi melintang. Barulah pada percobaan ketiga mesin diesel tersebut menderu-deru, cerobongnya mengepulkan asap hitam tebal. Perahu kembali melaju.

Kira-kira setengah jam perjalanan kami sampai di Pulau Kemaro. Sebuah pulau yang sejatinya adalah delta sungai. Bentuk pulau ini setengah lonjong, nampak jelas dari udara ketika pesawat memasuki atau akan keluar dari kota Palembang. Begitu perahu bersandar di dermaga, pengunjung langsung disambut oleh deretan pohon palem dan pagar beton rendah bercorak merah.

Stumbling to this view in Pulau Kemaro. Let's say it's a mini palm river. #musitriboatton2016 #pesonasriwijaya

A photo posted by Relinda Puspita (@relindapuspita) on



Saya sengaja menghemat baterai hape demi mengambil banyak foto di Pulau Kemaro. Kamera digital bahkan hanya saya pakai sesekali saja demi mengabadikan eksotisme pulau ini. Barulah ketika perahu merapat di dermaga, saya keluarkan kamera digital untuk membuat video. Sayang, misi ini tak sepenuhnya sukses. Baru sampai Kelenteng Hok Cing Bio, memori yang saya bawa habis.

Ah, padahal sudah ditahan-tahan tidak merekam terlalu banyak footage selama naik perahu ketek. Cek dan ricek, rupanya saya lupa membersihkan isinya sebelum berangkat ke Palembang. Masih ada beberapa bahan video untuk kanal YouTube anak-anak yang tersisa di sana. Mau dihapus saya ragu apakah file video tersebut sudah di-back up di latop.

Apa boleh buat, saya hanya bisa mengabadikan pagoda sembilan lantai yang jadi landmark Pulau Kemaro dalam bentuk foto menggunakan ponsel. Tak apa, toh, sebagian isi Pulau Kemaro sudah terekam. Anggap saja saya memang di-setting untuk sepenuhnya menikmati suasana di sekitar pagoda sembilan lantai dan Pohon Cinta.

Berbarengan dengan kami, ada serombongan alumnus SMA Xaverius I Palembang tengah mengadakan reuni. Mereka berkumpul di bagian depan pagoda, sehingga saya harus menahan diri sampai mereka bubar untuk bisa mengambil foto pagoda dari muka. Eh, mereka ternyata baru bubar pas kami sudah beranjak meninggalkan pulau. Saya jadi berlari lagi ke arah depan pagoda dan menyempatkan mengambil beberapa foto.

Matahari tepat berada di ubun-ubun.



Kampung Arab al-Munawar
Dalam perjalanan balik ke Palembang, Mbak Ira meminta mamang ketek berhenti di Kampung Arab al-Munawar. Sebuah kampung tua berusia ratusan tahun di kawasan 13 Ulu, pusat keturunan Hadramaut di Palembang. Kami berjalan menyusuri gang-gang yang tak bisa dibilang lebar, dengan rumang-rumah dua lantai khas Palembang.

Orang pertama yang kami temui di dalam kampung ini langsung meyakinkan saya bahwa tempat ini menyimpan banyak cerita. Wajah-wajah berwajab arab, dengan hidung mancung, mata tajam, serta alis legam nyata menunjukkan penduduk Kampung al-Munawar adalah keturunan Hadramaut di Yaman.

Cerita lebih jelas kami peroleh dari Bapak Muhammad al-Munawar, Ketua RT yang juga merupakan generasi keenam keturunan langsung leluhur kampung: Habib Hasan al-Munawar. Cicitnya cicit Habib Hasan. Menurut istilah jawa, Pak Muhammad adalah udhek-udhek Habib Hasan.

Kami juga diberi kesempatan melongok ke dalam rumah Ibu Lathifah al-Kaab, yang masih satu garis keturunan dengan Pak Muhammad. Ibunya Bu Lathifah bermarga al-Munawar. Namun karena menikah dengan pria bermarga al-Kaab, Bu Lathifah dan seluruh saudaranya menyandang nama famili al-Kaab.

Turut penuturan Bu Lathifah, rumahnya merupakan salah satu dari delapan rumah asli Kampung al-Munawar yang dibangun di era Habib Hasan. Rumah-rumah tersebut dibangun untuk anak-anak Habib Hasan, dan rumah-rumah itulah yang menjadi cikal-bakal kampung. Meski berusia nyaris 300 tahun, bangunan tersebut masih tampak kokoh dan gagah.

Bu Lathifah menceritakan kalau lantai rumahnya bukan marmer biasa, melainkan semacam granit yang didatangkan langsung dari Italia. Lalu kami dibuat terpana oleh pintu-pintu besar di rumah tersebut. Besar dan tinggi, saya rasa tingginya lebih dari dua meter. Di salah satu dinding terpajang silsilah keluarga.


Bapak Muhammad al-Munawar (kaos hijau) menceritakan sejarah Kampung Arab al-Munawar kepada rombongan blogger Jelajah Musi Triboatton 2016, 15 Mei 2016. Foto: dokumen pribadi.

Silsilah ini menjawab pertanyaan saya mengapa saat bercerita Pak Muhammad selalu menyebut leluhurnya sebagai Habib Hasan. Sebutan "habib" bagi Habib Hasan al-Munawwar tentu ada alasannya. Jika dirunut-runut, garis keturunan Habib Hasan al-Munawwar sampai ke Rasulullah Muhammad SAW. Ya, beliau keturunan langsung Rasulullah karenanya mendapat panggilan Habib. Cuma saya lupa menghitung Habib Hasan al-Munawwar keturunan Rasulullah yang keberapa.

Saya kemudian bertanya, apakah mantan Menteri Agama Said Agil Husin al-Munawar adalah juga keturunan Habib Hasan al-Munawar. Tapi menurut Pak Muhammad, Said Agil bukan keturunan al-Munawar di Palembang. Menurutnya, al-Munawar ada dua: di Palembang dan di Semarang. Keduanya kakak-adik. Nah, Said Agil adalah keturunan al-Munawar Semarang yang lebih dikenal sebagai klan Toha Putra.

Saya agak dibuat heran oleh penjelasan ini karena Sadi Agil kelahiran Palembang. Eks menteri tersebut adalah lulusan Madrasah Ibtidaiyah Munawariyah 13 Ulu, dan alumnus Fakultas Syari'ah IAIN Raden Fatah Palembang. Mungkin butuh penelusuran lebih komperehensif untuk mengungkap hal ini. Yang jelas di kawasan Kauman Semarang memang terdapat keturunan al-Munawar dengan tokohnya Habib Toha al-Munawar.

Kira-kira setengah jam di Kampung al-Munawar, kami pun kembali naik perahu ketek ke Palembang.

Akhirnya Ketemu Tekwan!
Agenda selanjutnya adalah makan siang. Di luar dugaan, Mbak Ira membawa kami ke RM Pempek Pak Raden di kawasan Radial. Ini juga jadi kali pertama saya masuk rumah makan top tersebut. Orang Palembang mana yang tak tahu Pempek Pak Raden? Sejak saya kecil namanya sudah ngetop.

Kejutan bertambah karena kami diajak masuk ke ruang VIP, dengan meja-kursi yang dihias dan ditata rapi. Alamak! Kami benar-benar merasa disambut oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan. Tak lama kami duduk, Kadisparbud Sumsel Ibu Irene Camelyn Sinaga datang dan langsung menyalami kami satu per satu.

Yang bikin saya kaget, ternyata si Ibu bisa berbahasa Jawa kromo. Beliau menyapa saya dengan bahasa Jawa halus yang mau tak mau saya jawab dengan level kesopanan sama. Dan di situlah terungkap kalau Bu Irene terpikat oleh cerita melow saya. Hihihihi...



"Itu kisah nyata ya, Mas?" tanya Bu Irene menyinggung posting saya. (Baca: Musi Triboatton, Balap Perahu Menyusuri Venesia dari Timur)

"Iya, Bu. Kisah nyata masa kecil," jawab saya. Tak menyangka kalau ungkapan kerinduan pada tanah kelahiran nan mendayu-dayu pada posting tersebut ada yang menyukai.

Kami lalu makan-makan. Namanya restonya memang RM Pempek Pak Raden, tapi ada banyak menu lain yang disediakan. Mbak Rien yang masih penasaran dengan pindang kembali memesan pindang. Seingat saya pindang baung. Sedangkan saya ingin mencicipi tumis kangkung, lalapan segar, dan sambal. Aduh, selera kampung. Hahaha...

Dasar perut karet, selepas makan siang kami masih memesan pempek. Mbak Rien sepertinya tidak terlalu tertarik, atau sudah kekenyangan pindang. Entahlah. Yang jelas saya dan Mbak Relinda masih bersemangat mengunyah pempek. Dan tandaslah seporsi pempek campur Pak Raden dalam waktu sekejap. :)

Habis itu rencananya kami diantar ke hotel dan beristirahat. Cuma Mas Sutiknyo aka Bolang memberi ide lain, yakni ke Bukit Siguntang untuk mengulik sedikit sejarah Sriwijaya. Oke, berangkat! Bukit Siguntang adalah dataran tertinggi di Kota Palembang. Di sini banyak ditemukan benda purbakala yang diduga berasal dari jaman Kerajaan Sriwijaya.

Setelah beristirahat sebentar dan mandi di hotel, jelang setengah enam sore kami kembali menyusuri jalanan Palembang. Plaza Benteng Kuto Besak jadi tujuan karena kami akan menghadiri acara penutupan International Musi Triboatton 2016. Tapi sebelum itu Mbak Ira mengajak kami ke River Side Restaurant, sebuah restoran seafood berbentuk kapal yang berada di tepian Sungai Musi.

Okelah, kita makan lagi. Mas Bolang memesankan seporsi kepiting besar, lalu Mbak Rien lagi-lagi memesan pindang, tapi saya lebih suka sayur-sayurannya. Acara makan yang terburu-buru karena Mbak Ira berulang kali mengingatkan, "Sebelum jam tujuh sudah harus ada di venue ya." Dan kalimat tambahannya bikin kami kaget, "Nanti kalian disuruh naik panggung, disebut namanya satu-satu." Wow!

Rasanya makanan yang kami santap masih berada di tenggorokan ketika meninggalkan River Side. Malam itu juga merupakan pembukaan Sumsel Expo 2016. Sepanjang jalan di plaza Benteng Kuto Besak sudah ramai oleh beberapa stand pedagang dan pejalan kaki. Tak sampai lima menit, kami sudah tiba di venue penutupan International Musi Triboatton 2016.



Acara dibuka dengan Tari Gending Sriwijaya. Lalu ada satu tarian lagi yang saya tak tahu namanya, disusul sambutan-sambutan dari sejumlah pejabat dari tingkat kotamadya, propinsi, hingga Kementerian Pariwisata RI. Saya lebih memilih ke bagian belakang venue, dimana terdapat sederet meja panjang yang menyuguhkan aneka makanan khas Palembang.

Saya susuri satu-satu meja demi maju, sampai akhirnya ketemu yang saya cari: tekwan! Maaf kalau terdengar baper, tapi saya punya banyak kenangan dengan makanan ini. Cerita selengkapnya biar saya sendiri yang tahu.

Setelah itu barulah pemenang lomba-lomba diumumkan, termasuk lomba blog. Satu per satu nama saya, Mbak Rien dan Mbak Relinda dipanggil ke atas panggung. Satu momen lucu adalah ketika perwakilan Kemenpar RI yang didaulat menyalami kami bertanya pada MC, "Hadiahnya mana?" Wah, sempat senang bakal dapat hadiah lagi tuh. Hahaha...

Begitu acara penutupan International Musi Triboatton 2016 usai, selesai pulalah perjalanan kami di Palembang. Perjalanan dua hari yang sungguh berkesan di hati, juga di perut. Membuat saya diam-diam memendam keinginan untuk kembali lagi ke Palembang, dan menikmati kota ini lebih lama lagi. Apalagi anak-istri saya belum pernah kemari.

Mudah-mudahan saja keinginan ini terwujud. Amin.

Catatan: Terima kasih kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Selatan, wa bil khusus Ibu Irene Camelyn Sinaga, yang telah mengundang saya ke Palembang. Juga kepada Mbak Ira Hairida dan Mas Jony yang telah menemani kami selama dua hari pada 14-15 Mei 2016.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. wah saya juga bulan mei yang lalu baru dari sana..tempatnya menarik dan sejuk banget. Saya naik perahu 200rb untuk sampai sana dan balik lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tarifnya memang kisaran segitu ya. Antara 200-250rb, tapi ya harus jago nego juga sih. Biasalah, namanya juga masih pasar bebas alias belum ada tarif resmi. Hehehe.

      Hapus
  2. Palembanggg, wuih jadi kangen, aku belum nyobain empek-empek pak raden, baru nyoba yang candi, sungai musi kalo di deketin cokelat juga ternyata ya, soalnya pas ke musi waktu malem2 jadi gak keliatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, mau pempek apa aja sebenernya rasanya beda-beda tipis sih, Mbak. Pak Raden legend karena sudah lama dan owner-nya pribumi, kalo Candy dll. lebih dikenal karena sering dibawa sbg oleh-oleh. Beli pempek di warung pinggiran tanpa nama pun rasanya nggak bakal beda jauh. IMHO sih ya, hehehe...

      Hapus