Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 25 Juni 2016


JARANG sekali ada event berbau internet atau blogging di Pemalang. Karenanya saya antuasias sekali ketika ICT Watch aka Internet Sehat mengadakan workshop bertajuk "Pentingnya Literasi Digital" pada Sabtu, 25 Juni, ini. Tanpa pikir panjang saya langsung mencari-cari info untuk mendaftarkan diri ikut sebagai peserta. Padahal acara masih dua pekan lagi.

Workshop ini merupakan rangkaian dari program Ngabubur-IT yang digelar ICT Watch di empat kota. Sebelum Pemalang sebagai lota terakhir, acara serupa telah terlebih dahulu diadakan di Bandung (17 Juni), Surabaya (18 Juni), dan Banda Aceh (21 Juni).

Kesan pertama saya terhadap event ini tak sedap sebenarnya. RTIK Pemalang sebagai penyelenggara kurang aktif di Twitter, sehingga pertanyaan dan konfirmasi saya baru dijawab beberapa hari setelahnya. Demikian juga dengan seorang yang disebut sebagai contact person. Ada sih dicantumkan nomor hape. Tapi saya pikir, ini event membahas literasi digital, penyelenggaranya sangat familiar dengan internet, masa iya dikontak lewat Twitter nggak bisa?

Syukurlah salah seorang anggota RTIK Pemalang yang juga admin akun @KabarPML banyak memberi informasi. Termasuk memberi-tahukan tautan ke halaman pendaftaran online peserta workshop ini. Jadilah saya mendaftar secara online. Cuma yang membikin kening berkerut, meski ICT Watch lewat akun @internetsehat berkali-kali menekankan acara ini terbuka untuk umum, pada saat registrasi ulang saya dan seorang teman ditanya, "Dari instansi mana, Pak?"

Lalu, dalam edarannya acara seharusnya sudah dimulai pukul 14.30 WIB. Saya dan seorang kawan sendiri malah baru berangkat kira-kira jam segitu. Artinya, kami telat. Tapi sesampainya di venue, kami baru peserta ketiga dan keempat. Daftar absensi masih kosong, demikian juga isi bagian dalam ruangan Hotel The Winner Premier yang menjadi tempat acara.

Untunglah saya dibuat puas oleh materi yang disampaikan oleh pembicara. Kang Acep dari ICT Watch membahas pentingnya kehati-hatian di dunia maya. Sudah banyak kasus cyber bullying terjadi dan beberapa berujung pada kematian, jangan sampai kita jadi korban. Untuk itu dibutuhkan literasi digital agar kegiatan berinternet kita jadi lebih sehat dan aman.

Kang Acep juga membeberkan data terbaru pengguna internet Indonesia. Dengan populasi penduduk sebanyak 259,1 juta jiwa, Indonesia mempunyai pengguna internet aktif sebanyak 88,1 juta. Jumlah yang sangat besar. Dari angka tersebut, 79 juta di antaranya merupakan pengguna sosial media. Sayangnya, masih banyak pengguna yang belum cakap dalam beraktivitas di dunia maya. Akibatnya, alih-alih memberi manfaat, internet dan khususnya sosial media justru membawa malapetaka.

Sebarkan Kebaikan, Kalahkan Keburukan
Setelah Kang Acep, tampil Bapak Khalimi yang merupakan Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Pemalang. Berpakaian santai, Pak Khalimi mengaitkan internet dengan dunia pendidikan dan remaja yang menjadi bidang kerjanya. Tidak salah, sebab kebanyakan pengguna internet dan media sosial adalah remaja.

Pak Khalimi mengatakan perkembangan tidak bisa dicegah dan ditahan-tahan. Akan lebih baik jika kita beradaptasi dan mengambil manfaat dari perkembangan tersebut. Dalam hal internet dan sosial media, Pak Khalimi menyebut dirinya tak bisa melarang siswa-siswi sekolah membawa smartphone ke sekolah. Sebab baik-buruknya gadget tergantung pada pemakainya, sehingga pemakainya yang harus diedukasi.


Ditegaskan Pak Khalimi, sekolah memegang peranan penting dalam literasi digital di kalangan remaja. Karenanya beliau sangat mendorong hal ini di kalangan guru. Alih-alih menyita atau melarang siswa membawa smartphone, guru sebaiknya mengarahkan siswa agar memanfaatkan perangkat mereka untuk hal-hal positif yang terkait dengan pelajaran.

Pelajar bisa memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan untuk menunjang kegiatan belajar. Pak Khalimi menyebut, aplikasi seperti Edmodo atau Quipper dapat membantu mengasah kecerdasan siswa. Lebih-lebih aplikasi-aplikasi tersebut menghubungkan pelajar-pelajar dari seluruh dunia. Sehingga lingkup pembelajarannya tidak terbatas pada lokasi geografis pelajar bersangkutan.

Tidak bisa diingkari banyak konten negatif yang merusak bertebaran di internet. Sebagai pengguna, kita dapat turut andil memperbaiki kondisi tersebut dengan cara banyak-banyak menyebar konten positif. "Terus sebarkan konten-konten kebaikan di internet, maka kejelekan-kejelekan itu lama-kelamaan akan mengecil, terkucil, dan menghilang," demikian ujar Pak Khalimi menutup paparannya.

Saya sangat menyepakati statement Pak Khalimi tersebut. Cara terampuh untuk meng-counter konten-konten negatif memang dengan membagikan lebih banyak konten positif. Konten negatif mungkin tak akan pernah hilang, tapi dengan semakin banyaknya konten positif maka pengguna akan lebih sering mendapatkan manfaat dari internet ketimbang mudarat.

Karena waktu mepet adzan Magrib dan berbuka puasa, dua pembicara berikutnya tak bisa banyak-banyak memaparkan materi masing-masing. Terutama Mas Andri dari Relawan TIK Indonesia yang berbicara tak sampai 10 menit, itupun diseling dengan pemutaran video Assa Desa. Meski demikian poin-poin penting dalam paparannya tersampaikan dengan baik. Setidaknya bagi saya, hehehe...

Adzan Magrib kemudian berkumandang menghentikan paksa sesi tanya-jawab. Hadirin dipersilakan mengambil hidangan berbuka yang telah disiapkan. Aih, menunya komplit. Ada kolak pisang, nasi putih, ayam goreng, tempe goreng, sop, sambal goreng, serta tak ketinggalan buah-buahan. Okelah, kenyang perut dibuatnya.

Acara kembali dilanjutkan usai berbuka puasa dan salat Magrib. Namun saya tidak bisa ikut karena sudah harus pulang. Sesi tanya-jawab dan foto-foto pun saya lewatkan. Tak apalah. Toh, saya sudah mengikuti seluruh materi hingga usai.

Oya, berikut video cuplikan acara Ngabubur-IT di Hotel The Winner Premier Pemalang yang saya rekam menggunakan ponsel ASUS Zenfone C dan action cam Xiaomi Yi. Selamat menyaksikan!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

1 komentar: