Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 30 Juni 2016


KALAU toko yang menyediakan berbagai macam keperluan kita sebut toko serba ada (toserba), maka rasanya Dataran Tinggi Dieng bisa diberi julukan Obyek Wisata Serba Ada. Ya, di satu kawasan ini pengunjung dapat menikmati berbagai macam atraksi wisata. Mulai dari wisata alam, wisata budaya, hingga wisata sejarah. Wisata kuliner? Tentu saja.

Pernah ke Candi Borobudur? Ini obyek wisata yang tak cuma menarik minat wisatawan lokal, tapi juga mancanegara. Tapi di sana kita hanya disuguhi satu obyek untuk dilihat: candi. Bolehlah kalau ada yang memasukkan unsur wisata sejarah karena di badan Candi Borobudur terdapat relief menceritakan kegemilangan leluhur bangsa Indonesia. Toh, tetap saja kita hanya mengunjungi satu candi, lalu pulang.

Bukan bermaksud apa-apa ya. Tapi coba bandingkan dengan Dataran Tinggi Dieng. Di satu area wisata ini, kita seperti masuk toserba karena dapat menikmati berbagai macam obyek dan petualangan sekaligus.

Bagi pecinta alam, Dieng adalah potongan kecil surga yang terlempar ke bumi. Hawanya yang sejuk, pemandangan alam nan asri menghijau, air segar di batang-batang sungai, semua seolah melengkapi petualangan menantang menuju puncak Gunung Prau. Di sini kita bisa mengadakan camping, bermalam di alam bebas hanya beratapkan tenda mungil. Sebelum pulang, sempatkan mampir ke Kawah Sikidang nan eksotis.

Bagi penyuka sejarah dan arkeologi, di Dieng ada satu kompleks candi Hindu yang luas. Kini memang hanya tersisa delapan buah candi, namun menurut penelusuran sejarah dulu terdapat setidaknya 400 candi di kawasan ini. Jumlah ini jauh lebih banyak dari candi-candi kecil di sekeliling Candi Sewu yang namanya berarti Seribu Candi. Juga masih lebih banyak dari candi-candi kecil yang mengitari Candi Prambanan.

Sedangkan bagi pengantin muda, Dieng adalah tempat sangat cocok untuk berbulan madu. Suasananya, pemandangan alamnya, keramahan penduduknya, hawa dinginnya, pokoknya semua sangat mendukung untuk memadu kasih. Tak usah jauh-jauh berbulan madu ke luar negeri, karena orang luar negeri justru banyak berkeliaran di Dieng. Hehehe...


Bhumi Kahyangan
Terletak lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl), Dataran Tinggi Dieng masuk dalam 10 besar dataran tertinggi di dunia. Di Asia, hanya Dataran Tinggi Tibet (Tibetan Plateau) dan Dataran Tinggi Decca (Deccan Plateau) yang posisinya lebih tinggi dari Dieng.

Jika dalam cerita-cerita silat Tibet sering disebut-sebut sebagai Negeri Atap Dunia, maka Dieng mendapat sebutan Negeri di Atas Awan. Ya, saking tingginya beberapa tempat di kawasan ini berada lebih tinggi dari awan. Benar-benar di atas awan dalam artian yang sebenar-benarnya.

Kalau sebutan Negeri di Atas Awan terlalu umum, nama lain yang lebih identik dengan Dieng adalah Bhumi Kahyangan. Menurut sejarah, nama Dieng berasal dari "Di Hyang" yang berarti "tempat tinggal para dewa." Dengan demikian nama Dieng bersinonim dengan Kahyangan, yang sama-sama berarti tempat kediaman dewa-dewa.

Itulah sebabnya kita dapat menemukan satu kompleks candi mahaluas di Dataran Tinggi Dieng. Meski belum ada referensi yang menyebut dengan pasti, menilik dari jumlah candi yang pernah ada kuat dugaan kompleks candi ini dulunya merupakan pusat peribadatan terbesar di Tanah Jawa masa itu. Malah bisa jadi yang terbesar di Nusantara, Asia, atau bahkan dunia.

Misteri yang melingkupi kompleks candi di Dieng menjadi salah satu daya tarik tersendiri untuk mengunjungi tempat ini. Belum ada satupun studi yang berhasil menemukan sejarah pembangunan candi-candi tersebut, siapa raja yang memerintahkan megaproyek ini, nama asli kompleks candi apatah lagi masing-masing candi, serta kapan candi pertama mulai dibangun.

Ini semua disebabkan oleh minimnya data dan referensi sejarah yang terkait dengan kompleks candi di Dieng. Ilmuwan hanya bisa memperkirakan kompleks candi ini dibangun di abad ketujuh, di masa Kerajaan Kalingga. Salah satu dari tiga kerajaan tertua di Nusantara tersebut disebut berlokasi di bagian utara Jawa Tengah saat ini. Dieng yang terletak di dua kabupaten, Banjarnegara dan Wonosobo, masuk dalam wilayah kekuasaan Kalingga.

Dari 400 candi hanya tersisa delapan, itupun hanya satu yang bangunannya bisa dikembalikan utuh: Candi Arjuna. Sedangkan tujuh candi lain berdiri tanpa atap komplet seperti halnya Arjuna. Ilmuwan membagi kompleks candi Dieng menjadi tiga gugus (cluster), yakni:


1. Gugus Arjuna
Merupakan gugus candi yang berada di tengah-tengah kompleks candi Dieng. Gugus ini juga terletak tepat di tengah Dataran Tinggi Dieng. Terdiri atas lima candi, Gugus Arjuna merupakan gugus candi paling lengkap dibandingkan yang lain. Bersama Candi Arjuna, keempat candi lain adalah Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra.

2. Gugus Gatotkaca
Sama seperti Gugus Arjuna, gugus candi ini terdiri atas lima candi kecil: Candi Gatotkaca, Candi Setyaki, Candi Nakula, Candi Sadewa, dan Candi Gareng. Namun saat ini hanya Candi Gatotkaca yang tetap berdiri tegak, meski tidak utuh seperti sedia kala. Empat candi lainnya tinggal reruntuhan puing.

3. Gugus Dwarawati
Berbeda dengan dua gugus lain, Gugus Dwarawati terdiri atas empat candi yang dinamakan Candi Dwarawati, Candi Abiyasa, Candi Pandu, dan Candi Margasari. Sama halnya Gugus Gatotkaca, saat ini hanya Candi Dwarawati yang masih berdiri tegak sekalipun tidak utuh. Sedangkan tiga candi lain berupa onggokan puing-puing.

Selain tiga gugus candi tersebut, masih ada Candi Bima yang lokasinya terpisah dari kompleks candi Dieng. Candi Bima terletak di atas bukit, merupakan candi terbesar sekaligus tertinggi di antara candi-candi lain. Yang menarik, model bangunan Candi Bima terlihat berbeda dari candi-candi yang ada di Dieng.

Bagi penyuka sejarah seperti saya, candi-candi di atas adalah alasan kuat untuk berkunjung ke Dieng. Saya selalu dibuat kagum oleh ornamen-ornamen yang ada di bangunan candi, membayangkan bagaimana orang jaman dahulu menyusun batu-batu sungai menjadi bangunan megah seperti itu. Bayangkan saja, jaman itu mereka bekerja hanya menggunakan palu dan pahat, juga tali tambang.

Melihat Delapan Gunung
Selain pecinta sejarah, Dieng juga menjadi destinasi favorit pecinta alam wa bil khusus pendaki gunung. Tujuan mereka adalah mendaki ke puncak Gunung Prau yang merupakan puncak tertinggi di Dataran Tinggi Dieng.

Dengan elevasi 2.565 mdpl, Gunung Prau boleh dibilang tak cukup menantang didaki. Dibandingkan Sindoro yang tingginya 3.136 mdpl, Prau lebih cocok bagi pendaki pemula. Padahal orang-orang yang baru mulai mendaki gunung sering disarankan untuk memilih Sindoro sebagai debut.

Tapi jangan salah, meski tak cukup tinggi Prau tetaplah gunung idola para pendaki. Bukan soal berapa meter di atas permukaan laut yang dikejar, melainkan pemandangan menakjubkan dari atas puncaknya. Sebab dari puncak Gunung Prau kita dapat menyaksikan delapan gunung sekaligus. Ya, delapan gunung!


Gunung apa saja? Berderet-deret dari sisi kanan adalah Gunung Kembang, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Lawu, Gunung Telomoyo, dan Gunung Ungaran. Ini artinya dari puncak Gunung Prau kita bisa melihat wilayah Wonosobo, Temanggung, Yogyakarta, Magelang, hingga Kabupaten Semarang.

Seperti halnya di gunung-gunung lain, menanti sunrise merupakan hal wajib sesampainya di puncak Gunung Prau. Biasanya pendaki memilih bermalam di area perkemahan, tidur dalam tenda-tenda atau sleeping bag. Jangan kuatir, ada banyak pendaki lain yang berkemah di camping ground Prau. Dijamin tidak bakal sendirian deh.



Tempat lain yang biasa dipilih untuk berburu sunrise adalah puncak Gunung Sikunir. Di sini juga ada camping ground sehingga kita dapat bermalam menunggu matahari terbit yang kondang dikenal sebagai golden sunrise. Saat matahari mulai muncul, ufuk timur di langit Dieng terlihat berwarna kuning keemasan.

Berita baiknya, kita tak harus mendaki Gunung Prau maupun Gunung Sikunir untuk melihat golden sunrise Dieng. Masih ada tempat lain di mana sunrise terlihat tak kalah bagus. Misalnya dari puncak Gunung Pakuwojo, atau malah dari gardu pandang Tieng. Tinggal pilih.

Ke Dieng Lewat Banjarnegara
Selama ini Dieng dikenal sebagai bagian dari Kabupaten Wonosobo. Padahal, Dataran Tinggi Dieng yang terdiri dari dua desa masuk dalam wilayah administratif Wonosobo dan Banjarnegara. Dua kabupaten ini bertetangga, sehingga membagi dua kawasan Dieng dengan batas Kali Tulis. Bagian timur Dieng (Desa Dieng Wetan) adalah wilayah Wonosobo, sedangkan bagian barat (Desa Dieng Kulon) milik Banjarnegara.

Karenanya, kita bisa menuju ke Dieng lewat Banjarnegara. Para pelancong dari arah barat malah sudah pasti melalui Banjarnegara jika hendak ke Dieng. Cuma biasanya Banjarnegara hanya dilewati saja, karena tujuan utamanya Wonosobo sebelum mencari angkutan ke Dieng. Jalur Wonosobo memang yang paling banyak ditempuh menuju ke Dieng Plateau.

Sekali-kali cobalah lewat Banjarnegara. Ada dua pilihan rute yang bisa diambil dan kesemuanya menuju ke Desa Dieng Kulon yang ada di Kecamatan Batur. Pertama, jalur tengah yang melewati Pagentan, Sumberejo, Karangtengah dan terus mengikuti Jalan Raya Dieng. Kedua, jalur timur melewati Petambakan, Banjarmangu, Karangkobar, dan menelusuri Jalan Raya Batur sebelum masuk ke Jalan Raya Dieng.

Bagaimana kalau naik angkutan umum? Gampang. Angkutan umum di Banjarnegara sudah menjangkau ke pelosok-pelosok. Ditambah jalanan yang relatif bagus, perjalanan menuju Dieng bakal berlangsung lancar jaya bagi pelancong backpacker. Namanya saja angkutan umum, tentu saja ongkosnya murah meriah.

Rutenya, dari terminal bus Banjarnegara naik angkutan jurusan Banjarnegara-Batur. Angkutannya berbentuk bus kecil. Turun di Pasar Batur, lalu tunggu angkutan jurusan Batur-Wonosobo lewat. Angkutan umum yang juga berupa bus kecil ini melewati Dieng. Jadi, tinggal minta turun saja begitu bus melewati Dieng.


Bagi saya yang tinggal di Pemalang, ke Dieng terasa lebih dekat jika melewati Banjarnegara. Alih-alih ke selatan melewati Purbalingga lalu berbelok ke timur menuju Kota Banjarnegara, perjalanan bisa lebih singkat bagi saya dengan melewati Kajen.

Dari ibukota Kabupaten Pekalongan tersebut ada angkutan menuju ke Karangkobar, kecamatan yang sudah masuk wilayah Banjarnegara. Tapi tidak sampai Karangkobar sudah harus turun, tepatnya di pertigaan Wanayasa. Setelah itu cari angkutan menuju Batur, turun di Pasar Batur. Terakhir, tunggu bus rute Batur-Wonosobo yang akan melewati Dieng.

Selain Kajen, saya juga bisa menempuh jalur Batang. Rutenya jika menggunakan kendaran pribadi adalah Batang - Wonotunggal - Bandar - Kambangan (Blado) - Gerlang - Batur - Dieng. Kalau mau naik angkutan umum, ada bus mini yang siap mengantar dari Batang sampai ke Blado. Tapi dari Blado ke Batur masih dalam tanda tanya besar karena sepertinya tak ada angkutan umum.

Atau kalau ingin menghindari Gerlang yang jalanannya terkenal ekstrem, ambil jalur Banyuputih. Jadi dari kota Batang terus ke timur hingga Banyuputih. Dari sini baru berbelok ke arah selatan melalui Limpung dan lanjut ke Bawang, tepatnya Desa Pranten yang berbatasan langsung dengan Desa Karangtengah di Kecamatan Batur. Dari Karangtengah, kita cukup berjalan sejauh 500 meter untuk mencapai Dieng Kulon.

Well, jangan kuatir dengan perjalanan selama 1,5 hingga 2 jam. Kalau terasa haus ya tinggal berhenti saja, mampir ke warung dawet ayu. Segelas dawet ayu khas Banjarnegara bakal mengusir dahaga. Sebagai camilannya bisa cicipi keripik kentang yang merupakan produk khas Batur.

Mayuh plesir maring Banjarnegara! :)

Disclaimer: Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog Pariwisata Banjarnegara 2016 yang diadakan oleh Disbudpar Kabupaten Banjarnegara.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar: