Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 09 Juli 2016


SATU tautan dibagikan oleh seorang teman Facebook saya di wall-nya. Saya biasanya abai dengan segala macam tautan di Facebook, paling banter sekedar melirik judulnya untuk menerka apa isinya. Jarang sekali sampai mengeklik, berkunjung. Tapi tautan satu ini langsung membuat saya menutup tab Facebook dan berselancar membaca habis isinya.

Judul tulisan yang dibuat Ifandi Khainur Rahim ini sukses menarik perhatian saya. Judul yang bagi saya mengarah pada kesimpulan, atau malah vonis? "Kenapa Agama Bikin Indonesia Gak Maju-maju," tulisnya. Abaikan penulisan "Maju-maju" itu, kita tidak akan membahas tentang EBI di sini. Saya lebih tertarik menanggapi isinya.

Agar bisa nyambung sebaiknya posting tersebut dibaca dulu ya. Tapi singkatnya Irfandi Khainur Rahim yang lebih suka dipanggil Evan ini menyimpulkan agama adalah pangkal masalah yang membuat Indonesia tidak maju. Tulisannya dibuka dengan Abad Kegelapan yang melanda Eropa akibat begitu kolotnya Gereja pada berbagai pemikiran masa itu. Misalnya penangkapan dan dihukumnya Galileo Galilei karena mendukung teori heliosentris Nicolaus Copernicus.

Kita sama tahu Galileo ditangkap dan dipenjara oleh Vatikan setelah menerbitkan buku Dialogo Sopra I Due Massimi Sistemi del Mondo pada tahun 1632. Buku ini membandingkan sistem heliosentris Copernicus dengan teori geosentris Ptolemy. Gereja Katolik masa itu mendukung teori geosentris karena berbagai ayat dalam Alkitab mengisyaratkan demikian.

Galileo tak cuma ditahan fisiknya, tapi juga pemikirannya. Semua karya tulisnya dilarang terbit oleh Vatikan, sedangkan yang sudah beredar tidak boleh digandakan. Berangus habis. Galileo sendiri mati di dalam tahanan.

Harap dicatat, Tahta Suci Vatikan pada masa itu adalah kekuasaan tertinggi yang diakui oleh kerajaan-kerajaan Eropa. Posisi dan kewenangan Paus berada di atas raja-raja Eropa. Begitu berkuasanya. Karenanya kalau Gereja bilang bumi itu datar karena di dalam Alkitab disebutkan demikian, jemaat harus mengimani. Menolak berarti hukuman. (Baca juga: Benarkah Bumi Ini Datar?)

Dan Galileo bukan satu-satunya "korban" sikap represif Gereja di era tersebut. Karenanya Evan mengambil kesimpulan keberadaan Gereja Katolik Roma menghalangi kemajuan bangsa Eropa.

Orangnya, Bukan Agamanya
Evan lalu meloncat ke Indonesia, membandingkan situasi di Indonesia yang "nggak maju-maju" dengan Eropa di Abad Pertengahan. Disebutnya bahwa yang membuat Indonesia terlihat primitif seperti sekarang adalah karena agama. Evan memang tidak menyebutnya secara eksplisit, tapi arahnya sih ke agama Islam yang notabene agama yang ia anut sejak lahir.

Sebagai contoh Evan menyebut fanatisme sempit beberapa kalangan Muslim. Ada yang melarang bergaul dengan orang Kristen, tidak boleh berteman dengan orang Cina karena kafir, tidak boleh mengucapkan selamat Natal, dan tindakan sewenang-wenang beberapa kalangan yang ia tahu merupakan orang-orang beragama.


Lebih konyol lagi ada yang menyebut makan di McDonald sama saja membantu Yahudi. Nonton film Hollywood haram karena merupakan kebudayaan Barat yang kafir. Yang lagi hangat sekarang adalah ribut-ribut larangan memilih Basuki Tjahaja Purnama di Pilkada DKI Jakarta tahun depan. Alasannya karena Ahok Kristen. Dan, memang, itu semua terjadi di masyarakat kita. Harus diakui ada sebagian Muslim yang berpikiran begitu.

Dari situ Evan lantas menyimpulkan bahwa agama merupakan penyebab Indonesia yang rasis, yang diskriminatif terhadap kaum minoritas. Karenanya jangan satukan agama dengan pemerintahan, dengan pendidikan. Pisahkan! Agama adalah ruang privat, urusan pribadi-pribadi dengan Tuhan. Evan bahkan terang-terangan menyerukan, "ayo jadi sekuler!"

Oke, Evan, Eropa memang kelihatan tambah maju sejak era Renaissance. Petualangan ke Dunia Ketiga dimulai, berbagai penemuan lahir, ilmuwan-ilmuwan bermunculan, pengetahuan berkembang. Eropa bergerak dari agraris menjadi industrialis dengan ditemukannya mesin uap. Dan, Eropa jadi lebih maju dari wilayah lain di dunia.

Satu hal yang lupa ditelaah Evan adalah, orang-orang beragama yang ia sebut di sini sama sekali tidak mewakili agama yang mereka anut. Pun bukan cerminan ajaran agama masing-masing. Gereja Vatikan memang kekuasaan tertinggi dalam struktur Katholik, tapi Paus dan seluruh penghuni Vatikan hanyalah pemeluk Katholik, bukan perwakilan Katholik sebagai agama.

Seorang Muslim juga bukan perwakilan Islam. Bahkan Nabi Muhammad pun tidak bisa disebut sebagai wakil Islam. Ini ajaran, paham, bukan organisasi. Konsekuensinya, kalau ada orang Katholik atau Muslim berbuat di luar nilai-nilai kemanusiaan, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan Katholik dan Islam.

Contoh lain yang mirip kurang-lebih begini. Saya etnis Jawa, tapi apakah saya perwakilan orang Jawa? Tentu tidak. Kalau ada satu orang Jawa berbuat jahat, bisakah kita sebut etnis Jawa itu jahat? Tidak bisa. Yang jahat saya, orangnya. Kebetulan saja saya beretnis Jawa. Kita pasti sepakat ada banyak orang jahat lain yang bukan berasal dari etnis Jawa.

Begitu juga dengan pemeluk Katholik dan pemeluk Islam. Kalau ada di antara mereka yang bertindak sewenang-wenang, rasis, diskriminatif, maka yang jahat adalah orangnya. Sebab agama Katholik mengajarkan kasih sayang pada sesama manusia, sedangkan Rasulullah Muhammad SAW diutus untuk memperbaiki akhlak manusia.

Jadi, kalimat Evan yang mengatakan "Orang-orang seperti ini terlalu fokus untuk beragama yang baik. Sampe lupa gimana caranya jadi manusia yang baik." saya rasa perlu dikoreksi. Kalau orang-orang itu sudah menjalankan agamanya dengan baik, maka ia akan jadi manusia yang baik. Orang-orang beragama yang belum menunjukkan dirinya sebagai manusia yang baik, berarti mereka belum memahami agamanya dan belum beragama dengan baik. Just that simple.


Maju, Berkembang, dan Tetap Agamis
So, benarkah agama yang membuat Indonesia tidak maju-maju? Benarkah agama yang membuat peradaban Eropa tidak berkembang sehingga sempat mengalami Abad Kegelapan? Tidak juga.

Ingat, penjelajahan pelaut-pelaut Eropa ke Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, di bawah restu Gereja Vatikan. Beberapa sumber malah menyebut Gereja yang memerintahkan penjelajahan tersebut sebagai misi gospel, penyebaran agama. Ada pula yang mengatakan Gereja-lah yang membagi Spanyol harus ke mana, Portugal ke mana, Belanda ke sana, dan Inggris ke sini.

Yang menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Abad Pertengahan adalah oknum-oknum Gereja. Oknum-oknum inilah yang memanfaatkan mesin cetak temuan Johannes Gutenberg untuk mencetak surat pengakuan dosa dan mengomersilkannya. Pada merekalah mustinya tudingan diacungkan, bukan Katholik-nya. Ini yang dilakukan Martin Luther dengan mengajukan 95 tuntutan. Beberapa di antaranya mempertanyakan kekuasaan tak terbatas Paus, serta dugaan terjadinya nepotisme dan korupsi di dalam Gereja.

Yang dituntut Martin Luther waktu itu adalah Paus dan pejabat-pejabat Gereja, bukan Katholik. Meski kemudian lahir Kristen Protestan, mereka hanya tak mengakui kekuasaan Paus dan Gereja Vatikan. Bukankah Martin Luther dan pengikutnya tetap mengimani Allah, Yesus, Bunda Maria, dan Roh Kudus?

Dalam sejarah Islam, kebudayaan dan pemikiran Muslim berkembang sangat baik di era kekhalifahan. Ilmuwan-ilmuwan Muslim lahir di masa Dinasti Ummayah dan Abbasyiah, lalu berlanjut hingga ke Kekhalifahan Utsmaniyah. Saat kekuasaan Islam menguasai Andalusia, misalnya, wilayah ini diubah jadi tempat paling maju dan paling berperadaban di daratan Eropa.

Apakah ilmuwan Muslim itu mengabaikan agama? Tidak. Ilmuwan seperti Al-Biruni menelaah ayat-ayat al-Qur'an tentang alam semesta untuk menulis karya-karyanya. Demikian pula Ibnu Sina yang tak melepaskan dirinya dari al-Qur'an saat menulis kitab-kitab kesehatan serta beberapa karya di bidang astronomi dan astrologi. Sebutkan nama lebih banyak, dan mereka lahir di era di mana kekuasaan Islam tengah berjaya. Di masa ajaran al-Qur'an ditegakkan!

Jangan tanya soal toleransi di masa itu. Sejak era Rasulullah etika berperang kaum Muslim sudah digariskan. Salah satu larangannya adalah merusak rumah ibadah. Garis bawahi ini, dilarang merusak rumah ibadah. Tidak disebut apakah itu gereja, sinagog, atau kuil pagan. Malah khalifah-khalifah Islam melindungi kaum Kristen, Yahudi, juga penganut paganisme yang berada di wilayah kekuasaannya.

Oya, ada seorang komposer terkenal era Turki Utsmani yang musiknya sampai kini masih dinikmati dan dibanggakan orang Turki. Namanya Dimitri Kantemiroglu, terlahir sebagai Dmitri Konstantinovich Kantemir. Tak cuma komposer, ia juga musisi, sejarahwan, ahli bahasa dan filosof. Dan, benar, Kantemiroglu seorang nonmuslim.


Maju ke jaman sekarang, Brunei Darussalam adalah satu contoh bagaimana sebuah negara maju yang bersendikan Islam. Atau setidak-tidaknya kita sebutlah negara sejahtera. Sultan Hassanah Bolkiah menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam pemerintahannya. Lalu sejak pertengahan 2014 syariat Islam diberlakukan sebagai hukum pidana di Brunei.

Jangan lupakan Malaysia, tetangga kita paling dekat. Negara ini merupakan sebuah federasi terdiri dari 10 Kesultanan Islam di Semenanjung Malaya dan Pulau Borneo, plus satu wilayah khusus federal. Berbeda dengan Indonesia yang sama-sama berwarga mayoritas Muslim, Islam adalah agama resmi di Malaysia. Padahal Muslim di negara ini hanya di kisaran angka 65%.

Soal penerapan hukum Islam, Indonesia bukan apa-apanya dibanding Malaysia. Di Negeri Jiran, etnis Melayu tidak boleh keluar dari Islam. Ini merupakan penerapan larangan murtad dalam Islam, dan pemimpin akan dimintai pertanggung-jawaban atas kemurtadan umatnya. Warung makan boleh buka di siang hari saat Ramadhan, tapi Muslim dilarang membeli makanan-minuman selama bulan puasa.

Cobalah melancong ke Malaysia saat bulan puasa, lalu mampir ke warung makan. Pelayan tak akan mau melayani kalau tahu kita Muslim, sebab penjara jadi hukumannya baik bagi si Muslim maupun pelayan yang melayani. Ini juga bentuk penerapan syariat Islam di mana pemimpin berkewajiban menjaga agar umatnya mematuhi perintah Allah.

Oya, kalau Indonesia baru saja selesai dengan soal seragam syar'i bagi tentara dan anggota polisi wanita, beberapa negara bagian di Malaysia sudah sejak lama mewajibkan nonmuslim mengenakan hijab di tempat umum lho. Catat, mewajibkan nonmuslim berhijab. Di sini, ada Perda larangan miras saja kita sudah ribut soal HAM.

Menariknya lagi, Evan mengatakan Indonesia adalah satu-satunya negara yang memiliki Kementerian Agama. Saya ingat ada satu orang lagi yang pernah mengatakan demikian pada saya. Tapi hanya karena banyak yang mengatakan negara lain tak punya Kementerian Agama, bukan berarti itu fakta. Yang benar adalah, tak banyak negara di dunia yang memiliki Kementerian Agama.

Malaysia punya Jabatan Kemajuan Islam (Jakim) yang dalam bahasa Inggris namanya Department of Islamic Development, pejabatnya setara menteri. Aljazair, Bangladesh, Myanmar, Pakistan, dan Tunisia punya Kementerian Agama yang nama resminya dalam bahasa Inggris adalah Ministry of Religious Affairs.

Di Eropa yang terkenal liberal dan sekular pun ada beberapa jabatan Menteri Agama. Contohnya Prancis yang punya Minister of Worship atau Minister of Public Worship. Di Serbia ada Minister of Religion, di Yunani ada Minister of Education and Religious Affairs. Israel tak mau ketinggalan. Di negara Yahudi ini ada Ministry of Religious Services of Israel atau dalam bahasa Ibrani bernama HaMisrad leSherutay Dat (המשרד לשירותי דת‎‎). Nama menterinya saat ini Chaim Yosef David Azulai.

Ah, rasanya sudah terlalu panjang saya berpendapat dan menuliskan rangkuman fakta. Tujuannya hanya satu, sekedar pengingat supaya janganlah kita gampang mendiskreditkan Islam (atau agama apapun) hanya karena eneg dengan ulah segelintir pemeluknya. Indonesia tidak maju-maju bukan karena agama, tapi karena kita lupa menerapkannya dengan baik.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

18 komentar:

  1. Mas Eko, artikelnya dalem banget. Kalo menurut saya, tulisan Evan terlalu dangkal karena seperti kata mas Eko, masalahnya ada di orangnya, bukan di agamanya. Ini juga pernah menjadi diskusi panjang saya dan suami. Tapi kabar baiknya, kami sering banget melihat pemuda-pemudi baik, hebat, pintar secara akademis, pintar bersosialisasi, dan agamanya Masya Allah, bikin merinding, jadi itu menegaskan sekali bahwa masalah bukan pada agamanya. Kami pun bercita-cita membesarkan anak2 seperti itu...

    Anyway, makasih udah berbagi artikel ini ya, bagus untuk menyadarkan bbrp orng yang kebanyakan nggak ngeh dan langsung setuju dengan artikel2 model Evan gitu tanpa mengkaji lebih lanjut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih untuk urun rembugnya, Kakak. Harap dimaklumi, teryata Evan saat menulis posting tersebut masih kelas III SMA. Sekarang dia sudah kuliah. Sepertinya itu repost. Saya rasa dia sekarang sudah mulai berpikir lebih dewasa sesuai perkembangan usianya :)

      Insya Allah, kita sebagai orang tua ingin membesarkan anak-anak sebagai Muslim dan Muslimah taat sekaligus menjadi manfaat bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya. :)

      Hapus
  2. eh klupaan, ijin share ya mas...

    BalasHapus
  3. Fanatisme sempit ... Hmmm bener2 banget. Kadang gw lelah menghadapi orang2 seperti itu. Yang sama2 muslim aja masih suka membedakan antara Muhammadiyah & Nu #JadiNgantuk

    Mending kita maju mundur syantiek aja deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehehe, kalo lelah leyeh-leyeh dulu, Mas.
      Betul, kadang mereka mau salat tarawih aja nanya dulu, "ini masjid Muhammadiyah bukan ya?" LOL.

      Makasih udah mampir dan ninggalin jejak :)

      Hapus
  4. Kalau menurut saya mah agama justru mampu mendorong seseorang untuk lebih bersemangat dalam bekerjanya karena dalam setiap agama pasti mengajarkan arti kerja keras dan bagaimana cara untuk bekerja keras.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar sekali, saya sepakat itu.
      Terima kasih sudah mampir dan urun komentar :)

      Hapus
  5. Tapi mas eko gak sebutkan jaman kita sebelum penjajah masuk. Indonesia saat itu pemeluk Siwa Buddha. Dan berdasarkan catatan sejarah mereka penganut Siwa Buddha, Hindu, dan agama lainnya hidup akur. Lalu datanglah penjajah asing yang menyerukkan Gold Glory Gospel dan kemudian doktrin agama baru lainnya dimulai saat Wali Songo menyebarkan Islam di Indonesia. Yang jadi pertanyaan, kalau memang bukan agama yang menjadi penyebab kekacauan, lantas mengapa 'oknum-oknum' yang mas eko sebut seharusnya bertanggung jawab itu melakukan tindakan itu atas dasar kitab suci mereka? Sebagai contoh ketika Paus melakukan tindakan penghukuman atas org2 dianggap melenceng dari aturan gereja, adalah berdasarkan kitab suci. Begitupula ketika banyak Muslim yg senantiasa mengharamkan org non muslim, mereka beralasan karena tertulis dalam kitab suci mereka. Jadi disini oknum yang salag arti kitab suci atau justru kitab suci yg harus diragukan kebenarannya? Seperti kita tahu pasca perang salib, umat beragama yg tadinya rukun2 aja mendadak jadi suka perang demi agama mereka. Dan semua alasan perang mereka adalah karena berlandaskan agama. So, apakah okunumnya yg salah mengartikan kitab suci atau kitab sucinya yang telah sengaja dibuat salah oleh para oknum?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pertanyaan Anda semuanya sudah dijelaskan dalam uraian saya. Terima kasih. :)

      Hapus
  6. apapun agamanya atau bahkan sekalipun Atheis yang terpenting adalah berbuat apa kita untuk bangsa, sudah kah kita berkontribusi untuk kemakmuran, kesejahteraan sodara-sodara kita seiman maupun sesama manusia.

    pada tahapan untuk umat beragama, memahami agama harus juga memahami prinsip kemanusiaan.itu sih kang menurut saya :)))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, bener sekali. Karena agama pada hakikatnya merupakan rumusan untuk hidup damai berdampingan dengan sesama manusia. Makanya saya simpulkan, kalau orang tersebut beragama namun kelakuannya tak sesuai dengan prinsip-prinsip kemanusiaan, maka ia belum beragama dengan baik.

      Hapus
  7. Kalau melaksanakan agama tanpa didasari ilmu yang memadai ya repot dan kacau.
    Sedekah sembako pakai undang media, antrian panjang berdesakan akhirnya timbul korban. Coba edekah sembunyi-sembunyi, panitia datangi ke rumah masing-masing sehingga mereka merasa dimanusiakan.
    Zakat juga ada yang ogah-ogahan walau kaya.
    Salam hangat dari Jombang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, Pakde. Sekali ini merupakan penegasan bahwasanya bukan agama yang keliru mengajarkan, tapi orang-orangnya yang keliru menafsirkan ajaran agama tersebut.

      Hapus
  8. Nggak bener banget agama bikin nggak maju... Kalau mau bikin 'perbandingan' peradaban saat Dark Ages Eropa, harusnya dengan yang sejaman. Di belahan dunia lain saat itu, keadaannya jauh berbeda... ada videonya tuh dari tahun 2010: 1001 Inventions and The Library of Secrets - starring Sir Ben Kingsley as Al-Jazari https://www.youtube.com/watch?v=JZDe9DCx7Wk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, itu juga isi dari posting ini. Silakan dibaca lagi ya :)

      Hapus
  9. Saat agama memegang kendali diEropa, hukuman yg diberlakukan sangat kejam dan brutal. Sampai akhirnya rakyat Eropa sadar untuk memisahkan agama dengan pemerintahan. Jadi agama saat itu bukan hanya menghambat pengetahuan, juga kejam dalam menerapkan hukuman.

    Sebagai org yg beragama tentu yakin agama memang tidak salah, tapi pemahaman agama yang fanatik itulah penyebab Indonesia tidak maju maju.

    Mau ini gak boleh, mau itu dilarang dan pemahaman agama yang merasa paling benar sendiri dan mneyesatkan pihak pemahaman lain sudah banyak terjadi dikalangan rakyat Indonesia. Mereka tidak menerima pemahaman yg berbeda, yg beda pasti dihujat, dikecam, dimaki, bahkan kalau perlu ditumpas.

    Ini fakta yg terjadi di Indonesia, coba lihat betapa banyak hujatan dan makian terhadap pemikiran kelompok Islam lib.Pemahaman yg fanatik dan cenderung tidak manusiawi ini menyebabkan kita rawan konflik. Coba tengok kasus video potongan Ahok di kepulauan seribu, sedikit saja kabar dilontar, rakyat sudah terkobar amarahnya. Karena fanatisme yg buta, tidak mau melihat isi utuh video sudah meradang mau melakukan kerusuhan.

    Kita harus berjiwa besar untuk mengakui ini ada dan fakta dan cara pemahaman spt ini yg harus ditinjau ulang agar kita tidak terjebak pada kefanatisme membabi buta.

    Keluar dari tempurung bro, biar kita bisa melihat dunia lain yg lebih luas, yg lebh manusiawi. Jangan kita terkungkung dengan pemahaman ribuan tahun yg sudah usang, yg semestinya perlu dikaji ulang cara pandangnya.

    Indonesia bukan negara agama, tapi sekarang ada kalangan tertentu yg berusaha memasukkan aturan agama dalam pemerintahan. Lihat saja, pasti hasilnya adalah pemaksaan, kekerasan akan mudah tersulut, terutama main hakim sendiri. kalau sudah begini, dikawatirkan pihak pihak minoritas yg terdesak akan meminta bantuan asing, yg akhirnya bisa menyusul jadi Timur Tengah kawe.

    Jadi saya setuju dengan tulisan Evan, bahwa agama memang tidak salah, tapi pemahaman agama yg fanatis akan jadi potensi pemicu konflik, yg pada akhirnya menjadi bangsa yg gtak maju maju, bahkan bisa mundur karena konflik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang harus keluar dari tempurung siapa ya? Kalau Mas Gajah baca tuntas tulisan ini, Mas akan tahu maksud yang hendak saya sampaikan. Kalau cuma baca judulnya atau secara sekilas saja ya nggak mungkin ketemu poinnya. Memang kita harus akui ada orang-orang ekstrem dan fanatik yang begitu, tapi itu kan orangnya bukan agamanya. Makanya saya kasih judul "Apa Iya Sih Agama Bikin Indonesia Nggak Maju-Maju?" sebagai tanggapan atas tulisan Evan yang menyimpulkan kalau agama bikin Indonesia gak maju.

      Sebab, bagi saya ajaran agama itu justru menganjurkan kedamaian. Gak perlu kan saya jabarkan arti kata Islam? Damai, dan penebar kedamaian. Cuma ada segelintir pemeluknya yang seperti Mas sebut. Tapi itu kan pemeluk, bukan Islam sebagai agamanya. Apa yang mereka lakukan adalah hasil tafsir mereka atas ajaran Islam. Sebagian lagi menafsirkan berbeda dan menghasilkan sikap serta perbuatan berbeda pula. Jadi, masalahnya adalah penafsiran orang pada Islam, bukan Islam-nya.

      Btw, tulisan Evan yang sekarang sudah diedit, Mas. Ada kok keterangannya di akhir tulisan. Kalo postingan awalnya sih sumir banget, intinya dia nulis Islam itu jelek banget. Bikin kita gak maju, katanya.

      Ya, dia tulis Islam. Bukan orang-orang yang memahami dan menerapkan Islam secara kaku dan kebablasan. Nah, mungkin seiring berjalannya waktu dia makin dewasa. Tulisan yang dia bikin pas masih sekolah itupun diedit. Dia tambahi keterangan kalau ada orang-orang tertentu yang membuat Islam seolah-olah kolot, kaku, dll. Dan itu sama sekali tidak mewakili Islam.

      Begitu ya? Sudah siap keluar dari tempurung?

      Hapus