Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 26 Juli 2016


SEBAGAI seorang (ngakunya) penulis dan juga blogger, saya tergolong penyendiri. Tak pernah sekalipun saya bergaul dengan sesama penulis, kecuali ya sama-sama writer wanna-be seperti saya juga. Pun di dunia blogging, boleh dihitung dengan jari siapa-siapa saja blogger yang saya kenal dan mengenal saya secara pribadi.

Iya, iya, tolong jangan ulangi lagi nasihat bijak orang-orang tua dulu. Silaturahmi itu pembuka pintu rejeki. Ada juga yang mengadopsi ujar-ujar jadul "banyak anak banyak rejeki" menjadi "banyak teman banyak rejeki."

Saya bukannya sama sekali tidak bergaul. Sebagai makhluk sosial tentulah saya juga ingin berinteraksi dengan sesama. Lalu jika ada yang datang menyapa, ingin berkenalan, rasanya senang sekali menyambut dan berharap hubungan tersebut langgeng. Terpenting lagi, semoga saja perkenalan tersebut barokah bagi semuanya.

Kembali ke dunia penulisan, duluuu sekali sewaktu usia belum genap 20-an saya pernah punya keinginan bergabung dengan Forum Lingkar Pena aka FLP. Itu lho, komunitas penulis yang berbasis pembaca majalah Annida. Ya, saya ngaku deh kalau dulu saya suka sekali baca majalah islami satu ini. Dari majalah inilah saya tahu tentang FLP.

Keinginan bergabung dengan FLP mencuat setelah berkali-kali cerpen kiriman saya ditolak Annida. Tak mau lagi membuka email berisi daftar cerpen-cerpen yang ditolak redaksi, saya mencari info FLP di Jogja dan ternyata ada. Jaman itu FLP Jogja sering kumpul-kumpul secara rutin di kawasan UGM. Saya lupa di mana persisnya.

Saya sudah sempat mencatat jadwal kegiatan FLP dan berniat mendatanginya, namun rasa malu menahan langkah saya. Malu cerpen saya belum pernah diterima Annida, malu saya hanya "kuliah" di sebuah pendidikan profesi tanpa gelar mana kampusnya abal-abal, juga malu di sana nanti bakal bertemu penulis-penulis hebat yang sudah menulis beberapa buku. Bukan cuma satu.

Di komunitas blogger ceritanya nyaris sama. Blogger-blogger Jogja masa itu punya satu perkumpulan tidak resmi. Disebut tidak resmi karena hanya ngumpul-ngumpul saja, tanpa organisasi, bahkan tanpa nama. Mereka rutin berkumpul di kawasan Bundaran UGM tiap malam Jumat. Saya tahu persis jadwal ini, dan sempat terbetik ingin ikut nongkrong di sana.

Lagi-lagi rasa malu membuat saya urung berangkat. Malu saya hanyalah blogger biasa, yang blognya cuma "numpang di Blogger.com. Malu earning saya paling banyak 250-300 dolar sebulan, malu saya cuma ngenet pakai komputer dan bukan laptop-laptop mahal seperti para mastah yang bakal saya temui di sana.

Oh, ada lagi. Tapi yang satu ini terkait hobi saya: sepakbola. Jadi di forum apa gitu saya lupa, ada satu ruang khusus fan Liverpool FC. Lalu terkumpullah beberapa orang yang diketahui sama-sama bertempat di Jogja, salah satunya saya. Di forum itu lantas dirembug rencana pembentukan komunitas yang kelak dikenal (cmiiw) sebagai BigReds Jogja. Saya ikut membubuhkan nama, menyatakan bersedia hadir di pertemuan pertama yang dijadwalkan bertempat di satu lokasi futsal sekaligus kafe tak jauh dari kampus UPN Veteran.

Tepat sekali! Kembali saya tak menghadiri pertemuan tersebut. Saya tak cukup percaya diri bertemu orang-orang baru karena merasa tak ada yang patut dibanggakan dari diri saya.

Ya, silakan berkomentar malu saya itu tak beralasan. Mau bagaimana lagi, tapi itulah alasan saya waktu itu. Sesuatu yang tidak beralasan tapi justru jadi alasan saya untuk tidak bergabung dengan komunitas apapun selama nyaris lebih dari delapan tahun di Jogja.


Make Friend, Make Money
Akhir 2008, saya terpilih sebagai salah satu mahasiswa Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY) yang dititipkan ke mingguan Malioboro Ekspres untuk magang. Melihat minat dan kecenderungan saya, Bapak Sutirman Eka Ardhana selaku pemimpin redaksi menempatkan saya di bagian olahraga. Saya dibimbing oleh seorang wartawan lebih senior yang, maaf sekali, saya lupa namanya.

Magang di mingguan inilah yang kemudian memaksa saya bertemu banyak sekali orang baru. Sebagai narasumber tentu saja. Mulai dari pentolan kelompok suporter, hingga bintang lapangan hijau. Level percaya diri saya meningkat. Apalagi kemudian wartawan yang seharusnya membimbing saya justru menghilang. Jadilah saya sendirian mengampu halaman olahraga.

Saking semangatnya, saya bahkan tak cuma menulis berita-berita olahraga. Saya ikut menyumbang rubrik resensi, feature, lalu saat musim Pilkada ikut-ikutan berburu caleg untuk diwawancara.

Level pede saya kian meningkat ketika diterima magang di Harian Jogja, koran lokal yang waktu itu belum genap berusia setahun. Hanya magang memang, dan di koran baru pula. Tapi Harian Jogja yang satu atap dengan Bisnis Indonesia dan Solopos membuat media ini seolah bayi ajaib. Korannya memang baru, tapi orang-orang di meja redaksi sudah lama malang-melintang di dunia jurnalistik Jogja.

Di Harjo, demikian nama koran ini biasa disingkat, saya ditempatkan di desk weekend. Jatuhnya hampir sama seperti saat magang di Malioboro Ekspres yang memang berformat mingguan. Isi Harjo Minggu ringan-ringan, lebih banyak berisi feature. Ada satu rubrik bernama Klangenan yang membuat kami Tim Weekend (saya dan tiga wartawan Harjo) harus mendatangi komunitas-komunitas.

Oke, jadi sudah dapat benang merahnya kan? Ya, berkat magang di Harjo dan khususnya rubrik Klangenan inilah saya jadi banyak tahu komunitas di Jogja. Beberapa yang pernah saya liput komunitas penggemar Koes Plus, komunitas pengendara jeep dan motor trail, komunitas pemakai sepeda lipat, komunitas band indie (saya tak tahu liputannya terbit atau tidak), dan yang saya anggap sebagai masterpiece selama di Harian Jogja adalah liputan komunitas numismatik.

Dari sini saya jadi tahu asyiknya berkomunitas. Saya sendiri menyukai lagu-lagu Koes Plus (siapa sih orang Indonesia yang tidak suka karya band satu ini?) jadi bisa nyambung saat bergabung dengan teman-teman di Jogja Koes Plus Community (JKPC). Saya juga suka sejarah, sehingga merasa sangat excited sekali ketika bertemu rekan-rekan numismatis.

Dari sekian banyak komunitas tersebut, dengan anggota-anggota numismatis Jogja-lah saya masih menyambung silaturahim hingga kini. Awalnya hanya tertarik dengan cerita-cerita seputar uang, lama-lama saya ikut koleksi, dan ujung-ujungnya ikut berjualan. Dari usaha jual-beli uang lama inilah saya ikut membiayai pernikahan, serta menjadi sumber nafkah keluarga selama bertahun-tahun kemudian.

Well, bolehlah saya bilang kalau bergabungnya saya dengan komunitas numismatik Jogja telah membukakan pintu rejeki bagi saya. Sesuatu yang terus-menerus saya syukuri sampai saat ini.


Blogging for Fun
Kembali ke dunia blogging, saya tetap menjadi blogger penyendiri hingga akhir 2014. Ya, saya kenal sejumlah blogger top di luar kota. Ada beberapa orang yang kemudian sering saling telepon, lalu satu-dua sempat berinteraksi langsung alias kopi darat. Tapi ya hanya sebatas itu. Mungkin karena itulah skill dan pengetahuan saya tentang blog, juga teknik-teknik mencari uang dengan blog, semakin tumpul.

Adalah pertemuan dengan Mas Duto Sri Cahyono yang membuat saya kembali bersemangat menulis. Dagangan uang lama tengah sepi saat itu, dan tren penjualannya semakin menurun. Saya mengiyakan tawaran beliau untuk menjadi content writer di salah satu blognya. Blog yang kelak menginspirasi saya. Blog yang dalam waktu setengah tahun sudah bisa menjadi nomor satu di Google, serta menghasilkan rata-rata 20-25 juta rupiah sebulan.

Saya pun ikut-ikutan membuat blog serupa, tapi mengambil niche sepakbola. Sayang, hasilnya tak menggembirakan. Hasilnya ada sih, tapi sangat di luar harapan. Bahkan tak sepadan dengan biaya tagihan internet. Tapi berkahnya saya jadi rajin mempelajari cara-cara terkini make money blogging. Hingga sampailah di blog-blog para dedengkot Fun Blogging.

Awalnya hanya melihat-lihat saja, mengagumi dari jauh. Bagaimana Teh Ani diajak jalan ke sana-sini, dipercaya sebagai pembicara di acara ini-itu, semuanya berkat blog. Demikian pula Kak Haya Aliya Zaki yang sempat diberangkatkan ke Singapura oleh sebuah rumah sakit, gara-gara blog. Dan saya dibuat ngiler tingkat dewa sama tarif sponsored post-nya Mbak Shinta Ries.

Semakin lama saya semakin tertarik untuk kembali memberdayakan kemampuan menulis, sekaligus aset berharga saya yaitu blog ini. Kalau ketiga srikandis penggagas Fun Blogging itu bisa, tentu saya juga bisa dengan cara mengikuti jejak mereka. Begitulah. Karena keinginan kuat bergabung dengan Fun Blogging, saya tetap mencoba mendaftar sekalipun tertulis keterangan "Kuota penuh" untuk event di Semarang pada Maret lalu.

Alhamdulillah, pemikiran saya semakin terbuka sepulang dari Semarang hari itu. Optimisme saya kembali melambung tinggi: saya bisa hidup dari blog! Ini pemikiran yang sempat saya kubur di akhir 2011 karena blog saya tak menunjukkan peningkatan memuaskan dalam hal penghasilan.

Banyak teman, banyak rejeki. Ini memang benar. Bergabung dengan Fun Blogging tak hanya make friend alias meluaskan lingkaran pertemanan saya, tapi sekaligus membuat saya bisa make money - banyak rejeki. Peluang demi peluang berdatangan. Sebelum menulis posting ini, saya baru saja menanggapi satu email tawaran article placement dan satu lagi penawaran sponsored post.

Mundur ke belakang, hitung punya hitung saya sudah mendapat baaanyak sekali setelah bergabung dengan Fun Blogging. Yang paling tak ternilai tentu saja relasi dengan blogger-blogger top. Ah, tak berani saya menyebut nama sebab semua anggota Fun Blogging di mata saya sama istimewanya. Mereka blogger-blogger keren kepada siapa saya harus banyak belajar.



Keterangan Foto:

  • Foto 1: Dari kiri ke kanan Mas Arif Rahman, Mbak Putri Gladys, Mbak Katerina S., Mbak Relinda Puspita, saya, dan Mas Wira Nurmansyah. Selain saya, orang-orang dalam foto ini merupakan travel blogger top Indonesia. Foto: Katerina, yang jepret Mbak Ira Hairida.
  • Foto 2: Mengabadikan rekan-rekan blogger dalam kunjungan ke Kampung Arab di Palembang. Wisata 2 hari 2 malam di Kota Pempek pada Mei lalu tersebut merupakan hadiah terbesar yang pernah saya dapatkan dari ngeblog sejauh ini.
  • Foto 3: Di sebelah kiri saya Mas Wira Nurmansyah, sedangkan di depan saya Mas Sutiknyo, Mbak Katerina, dan Mbak Relinda Puspita. Keempatnya travel blogger top negeri ini, dan siapalah saya sampai bisa duduk semeja makan bersama sosok-sosok hebat tersebut? (Foto: Katerina, yang jepret Mbak Ira Hairida)


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

20 komentar:

  1. 250 dollar mah banyak masss, apalagi di jaman semono, ah humblebrag ini mahhh :p :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, mastah-mastahnya dapet lebih banyak lagi ok, Mbak. Minimal 500 dolar, bahkan beberapa tembus 1000 dolar. Tapi ya embuh ding, itu pendapatan bersih atau belum dipotong biaya-biaya.

      Hapus
  2. Seru yaaa..bisa ketemu banyak orang...Yang di foto pas event di Palembang, GMT atau yang lomba perahu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu pas lomba perahu, Mbak. Saya bertiga dengan Mbak Rien dan Mbak Inda pemenang lomba blog, sedangkan Mas Arif, Mar Tiknyo, Mas Wira, Mbak Gladys, dll. blogger tamu.

      Hapus
  3. Terus menulis dengan hati, rejeki dan teman akan datang dengan sendirinya.

    Senang mengenal mas Eko, seorang teman yang baik dan bersahaja. Saya suka dengan pijar semangat belajar dalam diri mas Eko.

    Keep blogging mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Itu yang saya rasakan dalam beberapa bulan terakhir. Beda banget dengan pas masih garap blog yg tujuannya cuma make money seperti sy ceritain di atas, begitu hasilnya gak memuaskan saya kecewa. Tapi di blog pribadi ini, meski sepi job dan ikut lomba blog banyakan kalahnya, saya enjoy aja :)

      Hapus
  4. Blog itu bisa dibilang sumber pundi-pundi uang bermunculan ya, Mas. Bukan cuma uang tapi teman baru, pengalaman baru dan tempat wisata baru, hahaha. Saya suka ngeblog awalnya karena bantu pacar buat nulis di websitenya. Sampai akhirnya saya dipaksa untuk coba bikin blog sendiri dan sekarang sudah nyaman banget jadi blogger. :) Tetap semangat menulis dan berbagi mas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, betul sekali. Lebih tepatnya sumber rejeki sih, dan rejeki terbesar yang tak ternilai adalah teman-teman baru atau jaringan baru serta kesempatan-kesempatan baru.

      Hapus
  5. Kalo saya malunya karena sering jadi yang senior di umur, tapi kok masih pengen belajar kayak anak muda. Aihhh, memalukan emang kalo punya sifat minder duluan tuh. Dan sejak kenal penulis top, minder saya udah ngilang. Kalah sama semangat belajar saya, Masbro :)

    Semangat yak, moga nambah rezekinya, aamiin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, itu kalo saya pas ikut join komunitas fan Liverpool di Pemalang sini. Paling tua dan satu-satunya yang sudah punya istri, apalagi anak! Lainnya masih pada SMA, paling pol usia 24 tahun. Makanya mundur teratur. Hehehe

      Hapus
  6. Aku malah belum pernah tuh ikut fun blogging. Sepertinya keren banget ya mas :)
    Aku juga takjub juga dengan pendapatan blog yang luar biasa itu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya dulu juga gak ikut komunitas apapun, Mbak. Sampai akhirnya entah kenapa kok ngebet banget pengen ikut event Fun Blogging. Eh, ternyata positif. Alhamdulillah...

      Hapus
  7. majalah annida itu apaan ??? kayak nya gw kudet hahahhaa
    aku juga penyendiri, pemalu dan pendiam lho #Mukamerah trus ngak gabung komunitas apapun karena suka minder hahahhaa #Kabur

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alah, anak alim seperti Mas Cumi masa gak pernah baca Annida sih? Kalo majalah Ummi pernah kan? :D

      Hapus
  8. Waaa... sudah pakai dolar penghasilannya ya :)

    BalasHapus
  9. Mas, ini kunjungan pertama saya. Saya sendiri malah belum pernah istiqomah untuk nge blog. Tapi tulisan ini -entah sengaja atau tidak sengaja,- menginspirasi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya niatnya cuma berbagi aja, Mas. Kalau kemudian ada yang terinspirasi, ya alhamdulillah. Berarti tulisan ini bermanfaat :)

      Hapus
  10. karena dari teman akhirnya saya bisa update informasi, kadang dapet job, kadang dapet kenalan yang berujung relasi untuk pekerjaan, banyak teman banyak rejeki itu bener banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak. Termasuk info lomba blog, terus nanti kita yang menang. Hihihihi... *becanda lho...*

      Hapus