Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 22 Juli 2016


MENERBITKAN buku sudah jadi impian saya sejak SMP. Sebuah buku dengan nama saya pada cover-nya, berisi cerita rekaan yang saya buat. Impian yang baru terwujud belasan tahun kemudian. Tapi jauh sebelum buku pertama saya benar-benar terbit, saya sudah terlebih dahulu membuat buku sendiri. Ya, kita sekarang mengenalnya sebagai buku indie.

Keinginan menerbitkan buku timbul karena pengaruh novel-novel silat yang saya baca. Terutama Wiro Sableng, si Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Cerita-cerita tokoh rekaan almarhum Bastian Tito ini sukses menyihir saya, sekaligus membuat saya berangan-angan jadi penulis. (Baca juga: Penulis yang Puasa Menulis Buku dan Menunggu Film Wiro Sableng)

Saat itu saya tengah belajar menulis. Terhitung sangat rajin karena alih-alih belajar, setiap malam saya mengarang. Bapak dan Ibu tahunya saya belajar, sebab saya mengarang menggunakan buku tulis biasa. Hasilnya, saya sukses menuntaskan delapan episode serial Soko Gendeng si Pendekar Clurit Emas. Terpengaruh sinetron Panji Tengkorak di Indosiar, saya juga menulis satu cerita lepas dengan tokoh bernama Jawara Loreng.

Cerita-cerita rekaan inilah yang saya angan-angankan terbit dan dibaca banyak orang seperti halnya novel Wiro Sableng.

Saat membaca novel Wiro Sableng, saya membayangkan novel karangan saya kelak dibaca oleh remaja-remaja seusia saya saat itu. Lalu ketika membeli novel-novel tersebut di pasar, saya bayangkan anak-anak sekolah tengah berebut ingin membeli novel Soko Gendeng atau Jawara Loreng karya saya. Ya, novel dengan nama Eko Nurhuda di sampul depannya.

Keinginan menjadi penulis dan menerbitkan buku semakin memuncak ketika Bastian Tito menampilkan dirinya di sampul belakang Wiro Sableng. Almarhum terlihat duduk di belakang meja kerjanya, dengan seperangkat komputer berada di atas meja, tersenyum tipis pada kamera. Lalu di episode yang lain ayah aktor Vino G. Bastian tersebut berfoto di hadapan lukisan Wiro Sableng besar. Masih dengan senyum samarnya.

Tentu saja saya membayangkan suatu saat foto saya yang ada di sana, di novel-novel karangan saya. Keinginan yang bahkan sempat terbawa ke dalam mimpi. Dalam bunga tidur, saya bertemu dengan jin yang ada di legenda Aladdin. Jin tersebut bersedia mengabulkan satu saja permintaan saya, dan saya meminta padanya agar karangan saya yang masih berupa coretan-coretan di dalam buku tulis terbit menjadi novel. Dan... abra kadabra! Novel-novel dengan nama saya pun bertumpuk, siap dipasarkan. Sayangnya itu cuma mimpi.

Mesin Tik Pinjaman
Masuk SMA, bacaan saya mulai berubah menjadi cerpen-cerpen remaja dengan tema percintaan. Namanya juga masih penulis pemula, saya pun terpengaruh dan mulai menulis cerpen. Sama seperti jaman SMP, saya tetap menulis di atas buku tulis biasa. Boro-boro komputer, mesin tik saja merupakan barang mewah bagi saya saat itu.

Lalu seorang kawan sekelas yang sama-sama menyukai dunia kepenulisan mengajak saya merintis majalah dinding swadaya. Lengkapnya silakan baca di posting Jadi Pemred Berkat Majalah Dinding. Sadar tulisan kami tidak mudah dibaca orang lain, kami meminjam mesin tik dari seorang kawan lain. Bukan perkara mudah sebab rumah kawan kami itu terhitung jauh dan tak satupun dari kami punya sepeda motor. Pendek kata, butuh perjuangan untuk membawa mesin tik tersebut sampai bisa kami pakai.


Mesin tik tersebut ditaruh di kontrakan saya, sedangkan partner saya dalam mengelola majalah dinding tinggal di kontrakan lain. Jadilah mesin tik itu lebih akrab dengan saya, dan lebih sering dipakai untuk mengetik cerpen-cerpen saya. Satu cerpen iseng saya kirim ke harian Jambi Ekspres, dan ternyata dimuat. Itulah karya tulis pertama saya yang dimuat media cetak.

Naik ke kelas tiga, saya terpengaruh oleh kawan-kawan penyuka puisi. Jadilah saya ikut menulis puisi. Frekuensi menulis cerpen berkurang, diganti dengan menulis puisi hari demi hari. Entah bagus atau tidak, saya pede saja mengirimkan beberapa di antaranya ke majalah Horison. Hahaha...

Semakin lama puisi gubahan saya semakin banyak. Saya jadi berpikir, kalau cuma di buku tulis tentu tak sedap dibaca. Saya lalu berpikir, bagaimana caranya membuat semacam buku berisi puisi-puisi saya. Ya, saya istilahkan semacam buku. Mumpung masih ada mesin tik pinjaman dan tinta pada pitanya masih terang.

Setelah memperhatikan buku-buku sederhana di perpustakaan sekolah, saya dapat akal. Beberapa lembar kertas HVS ukuran folio saya lipat dua, kemudian saya susun sedemikian rupa sehingga tampak seperti buku tulis. Puisi demi puisi saya ketik bolak-balik di bagian yang sudah terlipat dua. Bak seorang layouter penerbit, saya mempertimbangkan secara cermat panjang tiap-tiap puisi, memastikannya cukup pada halaman yang tersedia, serta membagi-bagi halamannya sedemikian rupa sehingga saat disatukan runtut dibaca.

Beberapa hari saya disibukkan dengan proyek ini. Begitu bagian isi selesai diketik semua, saya buat cover-nya dengan kertas karton yang dihias tulisan tangan. Oya, judul antologi puisi tersebut Awan Putih, mengambil judul salah satu pusisi di dalamnya. Sebuah buku indie yang diterbitkan secara sederhana, dari sebuah petak kontrakan di sudut kota Muara Bulian nan sepi.

Buku indie ini terus saya bawa-bawa bersama koleksi buku yang lain. Saat kuliah ke Jogja, buku ini ada di rak dan beberapa kali dibaca teman-teman satu kos. Tapi seiring surutnya minat saya pada dunia sastra dan dunia kepenulisan - karena tak kunjung bisa menembus media cetak mayor, serta tuntutan untuk segera mandiri secara finansial, buku indie tersebut entah saya campakkan di mana. Kalau saja bukan karena tema ODOP hari kesepuluh, rasanya tak akan pernah lagi saya mengingat-ingat buku indie Awan Putih itu.

Mungkin saya tinggal di kamar kos di kawasan Suryodiningratan, mungkin masih di rumah seorang teman di Sorowajan, mungkin juga sudah saya bakar bersama buku-buku tak terpakai lain ketika kos di Jl. Kusumanegara. Saya benar-benar tidak ingat. Yang pasti, buku indie pertama saya ini sudah tidak ada lagi. Buku indie yang mengguratkan betapa kuatnya keinginan saya menerbitkan buku karya sendiri.

Awal 2012, saya kembali menerbitkan buku indie. Tapi kali ini dengan kualitas lebih baik, nyaris tak ada bedanya dengan buku-buku yang diterbitkan penerbit pada umumnya. Saya gunakan layanan Nulisbuku.com untuk menerbitkan sebuah naskah buku yang ditolak oleh lima penerbit berbeda. Sebuah buku berisi tips sekaligus motivasi bagi blogger untuk menulis buku. Judulnya, Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku! Gambar paling atas merupakan penampakan buku tersebut di web Nulisbuku.com.

Karena tak dipromosikan, hingga saat ini buku tersebut baru dibeli sebanyak 7-8 eksemplar. Dua di antaranya saya pesan sendiri untuk koleksi pribadi dan hadiah, sedang lima sisanya dipesan rekan-rekan sesama blogger. Salah satu pembeli buku tersebut Pakde Abdul Cholik di Surabaya.

Tahun lalu, saya coba pajang versi digital dari buku tersebut di Google Play dan Google Books. Silakan dilihat di laman ini, harganya saya set lebih murah dari versi cetak. Lumayan, ada tambahan penjualan meski jumlahnya masih juga tidaklah seberapa.


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

6 komentar:

  1. Sudah 2 buku... hore... Alhamdulillah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini buku saya ya maksudnya? Kalau benar itu yang dimaksud, malah sudah lima yang terbit. Cuma sudah lama sekali tidak menulis buku lagi :)

      Hapus
  2. Perjalanan panjang menuju memiliki buku sendiri ya, Mas ^_^
    Semoga selalu terus bersemangat melahirkan buku-buku lainnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah, Mbak.
      Terima kasih atas kunjungannya :)

      Hapus
  3. Wah senangnya dari remaja sudah punya hobi nulis, saya tau suka nulis saat hamil anak ke empat hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, cuma tetap aja karena gak fokus pada dunia kepenulisan saya masih begini-begini terus :)

      Hapus