Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 02 Agustus 2016


SELEPAS menulis review tentang sebuah hotel di Uluwatu, saya jadi teringat kalau saya sendiri belum pernah sampai ke Bali. Beberapa kali hanya nyaris saja pergi ke sana, dan selalu tertahan di Pelabuhan Ketapang. Entahlah, tapi kok belum sreg rasanya hidup di Indonesia kalau belum pernah mengunjungi Bali.

Ya, siapa yang tak kenal Bali. Sejak saya belum lahir provinsi ini merupakan destinasi wisata nomor satu di Indonesia, serta menjadi rekomendasi di luar negeri. Kalau menarik lebih jauh ke belakang, Bali sudah menjadi tujuan wisata di jaman pemerintahan Hindia Belanda. Di masa itu turis-turis mancanegara sudah berdatangan ke sana. Buktinya bisa dilihat dari video-video rekaman Bali pada tahun-tahun prakemerdekaan yang banyak beredar di YouTube.

Saya memang belum pernah ke Bali, tapi saya pernah berhubungan dekat dengan komunitas Bali. Tepatnya Bali perantauan, sewaktu saya dan keluarga masih tinggal di kawasan transmigrasi di Batumarta, Kab. OKU Timur, Sumatera Selatan. (Baca juga: Putra Jawa Kelahiran Sumatera dan Masjid yang Dibangun dengan Getah Karet)

Teman sebangku saya sewaktu kelas satu di SLTP Negeri 4 Batumarta seorang Bali. Saya masih ingat betul nama dan wajahnya hingga saat ini. I Made Bimbo, tapi seringkali kami pelesetkan jadi I Made Bumbu.

Selain Bimbo, satu lagi orang Bali sekelas di SMP yang masih saya ingat jelas nama dan wajahnya adalah Kadek Sarianti. Ehem, benar dia seorang perempuan. Sejak masih kelas satu Kadek jadi primadona sekolah. Banyak kakak-kakak kelas yang sengaja mendatangi kelas satu saat jam istirahat cuma untuk melihat Kadek. Dari yang tingkahnya sopan, sampai yang capernya amit-amit naudzubillah.

Iya, iya, saya akui saya dulu juga salah satu pemuja rahasia Kadek Sarianti. Siapa sih yang nggak? Melihat wajah Kadek secara otomatis di kepala saya terngiang lagunya Ari Wibowo yang berjudul Ida Ayu Komang. Yap, Kadek bagi saya adalah gambaran cewek Bali yang ayu nan anggun tapi pemalu, seperti yang digambarkan oleh model dalam video klip tersebut.



Oya, Bimbo kawan SMP saya itu sampai sekarang masih tinggal di Blok B Batumarta VI, Kec. Madang Suku III, OKU Timur. Seperti halnya anak-anak Bali seusianya, Bimbo menghabiskan masa kecil di Batumarta. Ayah-ibunya ikut program transmigrasi dan ditempatkan di perkampungan yang terletak tepat di tengah-tengah perkebunan karet.

Memegang Teguh Tradisi
Meskipun tinggal jauh dari tempat asal-usul, keluarga Bimbo dan warga Bali perantauan tetap memegang teguh tradisi dan adat-istiadat mereka. Kawasan pemukiman yang berjarak kira-kira lima jam perjalanan darat dari Palembang tersebut seolah menjelma jadi Bali kecil. Pura-pura bertebaran, lalu saat Hari Raya Galungan tiba rumah-rumah dan sepanjang ruas jalan di mana warga Bali tinggal dihiasi penjor aneka bentuk.

Untuk keperluan peribadatan, tiap-tiap rumah warga Bali di Batumarta mempunyai pura sendiri-sendiri. Ini wajib hukumnya bagi penganut Hindu Bali. Sebab keberadaan pura di halaman rumah sendiri mempermudah pelaksanaan ibadah harian setiap pagi dan sore. Kalau tak mempunyai pura di rumah, ibadah musti dilakukan di pura milik kampung atau desa yang jaraknya belum tentu dekat.

Lagipula pura tak hanya untuk ritual pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi Wasa, tapi juga leluhur keluarga. Karenanya memiliki pura pribadi adalah semacam kewajiban bagi masyarakat Hindu Bali di Batumarta. Sama halnya dengan warga Bali di tempat asalnya nun jauh di Pulau Bali.

Satu hal yang jadi kekaguman warga etnis lain terhadap komunitas Bali adalah soal pengorbanan untuk membangun pura. Mereka mau habis-habisan membangun pura sekalipun hidupnya masih belum mapan secara finansial. Pura dibangun semegah-megahnya, meski rumah tempat tinggal mereka hanya berdinding gedhek dan beratap ilalang.

Tentu bukan alasan jika warga Bali harus memilih antara memperbaiki rumah atau membangun pura. Dengan biaya yang nyaris sama, mereka lebih suka membangun pura demi memudahkan ritual pemujaan sehari-hari. Padahal biaya untuk pura bukan cuma ongkos membangun, tapi juga perawatannya. Termasuk juga kain-kain dan canang (sesaji) yang musti diganti terus-menerus.


So, pura megah dan bagus di halaman sebuah rumah (maaf) buruk bukan pemandangan aneh di Batumarta. Hal sama berlaku pada pembangunan pura kampung atau pura desa. Jangan heran melihat sebuah komplek peribadatan mahabesar nan luas dan indah di tengah-tengah perkampungan warga Bali yang rumahnya kebanyakan masih berdinding papan beralas tanah.

Kami sudah mafhum, bagi orang Bali lebih baik pura mereka yang bagus ketimbang punya rumah mentereng tapi puranya ala kadar. Bagi mereka ini merupakan salah satu wujud syukur terhadap nikmat yang telah diberikan Sang Hyang Widi Wasa. Keteguhan terhadap keyakinan membuat mereka rela berkorban, mewujudkan cinta kasih pada Sang Dewata dalam bentuk pura-pura megah. Tak peduli bagaimana pun kondisi mereka sendiri.

Oktober 2011 lalu masyarakat Bali di Batumarta pernah membuat geger Sumatera Selatan. Pasalnya, mereka membangun sebuah pura dengan anggaran Rp 1,5 miliar yang kesemuanya merupakan hasil swadaya warga. Pura di Desa Swarnaloka Batumarta VII, Kecamatan Madang Suku III, tersebut diberi nama Pura Puseh. (sumber)

Pura-Pura Menakjubkan
Pengorbanan dan kegigihan dalam membangun pura ini rasanya sudah menjadi darah daging orang Bali. Mereka tak mau tanggung-tanggung. Mereka ingin pura dibuat sebagus mungkin, semegah mungkin, semenawan mungkin, sekalipun bagi orang lain terlihat mustahil untuk dikerjakan. Karenanya jangan heran kalau di Bali banyak pura-pura menakjubkan.

Pura Uluwatu salah satu contohnya. Pura yang juga dikenal dengan nama Pura Luhur Uluwatu tersebut terletak di ketinggian 97 meter di atas permukaan laut. Berdiri kokoh di puncak tebing batu, menghadap ke Samudera Hindia nan ganas.

Coba bayangkan sejenak, bagaimana caranya orang-orang yang membangun pura tersebut membawa batu-batu ke atas bukit? Batu-batu bahan pembuatan pura tersebut biasa terdapat di sungai, sisa-sisa lahar letusan gunung berapi. Lihat di Google Maps, berapa jarak sungai terdekat dari Pura Uluwatu? Dan batu-batu tersebut dibawa menanjak ke atas bukit!

Wisatawan yang tak membawa apa-apa saja banyak dibuat terengah-engah saat meniti undak-undakan tangga menuju Pura Uluwatu. Bagaimana dengan orang Bali yang dulu membawa batu-batu tersebut ke atas bukit?


Lihat juga Pura Tanah Lot. Bayangkan bagaimana orang-orang Bali dahulu membawa batu-batu bahan pembuatan pura menuju ke atas batu raksasa di tengah kepungan air laut. Membayangkannya saja tidak mudah. Entah dari mana pula asal batu-batu tersebut. Tapi orang Bali bisa melakukannya, dan jadilah Pura Tanah Lot yang dikagumi wisatawan dari berbagai belahan Bumi.

Bagi saya, jawabannya adalah kegigihan orang Bali dalam mewujudkan apa yang mereka inginkan. Kecintaan pada Sang Hyang Widhi Wasa membuat orang Bali merancang pura di tempat-tempat luar biasa demi mendekatkan diri pada Penguasa Jagat. Tempat yang terlihat tidak mudah. Tapi, toh, pura-pura luar biasa tersebut rampung dan terus mengundang decak kagum hingga kini.

Saya jadi berandai-andai. Saya pernah melihat pura-pura kecil di rumah-rumah tetangga semasa tinggal di Batumarta dulu. Saya juga pernah dibuat tertegun penuh kagum oleh kemegahan sebuah pura desa di sana, yang saya kira candi. Satu yang belum saya alami adalah melihat pura-pura Hindu Bali di tempat asalnya. Tentu bakal menyenangkan sekali.

Seperti saya ceritakan di paragraf pembuka, beberapa kali saya hanya nyaris ke Bali. Sewaktu mengunjungi paman di perbatasan Banyuwangi-Situbondo, niat untuk menyeberang via Ketapang selalu ada. Tapi karena tak direncanakan sebelumnya, niat mendadak tersebut tak pernah terwujud. Jadilah saya harus puas hanya bisa melihat daratan Bali dari Watudodol.

Ah, semoga saja dalam waktu dekat saya bisa jalan-jalan ke Bali. Amin...

Catatan:
- Foto 1: Pura salah satu desa di Batumarta, OKU Timur, Sumatera Selatan. (imgrab.com)
- Foto 2: Pura Luhur Uluwatu di Kabupaten Badung, Bali. (Kemdikbud.go.id)
- Foto 3: Pura Tanah Lot di Kabupaten Tabanan, Bali. (plesiryuk.com)


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

12 komentar:

  1. Saya baru sekali ke Bali, itu pun pas SMA. Dan memang indah. Sangat mengesankan. Semoga bisa ke sana ya Mas....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum pernah blas ke sana, cuma sampe Pelabuhan Ketapang aja. Nggak nyeberang. Hehehe...

      Hapus
  2. Saya pernah ke Bali dua kali tapi muter-muter sebatas Kuta dan Sanur saja. Padahal pengen ke Uluwatu dan lain-lainnya. Gak jadi ikutan lomba ini gak punya stok foto. Masih belum pede kalau pinjam foto orang lain huhu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum pernah ke Bali, Mbak. Makanya yang ditulis malah pengalaman pas punya teman sekolah dan tetangga asal Bali di Sumatera Selatan dulu. Jaman itu gak ada cameraphone, orang hape aja masih belum banyak yang pake. Jadinya gak punya dokumentasi bareng teman-teman di sana sewaktu SD dan SMP.

      Hapus
  3. kegigihan mereka mengantarkan pada hasil yang luarbiasa. Andai semua daerah seperti itu pasti Indonesia akan menjadi lebih baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo cerita Ibu saya, di Bali itu dulu terkenal sangat aman sekali. Sepeda motor kuncinya masih nyantol di motor dan ditaruh di halaman semalaman gak bakal hilang. Itu juga kearifan lokal yang semoga masih bertahan hingga kini, kejujuran.

      Hapus
  4. Semoga mas Eko bisa ke Bali.. dan bukan pas peak season (sy kesana cm sekali pas rame liburan lagi.. hasilnya mengecewakan) dan 6 hari rasanya kurang.. saya juga pengen kesana lagi.. sebulan.. haha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, iya ini bener banget. Enaknya wisata ke tempat favorit seperti Bali jangan pas peak season. Gak enak banget kalo pas rame banget. Saya juga suka berwisata ke tempat-tempat sepi. Makasih ya doanya :)

      Hapus
  5. Sama Sekali Belum Pernah Kesana hiks hiks

    BalasHapus
  6. Balasan
    1. Hehehe, Mas Duto ngajak padahal ya bulan Mei itu :)

      Hapus