Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 08 Agustus 2016


JANGAN sekali-kali meremehkan orang. Sekalipun kita lagi "di atas" alias lebih segala-galanya dari orang tersebut, menganggap remeh bukanlah sikap bijak. Ya, kita tidak pernah tahu bagaimana perkembangan orang itu kelak. Bisa jadi dua-tiga tahun lagi ia malah lebih oke dari kita. Kisah hidup Indra Destriawan ini contohnya.

Lulus SMA Indra tidak mungkin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena alasan biaya. Jangankan berpikir kuliah, untuk kebutuhan sehari-hari saja ibu Indra harus berhutang dari satu rentenir ke rentenir lain. Pasalnya sang ibu sakit-sakitan, sehingga harus keluar-masuk rumah sakit dengan biaya yang tentu saja tidak sedikit.

Di saat teman-temannya sibuk memikirkan kuliah di mana, ambil jurusan apa, Indra hanya bisa menunggui ibunya yang sakit sembari mencari cara agar bisa mendapatkan penghasilan. Melihat tetangga kanan-kirinya banyak pengerajin batik, ia coba berjualan batik secara online dengan bermodal smartphone. Ia juga mengirim proposal penawaran seragam batik ke berbagai instansi.

Sembari merintis usaha, Indra menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan sosial. Ia bergabung dengan komunitas-komunitas relawan yang ada di Batang dan sekitarnya. Mulai dari Pagi Berbagi, Pekalongan Peduli, sampai kemudian informasi mengenai Sedekah Rombongan yang baru berdiri terdengar di telinganya.

Sedekah Rombongan (SR) adalah sebuah gerakan sosial yang digagas oleh pengusaha muda Yogyakarta, Saptuari Sugiharto. Gerakan ini fokus pada penanganan duafa sakit. Jadi kalau ada tetangga yang sakit parah tapi tak bisa berobat karena kondisi finansial yang tidak memungkinkan, silakan kontak Sedekah Rombongan. Kalau dinilai layak dibantu, seluruh biaya pengobatan sampai sembuh akan ditanggung.

Melihat fokus gerakan SR, Indra mantap mengajukan diri sebagai kurir. Boleh dibilang ia merupakan perintis SR di kawasan Pantura. Kurir pertama. Sebagai kurir tugasnya menyurvei kondisi calon pasien dampingan SR. Begitu ada informasi duafa sakit di area Pantura masuk ke email atau media sosial SR, Indra ditugaskan mendatangi alamat si sakit.

Ya, setiap calon pasien dampingan SR akan disurvei terlebih dahulu untuk menentukan layak-tidaknya dibantu. Indra-lah yang melihat kondisi tempat tinggal si sakit, mencari tahu kehidupan kesehariannya, menggali lebih banyak tentang penyakit yang diderita, mengambil foto-foto yang diperlukan, lalu melaporkannya ke koordinator kurir SR di Jogja.

Indra Destriawan bersama kurir-kurir Sedekah Rombongan wilayah Pantura. Dua yang saya kenal Abud Furqan (nomor dua dari kanan) dan Muhammad Jumhan (paling kanan).



Berdasarkan laporan dan foto-foto dari kurir seperti Indra inilah SR menentukan pilihan, dibantu atau tidak. Bantuan dari SR sendiri ada dua macam, berupa santunan atau ditanggung penuh biaya pengobatannya di rumah sakit hingga sembuh total. Semua tergantung jenis dan sudah seberapa parah penyakit tersebut.

Jika calon pasien yang disurvei dinilai layak dibantu, maka Indra pula yang menjadi kepanjangan tangan SR. Untuk bantuan berupa santunan, sejumlah uang akan ditransfer ke rekening Indra untuk disampaikan pada si sakit atas nama Sedekah Rombongan. Kalau bantuannya berupa biaya pengobatan, Indra harus membawa si sakit ke rumah sakit yang ditunjuk.

Tak cuma membawa ke rumah sakit, Indra bahkan nyaris seperti mengurusi pasien dampingan bersama-sama keluarganya. Tanggung jawab kurir adalah terus mendampingi sampai pasien dinyatakan sembuh oleh dokter. Karenanya Indra kerapkali menghabiskan malam di RS, atau tidur di dalam ambulans SR. Berhari-hari tak pulang ke rumah.

Mukjizat Pertama
Oya, kurir SR sama sekali tak memperoleh bayaran. Baik dari SR, lebih-lebih dari pasien dampingan. Biaya survei ke rumah calon pasien yang tak jarang terletak di kabupaten berbeda ya ditanggung sendiri oleh si kurir. Beli bensin, makan di jalan, dan semua pengeluaran lain keluar dari kantong kurir. Namanya juga relawan.

Seperti yang berulang kali ditekankan Saptuari, kurir SR tidak berharap gaji dan tidak akan pernah digaji. Kurir SR hanya mencari muka di hadapan Allah SWT. Maka nanti yang akan memberi bayaran, memberi gaji, adalah Allah. Langsung, kontan! Bukankah doa duafa serta doa orang sakit merupakan doa-doa yang makbul?

Indra sendiri dengan senang hati mejalani peran sebagai kurir SR. Untuk biaya operasional ia dapatkan dari berjualan batik, lalu mencoba berbisnis clothing dengan memproduksi kaos-kaos bertema anak muda. Tak sepeser pun ia mendapat uang dari SR. Tapi balasan lebih besar ia terima, ibunya tak pernah sakit lagi semenjak ia menjadi kurir SR.

Atas persetujuan Saptuari, Indra kemudian merekrut beberapa kurir lagi. Direncanakan tiap-tiap kabupaten ada setidaknya satu kurir. Lalu bergabunglah Abud Furqan dari Kesesi (Kab. Pekalongan), Ardiansyah Nasokha Afwan alias Ardi yang asli Temanggung tapi saat itu menetap di Pemalang, lalu masuklah saya di akhir 2012.

Baca juga: Suka-Duka Jadi Kurir Sedekah Rombongan


Saat saya masuk dalam jajaran kurir SR Pantura, Indra dipercaya sebagai koordinator. Jadi kami bertiga berada dalam koordinasi Indra, tidak lagi berhubungan langsung dengan SR Pusat. Mulai dari instruksi survei pasien, pemberian santunan, dll. semuanya turun dari Indra. Pada perkembangannya, penentuan pasien dibantu dengan santunan atau dibawa ke rumah sakit menjadi wewenang Indra. Ini menunjukkan betapa besarnya kepercayaan Saptuari pada bujangan asal Subah, Batang, tersebut.

Tak lama semenjak diangkat sebagai koordinator, Indra ditarik Saptuari ke Jogja. Amanahnya ditambah dengan mengurus media sosial SR. Kesibukannya bertambah. Meski demikian ia tetap dapat membantu keuangan keluarga dengan berjualan kaos distro secara online.

Begitu banyaknya amanah yang ia pegang semasa di Jogja membuatnya sangat jarang pulang ke Batang. Dalam satu kesempatan saat bertemu di Jogja saya dan Mas Furqan pernah mendengar sendiri "curhat" Indra mengenai keinginan ibunya agar ia kembali ke Batang dan menetap di sana. Sebuah permintaan yang membuatnya bimbang.

Merintis Alona Batik
Kira-kira dua tahun di Jogja, Indra akhirnya memantapkan diri kembali ke Batang. Bukan keputusan mudah meninggalkan Jogja dengan segala fasilitasnya, terlebih bila dibandingkan dengan Subah yang jauh dari kota Batang. Tapi tekadnya sudah bulat, tak goyah lagi.

Indra tetap berstatus koordinator wilayah Pantura yang mengoordinir kurir di Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Ia juga masih dipercaya sebagai Social Media Manager di Sedekah Rombongan. Sesekali ia ikut survei calon pasien, atau mengantar-jemput ke rumah sakit. Sekali tempo bahkan roadshow dari Batang ke Tegal, Brebes, terus ke barat untuk menjemput pasien.

Usaha berjualan kaos distro dihentikan. Sebagai gantinya ia fokus memasarkan batik. Awalnya ia menjajakan produksi orang lain, dengan berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, dari satu instansi ke instansi lain, menyodorkan proposal pembuatan seragam batik. Sembari berkeliling, impian untuk mempunyai brand sendiri terus membayangi benaknya.

Setelah mempertimbangkan banyak hal, Indra mulai memberanikan diri memproduksi batik di bawah merek sendiri. Desember 2015, Indra memperkenalkan Alona Batik. Tapi jangan bayangkan usahanya dimulai dengan modal besar. Modalnya cuma keberanian dan optimisme. Usahanya dimulai dari rumah orang tuanya, tanpa karyawan satupun.

Untuk urusan produksi Indra memaksimalkan potensi tetangga kanan-kiri yang kebanyakan berprofesi buruh pembatik. Begitu pesanan masuk, Indra sendiri yang menyiapkan order dan mengirimkannya ke kantor ekspedisi. Dari Subah ke pusat kota Batang, kira-kira setengah jam perjalanan yang harus ia tempuh dengan sepeda motor. Ia merangkap sebagai pemilik, customer service, dan kurir sekaligus.

Kesibukan di kantor Alona Batik, Batang. Tampak para karyawan tengah menyiapkan order.



Dalam waktu singkat, sangat singkat bahkan, Alona Batik berkembang sebagai bayi ajaib dengan reseller sebanyak 200 orang di berbagai daerah. Jumlah tersebut meningkat lagi, lagi, hingga kini menjadi nyaris 500 reseller. Omsetnya jangan ditanya. Yang jelas kemajuannya bisa terlihat dari sembilan orang karyawan, serta sebuah kantor representatif di tengah kota Batang.

Masih penasaran berapa omsetnya? Sebagai gambaran berapa banyak paket batik yang dikirim Indra per harinya, pihak ekspedisi sampai rela mengirim satu armadanya untuk menjemput (pick up) ke kantor Alona Batik. Satu mobil khusus hanya untuk mengambil paket-paket Alona. Bayangkan.

Oya, perlu saya tambahkan Indra membangun Alona Batik tanpa pinjaman bank. Ia tergabung dalam komunitas anti riba yang digagas Saptuari. Alona benar-benar ia rintis dari kecil, dari nol. Dari mengerjakan semuanya sendirian di rumah orang tua, sampai bisa menggaji sembilan karyawan dan menyewa sebuah ruko di pusat kota Batang.

Bagi saya, perjalanan hidup Indra ini sangat inspiratif. Bukan melulu soal kesuksesannya membangun Alona Batik yang dalam tempo setengah tahun saja sudah beromset ratusan juta. Tapi lebih mengenai kerelaannya menyedekahkan sebagian besar hidupnya untuk membantu duafa sakit bersama Sedekah Rombongan. Kini, sekalipun sudah berstatus bos dan pengusaha muda, ia tetap mau menyetiri ambulans SR untuk menjemput pasien di pelosok-pelosok desa terpencil, serta tak jarang ikut memanggul tandu.

Inilah yang mendorong saya menuliskan kisahnya saat mengetahui lomba penulisan yang diadakan Bank OCBC NISP. Alhamdulillah, kisah yang saya tulis berhasil memikat juri sehingga masuk 10 besar. Agak disayangkan kisah inspiratif Indra tidak lolos ke lima besar karena kekurangan vote. Tapi bagi saya banyak atau sedikit vote yang didapat kisah ini tetaplah memberi inspirasi.

Baca juga: Juragan Batik Muda yang Sedekahkan Dirinya untuk Kaum Papa

Masih muda belia, ke mana-mana naik mobil dengan bisnis yang tengah naik daun, berbakti pada orang tua, murah hati, serta ringan tangan membantu derita duafa sakit. Hmmm, orang tua mana yang tak mengimpikan punya menantu seperti Indra Destriawan. Iya nggak, Bu? :)


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

5 komentar:

  1. Wahhhh.... batiknyaaa dasar mata emak2. Ha..ha...
    Nice posting Mas, inspiratif banget Masnya ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, batiknya emang bagus-bagus ya. Temen yang tadinya cuma liat saya komen-komenan status sama Mas Indra aja jadi beli batiknya lho. :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Maaf, yang jalan ama teman siapa ya, Mbak?

      Hapus
  3. Kisah inspiratif banget.dibalik Kesuksesan seseorang ada niat baik menolong orang yg membutuhkan tanpa pamrih

    BalasHapus