Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 05 Agustus 2016

DI jaman di mana internet sudah jadi kebutuhan seperti sekarang, perlahan tapi pasti kebiasaan masyarakat bergeser. Termasuklah di dalamnya soal belanja-belanji. Saya sendiri kini berada di level lebih merasa nyaman belanja online ketimbang mendatangi toko. Tentu saja ada alasan kenapa begitu. Mau tahu?

Ceritanya saya tinggal di sebuah kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa, Pemalang. Ini kota yang nyaris tak terlihat di peta. Orang dengan mudah mengenali Tegal atau Pekalongan, tapi kebingungan mencari Pemalang. Saya sendiri baru ngeh ada kabupaten bernama Pemalang setelah berkenalan dengan perempuan yang sekarang jadi istri saya. :)

Jangan heran kalau orang suka salah mengidentifikasi Pemalang. Setiap kali saya menyebut nama Pemalang, mereka menjawab, "Oh, di Jawa Timur ya?" Mereka kira Malang. Karenanya sewaktu merintis sebuah clothing kaos khas Pemalang, seorang kawan saya membuat tagline "Pemalang Itu Jawa Tengah!"

Lalu, apa hubungannya Pemalang kota kecil dengan saya yang lebih nyaman belanja online?

Begini. Sebagai kota kecil, akses kemana-mana jadi terbatas. Saya tidak bisa menyaksikan film Rudy Habibie yang inspiratif, atau film Bangkit! yang dibintangi aktor idola saya Vino G. Bastian. Kenapa? Karena di Pemalang tidak ada bioskop. Kalau mau menonton film harus pergi ke Tegal atau Pekalongan, itupun tidak selalu film terbaru diputar di bioskop-bioskop dua kota tersebut.

Alasan Saya Lebih Suka Belanja Online
Okelah, film itu kebutuhan tersier. Orang masih bisa hidup tanpa menonton film, bukan? Tapi saya paling tidak tahan tidak membeli buku-buru terbaru. Apalagi kalau baca resensi yang ditulis kawan-kawan di blognya.

Masalahnya, di Pemalang juga tidak ada toko buku. Bedakan dengan toko alat tulis yang menjual buku-buku pelajaran sekolah ya. Kalau itu sih ada banyak di sini. Pameran buku hanya ada setahun sekali, dengan jumlah stand terbatas, dan koleksi buku-buku cetakan lama yang tidak laku. Hmmm....


Nah, biasanya saya beli buku secara online. Berat di ongkos kirim sih, tapi masih lebih murah dibanding ongkos ke kota terdekat yang ada toko buku bonafid. Tak cuma buku, saya pun lebih suka mencari berbagai barang yang sedang dibutuhkan lewat internet. Tentu saja ada alasan kenapa begitu.

1. Barang yang saya cari tidak/belum ada di Pemalang
Harap maafkan kalau lagi-lagi saya ulangi soal Pemalang yang kecil dan serba terbatas. Tapi ini alasan paling utama. Saya butuh gorilla pod, misalnya. Muter-muter ke beberapa toko kamera terkenal di sini, yang ada cuma tripod dan monopod. Lainnya lagi malah hanya menyediakan tongsis.

Pernah saya terpikat sama satu handycam di sebuah toko online. Speknya lumayan bagus untuk merekam video, harganya ramah di kantong. Seperti biasa saya bookmark dulu halaman tersebut, merek serta tipe handycam itu saya ingat-ingat. Saya mau coba cari dulu di Pemalang mana tahu ada yang jual. Betul sekali, saya tidak bisa menemukan handycam itu!

Ya sudahlah, mau tidak mau saya harus membelinya di toko online kan?

2. Harga barang yang sama di Pemalang lebih mahal dari toko online
Ini sering sekali terjadi, dan beberapa kali saya mengalaminya sendiri. Contohnya sewaktu saya mau membeli tripod murah-meriah beberapa bulan lalu. Sebut saja mereknya MurmerPod. Saya survei harga dulu di internet, dan ketemulah paling murah Rp125.000. Tambah ongkos kirim Rp27.000 totalnya jadi Rp152.000.

Tapi saya tidak langsung ambil tripod itu. Saya coba cari dulu di beberapa toko kamera di sini dengan harapan ada menjual seharga segitu. Tahu berapa harga yang mereka minta? Rata-rata menyebut angka Rp250.000! Ya, bisa ditawar tentu saja. Setelah nego-nego halus, salah satu toko mentok cuma mau lepas seharga Rp175.000. Ya uwis, bye bye...

3. Saya bisa belanja sambil mengerjakan yang lain
Ini poin yang paling saya sukai. Kalau beli di toko konvensional saya harus keluar rumah. Ya, mana mungkin bisa beli barangnya kalau tidak mendatangi tokonya? Selama keluar itu saya meninggalkan anak-anak bermain sendiri, atau ditemani istri yang membuatnya dengan terpaksa menunda pekerjaan-pekerjaan domestik.

Saya sendiri tak bisa melakukan yang lain selama berbelanja. Kecuali update status di sosmed, itupun kalau sempat dan ada hal menarik yang saya rasa layak dibagikan. Tak jarang setelah mencari-cari selama itu saya pulang dengan tangan hampa. Kadang barangnya tidak ada, kadang harganya yang tidak cocok.

Sebaliknya, berbelanja online bisa saya lakukan sembari menggarap pekerjaan lain. Bisa nyambi menulis posting baru di blog, nge-buzz artikel untuk menggenjot trafik, atau setidak-tidaknya sambil bermain bareng anak-anak. Yang ibu-ibu pasti sepakat dengan poin terakhir, iya kan?


4. Berbelanja online itu menghemat waktu
Waktu adalah uang. Kalau kita bisa memanfaatkan waktu untuk mencari uang, kenapa malah melewatkannya untuk kegiatan menghabiskan uang seperti berbelanja? Hehehe...

Bayangkan. Untuk berbelanja di toko saya harus meluangkan waktu kurang-lebih 2-3 jam. Rinciannya: perjalanan pergi-pulang, mencari-cari harga terbaik dari satu toko ke toko lain, diskusi dengan pelayan toko yang belum tentu paham produk yang dijual di tokonya, plus antri membayar di kasir.

Waktu 2-3 jam itu khusus buat putar sana-sini, dari berangkat sampai pulang hanya untuk mencari barang sampai mendapatkan yang pas di hati sekaligus ramah di kantong. Bukan waktu yang sebentar lho itu.

Sebaliknya, waktu untuk berbelanja online tidak sampai 2-3 jam. Saya tidak perlu keluar rumah, jadi tidak butuh waktu untuk berangkat ke dan pulang dari toko. Juga tidak perlu antri di kasir. Cukup pilih-pilih, pencet-pencet, belanja pun selesai. Anak-anak senang ditemani, istri lega bisa memasak dan mencuci, saya dapat barang yang dibutuhkan.

Bijak Memilih Toko Online
"Tapi, Mas, di internet kan rawan penipuan," kata seorang tetangga yang tahu saya beli apa-apa lewat internet. Tetangga kanan-kiri saya penasaran dan bertanya karena sering melihat kurir ekspedisi datang ke rumah mengantarkan paket-paket. Kalau pas belanjaan saya banyak, paket yang diantar besar sekali sehingga terlihat mencolok.

Ini kekhawatiran umum. Berita-berita penipuan di internet selalu saja ada di televisi atau koran. Biasanya tertipu toko online bodong, dengan modus uang sudah ditransfer tapi barang tak kunjung dikirim. Tak heran masih banyak yang merasa khawatir berbelanja online.

Saya sendiri, alhamdulillah, sampai saat ini belum pernah mengalami hal buruk selama bertransaksi online. Dan mudah-mudahan tidak pernah mengalami. Tak ada tips khusus. Saya hanya berusaha selalu waspada dan tak mudah tergiur tawaran tidak masuk akal. Itu saja.

Contohnya sekarang saya ingin sekali membeli kamera saku, dan yang saya incar Canon iXus 175. Saya lihat dulu berapa banderol resmi di situs Canon Indonesia. Didapatlah angka Rp1.200.000 sebagai harga resmi. Ini saya jadikan patokan saat mencari tawaran terbaik di berbagai toko online. Kalau ada yang menawarkan seharga Rp800.000 atau Rp900.000, itu mencurigakan. Selisihnya terlalu banyak.


Cari punya cari, ada beberapa penjual yang menawarkan harga Rp.1.050.000. Bagi saya ini tawaran masuk akal sebab selisih dengan harga resmi produsen tidak terlampau jauh. Selanjutnya tinggal tingkatkan kewaspadaan dengan hanya berbelanja di situs-situs terpercaya. Salah satu yang menurut saya layak direkomendasikan adalah Blanja.com.

Kamera saku yang sedang saya cari ada di sini. Rentang harganya mulai Rp1.050.000 sampai yang termahal Rp1.100.000. Untuk sementara memang cuma saya masukkan whistlist. Tapi setidaknya saya tahu harus kemana membelinya saat uang sudah terkumpul. Syukur-syukur pas uangnya ada, eh, ndilalah harganya turun. Hehehe, maunya!

Satu hal yang membuat Blanja.com layak dipercaya, situs marketplace ini merupakan hasil kerja sama strategis antara PT Telkom Indonesia dengan eBay. Keduanya perusahaan ternama, tak ada alasan bagi saya untuk khawatir berbelanja di sini. Saya sendiri merupakan pelanggan layanan internet Telkom. Posting blog ini saya unggah menggunakan koneksi internet yang disediakan PT Telkom.

Dalam video berikut saya ceritakan alasan mengapa saya berlangganan internet di Telkom, serta keuntungan apa saja yang sudah saya dapatkan dari layanan yang diberikan perusahaan satu ini.



Kembali ke Blanja.com, bukan cuma background perusahaan pendirinya yang membuat marketplace satu ini layak jadi pilihan belanja online. Seleksi penjual di sini juga sangat ketat, di mana penjual perorangan diminta mencantumkan NPWP, sedangkan penjual besar diminta mengirim file perijinan dan legalitas perusahaan.

Penipuan online terbuka jika kita langsung mentransfer uang ke penjual. Begitu ketemu penjual abal-abal, sulit berharap uang kita yang ditipu kembali lagi. Di Blanja, pembeli mendapat jaminan uang kembali. Jangan kata barang tidak dikirim, kalau barang yang diterima tak sesuai deskripsi saja kita berhak mengajukan klaim.

Yang bagi saya tak kalah penting, ada banyak cara pembayaran untuk melunasi transaksi. Termasuk melalui Kantor Pos, Indomaret, Alfamart, atau Pegadaian. Bagi saya yang tinggal agak jauh dari kota ini sangat membantu sekali. Saya tak perlu lagi jauh-jauh datang ke mesin ATM atau antri panjang di teller bank. Cukup ke minimarket yang cuma lima menit dari rumah, beres.

Bagi pengguna nomor Telkomsel, disediakan pula pembayaran menggunakan t-Cash lho. Kurang apalagi coba? Kalau saldo t-Cash mencukupi untuk membayar belanjaan, tinggal pencet-pencet layar smartphone, transaksi pun lunas. Selanjutnya tinggal duduk manis menunggu pesanan diantar ke rumah.

Well, kalau belanja online semudah ini, wajar kan kalau saya merasa lebih nyaman shopping di dunia maya?


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

21 komentar:

  1. Situs belanja online yang terpercaya sangat mempermudah, dan yang pasti saat membandingkan, milih2,, ga bakal disuguhi wajah jutek :D
    Tapi saya udah lama tau Pemalang, pantainya bagus juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sejak mulai aktif jadi warga online di tahun 2008, saya apa-apa kok lebih prefer nyari secara daring. Terlebih kalau barang yang saya cari tidak ada di toko/supermarket sekitar.

      Iya dong, pantai dan wisata alam Pemalang bagus-bagus :)

      Hapus
  2. untuk buku suka belanja online juga, dalam kota Jkt nggak pakai ongkos kirim dan bisa cod sih..
    krn di toko buku gede malah nggak nemu buku yg dipengen

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama. Enaknya belanja buku secara online, nyarinya gak perlu capek muterin satu rak ke rak lain. Apalagi kalo ada toko buku yang nyediain ongkir gratis, wah, pasti dibikin kalap deh belanjanya. :)

      Hapus
  3. Saya juga demen online Mas, apalagi yang COD, jadi lebih praktis dan ekonomis :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, pake COD bisa bayar pas barang datang ya, jadi gak perlu harap-harap cemas nunggu.

      Hapus
  4. Oooh, baru tahu kalo situs ol shop ini kerjasama juga dengan Telkom.
    Kalo belanja kamera atau gadget via online saya belum pernah sih, ngeliat ulasannya jadi tertarik pengen nyoba *duh latah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, usaha patungan Telkom sama eBay, dua-duanya perusahaan gede ya jadi gak perlu kuatir bakal dapet pengalaman gak enak. Katakanlah penipuan gitu.

      Hapus
  5. nah sama tuh mas Eko, kadang ada harga online yang justru lebih murah, jadi ya enakan beli online doongg.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, bener banget. Apalagi di kota kecil seperti Pemalang ini, selisihnya lumayan banget. Kadang sudah ditambah ongkos kirim pun masih lebih murah yang online.

      Hapus
  6. Saya jarang belanja online mas. Soalnya sering nggak cocok kalau belanja baju. Tapi kalau suami saya sering banget belanja online. Sebulan bisa tiga empat kali dia belanja printilan gadget,otomotif dll.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, Mbak. Kalo untuk baju istri dan anak-anak saya lebih pede belanja lihat langsung di toko setempat. Tapi kalo untuk baju saya (kaos sih seringnya) saya tetep lebih suka online.

      Hapus
  7. sama mas, aku suka belanja online hemat waktu juga, gak capek pergi2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iya ya, Mbak. Kecuali pas butuh pergi-pergi alias refreshing, baru deh ke toko konvensional.

      Hapus
  8. DSLRku modar hiks. Butuh kamera baru *lalu meluncur ke situs Canon

    BalasHapus
    Balasan
    1. OMG, kenapa bisa modar? Aku sampe sekarang belum keturutan beli DSLR. Intip-intip mirrorless ajalah yang lebih bersahabat sama amatir :D

      Hapus
  9. saya banget bung eko, kalau belanja online bikin waktu hemat dan gak keluar biaya transport apalai anak2 ikutan jajan juga , heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, apalagi kalau belanjanya bawa anak. Bukan cuma waktu yang tekor, yang rencananya belanja cuma sekian bisa bengkak karena ada budget tambahan untuk jajan anak-anak. Hihihi...

      Hapus
  10. persis seperti saya waktu masih tinggal di Wonosobo, Pak.

    tapi sekarang di Semarang pun saya lebih suka belanja online, lebih praktis, apalagi saya sering tidak puas hanya datang ke satu toko, jadi butuh banyak waktu buat muter-muter :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pernah ke Wonosobo, Mbak. Entah desa apa itu, dari pasar di pinggir jalan raya naik andong. Wuih, hawanya dingin sekali. Tapi udah lama banget itu. Lah, malah bahas Wonosobo-nya :)

      Hapus
  11. Wah.., benar juga tu, kalau kita nggak melek digital dan nggk cek dulu harga sebelum membeli barang, orang toko banyak tipu2 nya. Selisih harga jauh banget..,! Salam kenal Mas Eko, mampir juga ke rumah ku http://www.yellsaints.com/2016/11/ldr-saja-dulu-kita.html

    BalasHapus