Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 05 September 2016


SEMARANG terang-terang tanah saat kereta Tawang Jaya yang saya naiki dari Jakarta masuk ke Stasiun Semarangponcol, Ahad (28/8/2016) lalu. Kabut masih mengambang di udara, menyisipkan rasa dingin. Toh, stasiun sudah ramai pagi itu. Bangku-bangku di ruang tunggu penuh oleh calon penumpang.

Karena masih pagi, saya sempatkan diri mampir ke toilet lalu masuk musala stasiun. Seorang bapak berjenggot rapi mengajak saya salat Subuh berjamaah. Selesai menunaikan dua rakaat saya bergegas ke ruang boarding, mencari colokan listrik. Baterai hape hampir habis. Padahal saya bakal mengandalkan hape tersebut untuk memesan ojek online dan melihat peta.

Kira-kira jam delapan kurang sedikit saya keluar dari stasiun. Saya ke Semarang untuk mengikuti seminar bertema traveling yang diadakan oleh SunLife Financial. Berhubung acaranya dimulai siang, saya berniat menghabiskan pagi di Lawang Sewu, lalu mencari sarapan di sekitaran Jl. Pandanaran. Jadi, saya pun naik ojek ke arah simpang Tugu Muda.

Setelah menelusuri lorong demi lorong, ruangan demi ruangan, selama 2,5 jam di Lawang Sewu, perjalanan saya lanjutkan ke Gramedia. Anak-anak titip buku. Kebetulan pula saya membawa voucher Gramedia hadiah sebuah lomba live tweet. Eh, pas pula momennya Gramedia Pandanaran sedang mengadakan bazaar buku. Klop deh.

Tapi saya tak bisa lama-lama di Gramedia. Saya belum tahu lokasi Hotel Horison yang jadi venue seminar. Juga, sebelum mendatangi lokasi seminar saya berniat mampir di Masjid Baiturrahman terlebih dahulu. Jadi saya harus spare banyak waktu agar tiba sebelum seminar SunLife dimulai.

Benar saja. Dari Masjid Baiturrahman saya sempat lama sekali berputar-putar sembari kebingungan di Mal Ciputra. Entah berapa orang satpam dan pengunjung mal yang saya mintai petunjuk. Sampai akhirnya berkat bantuan seorang petugas Information Center yang sedang makan siang, saya berhasil juga menemukan Hotel Horison.

Aih, rupanya Hotel Horison berada persis di sebelah Matahari Mall yang ada di seberang Mal Ciputra. Dasar ndeso!


Jurus-Jurus Traveling
Untunglah, sampai di Lantai 14 acara belum dimulai. Teman-teman blogger tengah asyik makan siang di restoran. Mbak Muna Sungkar yang sedang makan semeja dengan suami dan anaknya mempersilakan saya untuk langsung bergabung di restoran. Kebetulan sekali. Perut ini memang sudah keroncongan dari tadi. Hahaha...

Tepat jam satu siang acara dimulai. Saya sendiri terlambat masuk ruangan karena mampir dulu ke rest room untuk sekedar membasuh badan dan ganti baju.

Sesi pertama menghadirkan Mbak Donna Imelda. Tahu dong siapa pembicara satu ini. Seorang traveler beken yang sudah berpetualang ke banyak negara di dunia. Pengalaman jalan-jalan Mbak Donna bisa dibaca di blog pribadinya yang beralamat di DonnaImelda.com, sebagian lagi di web AyoPelesiran.com.

Mbak Donna membuka materinya dengan pernyataan yang sangat menggelitik bagi saya. "Traveling itu tidak mungkin tanpa biaya, tapi biaya traveling bisa dibuat serendah mungkin." Kurang-lebih begitu yang disampaikan Mbak Donna. Ini semacam sentilan bagi orang-orang yang masih merasa traveling itu butuh banyak duit, seperti saya contohnya.

Tak sekedar asal ngomong, Mbak Donna memberikan tips-tips agar kita dapat berwisata dengan biaya sehemat mungkin. Dijabarkan olehnya kalau biaya paling banyak dalam berwisata adalah pos transportasi. Karenanya pertama-tama amankan tiket pesawat jauh-jauh hari agar mendapat harga terbaik.

Sekarang banyak sekali maskapai penerbangan yang menggelar promo tiket. Harganya bisa jadi 50% dari tarif normal, bahkan ada yang sampai Rp0. Ya walaupun harus banyak pajak bandara sendiri, tetap saja angkanya jauh lebih kecil ketimbang membeli dengan harga normal. Mbak Donna menganjurkan untuk rajin-rajin memantau promo-promo seperti ini.

Pos kedua yang tak kalah banyak memakan biaya adalah penginapan. Strateginya hampir sama dengan membeli tiket pesawat, yakni pesan jauh-jauh hari. Selain dapat berhemat beberapa persen, ini juga demi memastikan kita kebagian kamar pada tanggal yang diinginkan. Jangan sampai tiket pesawat sudah di tangan kita malah tak dapat tempat menginap.


Yang terpenting, sesuaikan tipe penginapan dengan kebutuhan. Kalau hanya untuk menumpang tidur setelah seharian eksplor objek-objek wisata di negara tujuan, tak perlulah hotel mahal-mahal. Cari saja budget hotel yang biaya sewanya lebih murah. Tapi juga jangan asal murah lantas mengabaikan kenyamanan. Wisata harus fun, karenanya tempat tidurnya pun harus bikin kita tidur nyenyak.

Satu lagi kalimat penting yang disampaikan Mbak Donna dan saya sangat setuju 100% adalah, jangan traveling dengan uang hutang atau kartu kredit! Mbak Donna berprinsip "pay first, play later." Jadi, upayakan seluruh biaya traveling dibayar lunas di awal dengan dana yang memang disiapkan untuk itu.

Kartu kredit tentu harus diakui sangat memudahkan para traveler. Terutama untuk pemesanan tiket pesawat dan penginapan. Tapi jangan bergantung sepenuhnya pada uang plastik tersebut. Sekalipun bayarnya pakai kartu kredit, kita harus punya dana tunai sehingga begitu tagihan keluar bisa langsung dilunasi. Tidak ada hutang.

"Jangan sampai pulang traveling kepala pusing melihat tagihan," kata Mbak Donna. Sepakat!

Asyiknya Traveling bersama Keluarga
Hal senada disampaikan Mbak Muna yang tampil di kesempatan kedua. Dengan perutnya yang semakin membuncit karena tengah hamil, Mbak Muna memfokuskan bahasannya pada tema traveling keluarga. Hmmm, saya yang punya anak-anak kecil jadi tambah serius menyimak.

Dari blognya saya tahu Mbak Muna seringkali mengajak suami dan anaknya traveling. Bahkan sampai kemping di gunung lho. Bagi sebagian orang traveling membawa anak kecil itu merepotkan. Tapi Mbak Muna membalik anggapan tersebut dan mengatakan traveling bersama anak-anak justru terasa lebih menyenangkan, lebih berwarna.

"Nanti saat anak-anak sudah besar, susah sekali kita mendapat kesempatan untuk bersama-sama. Karenanya mumpung masih kecil-kecil adalah saat terbaik untuk mengajak mereka traveling," kira-kira begitu alasan Mbak Muna. Dan, saya tidak bisa tidak setuju dengan pernyataan tersebut.

Bagi anak-anak sendiri pengalaman berwisata bersama orang tua akan menjadi kenangan manis yang mereka kenang seumur hidup. Mengajak traveling juga dapat mempererat hubungan emosional antara anak dan orang tua, sekaligus semakin membuat kompak kerja sama suami-istri. Tambahannya, anak-anak menjadi lebih luas wawasan serta terlatih mentalnya.


Tapi memang family traveling membutuhkan biaya tidak sedikit. Kalau anggota keluarga ada tiga orang, maka tiket pesawat atau kereta api harus dikalikan tiga. Kalau anggota keluarga ada empat ya tinggal dikalikan empat. Misalkan dapat tiket seharga Rp400.000, maka untuk transportasi pergi-pulang saja dibutuhkan biaya Rp2,4 juta (tiga orang) atau Rp3,2 juta (empat orang).

Selalu ada cara untuk menekan biaya. Untuk tiket pesawat bisa diakali dengan rajin-rajin memantau promo yang diadakan maskapai penerbangan. Ada pula maskapai yang memberi diskon khusus bagi penumpang anak-anak. Pilihan terakhir cocok untuk keluarga yang anak-anaknya sudah bersekolah sehingga harus menyesuaikan dengan liburan sekolah.

Kalau travelingnya tidak terlalu jauh, Mbak Muna menyarankan untuk membawa kendaraan sendiri saja. Ini akan sangat menghemat pos transportasi. Terlebih jika mau repot-repot menyetir sendiri selama perjalanan.

Karena biayanya besar, Mbak Muna menekankan pentingnya perencanaan sebelum melakukan family traveling. Hitung dengan cermat masing-masing pos pengeluaran, kalau perlu buat anggarannya per hari. Dibuat rincian berapa uang yang dibutuhkan di hari pertama, kedua, dan seterusnya. Dan yang terpenting harus disiplin mematuhi anggaran yang sudah disusun.

Senada dengan Mbak Donna, Mbak Muna mewanti-wanti untuk tidak melakukan family traveling dengan uang hutang atau kartu kredit. Lebih baik sabar menabung dengan menyisihkan dana sebesar tertentu setiap bulan. Dengan demikian traveling tidak malah membuat kepala tambah pusing karena dikejar-kejar cicilan.

Wujudkan Liburan Impian
Selain sepakat soal jangan berhutang, Mbak Donna dan Mbak Muna juga kompak mengenai pentingnya perlindungan diri selama traveling. Mereka menyarankan agar kita spare dana cadangan khusus, di luar anggaran traveling, sebagai tindakan berjaga-jaga.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi saat bepergian ke luar negeri. Yang terjadi dan dialami selama di negara tujuan tidak selalu sesuai dengan rencana. Karenanya tindakan berjaga-jaga menjadi mutlak dilakukan. Begitu mengalami hal yang tidak diinginkan, katakanlah sakit, disitulah fungsi biaya cadangan yang kita siapkan tadi.


Saya jadi inget seorang turis asal Polandia yang saya temui di Candi Prambanan di tahun 2001 lalu. Kami berkenalan, namanya Michal Pomorski, seorang eksekutif muda asal kota kecil bernama Lublin yang bekerja di Warsawa. Pertemuan singkat itu membuat kami langsung akrab. Ia oke-oke saja sewaktu saya dan seorang teman mengajaknya keliling Kraton keesokan harinya.

Singkat cerita, kawan sekampus saya asal Temanggung mengajak Michal ke Temanggung. Iming-imingnya melihat Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, serta perkebunan tembakau maha luas. Michal tertarik, dan berangkatlah kami ke Temanggung, tepatnya di Parakan, ke sebuah desa terakhir yang berada paling dekat dengan puncak Sindoro. Nama desanya saya lupa.

Sewaktu berjalan-jalan menyusuri sungai berbatu-batu besar di kampung teman saya, kaki Michal menghantam sebuah batu runcing. Berdarah mengucur deras sekali. Kami segera membawanya ke RS PKU Muhammadiyah Temanggung. Oleh suster langsung ditangani, diperban dan diberi obatnya. Seingat saya total biayanya tak sampai Rp100.000.

Nah, apa yang menimpa Michal ini merupakan kejadian tak terduga sekaligus tak diinginkannya. Kepada saya ia pernah mengatakan, budget hariannya selama di Indonesia sebesar 10 dolar AS (masa itu setara Rp150.000-an), sudah termasuk untuk makan, ongkos, dan penginapan.

Biaya berobat tadi jelas di luar anggaran harian. Tapi rupanya Michal sudah terlebih dahulu melakukan persiapan untuk itu. Ia meminta bukti pembayaran pada suster dan dimasukkannya ke dalam tas. Kepada saya dan kawan saya yang mengantar ia berkata sembari tersenyum, "I'll get my money back in Poland. Don't worry."

Kesimpulannya, siapkan dana liburan sedetil mungkin termasuk untuk pengeluaran tak terduga yang mungkin terjadi. Kita tentu saja berharap tak ada apa-apa selama perjalanan. Tapi kata pepatah Malaysia, mencegah lebih baik daripada mengubati. Sedia payung sebelum hujan, agar ketika tiba-tiba hujan turun kita tidak sampai basah kuyub karena terlindungi.

Satu hal yang lebih penting ini: ketimbang terjerat utang dan dikejar cicilan, lebih baik bersabar diri menabung beberapa saat agar biaya traveling dapat dibayar lunas sehingga lebih menyenangkan. Setuju?

Ayo wujudkan liburan terbaikmu!


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. seneng banget bisa traveling kemana2 dg harga murah..tipsnya bermanfaat pak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, iya banget. Pengen juga nih mempraktikkan jurus-jurus traveling dari Mbak Donna dan Mbak Muna ini.

      Hapus
  2. Lengkap, jadi tahu walau sy gak bisa datang ke acaranya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayang sekali nggak ikutan, Mbak. Saya jauh-jauh dari Pemalang niat banget pengen berguru sama dua mbak kece ini.

      Hapus