Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Jumat, 02 September 2016


MATAHARI tepat berada di atas ubun-ubun saat saya meloncat turun dari bus jurusan Purbalingga-Wonosobo. Alun-alun Banjarnegara sangat ramai. Orang-orang berseragam PNS, anak-anak sekolah, juga masyarakat umum berseliweran di seputaran alun-alun.

Saya lihat jam di handphone. Jam 12 kurang seperempat. Sudah masuk waktu Dzuhur. Suara iqamah sayup-sayup terdengar dari masjid yang menaranya terlihat dari jalan tempat saya turun. Saya pun melangkahkan kaki ke masjid, yang belakangan saya ketahui bernama Masjid An-Nuur atau oleh penduduk setempat disebut sebagai Masjid Kauman.

Jalan di seputaran alun-alun padat oleh sepeda motor yang diparkir. Saya musti mencari celah di antara kendaraan-kendaraan roda dua tersebut. Sampai di halaman masjid, lautan sepeda motor kembali saya temui. Penuh sekali! Saya tak bisa membayangkan bagaimana caranya pemilik sepeda motor yang kendaraannya diparkir paling depan keluar dari halaman masjid.

Saya sendiri langsung menghampiri tukang parkir yang tengah memindah sepeda motor. "Toilet di mana, Pak?" tanya saja. "Masuk saja, belok kiri," jawabnya singkat sembari membawa sepeda motor ke bagian lain halaman masjid.

Masuk ke dalam, serambi masjid juga penuh oleh orang. Sebagian duduk-duduk sembari menatap layar hape, beberapa yang lain rebahan di lantai marmer, ada pula yang merapikan pakaian. Di bagian lain terlihat ibu-ibu muda melipat mukena. Anak-anak paling ramai, berceloteh satu sama lain membuat suasana masjid riuh-rendah.

Mata saya mencari-cari tulisan penunjuk ke kamar kecil. Benar kata Pak Parkir tadi, di sebelah kiri serambi masjid terdapat pintu kecil. Di sana terdapat jejeran kran tempat wudhu. Saya masih harus berjalan menuruni tangga untuk menuju ke kamar kecil. Lalu antri beberapa saat sebelum mendapatkan giliran melepas hajat buang air kecil. Hehehehe...

Selepas menunaikan salat Dzuhur di bagian dalam masjid, saya coba menggali informasi dari seorang pria berpakaian PNS. Keterangan yang saya dapat, acara kirab budaya peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara sudah usai. Itulah sebabnya orang-orang mulai bergerak meninggalkan alun-alun. Hiburan rakyat berupa kuda lumping dan wayang kulit baru akan digelar sore hari.


Oya, Senin (22/8/2016) itu saya ke Banjarnegara untuk memenuhi undangan mendadak dari penyelenggara lomba blog Mayuh Plesir Maring Banjarnegara. Disebut mendadak karena undangan diumumkan di web Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banjarnegara pada 19 Agustus, dan kami diminta datang tanggal 21 Agustus. Tak ada pemberitahuan via email maupun telepon, hanya undangan terbuka di web.

Saya sendiri baru tahu mengenai undangan ini pada 21 Agustus sore. Itupun setelah dikabari oleh blogger lain, Mas Amir Mahmud, melalui Facebook. Rupanya kami sama-sama masuk 10 besar dalam lomba tersebut. Panitia sebenarnya mengundang 20 besar, tapi yang datang hanya tujuh blogger yang masuk 10 besar. Salah satunya saya.

Pinggir Kali Serayu
Karena acara kirab budaya sudah usai, besar kemungkinan rombongan blogger yang tiba lebih dahulu juga sudah meninggalkan lokasi acara. Saya merogoh handphone di saku dan menghubungi nomor contact person yang tertera di web Disbudpar Banjarnegara. Untunglah, ternyata mobil yang membawa rombongan blogger masih ada di sekitaran alun-alun.

"Tunggu saja di masjid, Mas. Nanti kami jemput," kata suara di seberang telepon.

Saya menurut. Agar mudah ditemukan, saya bergeser ke bawah menara masjid. Area ini jauh lebih lengang dari tempat lain di Masjid An-Nuur. Setelah menunggu sejenak sembari merekam suasana alun-alun, dua orang datang menghampiri saya. Yang seorang kemudian kami panggil Pak Bonar, satunya lagi Mas Nur.

Fix, saya benar-benar melewatkan acara inti dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185. Tapi setelah mendengar cerita kawan-kawan blogger yang diminta ikut arak-arakan berjalan kaki sejauh beberapa kilometer, diam-diam saya merasa bersyukur. Hihihi...

Dalam perjalanan menuju penginapan saya berkenalan dengan blogger-blogger lain. Saya duduk tepat berselahan dengan Mas Amir yang nekat datang naik sepeda motor dari Kebumen meski tak punya SIM C. Mobil penuh sesak. Ada sembilan penumpang plus satu sopir dari seharusnya hanya berkapasitas 6-7 orang.

Kurang-lebih 10 menit perjalanan tibalah kami di The Pikas Resort. Di penginapan berkonsep bungalow alami inilah kami akan beristirahat malam itu. Lokasinya persis berada di sebelah Sungai Serayu. Nama "Pikas" sendiri menurut cerita Pak Bonar merupakan singkatan dari "pinggir Kali Serayu."

Acara berikutnya adalah rafting, arung jeram menyusuri Sungai Serayu. Sebelum itu kami diajak makan siang. Restorannya masih di dalam area The Pikas Resort, jadi kami hanya perlu jalan kaki beberapa menit dari penginapan. Menunya sengaja dipilih yang tidak terlalu mengenyangkan, sebab seusai rafting akan langsung makan lagi. Jadilah kami disuguhi mi goreng.


Dari restoran ke tempat pemberangkatan menuju lokasi start arung jeram juga tak jauh. Lokasi kedua tempat malah saling berhadap-hadapan. Inilah istimewanya The Pikas Resort. Bukan sekedar tempat penginapan dan makan, tapi juga cocok untuk menguji adrenalin bagi penyuka wisata petualangan.

Selain rafting, kita bisa mengikuti river tubing. Sama-sama menelusuri Kali Serayu, bedanya menggunakan ban dalam yang sudah diisi angin. Pengelola juga menyediakan paket river camping alias berkemah di tepian Sungai Serayu. Di tempat ini juga tersedia area khusus paint ball.

Sebelum berangkat kami diminta memakai pelampung dan helm. Masing-masing peserta juga dibekali dengan sebuah dayung, plus sebotol sedang air mineral. Saya sempat heran, mau main air di sungai kok dibawain air minum ya? Keheranan ini terjawab saat sudah berada di atas perahu karet.

Sebuah mobil Suzuki Carry yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa membawa kami ke Desa Bojanegara di Kecamatan Sigaluh. Jaraknya kira-kira 15 km dari alun-alun Banjarnagera, atau sekitar 13-14 km dari The Pikas Resort. Dari sinilah petualangan kami menyusuri Sungai Serayu dimulai.

Sesampai di starting point, salah seorang pemandu bernama Mas Manto memberi briefing. Mulai dari cara mengenakan helm yang benar, cara memegang dayung, sampai tindakan-tindakan dalam kondisi darurat semisal tercebur ke sungai, dan lain-lain. Dari sekian panjang uraian Mas Manto, satu hal yang paling saya ingat adalah: jangan panik.

Well, ini merupakan pengalaman pertama saya melakukan arung jeram. Meski bisa berenang, tapi saya belum pernah berenang di sungai berarus deras seperti Serayu. Sebagai gambaran, sungai ini biasa digunakan menggelar lomba arung jeram tingkat nasional dan internasional. Artinya, level kesulitan berarung jeram di Sungai Serayu tergolong tinggi. Sedangkan saya seorang pemula!

Tenggelam dan Ditenggelamkan
Untungnya Sungai Serayu tengah surut siang itu. Airnya tidak terlalu dalam, sehingga arusnya tidak sederas saat debit air sedang tinggi. Seorang blogger yang seperahu dengan saya sempat bertanya berapa kedalaman sungai. Cuma saya tidak ingat jawaban Mas Manto.

Rombongan tujuh blogger ditambah Mas Nur dibagi ke dalam dua perahu. Saya di perahu biru bersama Mas Nur, Hendi Setiyanto, Faizhal Arif Santosa, dan Mas Manto sebagai pemandu. Di perahu kuning ada Mas Arif Saefudin, Mas Amir, Mas Muh. Zia Ulkhaq, dan Muhammad Razin Mufadhol yang masih duduk di bangku SMA. Saya kok lupa siapa nama pemandu perahu kuning. Padahal sudah disebutkan namanya oleh Mas Manto saat briefing.




Petualangan kami berawal dengan baik. Beberapa jeram di awal-awal perjalanan sukses dilalui tanpa kesulitan. Mas Manto menerangkan nama-nama tiap jeram dan asal-usul nama tersebut jika ada. Dari sekian nama jeram yang kami lalui, saya cuma ingat Jeram Panjang karena memang paling panjang.

Entah di jeram mana, perahu karet terbanting dan menghantam batu karang di tepi sungai. Tubuh saya terguncang keras, kaki lepas dari sela-sela bantalan perahu dan terangkat ke atas, sehingga saya terbalik masuk ke sungai. Byur!

Saya tidak ingat detil kejadiannya. Yang saya tahu sekujur tubuh saya basah, arus sungai menyeret saya entah kemana. Saya kontan panik. Lupa sama sekali kalau saya memakai pelampung. Saya menggerak-gerakkan kaki dan tangan berusaha tetap mengapung. Setelah menoleh ke sekeliling, terlihat posisi perahu karet yang sudah meninggalkan saya.

Saya beruntung seperahu dengan Hendi, blogger asli Banjarnegara yang sudah berkali-kali mengarungi jeram Sungai Serayu. Sigap Hendi menyodorkan pangkal dayungnya pada saya. Percobaan pertama gagal, saya tak bisa meraih dayung. Baru pada percobaan kedua saya sukses menangkap pangkal dayung. Hendi menarik saya mendekati perahu karet.

"Jangan panik, jangan panik!" serunya begitu tubuh saya merapat di perahu karet. Berdua dengan Mas Nur ia memegangi pelampung saya, coba mengangkat saya ke atas perahu. Lagi-lagi percobaan pertama gagal. Saya yang masih setengah panik lupa pada briefing Mas Manto sebelum kami memulai petualangan. Seharusnya pada situasi seperti itu kedua tangan saya memegangi pelampung agar tak tertarik ke atas dan lepas.

Barulah setelah Hendi mengingatkan, saya memegangi pelampung. Tapi tetap saja usahanya menarik saya dari air gagal. Bisa jadi karena badan saya terlalu berat untuknya. Hahaha. Mas Manto turun tangan. Dengan teknik teh celup ia sukses mengangkat saya ke atas perahu. Leganya...

Perjalanan dilanjutkan. Selama beberapa detik saya masih agak shock. Beberapa jeram lagi berhasil kami lewati dengan baik, hanya saja tubuh kami jadi basah kuyup. Mas Nur entah berapa kali meminum air sungai yang menciprat masuk ke dalam perahu karet kami.

Di sebuah bagian sungai yang tenang, Mas Manto berulah. Dengan dalih mempraktikkan briefing-nya ia meminta kami semua bergeser ke sisi kiri perahu dan melakukan dayung mundur. Awalnya tak terjadi apa-apa. Dayung mundur membuat perahu berbalik arah. Sampai kemudian saya sadar beban yang terpusat hanya di satu sisi bisa membuat perahu terbalik.

Benar saja. Setelah beberapa kali mendayung mundur, perahu terbalik sehingga kami semua tercebur ke dalam sungai. Karena kami tadi ada di sisi kiri perahu dan arah tenggelamnya ke kiri, kami semua tenggelam di bawah perahu karet. Beruntung di bagian tersebut arus lebih tenang, sehingga kami tak terseret.





Perhatikan foto paling atas. Di sana terlihat bagaimana Mas Manto menarik bagian kanan perahu. Karena semua beban tertumpu di sebelah kiri, perahu dengan mudah terbalik dan kami semua tercebur ke sungai. Lihat juga bagaimana Mas Manto tersenyum sembari melihat ke kamera di atas jembatan sesaat sebelum perahu terbalik. Dasar!

Selesai? Belum. Di satu jeram berbatu-batu besar Mas Manto kembali memainkan triknya. Alih-alih menghindari batu besar di depan, ia malah mengajak kami menabrakkan perahu karet ke batu tersebut. Dibantu arus sungai, perahu sukses tersangkut di atas batu. Mandeg, tidak bisa bergerak kecuali ke samping. Lalu dorongan arus dari belakang membuat perahu terbalik. Kami semua tumpah ke dalam sungai.

Berbeda dengan saat ditenggelamkan sebelumnya, kali ini tubuh kami disambut arus deras dan batu-batu besar. Kami terseret beberapa meter ke depan. Kaki saya beberapa kali terantuk batu. Tim pemandu baru bisa menaikkan kami ke atas perahu setelah berada di bagian sungai yang arusnya lebih tenang.

Kali ini saya yang lebih dulu diselamatkan tim pemandu ke atas perahu. Karena sudah dua kali tercebur, pada kali ketiga tersebut saya sudah lebih tenang. Begitu jatuh ke air saya segera berusaha naik lagi ke permukaan, mencari lokasi perahu. Hal pertama yang saya tanyakan kepada Mas Manto adalah, "Yang lain di mana?"

Mas Nur saya lihat berada di perahu kuning. Kedua perahu lalu didekatkan agar Mas Nur bisa pindah ke perahu biru. Hendi berada jauh dari perahu, sehingga Mas Manto melempar tali untuk menariknya. Yang paling terakhir diangkat Mas Faizhal. Ia ditemukan oleh dua pemandu lain yang memakai kano, dan ditahan di pinggiran sungai sampai perahu karet mendekat.

Setelah mengarungi Sungai Serayu selama sekitar 2,5 jam sampailah kami di garis finish. Begitu melewati jembatan di dekat The Pikas Resort, perahu merapat ke tepian sungai. Kami turun satu-satu, mengakhiri petualangan seru siang itu.

Begitu menjejak tanah barulah terasa lelahnya luar biasa. Juga haus dan sedikit lapar. Botol air minum kami hanyut saat tenggelam di jeram tadi. Karenanya sebutir kelapa muda yang disediakan operator langsung habis saya lahap. Begitu juga mendoan yang disajikan setelahnya. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum tiba jam makan malam nanti.



Setelah bergantian mandi, kami kembali dibawa ke restoran untuk makan malam sembari bercengkrama. Rasa lapar membuat kami makan begitu lahap. Saya sendiri habis banyak sekali, Mas Arif malah sampai nambah lagi.

Acara selanjutnya adalah menghadiri resepsi Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke-185 di Pendopo Dipayudha Adigraha. Ini acara resmi yang dihadiri Bupati Sutedjo Slamet Utomo, Wakil Bupati Hadi Supeno, serta seluruh pejabat tinggi kabupaten. Karenanya kami diminta memakai kemeja dan sepatu. Sayang, saya tidak membawa sepatu karena memang tidak terbiasa pakai sepatu.

Selepas salat Isya, jemputan yang akan membawa kami ke Pendopo Kabupaten datang. Jalanan sepi, dan sopir memacu mobil dengan kencang, sehingga tak sampai 10 menit kemudian kami sudah sampai tujuan. Lagu Cinta Mulia milik Koes Plus menyambut kami begitu turun dari mobil. Acara HUT Kabupaten Banjarnegara berjalan lancar sampai berakhir sekitar jam 11 malam, ditutup oleh tarian mahasiswa Institut Seni Indonesia Surakarta.

Jeram Level Dunia
Bicara pariwisata, selama ini Banjarnegara identik dengan Dataran Tinggi Dieng. Padahal kabupaten satu ini punya satu potensi lain yang tak kalah keren. Yup, Kali Serayu yang hari itu saya arungi bersama teman-teman blogger Jawa Tengah adalah jawabannya.

Kali Serayu sangat menantang bagi peminat arung jeram. Level sungai ini berada di Class III+ pada musim kemarau, di mana debit airnya tidak terlalu tinggi. Pemula seperti saya disarankan untuk datang saat sungai tengah surut begini. Selain air tidak terlalu dalam, arus sungai juga lebih bersahabat.

Level jeram Kali Serayu bakal meningkat sampai Class IV+ di musim penghujan, di mana debit airnya naik. Saat-saat ini yang ditunggu-tunggu oleh arung jeram profesional. Just info, jeram Kali Serayu berlevel internasional dan sering dipakai untuk lomba antarnegara. Contohnya Central Java International Rafting 2013 yang diikuti oleh 22 regu dari lima negara.

Itu bukan kali pertama Kali Serayu menjadi venue lomba arung jeram. Hingga saat ini setidaknya sudah ada empat kejuaraan bertaraf nasional dan internasional yang diadakan di sana. Kali Serayu juga menjadi lokasi favorit untuk berlatih bagi sejumlah atlit arung jeram. Menurut cerita Pak Bonar, Kali Serayu di Banjarnegara sudah melahirkan banyak atlit arung jeram profesional.

Mau merasakan keseruan rafting di Kali Serayu? Nggak perlu cuti panjang kok kalau mau ke Banjarnegara. Kota ini bisa dijangkau dalam waktu semalam dari Jakarta maupun Surabaya, baik naik bus atau kereta api.

Landmark Banjarnegara yang dapat ditemui di alun-alun. Mau wisata kuliner mencicipi makanan khas Banjarnegara? Datangi saja alun-alun saat malam. Dijamin puas!

Begini rutenya:
Kereta Api: Dari Jakarta/Surabaya naik kereta api jurusan Purwokerto dan turun di Stasiun Purwokerto. Usahakan pilih kereta yang sampai di Purwokerto pagi hari. Perjalanan dilanjutkan dengan naik bus jurusan Wonosobo dari terminal Purwokerto. Kepada kenek bus bilang saja mau turun di alun-alun Banjarnegara.

Bus: Sama seperti naik kereta api, naik saja bus malam jurusan Purwokerto. Sesampainya di sana cari bus jurusan Wonosobo, dan minta turun di alun-alun Banjarnegara. Dari alun-alun kita bisa menuju Kali Serayu dengan angkot.

Bagi pekerja yang Sabtu tetap masuk kantor, perjalanan bisa dimulai pada Sabtu malam sepulang kerja. Besok pagi-pagi sudah sampai di Banjarnegara, lanjut rafting.

Sekedar saran, sebaiknya arung jeram dilakukan sebelum tengah hari. Kenapa? Supaya ada sisa waktu luang untuk mengeksplorasi sisi lain Banjarnegara. Rafting menghabiskan waktu kira-kira 4 jam. Jadi kalau rafting-nya pagi, kita bisa menghabiskan siang sampai sore untuk jalan-jalan ke kota mencicipi kuliner khas dan mencari oleh-oleh. Malamnya balik ke kota asal.

Kalau kamu Sabtu juga libur, ada banyak waktu untuk mengeksplorasi Banjarnegara selain rafting. Saran saya, ambil kereta/bus yang berangkat Jumat malam agar Sabtu pagi sudah sampai Banjarnegara. Lanjut rafting, istirahat sebentar, lalu siang sampai sore untuk wisata kuliner sembari belanja oleh-oleh.

Menjelang malam cari angkutan ke Dieng, menginaplah di sana. Sunrise di Dataran Tinggi Dieng salah satu yang terbaik, kamu pasti tidak mau melewatkannya. Puas-puaslah menghabiskan seharian itu di sana. Sorenya cari angkutan untuk kembali ke Purwokerto dan kembali ke kota asal.

Rencana akhir pekan yang keren, bukan? Ayo, kemasi pakaianmu dan cicipi jeram bertaraf dunia di Banjarnegara!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

4 komentar:

  1. Selamat ya Bung Eko. . Coba saya bisa hadir dan berkenalan plus bertukar pikiran langsung dengan blogger lainnya..

    Semoga bisa ketemu di kesempatan yg lain.. . Salam kenal Bung 😀

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Lucky. Sayang banget ya Mbak gak bisa ikut, kabarnya memang mendadak sih jadinya banyak yang tidak bisa datang. Ah, kalau 20 orang itu datang semua rame banget ya? :D

      Hapus
    2. Iyaa bung mendadak sekali :"/
      Hahaha iyaa, pasti lebih seru kalau rame rame. . Semoga bisa bertemu di lain waktu. Aamiin. .bagi tips nya rajin nulis dong bung.. Hehehe susah banget konsisten nulis tiap hari :"

      Hapus