Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 11 Oktober 2016


AKHIRNYA impian itu jadi kenyataan. Gara-gara iseng ikut Tantangan Joget Cokelat yang diadakan Frisian Flag Indonesia, saya sekeluarga berkesempatan tur lima hari ke Bali. Ya, Bali! Destinasi wisata nomor satu di Indonesia, dan merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan mancanegara. Alhamdulillah...

Memang awalnya saya sekedar iseng saja mengikuti lomba joget tersebut. Katakanlah iseng-iseng berhadiah. Yang penting berpartisipasi, sembari mengajari semangat berkompetisi pada anak-anak. Seperti biasa, urusan menang-kalah saya serahkan pada yang paling berwenang membagi-bagi rejeki: Allah SWT.

Jujur saja saya sebenarnya malah lebih mengincar hadiah hiburan berupa smartphone. Soalnya hape istri rusak, tidak bisa diservis lagi. Untuk beli yang baru belum ada budget-nya. Kecuali kalau mau beli hape biasa yang cuma bisa buat telepon dan SMS.

Eh, kejutan kami terima pada 18 September 2016. Dalam pengumuman resmi yang mundur sepekan dari rencana awal, Frisian Flag menampilkan nama saya sebagai salah satu dari tiga pemenang utama. Hadiahnya tur lima hari empat malam di Bali. Hore!

Takut Anjing di Bandara Semarang
Tur Cokelat Bali bersama Frisian Flag Indonesia dimulai 6 Oktober 2016. Tapi saya sekeluarga sudah berangkat sejak tanggal 5 Oktober malam. Maklum, kami harus ke Semarang terlebih dahulu untuk berkumpul bersama rombongan dua pemenang utama lain di Jakarta. Barulah dari Jakarta kami berangkat bersama-sama ke Bali.

Oleh Smailing Tour yang mengorganisir tur ini, kami diambilkan penerbangan paling pagi dari Semarang. Jam 06.00 WIB. Artinya, kami sudah harus tiba di Bandara Ahmad Yani selambat-lambatnya jam 04.30 WIB. Perjalanan Pemalang-Semarang sekitar tiga-empat jam, tergantung kondisi keramaian jalan.

Idealnya kami berangkat ke Semarang jam satu malam, tapi tidak ada jadwal kereta jam segitu. Lagipula dari rumah ke stasiun tidak bisa dibilang dekat. Siapa yang mau mengantar ke stasiun tengah malam buta? Opsi paling masuk akal rental mobil plus sopir. Tapi rupanya tidak ada juga yang mau berangkat jam 12.00 malam. Jadilah kami berangkat dari Pemalang kira-kira jam setengah 10.



Jalanan rupanya sepi, jadi hanya membutuhkan waktu tiga jam lebih sedikit kami sudah sampai di Bandara Ahmad Yani. Jam di hape saya belum menunjukkan angka 01.00 WIB sewaktu kami turun dari mobil di droping zone bandara. Saya langsung tahu ini bukan kondisi ideal bagi anak-anak.

Suasana ruang tunggu bandara sepi sekali, serta sedikit gelap. Seluruh loket maskapai tutup, demikian pula gerai-gerai komersial yang ada di sana. Tidak tampak petugas keamanan di sekitar lokasi parkir dan ruang tunggu. Tapi ada beberapa calon penumpang duduk-duduk dan sebagian lagi tidur di bangku-bangku panjang.

Kami pun memilih tempat agak di tengah supaya lebih terlindung dari angin malam. Anak-anak awalnya duduk nyaman di bangku. Diandra malah sudah membaringkan badannya berbantal tas istri. Tapi mereka langsung mengkerut ketakutan begitu seekor anjing berjalan mendekat. Ya, anjing liar di ruang tunggu bandara. Wow!

Mungkin karena kami membawa makanan, si anjing terus duduk di dekat kami. Bahkan sempat tidur melingkar di bawah kursi yang kami duduki. Damar sampai hampir menangis sewaktu kakinya dicium-cium anjing berbulu hitam tersebut. Apa boleh buat, kami yang harus mengalah. Kami pindah tempat duduk. Perbekalan makanan saya masukkan ke dalam tas agar baunya tak terlalu menyengat di hidung si anjing.

Untunglah anjing berbulu hitam itu akhirnya menjauh, lalu tidur di bawah kursi agak jauh dari kami. Cuma anak-anak sudah terlanjur hilang kantuknya. Mereka tidak bisa tidur sampai pintu masuk bandara dibuka sekitar jam setengah lima pagi itu.

Asyik Bermain di Terminal 3 Ultimate
Begitu pintu masuk bandara dibuka, kami langsung saja ke ruang tunggu dalam. Ini kali kedua kami ke Bandara Ahmad Yani, tapi merupakan yang pertama datang sebagai calon penumpang. Jadi baru pagi itu kami tahu bagian dalam bandara. Tidak sebesar Bandara Soekarno-Hatta yang sudah sangat kami akrabi, tapi Bandara Semarang terlihat menyenangkan untuk anak-anak.


Ada taman buatan di bagian tengah ruang tunggu. Begitu melihat taman ini Damar langsung beraksi, minta difoto. Kami juga foto-foto di set Lawang Sewu yang ada di pojokan ruang tunggu. Habis itu gantian Damar yang pinjam kamera, mau foto-foto katanya. Bosan hunting foto dia kemudian mengajak saya melihat kesibukan di apron. Ada tiga penerbangan jam 06.00, jadi apron terlihat sangat sibuk.

Kira-kira jam enam kurang seperempat, kami pun dipanggil naik ke pesawat. Ini kali pertama istri dan anak-anak naik Garuda Indonesia. Mereka sangat excited sekali, terlebih sebelumnya sudah saya ceritakan bedanya naik Garuda dengan maskapai lokal lain. Rupanya sampai di pesawat anak-anak mendapat kejutan lain: boneka Pilo nan lucu!

Penerbangan Semarang-Jakarta berjalan lancar. Langit cerah sekali pagi itu. Sepanjang perjalanan Damar dan Diandra asyik bermain game di monitor LCD di hadapan mereka. Saya sendiri menyibukkan diri dengan merekam tingkah polah mereka berdua, plus ibunya yang masih bingung menggunakan tivi kecil tersebut.



Sampai di Bandara Soekarno-Hatta, istri dan anak-anak dibuat terkagum-kagum oleh megah dan luasnya Terminal 3 Ultimate. Saya sendiri sudah pernah ke terminal ini sewaktu berangkat ke Lampung bersama Sunpride, Agustus lalu. Tapi tetap saja saya ikut kagum. Apalagi ada beberapa perubahan di terminal kedatangan yang belum saya tahu.

Baca juga: Olahraga Pagi di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta

Damar langsung saja berlari-lari kesenangan begitu sampai di lajur kedatangan menuju pintu keluar. Karena akan transfer ke Denpasar, kami naik ke lantai atas. Dan lagi-lagi dibuat bengong oleh keluasan terminal baru ini. Damar dan Diandra berlarian lagi, loncat-loncat di sofa, berteriak-teriak. Dibilang norak ya biarlah, yang penting anak-anak senang. Hehehe...

Saya lalu mengarahkan anak-anak ke play zone. Luasnya hanya secuil, tapi sudah cukup bagi Damar dan Diandra untuk beraksi. Lagi-lagi, anak-anak saya paling heboh sendiri. Beberapa calon penumpang yang ada di sekitaran play zone sampai menengok ke arah kami. Harap maklum ya, kami orang kampung. :D

Karena keasyikan main, anak-anak susah sekali diajak pindah ke ruang tunggu gate tempat pesawat kami akan terbang. Kami saat itu di ruang tunggu Gate 14, sedangkan menurut buku panduan yang dibagikan oleh penyelenggara tur kami akan berangkat dari Gate 4. Terbayang kan jauhnya? Mana belum mandi dan ganti baju lagi.

Jam setengah sembilan lewat kami masih antri di toilet ruang tunggu Gate 14. Sementara kami sudah harus berada di gate keberangkatan jam 09.00 WIB. Boarding time sendiri jam 09.15 WIB. Tiba-tiba saya merasa tegang sendiri. Masa iya sudah sampe Bandara Soekarno-Hatta terus kami ketinggalan pesawat karena telat?



Dapat Boneka Hewan Lucu Lagi
Rupanya penerbangan GA404 Jakarta-Denpasar delay. Lalu keberangkatan tidak dari Gate 4 seperti tertulis di buku panduan yang dikirim agency Frisian Flag Indonesia, melainkan dari Gate 11. Syurkurlah...

Tadinya saya sudah berjalan cepat, dan anak-anak setengah berlari. Lucu aja kalo sudah sampe bandara tinggal naik pesawat tapi kami ketinggalan. Untunglah malah ditunda karena alasan teknis. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk pengambilan gambar video dokumentasi. Oh iya, ada Micky Octapatika alias Micky AFI 2 sebagai bintang tamunya lho. Tadinya saya kira Indra Bekti sih, hihihi...

Jeleknya, delay membuat anak-anak bosan karena menunggu lebih lama. Damar sampai tertidur di sofa. Tidur nyenyak sekali dan tidak mau bangun sewaktu pintu boarding dibuka. Saya pun harus menggendongnya hingga ke tangga pesawat, di mana dia terbangun oleh suara keras mesin pesawat.

Sama seperti penerbangan GA231 Semarang-Jakarta, di penerbangan Jakarta-Denpasar anak-anak kembali mendapat hadiah boneka lucu dari pramugari. Kali ini dapat dua boneka berbeda. Damar memilih boneka Modo si Komodo, Diandra memilih boneka Hara si Harimau Sumatera. Senangnya...

Lalu kami juga mendapat hidangan makan siang. Menunya pas sekali kegemaran Damar: nasi goreng ayam. Sayangnya Diandra tertidur, jadi tidak bisa ikut merasakan lezatnya nasi goreng ala Garuda.

Sampai di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai cuaca cerah ceria. Kami turun pesawat dengan rasa keingin-tahuan yang luar biasa. Terbayang tempat-tempat yang akan kami kunjungi selama lima hari empat malam di Bali. Kami sudah tidak sabar! Tapi berhubung bakal panjang sekali kalau diceritakan semua dalam satu posting, kita sudahi dulu sampai di sini ya.

Di posting berikutnya saya akan bercerita hari pertama kami di Bali, di mana kami makan siang di The Pirates Bay, Nusa Dua. Lalu dilanjutkan bermain-main pasir dan air laut di pantai, sebelum melanjutkan perjalanan ke Waterblow yang terletak tidak begitu jauh, dan ditutup dengan makan malam di Jimbaran.

Tunggu ya... :)


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

30 komentar:

  1. Waaa senangnyaaaa... Aku baca sampai habis loh! Suka cara berceritanya Mas Eko. Ditunggu postingan selanjutnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, makasih banyak, Mbak. Ini aku cut karena kuatir terlalu panjang. Kasihan yang baca. So, makasih banget udah baca sampai habis :)

      Hapus
  2. Mas Eko selamat ya. Duh bahagia banget sekeluarga liburan ke Bali. Aku senyum-senyum membaca tentang tingkah anak-anak. Lucu. Ingat anak-anak sendiri waktu kecil saat pergi liburan:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak, Mbak Evi. Iya, senengnya masih kerasa sampai sekarang nih. Hehehe. Untungnya anak-anak sejak kecil sudah biasa diajak jalan jauh, jadi mereka enjoy aja.

      Hapus
  3. Seru bangeeet dari mulai berangkat ke bandara Semarang sampai mau naik pesawat ke Denpasar. Kebayang hepinya anak-anak dapet mainan di Garuda 😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, penerbangannya bikin anak-anak betah. Selain makanan dan minuman kesukaan mereka tersedia, juga dikasih boneka-boneka lucu. Seneng banget mereka.

      Hapus
  4. wah pengalaman yang bakalan selalu dikenang sampai dewasa untuk Damar dan Diandra, gpp berangkat kepagian di bandara Ahmad Yani demi bisa bersenang-senang kemudian, salam buat mereka berdua ya mas, kapan-kapan diajak main ke Banjarnegara sekeluarga hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berangkat kepagian dan ditakut-takuti anjing, hahaha.
      Insya Allah, Mas, aku masih penasaran banget sama Banjarnegara. Mudah-mudahan ada kesempatan dan rejeki buat ke sana sekeluarga.

      Hapus
  5. Alhamdulillah ya mas bisa liburan ke Bali bareng keluarga, selamat ya Mas Eko. Seperti biasa, tulisannya selalu detail seakan kayak aku lagi ikut liburan juga. hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak, Mbak Riska. Pengennye cerita lebih banyak, tapi kuatir yang baca bosen. Jadi dibuat bersambun aja, hehehe...

      Hapus
  6. selamaaat yo kang...sekeluarga pasti seneng banget :") anak2 apalagu.
    aku pernah soale menang mlaku2 dan semuaaa senenggg

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mator sakalangkong, Mbak. Juga buat salamnya yang dititipin ke Mbak Shasha, aku seneng deh jadi di-notice sama blogger sekeren beliau. Hahaha.

      Hapus
  7. Selamat ya mas..seneng bgt nih bs liburan gratis ke bali sekeluarga 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak, Mbak.
      Iya, seneng banget bisa liburan sekeluarga. :)

      Hapus
  8. Iseng dan jawara itu keren! Ditunggu keseruannya ceritanya selama di Bali ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikutnya asli iseng, coba-coba aja. Alhamdulillah, jadi rejeki ternyata.

      Hapus
  9. Duh seneng bgt nih ngikutin mbolang seru kel bungeko,terutama keriangan polah tingkah kaka diandra n adek Damar.blom ortunya y hehe. Baca berulang2 y gak bosen nih maklum gk pernah naek planeπŸ˜€πŸ˜€πŸ˜€ thks share cerita kerennya nih mas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Damar sama Dian sejak kecil udah diajak nyeberang pulau ke Sumatera sih, jadi alhamdulillah kalo dibawa jalan jauh ceria-ceria aja. :D

      Hapus
  10. wah, senangnya.. pengalaman yang nggak akan terlupakan ya. Lengkap dengan pengalaman horor dideketin si doggi. Baru tau, anjing liar bisa masuk area seperti itu.Ada-ada aja ya :D
    Ditunggu lanjutannya mas..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya juga kaget bisa ada anjing masuk ruang tunggu bandara. Emang ruang tunggu luar sih, public area-nya. Tapi kan tetep aja ya masa hewan liar bisa berkeliaran di situ?

      Hapus
  11. Seru bangat Mas Eko ceritanya, pasti semuanya senang, apalagi di bali 5 hari hehehe

    Ternyata nasih bersambung, ditunggu lanjutannya Mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 5 hari 4 malam, tapi efektifnya ya sekitar 3,5 hari sih. Karena yang hari pertama cuma setengah hari dan yang hari terakhir perjalanan pulang aja. Tetap sih excited banget dan tak terlupakan deh :)

      Hapus
  12. Waahhh.. Seru banget ya bisa jalan-jalan gratis sekeluarga. Jadi penasaran sama cerita jalan-jalannya di Bali. Di tunggu kelanjutan ceritanya ya mas. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, rejekinya anak-anak, Mbak.
      Oke siap, cerita dan videonya sedang disusun. Segera tayang, hehehe...

      Hapus
  13. Wahhh pasti seneng banget ya bisa halan-halan ke Bali.

    BalasHapus
  14. Salut dengan semangat mas Eko, rajin ikut lomba dan pantang menyerah. Mau berguru ah *terima murid nda ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, kalo yang ini sih murni iseng aja. Niatnya ngelibatin anak-anak gitu, kan selama ini cuma lomba buat sendiri. Terus di Pemalang sini lomba buat anak-anak juga jarang, apalagi yang hadiahnya fantastis. Hihihi. Ndilalah kok menang :)

      Hapus