Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Senin, 31 Oktober 2016

Tara! Ini dia wajah-wajah kucel kami setiba di Bandara Sultan Thaha, Jambi, pada 3 Juli 2014.

APA yang akan kamu lakukan kalau mau pesan tiket pesawat secara online, tapi posisimu di tengah perkebunan sawit maha luas di daerah transmigrasi nan terpelosok, di mana ATM terdekat berjarak 2 sampai 2,5 jam perjalanan?

Ini cerita 2,5 tahun lalu. Sudah termasuk lama memang, tapi kisah ini akan selalu relevan sebagai contoh bagaimana lengkap dan canggihnya layanan sebuah bank dapat memudahkan nasabah. Sekalipun si nasabah tengah berada di daerah terpencil, seperti yang saya alami Agustus 2014 lalu.

Ceritanya begini. Kita mundur ke tanggal 3 Juli 2014 sewaktu saya mudik ke rumah orang tua di Sungai Bahar VI, Jambi. Kalau tak salah ingat, yang berarti ingatan saya benar kan ya, saya berangkat di hari ketiga atau keempat Ramadhan tahun itu. Bagi orang lain, itu belum waktunya mudik. Lebaran masih lama kok sudah mudik. Biarin deh.

Saya memang sengaja pulang awal Ramadhan agar dapat berpuasa sepuas-puasnya bersama Bapak dan Ibu di rumah. Sejak meninggalkan rumah selulus SMA di tahun 2000, puasa bersama Bapak-Ibu di rumah jadi momen langka bagi saya. Biasanya cuma beberapa hari karena saya mudik mepet lebaran. Lebih seringnya lagi malah nggak mudik.

Berhubung anak-anak masih belum masuk sekolah, saya bisa mengatur jadwal mudik sesuka hati. Tiket pesawat pun langsung saya pesan pulang-pergi biar mudiknya tenang. Berangkat tanggal 3 Juli 2014, untuk pulang saya pesan tiket tanggal 14 Agustus 2014. Ya, saya mudik 1,5 bulan. Hehehe.

Dari Pemalang, saya bersama istri dan dua anak naik travel dan minta diantar sampai Bandara Soekarno-Hatta. Dari sini perjalanan dilanjutkan dengan pesawat Jakarta-Jambi. Alhamdulillah, perjalanan lancar dan anak-anak senang bukan main. Itu kali kedua mereka ke tempat eyangnya di Jambi. Kali pertama saya ajak ke sana mereka masih bayi-bayi.

Singkat cerita, sampai di Bandara Sultan Thaha (foto atas) sudah ada mobil yang menjemput kami. Mobil tetangga di Sungai Bahar sih. Kami bayar Rp350.000 untuk menjemput di bandara. Kira-kira tiga jam perjalanan termasuk makan malam di satu rumah makan Padang di pinggiran Kota Jambi, sampailah kami di rumah orang tua.

Ini kali kedua saya membawa istri dan anak-anak berlebaran di Jambi.

Desa Transmigrasi
Seperti sudah saya singgung di awal, Sungai Bahar itu sebuah kawasan transmigrasi di Kabupaten Muaro Jambi. Nama propinsinya nggak usah disebut lagilah ya? Kalau kalian lihat peta, lokasinya dekat dengan perbatasan Sumatera Selatan. Mudahnya, Sungai Bahar terletak di sebelah utaranya Sumatera Selatan.

Wilayah transmigrasi ini dibuka sekitar tahun 1990. Saya tak tahu tahun persisnya. Yang saya ingat, Bapak merantau ke Sungai Bahar sejak tahun 1992. Waktu itu kami masih tinggal di Palembang. Silakan baca posting saya yang berjudul "Kabar Duka dari Palembang" dan "Mobil Ketek Tinggal Kenangan" untuk mengetahui secuil masa kecil saya di Kota Pempek.

Tahun 1995, Ibu mengajak saya dan adik-adik menyusul Bapak ke Jambi. Sejak itulah orang tua saya menetap di sana, menjadikan Sungai Bahar nan terpencil sebagai kampung halaman. Dari awalnya tinggal di rumah jatah transmigran yang terbuat dari papan dengan atap seng, sampai kemudian diberi rejeki lebih sehingga dapat membangun rumah beton yang cukup menampung anak-anaknya saat lebaran.

Oya, Sungai Bahar itu nama kawasan transmigrasi yang terdiri dari beberapa unit pemukiman (Unit Pemukiman Transmigrasi, UPT). Satu unit terdiri dari sekitar 500 kepala keluarga, dengan seorang Kepala UPT bertindak sebagai semacam kepala desa. Perlahan-lahan, unit-unit tersebut berubah bentuk menjadi desa-desa dengan dipimpin oleh kepala desa.

Nah, orang tua saya tinggal di Unit VI. Sehingga daerah tersebut sampai sekarang masih dikenal sebagai Sungai Bahar VI atau Sei Bahar VI. Awalnya Sungai Bahar VI menjadi Desa Talang Bukit, tapi sejak beberapa tahun lalu dipecah dua. Rumah tempat tinggal orang tua saya ikut desa baru yang diberi nama Talang Datar.

Lihat denah yang saya buat dengan mencoret-coret screenshot Google Map berikut ini. Wilayah dalam kotak kuning dan oranye adalah eks Unit VI yang kini jadi dua desa. Desa Talang Datar yang kotak kuning. Kotak-kotak lain adalah desa-desa terdekat. Sebagai pembanding, di bawahnya ada screenshot Google Map yang asli tanpa coretan saya.

Catatan: Kotak putih yang menutupi Sungai Bahar entah apa, Google Map selalu menampilkan Sungai Bahar dengan kotak putih begitu. Awan?


Namanya saja desa transmigrasi, fasilitasnya sangat terbatas sekali. Orang tua saya termasuk penghuni awal Sungai Bahar VI. Saat itu jalanan masih tanah semua, tak ada listrik, apalagi tower telekomunikasi. Saya mengalami masa-masa di mana harus men-charge aki (accu) ke desa tetangga agar bisa menonton tivi.

Untuk penerangan rumah kami pakai lampu minyak tanah, di mana saya berperan sebagai Menteri Penerangan Rumah. Tugas saya membersihkan semprong lampu, memotong sumbu yang sudah gosong, serta mengisi minyak tanah ke dalam tabung lampu. Begitu gelap menjelang, saya juga yang menghidupkan lampu-lampu itu. Ketika saya masuk SMA dan merantau ke Muara Bulian, adik kedua saya yang meneruskan jabatan penting tersebut.

Pernah ada kejadian lucu di tahun 2002. Saya sudah kuliah ceritanya. Mudik dari Jogja saya membawa barang mewah bernama handphone. Mereknya masih saya ingat betul, Siemens M35 yang saya beli sendiri dari mengumpulkan uang tip tamu hotel selama magang di Hotel Novotel Solo. Maksud saya membawa pulang hape itu setengahnya mau pamer sih, hihihi. Tapi pamer positif lho, dalam artian menunjukkan ke orang tua kalau saya sudah bisa menghasilkan uang sendiri.

Eh, sampai di Sungai Bahar, tidak ada sinyal sama sekali yang bisa ditangkap hape tersebut. Ya iyalah, tower-nya saja nggak ada. Begitu baterainya nge-drop, saya tidak bisa men-charge karena tidak ada listrik. Mau dicas pakai lampu minyak?

Tahun 2008, jalan poros Trans Bahar diaspal - sekarang sudah hancur lagi sih. Lalu berselang beberapa tahun masuklah tiang-tiang listrik, disusul tower milik operator GSM. Sungai Bahar mulai terlihat ada kemajuan. Tapi, tetap saja dengan segala keterbatasannya. Listrik di sana byar-pet. Malah sering lho padam sampai berhari-hari.

Mungkin karena milik swasta, yang paling oke justru layanan telekomunikasi. Operator seluler pemasang tower siap sedia dengan generator (gen-set) sebagai pembangkit daya cadangan. Jadi, biarpun listrik mati total, sinyal hape selalu on. Saya pun bisa online terus tanpa hambatan.

Begini kondisi jalan di Sungai Bahar. Yang diaspal baru jalan protokol antardesa, ruas jalan lainnya masih berupa tanah seperti ini.

Eyang Mau Antar Cucu
Tak terasa 1,5 bulan berlalu. Kebersamaan dengan orang tua di Jambi harus berakhir. Waktunya saya membawa anak-istri kembali ke Pemalang. Sama seperti saat berangkat, kami pulang lewat Jakarta. Tapi sampai mendekati hari keberangkatan saya belum menentukan dari Jakarta ke Pemalang naik apa.

Adik saya yang di Jakarta menyodorkan tawaran menarik. Dia mau kami menginap barang dua malam di Ibukota, mau diajak jalan-jalan ke Monas atau Ragunan. Pertimbangan adik saya, selama di Jambi kami sama sekali tidak kemana-mana. Jadi bibinya anak-anak ingin memberi memori manis dengan jalan-jalan dulu di Jakarta.

Tentu saja saya tidak menolak. Istri juga setuju. Efek positif lainnya, saya jadi bisa memutuskan moda transportasi apa yang musti diambil untuk perjalanan Jakarta-Pemalang. Yang paling nyaman dan enak rasanya kereta api. Apalagi anak-anak belum pernah naik kendaraan satu ini.

Jadi, dari Jambi ke Jakarta kami naik pesawat. Menginap dua malam di Jakarta, lalu tanggal 17 Agustus naik kereta ke Pemalang. Perfect!

Eh, tapi ada satu hal yang kurang. Ibu sepertinya masih kurang puas bermain-main dengan cucu. Dan, saya yakin beliau ingin mengantar cucunya. Tak cuma dadah-dadah di depan pintu, tapi ikut mengantar sejauh mungkin. Ketika saya tanya, Ibu malah bilang tadinya beliau mau mengantar sampai Pemalang, tapi repot. Maksudnya repot di dompet. Maklum, habis lebaran.

Okelah, sebagai anak yang berbakti (setidaknya saya berusaha begitu) saya pun mengajak Ibu. Namanya mengajak ya tentu tiket pesawat Jambi-Jakarta saya yang membelikan. Adik saya lagi-lagi kasih tawaran menarik, tiket Jakarta-Jambi untuk Ibu dia yang belikan. Cocok!

Masalahnya, hari itu sudah tanggal 14 Agustus. Besok pagi-pagi saya dan anak-istri berangkat. Mepet sekali! Yang paling saya khawatirkan tidak ada tiket untuk penerbangan besok. Kekuatiran kedua - yang sebenarnya kekuatiran pertama juga sih, kalaupun tiketnya ada harganya melebihi uang di saldo rekening Tahapan BCA saya.

Foto atas: Anak-anak "membantu" Eyang Jambi membuat kue lebaran di dapur. Foto bawah: Hujan-hujanan di kebun sawit.

Saya langsung buka laptop, sambungkan modem, lalu browse satu situs booking online. Alhamdulillah, masih ada beberapa tiket Jambi-Jakarta untuk tanggal 15 Agustus 2014. Saya cari maskapai yang jadwal penerbangannya tidak selisih jauh dari pesawat yang tiketnya sudah saya kantongi. Dapat! Lega rasanya.

Cepat-cepat saya order tiket tersebut atas nama Ibu. Nama lahir beliau Sumiati. Namun entah kenapa petugas KUA yang mencatat pernikahan Ibu dengan Bapak salah menulis nama di buku nikah, jadi Sumarti. Ibu memilih mengubah namanya ketimbang mengoreksi kesalahan nama di buku nikah.

Eh, info ini penting nggak sih? Abaikan saja kalau tidak penting :)

Tertolong BCA Klikpay
Lanjut lagi ke cerita order tiket pesawat tadi. Setelah klik sana-sini, tibalah di halaman pembayaran. Tetot! Saya baru ingat kalau pesan online begini kita hanya diberi waktu sedikit untuk menyelesaikan pembayaran. Di situs booking online yang saya gunakan hari itu, waktu yang diberikan dua jam.

Kalau ordernya di Pemalang tidak ada masalah. Saya biasa memilih metode pembayaran ATM atau melalui Indomaret. Cukup keluar barang 5-10 menit naik sepeda motor, selesai. Nah, saat itu pemesanan dilakukan di Sungai Bahar. ATM BCA terdekat (waktu itu) adanya di Kota Jambi yang berjarak kira-kira 60 km. Naik sepeda motor paling cepat 1,5 jam. Tapi saya tidak mau ambil opsi tersebut. Terlalu jauh, Kakak. Lagipula jalanannya banyak rusak.

Indomaret? Hehehe, masa itu belum ada Indomaret di Sungai Bahar VI. Bahkan di Sungai Bahar I yang lebih ramai pun belum. Kalau mau sih ada Indomaret di Penerokan, dari rumah ke sana naik motor sekitar setengah jam dengan kecepatan setan. Kalau saya yang naik motor ya bisa 45 menit sampai sejam. So, itu juga bukan opsi bagus.


Sebelum ada yang menyebut kartu kredit, saya kasih tahu kalau saya tidak punya kartu tersebut. Maaf, saya cuma punya kartu debit.

Untungnya ada opsi pembayaran menggunakan BCA Klikpay. Untungnya lagi, saya sudah punya akun BCA Klikpay. Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan? Hehehe.

Saya klik deh pilihan itu pada laman pembayaran, lalu diminta login ke akun BCA Klikpay saya.

Eh, kamu belum punya akun BCA Klikpay? Sok atuh bikin. Cara daftarnya mudah sekali lho. Coba saja lihat bagan berikut ini.


Cara Mendaftar BCA Klikpay:
1. Buka web www.klikbca.com/klikpay
2. Centang untuk menyetujui syarat dan ketentuan BCA Klikpay, lalu klik tombol "Setuju"
3. Isikan data yang diminta, lalu pilih apakah ingin mengaitkan akun Klikpay dengan KlikBCA atau kartu kredit BCA
4. Konfirmasi data yang tadi diisikan, klik tombol "Kirim" jika sudah benar semua
5. Pendaftaran selesai.

Selamat! Sekarang kamu sudah punya akun BCA Klikpay. Tapi sebelum dapat digunakan akun tersebut harus diaktifkan terlebih dahulu. Caranya tidak kalah mudah. Perhatikan saja bagan di bawah ini.


Cara Aktivasi BCA Klikpay:
1. Login ke www.klikbca.com
2. Pilih menu "Administrasi"
3. Pilih menu "Aktivasi BCA Klikpay" yang berada paling bawah
4. Setelah itu kita diminta memasukkan kode OTP (one time password, dikirim ke email dan nomor hape yang didaftarkan).
5. Begitu kedua kode OTP dimasukkan, akun BCA KlikPay pun siap dipakai.

Balik lagi ke order tiket pesawat untuk Ibu, saya pun login dengan selamat sentosa ke akun BCA Klikpay. Setelah itu saya diminta memasukkan kode OTP yang dikirimkan ke nomor hape dan email untuk mengotorisasi pembayaran tiket. Menit berikutnya saya sudah dapat konfirmasi dari situs booking online kalau pembayaran sukses dilakukan.

Yeay! Tiket pesawat untuk Ibu sudah didapat, saatnya kita jalan-jalan ke Jakarta. Saya tidak bisa membayangkan betapa senangnya Ibu bisa mengantar sekaligus mengajak jalan-jalan dua cucunya di Ibukota. Menyenangkan hati Ibu termasuk bentuk bakti terhadap orang tua kan ya?

Oya, ini screenshot pemesanan tiket pesawat yang saya pesankan untuk Ibu 2,5 tahun lalu. Tertera di sana jenis pembayarannya BCA Klikpay dan sudah dibayar lunas. Ya iyalah, kalau nggak lunas ya Ibu saya nggak bakal bisa ikut jalan-jalan ke Jakarta dong.


Saya bersama anak-anak, istri, dan Ibu dalam perjalanan pulang meninggalkan kawasan Monas. Adik saya pegang kamera.

Skip, skip, skip, sampailah kami di Jakarta. Penerbangan Ibu ternyata delay, jadi kami menunggu sekitar satu jam di Bandara Soekarno-Hatta. Selama itu anak-anak asyik main troli barang, dinaiki seperti mobil-mobilan. Mereka bahkan sukses memaksa saya mendorong troli - dengan mereka naik di atasnya! - dari Terminal 1C ke Terminal 1B, lalu balik lagi ke Terminal 1C. Dasar anak-anak.

Saya sudah ubek-ubek file di laptop tapi foto-foto kami di Bandara Soetta hari itu kok tidak ketemu. Apa mungkin masih disimpan adik saya, dan belum saya salin? Entahlah. Nanti kalau ketemu langsung saya upload di sini. Yang jelas begitu Ibu mendarat kami naik taksi ke Palmerah, tempat kontrakan adik saya.

Besoknya, 16 Agustus 2014, kami pergi ke Monas naik Trans Jakarta. Dari Halte Grogol transit dulu di entah di halte mana saya lupa namanya, lalu turun di Halte Gambir. Baru jalan sebentar kok lihat plang bus wisata tingkat, ada tulisan gratis pula. Siapalah yang nggak mau keliling-keliling jalan protokol Jakarta gratis?

Jadi, naiklah kami ke bus wisata milik Pemprov DKI Jakarta, duduk di bagian atas. Busa masih kosong. Anak-anak senang sekali bisa duduk paling depan.



Setelah naik bus wisata satu putaran, kami turun di depan Museum Gajah lalu masuk kawasan Monas. Seharian kami di sana. Anak-anak berlari-larian ke sana-sini, sedangkan Ibu memandangi tingkah mereka sembari tersenyum. Senyum yang saya ingin selalu terkembang di wajah Ibu.

Sudah, begitu saja ya ceritanya. Saya suka baper sendiri kalau nulis cerita kenangan begini. Nggak lucu kan kalau habis nulis posting saya mewek sendiri. Kalau mau lebih panjang nanti saya tuliskan dalam bentuk novel wis. Hihihi.

Oya, terima kasih sekali kepada BCA yang dengan layanan Klikpay-nya sudah membantu saya 2,5 tahun lalu. Bukan cuma membantu memesankan tiket untuk Ibu, di tengah desa transmigrasi yang masih terbilang terbelakang itu. Tapi juga membantu menghadirkan senyum bahagia di wajah Ibu saat melihat dua cucunya berlari-larian di Monas dengan riang gembira.

Semoga bermanfaat.

Catatan: Dengan posting ini saya berpartisipasi dalam "My BCA Experience" Blog Competition


Protected by Copyscape
« Posting Selanjutnya
Posting Sebelumnya »

28 komentar:

  1. Mas Eko, seru sekali cerita tentang berlebaran di kampung orang tua di desa transmigrasi. Dan di tempat dimana atm lokasinya sangat jauh, mobile banking seperti klik bca pasti membantu banget ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih banyak, Mbak Evi. Bener banget, waktu itu saya sangat terbantu sama layanan mobile banking dan e-banking BCA. Untuk pesan tiket saya pakai BCA Klikpay, kalau opsi tsb tidak tersedia ya pakai klikBCA. Yang penting tokennya jangan sampai ketinggalan. Hehehe...

      Hapus
  2. Wah takjub banget bayangin desa trasnmigrasinya, kalo aku ga bisa bayangin gimana gimana nya kali ya mas kalo ga ada klik BCA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, sebenarnya walau berstatus desa trans ke kota cuma berjarak 60 km sih, Mbak. Itu ke ibukota propinsi ya, yaitu Kota Jambi. Sayang karena akses jalan yang selalu rusak parah, jarak segitu ditempuh sampai 2 jam. Kadang bisa lebih. Naik motor bisa lebih cepat, asalkan tidak hujan. Hehehe...

      Hapus
  3. Saya terharu pak mendengar ceritanya, bersyukur yaa ada BCA Klik Pay, Jadi semuanya bisa ke angkut yaa pak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, jangan ikut-ikutan baper, Mbak. Ada yang kelupaan aku ceritain itu. Lebih dramatis jane *halah* Anakku yang kedua nggak ta beliin tiket, jadi pas mau mau check in di bandara nggak boleh masuk. Hihihi. Beli tiket lagi deh hari itu juga. Hihihihi.

      Hapus
  4. om Eko, seru banget ceritanya. Pie kalo gak ada BCA klik Pay? hahah pasti repot yaa...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibuku nggak bisa ikut ke Jakarta dong. Hihihi...
      Untunge bisa bayar pake Klikpay, jadi beres deh.

      Hapus
  5. alhamdulillah,
    untung juga masih nyimpan bukti transaksi ya,
    selain apik visioner juga nih bung,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inilah salah satu kelebihan era digital, jejak kita bisa tersimpan walaupun sudah berlalu bertahun-tahun. Yang nyimpen sih database situs booking online yang saya pake :)

      Hapus
  6. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan yak. Apalagi niatnya menyenangkan orang tua. Cerita tentang Jambi, saya jadi pengen ke Jambi Mas Eko...apalagi itu perkebunan kelapa sawitnya memanggil manggil futunya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teh Levina pernah ke Jambi? Atau pengen eksplore kebun sawit di sana? Kalau untuk hidup nyaman, enak banget lho di tengah-tengah perkebunan sawit begitu. Cuma satu sih kekurangannya, jalanan masih banyak rusak/jelek. Itu aja.

      Hapus
  7. Walaahh.. Iku videone ndongeng wae.. Ahihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, iku jaman belum punya kamera digital. Ngerekam ala kadar pake BB.

      Hapus
  8. Btw berarti bljane berdekatan dengan daerah transmigransi bapak saya dulu yaaa mas. Tapi di sumatera selatan. Di lubuk linggau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dari Lubuk Linggau itu kalo jalan erus ke utara sudah sampe provinsi Jambi. Paklikku ada yang di Linggau, katanya nyampe ke Sungai Bahar itu kisaran 6 jam naik mobil. Kalo lewat Palembang muter lebih jauh lagi.

      Hapus
  9. Wah beda banget ya antara pelosok dengan ibukota, disana listrik belum ada. Sementara di ibukota apa aja ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, Jawa sama Sumatera masih jomplang jauh banget, Mas. Dulu pertama kali ke Jogja aku kaget banget, masuk ke desa super terpencil pun jalannya udah aspal, ada listrik, bahkan ada juga yang pake telepon rumah. Kalo sinyal hape jangan ditanya ya.

      Di Jambi tempat orang tuaku, orang baru rame pake hape itu tahun 2007-an. Jalan baru di aspal sekitar tahun 2008-an, dan listrik masuk gak berapa dari itu. Tapi masih sering mati sih.

      Hapus
  10. Juaraaaa... mantap sekali Bung Eko. Maaf baru mampir. Bakti pada orang tua mengantarkan Bung Eko dapet Mac. Selamat yaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak, Mbak.
      Sudah lama ngidam MacBook, biar makin lancar ngedit videonya :)

      Hapus
  11. Asyiikk juaraaaa. Selamaat ya mas Ekooooo ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, bener-bener nggak nyangka ini.
      Makasih banyak ya, Kakak :)

      Hapus
  12. Selamat ya mas... artikel ini bisa merebut MacBook Pro dari blogger lain. *inspiring :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak, Kang. Sebuah kehormatan blog saya disinggahi blogger keren seperti Kang Ade :)

      Hapus