Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 15 Oktober 2016


PENERBANGAN ke Bali pada 6 Oktober siang itu sempat delay. Saya tidak menghitung berapa belas atau puluh menit jadwal GA404 Jakarta-Denpasar diundur. Tapi begitu awak Garuda Indonesia di Gate 11 membagikan dus-dus snack kepada calon penumpang di ruang tunggu, saya langsung tahu kami harus menunggu lebih lama.

Karena lelah menunggu, ditambah lagi malamnya hanya tidur sebentar, Damar sempat terlelap di sofa ruang tunggu Terminal 3 Ultimate. Saking lelapnya, anak sulung saya ini tak mau bangun ketika pintu boarding dibuka. Mau tidak mau, saya harus antri sembari menggendongnya. Plus, sebuah backpack di punggung, ditambah dua kantong plastik sedang berisi makanan dan botol-botol minuman.

Jadi, di punggung saya ada backpack berisi pakaian ganti anak-anak, laptop, tisu, diapers, serta aneka charger dan baterai cadangan. Lalu di bagian depan ada Damar yang masih nyenyak sekali. Di tangan kanan kantong-kantong plastik, di tangan kiri tiket.

Antrian boarding lumayan panjang, kebanyakan anggota rombongan Tur Cokelat Bali Frisian Flag yang sudah menunggu sejak pagi. Kemudian kami masih harus berjalan ke pintu menuju apron, menuruni dua tangga, jalan lagi ke bus, sebelum diantar ke pesawat yang entah parkir di mana.

Entah karena terlalu lelah atau salah posisi, tepat sebelum naik bus betis kanan saya tegang lalu "tesss!" Seperti ada yang putus di dalam sana. Berikutnya terasa nyeri luar biasa, kaki kanan tidak dapat menjadi tumpuan. Sampai-sampai saya tidak bisa melanjutkan langkah. Saya hanya bisa berdiri di sebelah bus sembari menahan sakit.

Untunglah, dari arah belakang datang Mas Aditya. Koordinator tim dokumentasi ini dengan baik hati menawarkan bantuan. Dua kantong plastik di tangan kanan saya ia ambil alih. "Berat, Mas," kata saya begitu Mas Adit menggenggam tali kantong. "Nggak apa-apa, Pak. Lebih berat ini," sahutnya sembari menunjuk Damar yang masih terlelap.

Keberuntungan kedua, Damar terbangun ketika saya baru menaiki sekitar dua-tiga anak tangga menuju pesawat. Bisa jadi ia kaget oleh suara bising mesin pesawat karena saya naik dari pintu depan, dekat baling-baling sayap. Begitu matanya terbuka, ia langsung minta turun dan jalan sendiri. Alhamdulillah...



Welcome to Denpasar!
Langit cerah, cuaca bersahabat, kami mendarat di Pulau Bali dengan mulus. Selama penerbangan Damar asyik bermain games. Apalagi pramugari membawakan makan siang dengan menu kesukaannya, nasi goreng ayam. Ditambah boneka pula. Harap maklum kalau begitu turun dari pesawat dia berbisik pada saya, "Naik Garuda enak ya, Bi." Saya cuma bisa tersenyum.

Masuk ke bandara, Damar terlihat sangat antusias. Dia berlari-lari kecil ke ruang kedatangan. Saya pun harus mengejarnya sembari terpincang-pincang. Saya sempat dibuat senewen ketika ia lebih memilih tangga ketimbang eskalator. Tapi, ya, namanya juga anak. Dituruti sajalah.

Rombongan kami rupanya sudah disambut sedemikian rupa. Seluruh bagasi langsung dibawa porter ke mobil Smailing Tour yang menunggu di tempat parkir, sedangkan kami membawa hand carry ke atas bus. Oya, sebelum naik bus kami disambut kalungan bunga lho. Aih, serasa jadi tamu kehormatan deh.

Setelah seluruh peserta Tur Cokelat Bali naik, bus beranjak meninggalkan bandara. Tujuan pertama Nusa Dua. Agendanya adalah makan siang di restoran The Pirates Bay Bali, lalu dilanjutkan ke Waterblow yang jaraknya hanya sekitar sepeminuman teh dari Pantai Nusa Dua.

Sesuai namanya, The Pirates Bay Bali adalah sebuah restoran berkonsep bajak laut. Ada tiruan kapal perompak di salah satu sudut kafe, lengkap dengan bendera hitam. Pengunjung bisa makan di atas kapal, mau pilih meja di dek, di buritan, atau di bagian dalam kapal bebas saja.

Ada juga semacam rumah pohon, di mana terdapat tiga tingkat ruangan berisi meja-meja makan dan bantal-bantal pengganjal pantat. Anak-anak tertarik dengan tempat ini, sehingga kami pun naik ke atas. Damar tidak bisa tidak berlari menaiki tangga-tangga bambu. Diandra sama excited-nya, tapi terlihat sedikit takut saat naik tangga.

Damn! Saya sebenarnya sedang menghindari tangga saat itu. Tapi mau bagaimana lagi? Pelan-pelan sayapun ikut naik. Pengorbanan yang sepadan, sebab dari meja atas kita dapat makan sembari melihat pantai dan laut. Ya, makan siang dengan view laut!



Usai makan, kami berkumpul di sebelah tiruan kapal untuk mendengarkan sedikit speech dari Mbak Ayu Ratri Khairina Ahza, Senior Brand Manager PT Frisian Flag Indonesia. Dari beliau kami tahu ada 300-an kontestan yang ikut Tantangan Joget Cokelat. Itu artinya, setiap pemenang utama menyisihkan sekitar 100-an kontestan lain untuk bisa tur ke Bali.

Selesai sambutan kecil dari Mbak Ayu kami lalu diajak berjoget. Tentu saja Joget Cokelat Susu Bendera, dan ditutup dengan minum segelas susu cokelat dingin. Segarnya!

Tak Ada Ombak Tinggi, Tak Ada Sunset
Damar dan Dian sebenarnya sudah sejak pertama datang ingin bermain di pantai. Malah mereka tidak selera makan karena ingin cepat-cepat mendekat ke laut. Karenanya begitu acara seremonial selesai kami langsung menggiring mereka ke pantai. Lepas sepatu, gulung celana, selanjutnya mereka berdua asyik sendiri.

Kalau saja betis tak cedera, saya pasti sudah ikut main air laut bersama anak-anak. Apa boleh buat, saya hanya bisa duduk di pasir sembari merekam. Saya harus menghemat tenaga sebab perjalanan ke Waterblow tidak bisa dibilang dekat untuk orang yang sebelah kakinya sedang cenut-cenut tak karuan.

Ada satu momen menarik saat kami di pantai. Melihat bule-bule berenang dan berjemur pakai bikini two piece, Damar nyeletuk ke saya, "Bi, ada orang wudho (telanjang)." Kontan saya dan istri tertawa mendengarnya. Maklum, di Pemalang orang berenang di pantai atau di kolam renang dengan berpakaian lengkap. Paling berani ya pakai bikini one piece yang bagian bawahnya sepaha.


Kami hanya sekitar setengah jam di pantai, tapi celana Damar sudah basah oleh air laut. Demikian juga Diandra yang asyik sekali bermain pasir. Selanjutnya kami berjalan kaki menuju Waterblow untuk melihat ombak tinggi menghantam karang.

Dasar anak-anak, sampai di padang rumput dekat patung Rama dan Laksmana mereka berlari-larian sembari tertawa-tawa. Susah payah ibunya menyuruh mereka berhenti untuk dipakaikan sepatu. Begitu sepatu terpasang di kaki, Damar dan Diandra kembali berlari-lari. Tapi kemudian mereka menurut sewaktu diarahkan ke Waterblow.

Sayang, air laut rupanya sedang surut. Kami tidak bisa menyaksikan atraksi alam berupa ombak tinggi menghantam bebatuan karang sore itu. Okelah, itu artinya kami harus datang lagi ke Waterblow suatu saat nanti. Amin.

Sekedar berfoto-foto ala kadarnya, kami lalu kembali ke bundaran air mancur di dekat Surf & Turf dan Agendaz Beach Club. Lokasi tersebut merupakan titik berkumpul yang ditentukan oleh Pak Made, guide kami. Cuma karena masih ada anggota rombongan yang belum kembali dari Waterblow, kami harus menunggu sekitar 10-15 menit.

Waterblow di Nusa Dua, destinasi pertama dalam Tur Cokelat Bali bersama Frisian Flag Indonesia. Sayang, yang ada cuma water-nya saja, karena air laut sedang surut blow-nya tidak muncul.

Rembang petang, bus yang membawa rombongan kami bergerak menuju Jimbaran. Jarak sejauh kira-kira 11 kilometer ditempuh selama sekitar setengah jam. Operator tur menempatkan kami di Jimbaran Bay Seafood (JBS) untuk menikmati makan malam sembari menikmati sunset. Sebuah jamuan makan malam bernuansa romantis.

Matahari tepat berada di peraduannya saat kami masuk ke kawasan pantai. Sayang, awan tebal menutupi ufuk barat. Kami tidak bisa melihat sunset dan harus puas dengan langit dan air laut yang memerah sebelum hari berubah gelap.

Sayangnya lagi, saya merasa betis kanan semakin tidak enak. Ditambah lagi rasa kantuk mulai melanda. Maklum, malam itu saya hanya tidur sekitar 1,5 jam. Saat dalam perjalanan Pemalang-Semarang, kira-kira di Gringsing saya tertidur. Tapi masuk Cepiring saya dibangunkan oleh sopir dan tidak tidur lagi sampai di Bandara Ahmad Yani, kemudian terbang ke Jakarta dan dilanjutkan ke Bali.

Mood saya hilang. Kamera tak keluar dari tas, sekalipun ada suguhan tari Legong tepat di depan meja kami. Pikiran saya hanya ingin cepat-cepat sampai di hotel dan tidur. Karenanya tak ada satupun dokumentasi, baik foto maupun video, sewaktu kami makan malam di Jimbaran.


Sayang yang ketiga, Damar dan Dian tidak terlalu suka dengan menu seafood yang dihidangkan. Damar hanya suka makan ikan, dengan nasi secuil, itupun tidak habis. Sedangkan Diandra hanya suka cah kangkungnya, juga tidak dihabiskan. Jadilah saya yang kebagian jatah menghabiskan makanan anak-anak. Tambah ngantuk deh.

Untungnya tak jauh dari Jimbaran ada bandara. Anak-anak lumayan terhibur oleh pesawat yang naik-turun di kejauhan. Lalu sempat pula ada yang menyalakan kembang api. Damar yang biasanya hanya melihat kembang api di malam tahun baru pun bertanya ke saya, "Di sini tahun baru ya, Bi?" Oh, boy...

Hari bertambah gelap. Kira-kira jam setengah delapan kami kembali ke bus, selanjutnya dibawa menuju Hotel Grand Ixora. Ini hotel berbintang empat di Jl. Kartika, Kuta. Anak-anak sudah tidak kuat menahan kantuk. Belum sampai hotel mereka sudah tertidur, sehingga kami berdua harus menggendong mereka ke kamar.

Kami tidak keluar kamar lagi setelah itu. Habis mandi saya minta tolong istri mengusapkan Neo Rheumacyl pemberian Mbak Ade Priatni Darum, person in charge Tur Cokelat Bali, ke betis kanan yang terasa bengkak. Setelahnya kami berdua sama-sama tertidur pulas.

Hari pertama di Bali berakhir. Tanpa ombak tinggi di Waterblow, tanpa sunset manis di Jimbaran. Tapi kami bahagia luar biasa.

BERSAMBUNG...


Protected by Copyscape
« Selanjutnya
Sebelumnya »

14 komentar:

  1. Saya jadi ikut nyut-nyutan ngebayangin betis cedera saat lagi traveling. Tapi, lumayan ngikutin juga perjalan tur cokelat ini di socmed. Kelihatan banget kalau jalan-jalannya seru :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYa, Mbak. Kalau tangan atau bagian lain sih masih mending ya. Tapi ini kaki yang dipake jalan, padahal kalau traveling kan lebih enak banyak jalan kaki. Untunglah betis dan kaki saya nggak apa-apa. Sampe sekarang masih kerasa, tapi gpp kok.

      Hapus
  2. Nunggu sambunganya...senangnya bisa trip ke Bali...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, mau bikin panjang-panjang kok nanti ada yang baca nggak ya? Hahaha. Oke, sip. Kalau terlalu lelah dan bosan baca artikel, bisa dilihat serial videonya ya :)

      Hapus
  3. pengalaman yang sangat berkesan ya mas....sayang tidak bisa ketemu BungEko dan keluarga di Bali....lain waktu semoga bisa kopdaran ya mas meski kopdar tipis-tipis aja hehehe.......

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu artinya next time saya harus ke Bali lagi. Nginepnya di Kuta sih, masih sejam perjalanan rupanya dari Denpasar. Macetnya bikin males, jadi begitu sampe di hotel kami tidur-tiduran aja di kamar.

      Hapus
  4. kayane dulu waktu aku ke Bali .. belum ada kaya gitu nya.. jalan layang di atas laut.. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata guide kami, jalan Tol Bali Mandara di atas laut itu baru dibangun 2013. Jadi masih baru banget.

      Hapus
  5. Ga maximal dong, di saat bersenang2 masih ada rasa sakit... Duh... Betis, kebayang muka harus ceria di saat nyeri melanda itu lebih sakit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mana pas mau berangkat lagi kenanya. Betis pula. Jalan pincang-pincang. Yang kasihan anak-anak, pengawalnya gak bisa nemenin maksimal kaya biasa. Makanya Damar sempat ngambek itu di hari pertama pas turun dari Waterblow.

      Hapus
  6. Wah waktu di Nusa Dua kita belum sempat ngobrol ya, saya nggak memperhatikan Mas Eko kakinya sudah sakit, baru sempat memperhatikan setelah sarapan di hotel keesokan harinya.

    Untungnya hari-hari selanjutnya sudah ceria lagi ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Heheh, makanya pas jalan ke Waterblow itu kami paling belakang. Terus pas balik dari Waterblow mau ke bus, saya ditinggal sama anak-anak dan istri. Hihihi, gpp kok. Malamnya bengkak, tapi gak cukup untuk mengalahkan antusiasme di hari kedua :)

      Hapus
  7. Lagi cedera begitu kudu naik tangga? Haduuuh, aku kok jadi ikut meringis mbayangin sakitnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, ndilalah hari pertama kok isinya tangga semua. Terus jalan kaki lumayan jauh pula. Yah, namanya rejeki. Hihihi...

      Hapus