Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Sabtu, 18 Februari 2017

PERNAH dengar istilah blogstore? Belum? Wajar. Searching di Google sekalipun nggak akan ketemu definisi dari kata ini, maupun artikel yang membahas mengenai hal tersebut. Pendek kata, ini istilah yang masih asing. Namun, dengan blogstore saya (pernah) bisa meraup untung jutaan rupiah sebulan.

Saya pertama kali mendengar istilah ini dari seorang kawan sesama blogger. Mundur jauh ke tahun 2008 saat kami masih sering berkirim SMS dan chat membahas berbagai hal seputar dunia online. Dalam satu kesempatan ia mencetuskan istilah blogstore, yang ia jelaskan secara ringkas sebagai, "toko online tapi pakai blog."

Masa itu belum banyak yang mengalih-fungsikan blog sebagai toko online. Lalu sejumlah layanan shopping cart melakukan inovasi, sehingga dapat dipasang di blog berbasis WordPress. Diikuti dengan pengembang theme menyediakan tema-tema online shop. Mulailah bermunculan situs-situs jualan yang aslinya merupakan blog berbasis WordPress.

Medio 2009, saya tertarik berjualan uang lama secara online. Ketertarikan ini berawal dari seringnya saya nongkrong di Pasar Klithikan, Yogyakarta, untuk keperluan liputan di koran lokal tempat saya magang. Cerita seorang pedagang senior di sana membuat saya ingin mencicipi manisnya profit dari bisnis uang kadaluwarsa ini.

"Sampeyan ambil sama saya Rp7.500 selembar, nanti dijual Rp10.000 kan sudah untung Rp2.500 selembar," kata Pak Wisnu, nama pedagang tersebut.

"Orang nggak mungkin cuma beli selembar. Untuk mahar paling sedikit dia beli 3-4 lembar. Dapat untung Rp10.000 sekali transaksi kan lumayan," tambah Pak Wisnu lagi.

Saya mengangguk setuju. Di ambang kelulusan kuliah, dengan status nyaris pasti sebagai pengangguran, tak ada hal lain yang terpikirkan oleh saya selain menulis dan berdagang. Sempat bingung mau berjualan apa, perkenalan dengan Pak Wisnu seolah memberi jalan bagi saya.

Kesempatan ini harus diambil!.

Tampilan blog uanglama.com di bulan pertamanya, 28 Juni 2009. Screen capture diambil dari WebArchive.org.

Modal Blog Gratis
Kembali ke kos, saya langsung merancang apa yang selanjutnya harus dilakukan untuk mengeksekusi rencana berjualan uang lama. Saya ambil kertas kosong dan pena, lalu mulai mencoret-coret. Dimulai dengan apa yang saya butuhkan sebagai modal awal, kemudian apa langkah pertama untuk mengawali usaha ini.

Sejak awal saya sudah berniat untuk berjualan secara online. Karenanya saya musti membangun toko online. Lihat sana-sini, jasa pembuatan toko online yang sangat sederhana dibanderol lebih dari Rp1.000.000. Itu hanya toko online untuk memajang barang, dengan fitur andalan update stok otomatis. Pembeli masih harus mengontak kita sebagai penjual untuk mengorder.

Kalau mau yang full otomatis di mana seluruh transaksi pembelian ditangani sistem, biaya pembuatannya 3-4 kali lipat. Tentu saja saya angkat tangan. Ketimbang untuk buat web, bagi saya lebih baik uangnya dipakai kulakan barang.

Mau membuat toko online berbasis blog WordPress, saya juga dibuat mundur teratur oleh harga theme, harga shopping cart, serta biaya hosting bulanannya. Apalagi saat itu saya awam sekali dengan WordPress dan seluk-beluk hosting.

Apa akal? Saya lantas teringat Blogspot. Bertahun-tahun saya akrab dengan platform blog satu ini. Bagaimana kalau coba membuat toko online menggunakan engine ini saja? Karena saya paham betul Blogger.com, yang perlu saya pikirkan selanjutnya hanya soal nama domain, template, dan konten.

Setelah search sana-sini, rupanya sudah ada yang memanfaatkan Blogspot sebagai landing page untuk berjualan. Sejumlah programmer malah menjajakan template-nya seharga Rp350.000. Meski tak bisa dibilang murah untuk ukuran saat itu, namun harga tersebut masih wajar. Tapi saya tidak tertarik.

Saya tidak berminat membuat landing page. Saya ingin membuat blog seperti pada umumnya blog. Bedanya, saya sediakan satu halaman khusus untuk memajang foto-foto dagangan. Jadi konsepnya adalah blog dengan konten artikel-artikel seputar uang lama dan numismatik, kemudian kalau ada yang tertarik membeli tinggal klik halaman berisi daftar barang yang disediakan.



Bukan tanpa alasan saya menginginkan konsep tersebut. Dari beberapa teman saya belajar banyak tentang search engine optimization (SEO), atau menurut saya lebih tepat disebut Google Optimization (GO). Pintu masuk pengunjung adalah mesin pencari, Google, jadi saya harus bisa menempatkan blog di halaman awal Google.

Google suka sekali dengan blog atau situs yang kaya artikel. Untuk itulah saya musti membuat blog, dan terus memperbaharuinya dengan artikel-artikel baru secara teratur. Karena saya menulis tentang uang lama dan numismatik, tentunya pengunjung yang datang ke blog adalah orang-orang yang memiliki minat atau membutuhkan uang lama.

Nah, pengunjung-pengunjung inilah calon pembeli saya. Semakin banyak pengunjung, itu maknanya saya memiliki semakin banyak calon pembeli. Konsep ini sama seperti yang dipakai oleh mal-mal di kota-kota besar.

Nama Domain sebagai Merek
Oke, kemudian saya pun membuat sebuah blog baru di Blogger.com. Gratis. Agar terkesan serius dan dapat dipercaya, saya membeli nama domain .com. Tapi tujuan utama pembalian nama domain TLD ini adalah sebagai senjata utama dalam memenangkan pertarungan di mesin pencari. Kalau saya bisa membeli nama domain dengan kata kunci yang sesuai, insya Allah blogstore yang saya rintis berjalan sesuai harapan.

Satu hal lagi, nama domain sekaligus sebagai merek. Saya ingin ketika orang bertanya-tanya, "Cari uang lama buat mahar atau koleksi di mana ya?" Maka mereka akan langsung teringat blogstore saya. Karenanya nama domain tadi harus spesifik menjelaskan apa yang saya jual.

Cari punya cari, saya beruntung mendapatkan nama domain uanglama.com. Benar-benar rejeki nomplok. Jadi klop sudah. Blognya tentang uang lama, jualannya uang lama, nama domain yang cocok tentu saja uanglama.com. Ini sekaligus keyword penting untuk bertarung di Google.

Well, hanya dalam hitungan jam blogstore itu pun jadi. Lalu jam berikutnya nama domain uanglama.com sudah terintegrasi dengan baik ke blog di Blogger.com. Langkah terakhir yang harus saya lakukan adalah mengisi blog tersebut dengan tulisan, gambar, dan tentu saja daftar barang dagangan.

Singkat cerita, saya mulai berjualan uang lama dengan sebuah blog gratis yang diberi nama domain .com. Modal materiil yang saya keluarkan sebesar Rp95.000 untuk membeli nama domain, selebihnya akses internet yang sudah dibayar bulanan, serta tenaga dan waktu untuk menyiapkan blog tersebut.

Pak Wisnu di lapak uang lamanya yang terletak di Pasar Klithikan Wirobrajan, Yogyakarta. FOTO: ???

Untuk barang dagangan, Pak Wisnu berbaik hati membantu saya. Sebenarnya ya sekaligus membantu beliau juga sih. Saling menguntungkanlah. Saya dipersilakan mengambil barang-barang darinya dengan sistem konsinyasi, jadi dibayar kalau sudah laku. Artinya, saya menyetok barang dengan modal kepercayaan saja.

Di kos, uang-uang lama dari toko Pak Wisnu saya foto satu-satu depan-belakang. Kemudian saya catat baik-baik ciri-ciri fisik serta deskripsi masing-masing, untuk selanjutnya diunggah di blog. Saya buat satu posting khusus untuk masing-masing uang. Isinya ciri-ciri fisiknya, deskripsi singkat, serta foto depan-belakang.

Saya juga menulis beberapa posting untuk menaikkan posisi blog di Google. Beruntung saya punya bahan berlimpah sekali untuk menulis banyak artikel. Selain hasil wawancara dengan Pak Wisnu dan beberapa kolektor lokal Jogja, saya masih menyimpan print out referensi yang didapat dari internet.

Semua itu saya olah menjadi bermacam-macam tulisan terkait uang lama dan numismatik. Ada tulisan tentang profil kolektor, seputar grading uang lama, tips membeli uang lama, dan masih banyak lagi.

Omset Puluhan Juta
Mengintip Web Archive, uanglama.com sudah online sejak awal Juni 2009. Saya lupa persisnya tanggal berapa posting pertama blog tersebut dipublikasikan. Yang saya ingat betul, pembeli pertamanya adalah seorang calon pengantin di Kalimantan. Ia mencari uang Rp9 untuk mahar.

Nilai transaksi pertama itu tak sampai Rp50.000, dengan marjin sekitar Rp30.000. Sedangkan nett profit-nya kisaran Rp15.000. Lumayan sebagai permulaan.

Lalu order demi order berdatangan. Semua pembeli tersebut masuk ke blogstore saya lewat Google. Rata-rata mencari uang mahar, tapi tak sedikit pula yang mencari uang-uang mistis untuk pesugihan. Transaksi besar pertama saya dibukukan tak sampai sebulan berselang. Seorang kolektor pemula di Jakarta membeli sejumlah uang lama dengan total pembelian sejuta rupiah lebih sedikit.

Semenjak itu bisnis jual-beli uang lama saya semakin berkembang. Dari sekedar penasaran ingin mencoba, saya lantas tenggelam dalam keasyikan berburu uang lama untuk diperdagangkan. Saya masih mengambil barang di Pak Wisnu, namun juga membuka jaringan lain demi menjamin ketersediaan stok. Sebab terkadang saya sudah terlanjur menerima pesanan, tapi saat mengambil barang di toko Pak Wisnu ternyata kosong.


Melihat tren, saya membuat inovasi sederhana: menyediakan paket-paket uang lama dengan nominal sesuai tahun. Karena waktu itu tahun 2009, saya membuat Paket Rp9 atau Paket 9 Rupiah dengan bermacam-macam kreasi. Ada yang berupa sekeping koin Rp10 dan Rp5 ditambah dua keping Rp2, ada pula versi kertas berisi Rp10, Rp5 dan empat lembar Rp1. Paket yang lain berisi Rp10 dan sembilan lembar Rp1.

Paket-paket tersebut terus saya lanjutkan pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2010 saya sediakan Paket Rp10, tahun 2011 saya sediakan Paket Rp11, dan seterusnya. Pada perkembangannya, paket-paket seperti ini yang mendominasi penjualan. Malah saya terbilang jarang sekali melayani pembelian uang koleksi.

Tahun demi tahun berjalan, saya berusaha konsisten meng-update lapak dagangan tersebut dengan konten-konten baru. Tujuannya tentu saja agar tetap "diingat" Google. Terkadang saya isi dengan tulisan-tulisan ringan, lalu lain saat membahas sejarah uang tertentu. Sumber tulisannya mulai dari hasil obrolan dengan sesama pedagang, sampai artikel di web-web numismatik asing.

Ini bukan bisnis besar. Omset rata-rata setiap bulan di kisaran Rp 6-7 juta. Dari angka itu saya bisa mendapat nett profit antara Rp 2-3 juta. Jumlah yang banyak untuk ukuran Pemalang, tempat saya menetap setelah meninggalkan Jogja pada medio 2010. Puncaknya, uanglama.com pernah membukukan omset sebesar Rp 20 juta lebih pada awal 2013.

Yang menarik, saya tetap menggunakan blog gratis di Blogspot saat mencapai angka penjualan sebesar itu. Sungguh tak terbayangkan sebelumnya jika blog sederhana yang modal pembuatannya hanyalah nama domain seharga Rp95.000, bisa mendatangkan omset puluhan juta.

Blog, Senjata Ampuh Digital Marketing
Waktu itu saya tidak kenal istilah digital marketing atau pemasaran digital. Jangankan praktik, teorinya saja saya tidak tahu. Yang saya tahu saya membuat blog untuk berjualan. Agar blog itu populer sehingga pengunjungnya banyak, saya mengisinya dengan sebanyak mungkin artikel demi menarik perhatian mesin pencari. Utamanya Google.

Rupanya apa yang saya lakukan waktu itu adalah cara ampuh untuk memasarkan barang secara online. Cara itu kini banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan besar. Selain membuat blog sendiri, brand-brand menggaet blogger untuk membantu membangun brand awareness atau branding, maupun sekedar menambah backlink berkualitas untuk web perusahaan.

Sebuah seminar produk keuangan di Semarang pada akhir Agustus 2016 yang saya hadiri. Seluruh peserta dan pembicaranya adalah blogger.

Kelebihan blog sebagai sarana promosi adalah sifatnya yang personal. Apa yang ditulis blogger dalam blognya berdasarkan pada pengalaman pribadi, sehingga tidak asal ngecap. Di lain pihak orang cenderung lebih mempercayai saran dari orang yang dikenal. Dan ini berlaku pula untuk rekomendasi produk.

Bagi brand, promosi menggunakan blog lebih efektif karena sifatnya yang personal memungkinkan terjadinya engagement dengan calon konsumen. Ketertarikan akan produk tercipta dari rekomendasi orang yang dipercaya calon konsumen, sehingga besar kemungkinan si calon konsumen akan menjadi konsumen tetap.

Menangkap peluang ini, sejumlah jasa digital marketing bermunculan. Umumnya, perusahaan-perusahaan tersebut mengambil spesialisasi di bidang penyediaan jasa kampanye online yang berkualitas, meliputi:

1. Jasa Penulis Artikel Murah
Sebagaimana pengalaman saya bersama uanglama.com, konten merupakan hal penting dalam mendatangkan pengunjung. Ingat, pengunjung web merupakan calon konsumen. Mereka hanya bisa digiring dengan artikel-artikel bagus yang menjawab persoalan serta rasa ingin tahu mereka. Di sinilah perusahaan digital marketing hadir menawarkan jasa penulisan artikel berkualitas dengan harga bersaing.

2. Kampanye Media Sosial
Kini eranya media sosial. Sebagian besar waktu pengguna internet habis di media sosial. Karena itulah kampanye-kampanye pemasaran semakin melirik pengguna media sosial. Untuk itu diperlukan strategi khusus sehingga promosi berjalan efektif dan memberikan hasil sesuai yang diharapkan. Umumnya brand memanfaatkan layanan kedua ini untuk mempromosikan produk atau program terbarunya.

3. Kampanye Blog
Seperti sudah saya sebutkan di atas, blog kini tengah jadi primadona dalam digital marketing. Brand selalu melibatkan blogger dalam kampanye-kampanye mereka. Karenanya brand selalu mengikut-sertakan blogger setiap kali mengadakan event. Malah banyak acara yang khusus digelar untuk blogger plus influencer, tanpa dihadiri media konvensional.

Well, ada ungkapan, "Good product sells itself." Namun kalau tidak diimbangi dengan pemasaran yang bagus, tetap saja penjualannya tak berjalan memuaskan. Produk yang bagus itu penting, tapi pemasaran tak kalah penting. Pengalaman saya mempraktikan digital marketing ala-ala, pemasaran secara online menggunakan blog sederhana sekalipun dapat menghasilkan income luar biasa.

Akhir kata, semoga posting ini bermanfaat bagi rekan-rekan yang ingin membuka toko online atau berjualan di dunia maya.


Protected by Copyscape
« Posting Selanjutnya
Posting Sebelumnya »

16 komentar:

  1. Wah semoga semakin menghasilkan rejeki yang berkah dan berlimpah dengan blognya Mas, tetep berkarya :-)

    BalasHapus
  2. 20 juta. Wow...

    Wah sangat mengispirasi. Ternyata blog gratis pun bisa.

    Makasih bung. Semoga juara. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu belum seberapa kok. Yang lain bisa dapat lebih banyak dari itu cuma bermodal blog gratis. Coba aja. Btw, makasih ya doanya :)

      Hapus
  3. Kamu kreatif sekali mas eko,...bisa memgembangkan bisnis uang kuno.memikirkan detail dan mendapatkan profit yg besar.salut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya iseng, lha terus kepepet karena gak punya kerjaan. Hahaha. Tapi sekarang udah nggak jualan uang lama lagi aku.

      Hapus
  4. pantesan aku mikir ko mas-nya ga pake infografis atau gambar btw salut bgt bisa kekejar mas. gydluck y bwt lombanya
    omongin bisnis aku jd pny ide bwt bikin bisnis jg 😃

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe, mau kasih gambar ataupun foto lebih banyak sudah nggak terkejar. Ya udah, apa adanya saja. Toh, intinya sudah ada dalam posting ini. Hehehe...

      Hapus
  5. waah sepak terjangmu sudah dari jaman blog ku masih pakai salju2 ya...hiiihihi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha, jaman blog ada lagunya, ada macam-macam banner stats dan banner situs tukeran link. Hihihi.

      Hapus
  6. Ternyata tak hanya web hosting saja yang menghasilkan uang, melainkan web blog dengan gratis bisa juga.

    Sangat Inspirasi gan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Web dengan hosting sendiri maupun blog gratisan hanyalah media, Mas. Saya kenal seorang internet marketer yang jualannya laris manis hanya bermodal blog yang masih beralamat di blogspot.com.

      Hapus
  7. Wah seru juga ya pengalaman jualan onlinenya, kalau dulu udah ada Abah Digital mungkin lebih oke lagi ya.
    Oya, numismatik itu maksudnya apa ya mas ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Abahnya siapa, Mbak? Hahahaha.
      Numismatik itu sederhananya hobi mengoleksi uang, jadi nggak cuma uang lama. Orang yang suka mengoleksi uang, baik lama maupun uang yang masih berlaku (biasanya kalau masih berlaku yang dikoleksi uang luar negeri), maka ia bisa disebut sebagai numismatis.

      Hapus
  8. Wah bagus nih idenya...tapi aku masih bingung jualan uang lama itu halal apa gak ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, itulah sebabnya usaha ini aku tinggal, Mbak.
      Mulai tahun lalu aku udah nggak aktif lagi jualan uang lama, kalau ragu-ragunya sih sudah sejak 2014 justru pas omset lagi bagus-bagusnya. Hehehe...

      Hapus