Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Kamis, 23 Maret 2017


JAM digital di dalam bus menunjukkan pukul delapan malam Waktu Indonesia Tengah (WITA) sewaktu rombongan kami mengakhiri Tur Cokelat Bali hari pertama, 6 Oktober 2016. Bus menepi di sebuah hotel dengan hiasan lampu kelap-kelip berwarna-warni. Dari balik kaca bus saya bisa melihat namanya, Grand Ixora Kuta Resort.

Dari depan, hotel berbintang empat ini tampak sederhana. Bagian muka hotel terbagi menjadi dua sisi: akes masuk ke lobi di mana meja resepsionis berada, dan restoran Bambu Roras dengan dinding kaca sehingga siapa saja dapat melihat bagian dalamnya dengan mudah.

Lantai dua restoran memiliki balkon kecil tempat di mana nama hotel tertera. Lantai di atas sepertinya kamar-kamar. Menghitung jendela-jendela besar yang tampak dari luar, paling tidak terdapat empat lantai lagi dalam bangunan yang menjulang ke atas tersebut.

Di depan restoran terdapat halaman kecil dengan dua set meja-kursi berpayung besar. Sebuah blackboard tinggi berdiri agak di tengah halaman, berisi promo yang tengah diberikan restoran pada hari itu.

Kami, rombongan peserta Tur Cokelat Bali bersama PT Frisian Flag Indonesia, langsung dibawa masuk ke lobi hotel. Tak ada pintu masuk di hotel ini, jadi akses ke lobi berupa area taman terbuka dengan aneka ragam pepohonan hijau dan hiasan lampu-lampu cantik di kanan-kiri, diselingi deretan meja-kursi dari kayu.

Meja resepsionisnya juga sangat minimalis. Terletak di samping dua lift berjejer, area resepsionis hanya berupa tembok berlapis ubin setinggi dada yang menjorok sekitar setengah meter dari dinding lobi. Di bagian atas tembok sedada inilah meja resepsionis terbuat dari kayu berwarna cokelat berada.


Dua resepsionis berseragam biru tosca berdiri di belakang meja. Satu bouquet bunga, setumpuk notes kosong, dan dua batang pena dalam wadah tergeletak di atas meja. Sesekali terdengar suara dering telepon, yang segera diangkat salah seorang dari kedua resepsionis yang melayani rombongan kami.

Pak Rahmat (tour leader) dan Pak Made (tour guide) mengambil kunci kamar pada staf hotel, sedangkan kami duduk-duduk di kursi rotan yang terdapat tepat di seberang meja resepsionis. Di dekat lift, seorang bellboy berdiri memegang troli dorong. Siap sedia mengantar tas dan koper tamu ke kamar.

Damar dan Diandra sebenarnya sudah tertidur sejak bus belum mencapai hotel. Namun saat didudukkan di kursi rotan mereka terbangun. Saya dan istri menawari welcome drink berupa orange juice, minuman kesukaan anak-anak kami. Tapi mereka hanya minum sedikit, lalu tampak tak kuasa menahan kantuk.

Setelah menerima kunci dari Pak Rahmat, saya bawa anak-anak dan istri ke dalam kamar. Kami sempat bingung di lantai mana kamar kami berada. Melihat rombongan lain masuk lift, kami ikut masuk. Untungnya, belum lagi lift naik kami bertemu seorang staf House Keeping.

Ternyata kamar kami di lantai dasar.

Sederhana, namun Elegan
Untuk ukuran hotel berbintang empat, Grand Ixora Kuta Resort tergolong sederhana. Atau lebih tepatnya simpel, namun tentu saja tetap elegan. Atau mungkin kesan ini saya tangkap karena "hanya" menginap di kamar tipe superior. Entahlah.

Saya dan anggota rombongan yang lain diinapkan dua malam di sini. Malam pertama pada 6 Oktober, dan malam kedua 10 Oktober, yaitu hari pertama dan terakhir Tur Cokelat Bali 2016. Karena padatnya jadwal tur, saya baru bisa mengeksplorasi hotel ini lebih jauh pada malam kedua.

Di malam pertama kami mendapat kamar 19 dan 21 di lantai dasar. Dua buah connecting room, di mana kamar 19 memiliki single bed dan kamar 21 twin bed.

Kamarnya tidak terlalu besar, berukuran 23 meter persegi dengan tempat tidur king size. Tapi penataan ruang yang sedemikian rupa membuat kamar-kamarnya terkesan lega.


Begitu masuk kamar kami langsung disambut pintu kamar mandi di samping. Lalu di sebelahnya ada lemari sedang dengan beberapa gantungan baju, ketel elektrik beserta dua gelas dan aneka sachet kertas berisi gula-teh-kopi, kemudian di bawahnya terletak safe deposit box.

Di seberang lemari terdapat kaca besar, berdampingan dengan tempat meletakkan bagasi yang bagian bawahnya dapat dipergunakan sebagai rak sandal atau sepatu. Di sinilah dua travel bag dan satu backpack bawaan kami diletakkan.

Bergeser ke sampingnya lagi adalah meja minimalis - hanya berupa lempengan kayu tebal menempel ke tembok - di mana pesawat telepon, remote televisi, dua botol besar air mineral, lampu belajar, dan alat tulis tergeletak. Malam sebelum kantuk datang saya biasa menyempatkan diri membuka laptop di meja ini.

Tepat di atas median meja, sebuah televisi layar datar ukuran sedang menempel di tembok, menghadap ke tempat tidur. Jadi kita bisa menonton televisi dengan nyaman sembari tidur bermalas-malasan di atas bed.

Tempat tidurnya sendiri sangat nyaman. Kasurnya tidak terlalu empuk, tapi juga tidak keras. Pas sekali untuk menjemput impian dalam lena. Bantal-bantalnya lembut dan wangi, sedangkan selimut putihnya teramat bersih dan hangat.

Saya biasanya tidak suka tidur berselimut. Tapi dua malam di Hotel Grand Ixora Kuta Resort saya selalu menyelinap di balik selimut sebelum terlelap. Padahal AC sudah disetel pada angka 25 derajat celcius, tidak terlalu dingin.


Sarapan Enak
Satu spot yang disukai anak-anak di hotel ini adalah kolam renang. Begitu tahu ada kolam renang, anak-anak yang sudah mandi pagi minta diantar ke sana. Sayangnya, pagi itu hujan rintik-rintik, jadi kami hanya bisa melihat-lihat kolam sebentar lalu kembali ke kamar sebelum sarapan.

Terletak tepat di tengah-tengah deretan kamar, ukuran swimming pool terhitung besar. Ubin biru di dasar kolam membuat airnya terlihat sangat cantik. Di beberapa titik tepian kolam terdapat pohon palem menjulang dalam pot beton berbentuk kotak.

Tamu hotel dapat bersantai-santai di tepian kolam. Ada jejeran kursi-kursi santai ala pantai berwarna putih di atas lantai kayu. Di malam hari area kolam terlihat lebih cantik lagi oleh lampu-lampu hias yang terdapat di beberapa sudut.

Dari bahasa tubuh mereka, saya tahu anak-anak sangat ingin berenang. Namun karena hujan, ditambah lagi kami harus sarapan sebelum berangkat ke destinasi berikutnya, plus mereka berdua sudah mandi, saya tidak mengajak anak-anak nyemplung.

Ketimbang berdiam di kamar, saya ajak anak-anak bersantai di restoran sembari sarapan. Ukuran restoran tak terlalu luas, namun ada lantai kedua dengan balkon yang lebih lega. Tapi saya memilih di bawah saja. Tamu juga bisa menikmati menu sarapannya di meja-kursi yang berderet di sepanjang pintu masuk sampai dekat area lobi.


Atas: Akses masuk dari luar hotel menuju ke area lobi. Tampak asri dengan aneka pepohonan.
Bawah: Area lobi yang sangat minimalis, sekaligus berfungsi sebagai akses utama keluar-masuk hotel.

Restoran dengan beberapa furniture bambu tersebut bernama Bambu Roras Resto and Bar. Selain menyediakan sarapan tetamu hotel, restoran juga terbuka bagi pengunjung umum. Di momen-momen tertentu Bambu Roras menawarkan promo dengan harga menarik. Misalnya Valentine Dinner pada 14 Februari lalu.

Berkonsep terbuka, dinding-dinding restoran terbuat dari kaca. Tamu dapat duduk menyantap makanan sembari melihat kendaraan lalu-lalang di jalan. Sebaliknya, orang-orang di luar juga dapat melihat siapa saja yang sedang makan di restoran.

Menu yang ditawarkan sangat lengkap sekali. Di dekat pintu masuk tersedia aneka jenis roti, mulai dari roti tawar sampai roti sobek, lengkap dengan selai aneka rasa. Di meja tengah ruangan terhidang rupa-rupa masakan Indonesia. Untuk lauk-pauknya tersedia sosis, ayam, tempe, juga tahu.

Menu nasi ada dua, nasi putih dan nasi goreng. Kalau tidak mau makan nasi, tersedia kentang rebus sebagai pengganti. Sumber karbohidrat lain yang bisa dipilih adalah mi yang digoreng dengan campuran sawi hijau dan cabai merah.

Setelah membukai semua wadah makanan, Damar memilih nasi goreng dan mi goreng. Ia juga minta sosis. Tadinya saya sempat berpikiran jangan-jangan sosisnya terbuat dari daging babi. Setelah bertanya pada petugas restoran, rupanya seluruh menu dijamin halal. Tidak satupun hidangan yang mengandung babi. Lega rasanya.


Lain lagi Diandra. Ia lebih banyak maunya. Setelah sarapan buah dengan saya, ia tergiur dengan roti. Eh, setelah itu minta diambilkan nasi goreng pula seperti kakaknya. Belum juga habis, ia sudah minta diambilkan ketoprak di meja sudut dekat tangga. Tobat deh.

Oya, pilihan minumannya ada banyak. Selain teh dan kopi panas, tersedia pula dua jenis jus, dan tentu saja air putih. Yang menarik, di area buah-buahan segar ada sup buah siap santap. Hmmm. Yang mau minta telur goreng, seorang chef di sudut ruangan siap membuatkan omelet.

Dua hari sarapan di sana, kami selalu dibuat puas kekenyangan.

Di Jantung Kuta
Grand Ixora Kuta Resort Bali terletak di Jl. Kartika Plaza No. 92, Kuta. Tepat berada di tengah-tengah pusat keramaian Kuta. Saat datang, saya melihat betapa hidupnya kawasan ini di waktu malam. Entah berapa belas kafe dan restoran, beberapa menyajikan live music, toko-toko souvenir, minimarket, semuanya ada di sini.

Hotel ini dapat ditempuh dalam waktu hanya sekitar 10 menit naik mobil dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Pihak hotel menyediakan angkutan antar-jemput bandara, namun saya lebih menyarankan untuk memesan taksi online karena Go-Car sudah tersedia di Bali.

Karena benar-benar berada di jantung Kuta, segala macam yang dibutuhkan untuk memanjakan kita selama liburan di Bali tersedia di kanan-kiri hotel. Terutama bank dan ATM. Hotel Grand Ixora sendiri malah diapit dua bank, BNI dan BCA.

Di hotel juga terdapat tempat spa dan pijat refleksi. Namanya Jasmine Spa & Reflexology. Tapi kalau mau spa atau massage dengan suasana berbeda di luar hotel, pilihannya ada beberapa di sepanjang Jl. Kartika Plaza.



Demikian pula dengan restoran, kafe, maupun bar. Mau yang di pinggir jalan atau di pinggir pantai, tinggal pilih saja sesuai budget. Sedangkan untuk keperluan lain-lain, dari depan hotel saya bisa melihat plang Alfamart yang hanya berjarak beberapa puluh meter. Lalu ada pula gerai-gerai Cicle K dalam radius 200-300 meter.

Kalau mau cari oleh-oleh, Krisna pusatnya oleh-oleh khas Bali cabang Tuban hanya berjarak 2,2 km dari Grand Ixora. Tepatnya terletak di Jl. Raya Tuban. Karena tidak tahu, atas saran petugas keamanan hotel waktu itu saya dan anak-istri ke Krisna naik mobil carteran. Tarifnya Rp30.000 sekali jalan.

Pilihan lebih hemat bisa memesan Go-Car, atau Go-Jek bagi yang pergi sendirian. Saya yakin tarifnya bisa kurang dari setengahnya. Kalau mau memesan Go-Jek atau Go-Car sebaiknya berjalan dulu agak menjauh dari hotel. Sebab di depan hotel biasanya ada satu-dua sopir mobil carteran.

Oya, bagi yang mau bermain air di pantai, Grand Ixora sangat dekat sekali dengan Pantai Jerman. Menurut Google Maps jaraknya hanya 650 meter, jalan kaki kira-kira sekitar 8-10 menit. Kalau mau ke Pantai Kuta, mau tak mau musti naik kendaraan karena berjarak 2 km.

Pendek kata, Grand Ixora merupakan tempat menginap yang sangat strategis. Dekat dengan bandara, pantai, dan pusat oleh-oleh. Juga berada tepat di tengah-tengah keramaian Kuta dengan atraksinya. Kurang apalagi coba?

Andai kelak ada kesempatan ke Bali lagi bersama keluarga, saya sih tidak akan ragu-ragu untuk menginap di Hotel Grand Ixora Kuta Resort lagi.

Klik di sini untuk merasakan kenyamanan menginap di Grand Ixora Kuta Resort dengan penawaran spesial dari Booking.com.



Hotel Grand Ixora Kuta Resort
Jalan Kartika Plaza No. 92, Kuta
Kabupaten Badung, Bali 80361
INDONESIA
Telp.: +62-361-759099


Foto-Foto:
Semua foto dengan watermark "BUNGEKO.COM" adalah dokumentasi pribadi, dijepret dengan Canon Powershot SX610 HS. Foto-foto lain diambil dari web www.grandixora.com dan beberapa situs booking hotel.


Protected by Copyscape
« Posting Selanjutnya
Posting Sebelumnya »

0 komentar:

Posting Komentar