Selamat datang di bungeko.com, catatan online Eko Nurhuda.

Selasa, 28 Maret 2017


AWAL bulan ini saya berkesempatan menghabiskan dua hari satu malam di Semarang. Tujuan utamanya menghadiri dua event yang berlangsung dua hari berturut-turut, 4 dan 5 Maret 2017. Tapi, mumpung di Semarang, saya sempatkan untuk berwisata sekalipun ala kadarnya. Dan Go-Jek jadi andalan selama di Kota Atlas.

Berangkat naik kereta api Kaligung dari Pemalang, saya turun di Stasiun Poncol tepat tengah hari. Adzan Dzuhur berkumandang begitu saya keluar dari area stasiun menuju Jl. Tanjung. Karena sudah waktunya makan siang, saya pun mampir ke warung Mie Kopyok Pak Dhuwur yang legendaris.

Bagi yang belum tahu, Mie Kopyok Pak Dhuwur merupakan salah satu spot kuliner yang wajib dikunjungi di Semarang. Namanya melegenda, dengan cabang hingga di ibukota Jakarta. Lokasinya hanya sekitar 300 meter dari Stasiun Poncol. Persisnya di seberang kantor PLN Kota Semarang.

Siang itu warung Mie Kopyok Pak Dhuwur ramai sekali. Maklum, memang waktunya rolasan alias istirahat makan siang. Tapi yang saya lihat kebanyakan pengunjung sepertinya berasal dari luar kota. Terlihat dari kamera-kamera yang mereka bawa, juga plat mobil yang parkir berjejer di tepi Jl. Tanjung.

Saya memesan seporsi mi kopyok plus es jeruk. Nggak pakai menunggu lama, pesanan saya datang diantar seorang pelayan berpakaian kemeja biru dengan variasi putih. Segera pula isi piring berpindah ke perut dengan sukses. Hehehe.

Rasanya? Awalnya terasa agak aneh di lidah saya, kuahnya dominan rasa bawang putih. Tapi setelah menemukan racikan yang pas berkat bantuan kecap, cuka, sambal, serta bumbu kacang yang dihidangkan di masing-masing meja, saya tak butuh waktu lama untuk menghabiskan seporsi mi kopyok.

Sayangnya saya lupa bertanya berapa harganya. Sewaktu membayar, saya dimintai Rp17.000 untuk sepiring mi kopyok ditambah segelas es jeruk. Terhitung murahlah untuk ukuran Kota Semarang.


Menyusuri Pasar Prembaen hingga Gang Warung
Usai makan siang, saya lanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri Jl. Tanjung. Niat semula mau ke Airy Eco Miroto Seteran Serut, tempat saya bakal menginap malam itu. Menurut Google Maps sih dari Jl. Tanjung saya cuma perlu berjalan kaki 700 meter menuju penginapan. Tapi sampai di perempatan Jl. Pemuda saya belok arah.

Alih-alih lurus ke selatan, ke Jl. MH Thamrin, saya langkahkan kaki ke Jl. Depok dan terus ke timur. Nama jalan ini agak familiar di ingatan karena beberapa kali disebut dalam novel seri kenangan Nh. Dini. Hanya beberapa puluh meter dari lampu merah, sebuah pasar tradisional menyambut dengan kesibukannya yang khas.

Pasar Prembaen! Pasar ini juga terasa familiar bagi saya. Dalam salah satu episode, Nh. Dini menceritakan sewaktu kecil dirinya pernah diajak berbelanja ke pasar ini. Bersama ayah dan kakak laki-lakinya, seingat saya Teguh Asmar, Dini kecil bersepeda dari Kampung Sekayu menuju Prembaen.

Saya hanya melintas saja di pasar ini. Kalau saja saat itu saya tahu di Pasar Prembaen ada satu warung nasi kebuli spesial nan legendaris, pastilah saya sempatkan mampir. Okelah, kita simpan warung nasi kebuli Pasar Prembaen untuk kunjungan ke Semarang berikutnya. Insya Allah.

Melewati Pasar Prembaen, saya teruskan langkah ke selatan menuju Jl. KH Wahid Hasyim. Dari ngobrol-ngobrol dengan seorang tukang becak di bawah gapura kawasan Pecinan, saya tahu kenapa jalan tersebut dinamai KH Wahid Hasyim. Sisi timur jalan merupakan kawasan Kauman, pusatnya keturunan Arab yang identik dengan Islam.

Kira-kira setengah jam saya mengobrol dengan Pak Becak. Lalu meneruskan langkah menyusuri Jl. Gang Warung. Sayangnya saya datang ke sana siang bolong. Kalau saja agak sore, tentulah kawasan tersebut sudah ramai oleh warung-warung aneka makanan.



"Pasar Semawis baru buka nanti sore, Mas," kata Pak Becak yang saja ajak ngobrol tadi.

Mau bagaimana lagi, acara yang saya ikuti dimulai jam 15.00 WIB. Lagi-lagi, kita simpan agenda wisata kuliner di Pasar Semawis untuk kunjungan ke Semarang berikutnya.

Nah, sampai di Jl. Gang Pinggir saya sudahi acara jalan-jalan siang itu. Bukan apa-apa, jam di hape sudah menunjukkan angka setengah dua. Saya harus check in di Airy Eco Miroto di Jl. Seteran Serut, lalu bersiap-siap menuju kawasan Kota Lama untuk mengikuti event yang diadakan YouTube.

Lewat Jalan Tikus
Sewaktu duduk melepas lelah di depan Kwaci Cap Gajah, saya iseng ngobrol dengan seorang bapak. Beliau mengaku asli Purworejo dan bekerja di produsen kwaci tersebut. Dari beliau saya disarankan untuk naik ojek saja menuju Jl. Seteran Serut. Soalnya kalau naik becak terlalu jauh, lama di jalan.

Oke, saya pun buka aplikasi Go-Jek dan melihat-lihat adakah driver di dekat-dekat saya berada. Dasar rejeki, di layar terlihat dua ikon motor dan tulisan "2 Minutes" yang menandakan terdapat driver tak jauh dari saya. Tertera juga biayanya, yakni sebesar Rp6.000,- dengan jarak tempuh 2,554 km.

Tanpa pikir panjang saya langsung order. Pesanan diterima oleh driver bernama Oky Firmansyah yang langsung menelepon menanyakan posisi saya berada. Beberapa menit berselang ia datang, setelah berbasa-basi sebentar saya memakai helm hijau dan duduk di boncengan motornya.

Ini bukan kali pertama saya naik Go-Jek di Semarang. Tapi driver satu ini membuat saya terkesan karena hapal jalan tikus. Sepanjang jalan saya mengamati Google Maps, tapi Mas Oky ambil jalan-jalan pintas di sela-sela perkampungan sempit.

"Kalau ngikutin petunjuk jalan di Maps bisa muter-muter, Pak. Banyak jalan satu arah ke Seteran Serut," kata Mas Oky sewaktu saya iseng bertanya kenapa jalannya tidak sesuai Google Maps.

Saya sih menurut saja. Bagi penumpang yang penting sampai alamat tujuan. Dan Mas Oky ini benar-benar hapal jalan. Tanpa tanya sana-sini ia bisa menurunkan saya tepat di depan gerbang Airy Eco Miroto Seteran Serut. Sebelum pergi Mas Oky meminta saya memastikan dulu benar-tidak alamat tersebut yang saya cari.

Saya benar-benar dibuat terkesan oleh Mas Oky. Rate bintang lima deh.

Proses check in di Airy Eco Miroto tidak memakan waktu lama. Saya sudah order lewat aplikasi Airy Rooms sehari sebelum berangkat. Jadi sesampainya di sana cukup mencocokkan data booking, meninggalkan KTP, setelah itu petugas resepsionis mengantar saya ke kamar yang terletak di lantai tiga.

Ini pengalaman pertama saya menginap di Airy Rooms. Akan saya tulis lebih lengkap di posting berikutnya lengkap dengan video room tour.

Dapatkan diskon langsung Rp100.000,- dengan memesan Airy Rooms di sini!


Wira-wiri Kota Lama Naik Go-Jek
Selepas istirahat sekedar mengeringkan keringat, saya pergi mandi, dan berkemas menuju Gedung Spiegel di kawasan Kota Lama. Acara YouTube Round Table sudah menunggu. Saya hanya punya waktu kurang-lebih setengah jam menuju ke sana.

Kalau saja waktunya luang, saya bisa berjalan kaki menuju Simpang Lima, lalu naik angkot ke arah Pasar Johar. Tapi saya butuh jasa angkutan yang lebih cepat, dan tentu saja tarifnya aman di kantong. Lagi-lagi saya buka deh aplikasi Go-Jek dan memesan tumpangan menuju Spiegel.

Driver bernama Sugiri Santoso menyambut order saya. Kami sempat sama-sama bingung di telepon. Pasalnya, saya menyebut "di depan Gang I, Pak." Sedangkan beliau tengah mangkal di depan gang dimaksud, tapi ujung yang lain. Tapi tak berapa lama beliau datang menjemput dan tersenyum lebar begitu melihat saya.

"Saya di depan gang tapi yang sebelah sana, Mas," katanya menjelaskan. Rupanya Gang I tembus dari Jl. Seteran Serut ke Jl. Seteran Barat. Saya menunggu di ujung gang yang Jl. Seteran Serut, sedangkan Pak Sugiri ada di ujung gang di Jl. Seteran Barat.

Berbeda dengan Mas Oky yang sikapnya terkesan formal - mungkin karena saya terlihat lebih tua darinya, Pak Sugiri sebaliknya. Slengean. Sepanjang jalan menuju Kota Lama beliau bercerita dan membanyol. Ketika menurunkan saya di area parkir Spiegel Bar & Bistro, beliau masih sempat-sempatnya membanyol soal rating bintang empat di aplikasi Go-Jek.

"Mau dikasih bintang berapa aja saya nggak pengaruh, Mas," katanya. "Tapi ya kalau bisa kasih bintang empat." Lalu tersenyum.

Oya, tarif dari Jl. Seteran Serut ke Gedung Spiegel yang berjarak 3,94 km sebesar Rp8.000.

Acara YouTube Round Table berlangsung sesuai agenda. Saya sih maunya menikmati suasana Kota Lama di malam hari terlebih dahulu sebelum balik ke Airy Eco Miroto. Tapi mendung tebal dan gerimis yang mulai turun mengubah niat tersebut. Saya putuskan langsung kembali saja ke penginapan.


Naik apa?

Untuk kali ketiga dalam empat jam saya kembali memesan Go-Jek. Dari aplikasi di hape saya tahu ada banyak driver di sekitaran Kota Lama dan Stasiun Tawang. Order saya diterima oleh driver bernama Rusmono.

Singkat cerita, saya sampai di penginapan dengan selamat. Selamat dari guyuran hujan maksudnya. Setelah mandi dan sembahyang, saya sempatkan merekam video room tour sebentar, kemudian tidur pulas hingga pagi hari.

*****

Bagi saya yang tidak hapal jurusan angkot di Semarang, plus sayang duit kalau harus naik taksi, dan malas dibawa berputar-putar oleh angkot, keberadaan Go-Jek sangat membantu sekali. Menurut saya ini adalah pilihan transportasi yang murah dan cepat, sekaligus privat.

Satu hal yang membuat saya paling senang naik Go-Jek adalah adanya kepastian tarif di muka, dan tarifnya itu terjangkau sekali. Dari beberapa kali order baik saat di Semarang maupun di Jakarta saya jadi tahu kalau tarif Go-Jek itu Rp2.000/kilometer. Sangat murah, bukan?

Terlebih menurut cerita salah satu driver, belum lama Go-Jek Semarang melakukan recruitment. Artinya, jumlah driver-nya semakin banyak sehingga calon pengguna bisa mendapatkan tumpangan lebih cepat.

Satu saja yang saya sayangkan, Go-Jek belum bekerja sama dengan ShopBack. Padahal bakal lebih asyik ya kalau tiap kali order Go-Jek via ShopBack kita dapat cashback. Walaupun nominalnya mungkin kecil, tapi kalau sering-sering kan bisa terkumpul banyak juga cashback-nya.

Jadi, harap maafkan ya kalau saya menulis tentang Go-Jek, tapi di bawah posting ini terpampang banner promosi Grab. Namanya juga usaha. Hehehe.

FOTO-FOTO:
Foto 1: Gedung Marba terlihat dari balkon Gedung Spiegel.
Foto 2: Bagian depan warung Mie Kopyok Pak Dhuwur di Jl. Tanjung.
Foto 3: Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel, atau yang lebih dikenal sebagai Gereja Blenduk, sedang menggelar misa. Terlihat mobil-mobil jamaah berjejer rapi di sekitaran gereja.

* Semua foto merupakan dokumentasi pribadi.


Protected by Copyscape
« Posting Selanjutnya
Posting Sebelumnya »

0 komentar:

Posting Komentar