<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897</atom:id><lastBuildDate>Sat, 26 May 2012 08:48:05 +0000</lastBuildDate><category>Numismatik</category><category>Sejarah</category><category>Sepakbola</category><category>Kuliner</category><category>Internet</category><category>YouTube Celebrities</category><category>Gadget</category><category>Opini</category><category>XLangkah Lebih Maju</category><category>Renungan</category><category>Inspirasi</category><category>Keuangan Pribadi</category><category>Jagat Jawa</category><category>Wisata Jogja</category><category>Tips</category><category>Film</category><category>Wawancara</category><category>Lapak Jualan</category><category>Intermezzo</category><category>Pernik</category><category>Kontes</category><category>Jakarta Fair 2011</category><category>Buku</category><category>Jurnalistik</category><category>Masakan</category><category>Resolusi Juara</category><category>Awards</category><category>Blogdetik Inspiring Woman</category><category>Karya</category><category>Smart Blogging</category><category>Bernas</category><category>About Me</category><category>7 Wonders of Internet</category><category>Humor</category><category>Pemalang</category><category>Video Post</category><category>Musik</category><category>Wirausaha</category><category>Berita</category><category>Broker Properti</category><category>Curhat</category><title>bungeko.com</title><description>Aku Ngeblog, Maka Aku Ada...</description><link>http://www.bungeko.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>252</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-3876911520496026411</guid><pubDate>Sun, 22 Apr 2012 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-23T00:10:00.901+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>7 Wonders of Internet</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Internet</category><title>YouTube, Layanan Video Sharing No. 1</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;R&lt;/span&gt;ASANYA tak ada situs yang namanya begitu cepat mendunia seperti YouTube. Hanya dalam waktu 5 tahun saja situs ini menjadi pemimpin dalam layanan &lt;i&gt;video sharing&lt;/i&gt; di internet. YouTube, sebagaimana disebut oleh David Lidsky dalam situs FastCompany.com, bahkan telah mengubah cara pandang orang terhadap internet dan media pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Nama domain youtube.com didaftarkan pertama kali pada tanggal 15 Februari 2005, kemudian tanggal 23 April di tahun yang sama video pertama di-&lt;i&gt;upload&lt;/i&gt; sekaligus menandai beroperasinya YouTube versi beta (percobaan). Video berdurasi 19 detik itu berjudul “Me at the Zoo”, sebuah video yang menunjukkan Jawed Karim—salah satu pendiri YouTube—sedang berdiri di depan sekumpulan gajah di dalam kebun binatang San Diego, California.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November 2005, perusahaan investasi top di AS &lt;a href='http://en.wikipedia.org/wiki/Sequoia_Capital' target='_blank'&gt;Sequoia Capital&lt;/a&gt; menanamkan modal awal sebesar 3,5 juta dolar ke YouTube. Sequoia Capital memang terkenal berani memodali perusahaan-perusahaan teknologi berbasis internet. Sebelum YouTube, perusahaan ini sempat ikut memodali Google bersama-sama dengan &lt;a href='http://en.wikipedia.org/wiki/Kleiner_Perkins_Caufield_%26_Byers' target='_blank'&gt;Kleiner Perkins Caufield &amp; Byers&lt;/a&gt;, perusahaan permodalaan yang cukup terpandang di AS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img border="0" height="226" width="310" src="http://1.bp.blogspot.com/-DeJSSyiOcjI/TsXWuzfmbzI/AAAAAAAAAqU/HaPeOFI23Wg/s320/youtube_logo.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;Keberanian Sequoia Capital mengucurkan dana awal sebesar 3,5 juta dolar—dan 8 juta dolar lagi di bulan April 2006—ke YouTube seolah menjadi pertanda kalau situs ini bakal menjadi besar, sama besarnya dengan situs-situs lain yang pernah dimodali perusahaan yang digawangi investor kakap Michael Moritz itu. Dan, kelak terbukti YouTube menjadi situs pilihan nomor satu untuk urusan berbagi video di internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum YouTube, sebenarnya sudah ada sejumlah situs yang melayani kebutuhan pengguna internet untuk berbagi video. Beberapa diantaranya adalah Metacafe dan MySpace. Metacafe mulai beroperasi sejak Juli 2002, sedangkan MySpace sejak tahun 2003. Dari luar AS ada DailyMotion yang berbasis di Paris, dan mulai beroperasi Maret 2005 atau 9 bulan sebelum YouTube diluncurkan secara resmi ke publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, YouTube secara brilian mampu melewati semua pendahulunya dan menduduki posisi pertama sendirian. MySpace lebih fokus pada aktivitas jejaring sosial dan menjadikan layanan &lt;i&gt;video sharing&lt;/i&gt; hanya sekedar pelengkap saja. Metacafe kini berada di peringkat ketiga diantara situs-situs &lt;i&gt;video sharing&lt;/i&gt; menurut comScore, sebuah perusahaan riset yang mencatat semua kegiatan di internet untuk kepentingan pengumpulan data seputar pemasaran online. Sedangkan DailyMotion malah hanya berada di peringkat 42 dalam daftar yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Google membeli YouTube dengan harga 1,65 milyar dolar dalam bentuk kepemilikan saham pada tanggal 9 Oktober 2006—harga yang dianggap tidak masuk akal oleh sebagian pengamat di AS, semakin jelaslah bukti yang menunjukkan betapa YouTube merupakan situs &lt;i&gt;video sharing&lt;/i&gt; masa depan yang patut diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengacu pada pertumbuhannya yang sangat luar biasa serta posisinya sebagai situs layanan &lt;i&gt;video sharing&lt;/i&gt; terpopuler saat ini, saya menempatkan YouTube pada urutan kelima dalam daftar &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/11/7-wonders-of-internet-versi-bung-eko.html'&gt;7 Wonders of Internet&lt;/a&gt; versi &lt;a href='http://www.bungeko.com'&gt;saya&lt;/a&gt;. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya YouTube ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul &lt;i&gt;YouTube, Layanan Video Sharing No. 1&lt;/i&gt;. Inilah ebook kelima dari &lt;b&gt;Seri 7 Keajaiban Dunia Maya&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan &lt;a href='http://www.4shared.com/file/rAm0mWm1/Seri_7_Wonders_of_Internet_You.html' target='_blank'&gt;klik di sini&lt;/a&gt; (ukuran file 10.493 KB). Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src='http://3.bp.blogspot.com/-RaehTGu3sTM/To1cPSeWIBI/AAAAAAAAAcg/Lbhj9Dwuv1I/s320/xl_icon.png' width='30' height='30' /&gt; &lt;i&gt;Dipublikasikan dari &lt;b&gt;pelosok daerah transmigrasi&lt;/b&gt; di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, &lt;a href='http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Muaro_Jambi' target='_blank'&gt;Kab. Muaro Jambi&lt;/a&gt;, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-3876911520496026411?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/04/youtube-layanan-video-sharing-no-1.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-DeJSSyiOcjI/TsXWuzfmbzI/AAAAAAAAAqU/HaPeOFI23Wg/s72-c/youtube_logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-9104097138234598025</guid><pubDate>Sun, 22 Apr 2012 05:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-22T12:14:08.347+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Buku</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Karya</category><title>6 Profesi Para Jutawan</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;EPERTI yang saya ungkapkan di buku &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.bungeko.com/2012/02/blogger-yuk-nulis-buku.html"&gt;Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (DP Press, 2012), naskah buku yang diterima penerbit tidak selalu langsung diterbitkan. Memang ada yang diterbitkan tak lama setelah naskah dinyatakan diterima, tapi banyak juga yang harus mengendap hingga 1-2 tahun bahkan lebih sebelum akhirnya diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, posting kali ini menceritakan salah satu naskah buku saya yang diterima sebuah penerbit di Jogja pertengahan 2010. Uangnya sudah lama habis buat biaya aqiqah anak sulung saya. &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, ternyata bukunya baru terbit bulan kemarin. Itupun kalau tak ada seorang aktivis MLM asal Jakarta yang memberi kabar lewat email--setelah ia membaca buku tersebut, saya tak akan tahu buku tersebut akhirnya terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud narsis apalagi pamer, di posting ini saya bermaksud memperkenalkan buku terbaru saya yang berjudul &lt;i&gt;6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan&lt;/i&gt;. Buku setebal 278 halaman, dengan dimensi buku 14 x 20 cm, ini terbit Maret 2012 alias bulan lalu. Nama penerbitnya Laksana, yang merupakan salah satu lini dari penerbit DIVA Press Group. Harganya? DIVA Press membanderolnya Rp30.000/eksemplar, namun kalau Bung mau membelinya melalui saya, saya bisa memberi diskon 25%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti saya ungkapkan di atas, saya baru tahu buku tersebut terbit dari seorang pegiat MLM di Jakarta. Rupanya rekan kita distributor Amway ini membaca buku saya yang memang pada salah satu bab membahas kiprah distributor MLM. Ia lantas mengirim email dan mengabari jika buku tersebut telah membuatnya terkesan. Lucunya, saya malah heran. "Buku yang mana ya?" tanya saya dalam hati. Hari ini, setelah melakukan penelusuran di Google dan situs &lt;a href="http://divapress-online.com/product/view/1543/6_profesi_jadi_jutawan.html"&gt;DIVA Press&lt;/a&gt;, akhirnya pertanyaan tersebut terjawab sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img border="0" height="287" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-yQf6mBqwcGA/T5OS3Gc1azI/AAAAAAAABF8/77Xu-QCp9xY/s320/6-Profesi-yang-Bisa-Buatmu-Jadi-Jutawan.jpg" /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Penulis:&lt;/b&gt; Eko Nurhuda&lt;br/&gt;&lt;b&gt;Isi:&lt;/b&gt; 278 hal.&lt;br/&gt;&lt;b&gt;Ukuran:&lt;/b&gt; 14x20 cm&lt;br/&gt;&lt;b&gt;Penerbit:&lt;/b&gt; Laksana, Yogya&lt;br/&gt;&lt;b&gt;Terbit:&lt;/b&gt; Maret 2012&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;Kalau Bung membaca buku &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.bungeko.com/2012/02/blogger-yuk-nulis-buku.html"&gt;Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;, cerita mengenai naskah buku ini ada di Bab 19, halaman 131. Persis seperti cerita di bab yang saya beri judul "Kalau Naskah Ditolak" tersebut, naskah &lt;i&gt;6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan&lt;/i&gt; pertama kali saya tulis pertengahan 2005. Waktu itu judulnya &lt;i&gt;Profesi Para Jutawan&lt;/i&gt;, dan hanya berisi kisah-kisah sukses pelaku 5 profesi: Pengusaha, Distributor MLM &amp; direct selling, broker properti, agen asuransi, dan penulis/pengarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu rampung langsung saya kirim ke sebuah penerbit ternama di Jakarta. Sebulan kemudian naskah itu kembali, dengan catatan redaksi menolaknya. Sempat mengendap selama hampir 5 tahun, akhir 2009 saya otak-atik lagi untuk rencananya dikirimkan ke DIVA Press. Namun karena awalnya tidak mantap, baru pada pertengahan 2010 saya kirim. Saya tambahkan profesi blogger profesional sehingga jumlah profesinya jadi 6, dan judulnya saya ganti jadi &lt;i&gt;Road to be A Millionaire&lt;/i&gt; dengan subjudul &lt;i&gt;6 Profesi yang Bisa Membuatmu Jadi Jutawan&lt;/i&gt;. Alhamdulillah, langsung diterima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang lucu bagi saya, buku ini diterbitkan ketika hubungan saya dengan editor kepala DIVA Press sedang rusak. Karena miskomunikasi, akhir 2010 saya sempat beradu argumen dalam nada tinggi via telepon dengan sang editor. Setelah itu kami putus kontak sama sekali. Jadi, rasanya tak heran jika DIVA Press tak memberi kabar saat buku ini diterbitkan. Padahal, sesuai kontrak penerbitan naskah, saya berhak mendapatkan 5 eksemplar sampel buku cetakan pertama, dan 2 eksemplar untuk cetakan-cetakan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lucunya lagi, buku ini awalnya saya beri judul Profesi Para Jutawan. Lalu setelah direvisi saya ubah judulnya jadi &lt;i&gt;Road to be A Millionaire&lt;/i&gt; dengan subjudul &lt;i&gt;6 Profesi yang Bisa Membuatmu Jadi Jutawan&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, ketika diterbitkan &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; penerbit malah memakai subjudul sebagai judul. &lt;i&gt;Yah&lt;/i&gt;, begitulah dunia penerbitan buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Oya, berminat membeli buku &lt;b&gt;6 Profesi yang Bisa Buatmu Jadi Jutawan&lt;/b&gt;? DIVA Press membanderol buku ini seharga Rp30.000/eksemplar, namun kalau Bung mau membelinya melalui saya, saya bisa memberi diskon 25%. Plus, bonus tanda tangan &lt;i&gt;wis&lt;/i&gt;. Hehehe.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-9104097138234598025?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/04/6-profesi-para-jutawan.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-yQf6mBqwcGA/T5OS3Gc1azI/AAAAAAAABF8/77Xu-QCp9xY/s72-c/6-Profesi-yang-Bisa-Buatmu-Jadi-Jutawan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-2378660630770216249</guid><pubDate>Wed, 11 Apr 2012 22:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-12T05:30:00.252+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Jurnalistik</category><title>Matinya Surat Kabar</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;P&lt;/span&gt;ERTAMA kali ke Pemalang, pertengahan 2006, saya ingat ada dua koran daerah yang secara khusus mengambil segmen pembaca di wilayah eks Karesidenan Pekalongan. Yang pertama &lt;i&gt;Radar Tegal&lt;/i&gt; milik Jawa Pos Group, dan koran kedua &lt;i&gt;Nirmala Post&lt;/i&gt; milik seorang pengusaha ternama di Tegal. &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, waktu saya menikah Agustus 2009, &lt;i&gt;Nirmala Post&lt;/i&gt; sudah lenyap dari peredaran. Tinggallah &lt;i&gt;Radar Tegal&lt;/i&gt; sendirian sebagai koran lokal di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;'Mati'-nya &lt;i&gt;Nirmala Post&lt;/i&gt; kala itu jadi kabar buruk bagi saya. Pasalnya saya sempat berencana magang di koran tersebut selepas dari Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY), dan syukur-syukur bisa kecantol jadi wartawan tetap. Tapi apa daya, koran yang dimaksudkan untuk menyaingi &lt;i&gt;Radar Tegal&lt;/i&gt; itu harus mundur dari persaingan di tahun ketiganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah dan berbulan madu (*halah*), saya kembali mendapati berita tentang menghilangnya satu koran di Jogja. Ya, &lt;i&gt;Koran Merapi&lt;/i&gt;, koran kuning alias koran yang banyak memuat berita kriminal dan mistis itu diberhentikan peredarannya oleh Kedaulatan Rakyat Group per 1 September 2009. Sebagai gantinya, PT BP Kedaulatan Rakyat menerbitkan koran baru; &lt;i&gt;KR Bisnis&lt;/i&gt;. Lucunya, umur &lt;i&gt;KR Bisnis&lt;/i&gt; juga tak panjang. Manajemen KR Group memilih mengakhiri koran tersebut dan kembali menerbitkan &lt;i&gt;Koran Merapi&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelumnya, mingguan &lt;i&gt;Malioboro Ekspres&lt;/i&gt; tempat saya pertama kali mengawali jalan sebagai jurnalis sudah lebih dulu gulung tikar. Tidak berlanjutnya &lt;i&gt;Malioboro Ekspres&lt;/i&gt; jadi semakin tragis karena koran ini terbit mingguan dan baru berusia kurang dari 6 bulan. Saya di sana sekitar 3 bulan, lalu pindah untuk magang di &lt;i&gt;Harian Jogja&lt;/i&gt; selama dua bulan satu minggu. Sekeluarnya saya dari &lt;i&gt;Harian Jogja&lt;/i&gt;, Pemred &lt;i&gt;Malioboro Ekspres&lt;/i&gt; memberi kabar kalau koran itu tidak lagi terbit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Pemalang, beberapa bulan belakangan terbit koran-koran baru. Saya tak ingin menyebut namanya karena bermaksud memberi kritik di sini. Beberapa eks kru Nirmala Post terlibat di dalamnya. Sayang, dari segi tampilan (&lt;i&gt;layout&lt;/i&gt; halamannya) saja koran-koran tersebut tak menarik. Membaca beritanya jauh tidak menarik lagi. Kalau isi berita Radar Tegal yang merupakan anggota jaringan Jawa Pos Grup saja tidak membuat saya tertarik, apalagi koran-koran baru tersebut. Formatnya yang terbit dwimingguan membuat saya menebak koran ini bermodal cekak, dan tak akan berumur panjang. &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, dugaan saya tak salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;&lt;b&gt;Sudah Diprediksi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berjatuhannya media cetak sebenarnya sudah diprediksi banyak pengamat. Kian mahalnya harga kertas serta semakin majunya dunia Teknologi Informasi membuat media cetak susah bersaing dengan media elektronik, dan belakangan dengan media internet. Dengan segala keterbatasannya, media cetak tidak bisa mengejar kecepatan gerak media internet dan juga media elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa bersaing? Media cetak menyajikan berita kemarin, sedangkan media elektronik menyajikan berita-berita yang terjadi saat itu juga. Media internet bahkan selalu di-&lt;i&gt;update&lt;/i&gt; setiap saat dengan berita-berita terbaru. Alhasil, hanya media cetak yang didukung modal besar serta benar-benar memiliki konsumen loyal dalam jumlah besar saja yang mampu bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini juga pernah disampaikan seorang rekan yang jurnalis senior dalam beberapa kesempatan berbincang dengan saya. Waktu itu saya masih getol-getolnya ingin jadi jurnalis media cetak dan mengabaikan ajakannya untuk mengembangkan sebuah situs berita lokal. Tapi setelah melihat dengan mata kepala sendiri keambrukan &lt;i&gt;Nirmala Post&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Malioboro Ekspres&lt;/i&gt;, dan sejumlah koran-koran lokal lain, saya jadi berubah pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saya sempat berangan-angan punya situs berita lokal. Saya pun membeli nama domain PemalangPost.com, sebagai awalan saya isi dengan berita-berita seputar Pemalang dari sejumlah koran lokal. Tapi saya kurang serius mengurus situs ini, jadi umurnya tak panjang. Entah, mungkin suatu saat saya akan memulainya lagi. Mungkin &lt;i&gt;lho ya&lt;/i&gt;...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-2378660630770216249?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/04/matinya-surat-kabar.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-8498686446132284034</guid><pubDate>Tue, 10 Apr 2012 18:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-11T01:00:40.118+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Intermezzo</category><title>Mau Melempari Muka Bos eBay?</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;EBAGAI salah satu member eBay yang terbilang rajin jualan--meski tak selalu laku, saya tahu persis seberapa besar &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt; yang dikenakan eBay. Ya, untuk para penjual ada banyak &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt; yang ditetapkan eBay. &lt;i&gt;Fee&lt;/i&gt; bahkan sudah dikenakan saat kita baru mau memajang barang dagangan! Maka, saya pun jadi lebih suka belanja ketimbang berjualan di eBay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Seberapa besar dan seberapa banyak &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; biaya-biaya yang dibebankan eBay pada membernya yang berjualan? Sebenarnya tak bisa dibilang besar juga. Kalau dirupiahkan nilainya hanya beberapa ribu saja. Namun kalau dalam sebulan berjualan setidaknya 50 item, tentu nilai beberapa ribu itu membengkak jadi lumayan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img border="0" width="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-3OB8VSUb4Q4/T4RzxNrv5iI/AAAAAAAABA4/2TAyDKriGkg/s320/logoEbay_150x70.jpg.gif" /&gt;&lt;/span&gt;Sebagai gam- baran, untuk mema- jang sebuah barang dengan harga di $0.99 ke bawah member dikenai &lt;i&gt;listing fee&lt;/i&gt; $0.10. Biaya ini bakal meningkat seiring besar &lt;i&gt;starting bid&lt;/i&gt; (harga awal untuk sistem lelang) barang yang dijual. Biaya listing degan format &lt;i&gt;fixed price&lt;/i&gt; lebih mahal lagi, yakni $0.50/item. Nanti ketika barang laku, eBay mengenakan &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt; lagi. Kali ini namanya Final Value Fee yang besarnya rata-rata 10% dari harga penutupan barang (untuk sistem lelang) atau harga jual (untuk sistem &lt;i&gt;fixed price&lt;/i&gt;). Ini masih belum cukup. Kalau penjual mengenakan biaya pengiriman, eBay juga menarik biaya sebesar 10% dari tarif ongkos kirim yang kita kenakan ke pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih kurang? Karena satu-satunya cara menerima uang di eBay adalah melalui PayPal, maka penjual bakal kena &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt; lagi. Kali ini &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt;-nya dikenakan oleh PayPal selaku pengelola dana. Dengan demikian, seorang penjual di eBay dikenai setidaknya 3 biaya di eBay (&lt;i&gt;listing fee&lt;/i&gt;, Final Value Fee, dan Final Value Fee on Shipping Fee) dan 1 biaya di PayPal. Total 4 biaya. Keren!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena jengkel dengan berbagai &lt;i&gt;fee&lt;/i&gt; ini, sejumlah eks member eBay yang tidak puas lantas keluar membuat situs tandingan. Namanya iOffer.com. Tak cukup membuat situs tandingan, penggagas iOffer juga menyerang eBay dan para pejabatnya. Awak iOffer membuat sebuah &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; dengan program flash yang disebar-luaskan melalui situs iOffer. Dalam &lt;i&gt;game&lt;/i&gt; itu, kita bisa melempari muka Pierre Omidyar si pemilik eBay. Sadis? Namanya saja &lt;i&gt;game&lt;/i&gt;, tentu saja menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau ikut melempari muka Pierre Omidyar? Ini dia &lt;i&gt;game&lt;/i&gt;-nya! Tapi sebelumnya ikuti dulu sejarah eBay dalam versi iOffer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;!-- // Start feepay parody movie code --&gt;&lt;br /&gt;&lt;style&gt;#feepay_swf { padding: 15px; background: #000; text-align: center; } #feepay_swf h3, #feepay_swf h3 a, #feepay_swf span { font-family: verdana,tahoma,helvetica,sans-serif; } #feepay_swf h3 { color: #ccc; font-size: 12px; margin: .5em 0; padding: .25em 0; } #feepay_swf h3 a { color: #ffc; font-size: 12px; font-style: italic; } #feepay_swf h3 a:hover { color: #009; background: #ffc; } #feepay_swf span { color: #999; font-size: 11px; padding: .5em 0; } &lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="feepay_swf"&gt;&lt;object classid="clsid:D27CDB6E-AE6D-11cf-96B8-444553540000" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=4,0,2,0" width="400" height="300"&gt; &lt;param name="movie" value="http://www.ioffer.com/imgs/feepay/feepay.swf"&gt; &lt;param name="quality" value="high"&gt; &lt;embed src="http://www.ioffer.com/images/misc/feepay/feepay.swf" quality=high pluginspage="http://www.macromedia.com/shockwave/download/index.cgi?P1_Prod_Version=ShockwaveFlash" type="application/x-shockwave-flash" width="550" height="450"&gt;&lt;/embed&gt; &lt;/object&gt;&lt;br /&gt; &lt;span&gt;Jangan lupa hidupkan dulu speakermu, Bung. Enjoy!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;!-- // End feepay parody movie code --&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-8498686446132284034?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/04/mau-melempari-muka-bos-ebay.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3OB8VSUb4Q4/T4RzxNrv5iI/AAAAAAAABA4/2TAyDKriGkg/s72-c/logoEbay_150x70.jpg.gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-3472346567739674749</guid><pubDate>Sat, 07 Apr 2012 18:03:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-08T01:03:14.030+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Internet</category><title>Mengapa Saya Tidak Membeli SMUO?</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;K&lt;/span&gt;ALAU Bung sudah akrab dengan internet awal tahun 2000-an, bisa dipastikan Bung kenal nama &lt;b&gt;Joko Susilo (JS)&lt;/b&gt;. Atau setidak-tidaknya pernah mendengar meski hanya satu kali. Ya, nama tersebut adalah pemilik sekaligus pengelola situs FormulaBisnis.com yang terkenal dengan produk Sistem Mesin Uang Otomatis (SMUO).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Saya jadi tertarik mengangkat sebuah kenangan lama. Tentu saja tidak jauh-jauh dari JS dan Formula Bisnis, karena saya hendak membeberkan pengalaman saya ketika pertama kali melihat situs penjual SMUO tersebut sampai kemudian berkeputusan untuk tidak membelinya. Ya, saya ingin membeberkan alasan &lt;b&gt;mengapa saya tidak membeli SMUO&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali mengenal JS dan Formula Bisnis melalui email sampah (spam) sekitar pertengahan 2001. Saya tidak ingat bulan berapa pastinya, tapi yang jelas harga SMUO masih Rp90.000-an. Membaca &lt;i&gt;sales page&lt;/i&gt; Formula Bisnis, siapa &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; yang tidak terkesima? Bayangkan, Anda dapat menghasilkan uang puluhan juta rupiah hanya dengan menerapkan 3 langkah sederhana yang diajarkan dalam SMUO! Fantastis, bukan? Tidak heran jika saya jadi bersemangat sekali membaca habis seluruh isi &lt;i&gt;sales page&lt;/i&gt; Formula Bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kotakkuning"&gt;&lt;img style=" width: 200px; height:300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdJaD4vYFTI/AAAAAAAAA50/N7E-a5Lq1Wc/s320/smuo.jpg" alt="SMUO" border="0" /&gt;&lt;/span&gt;Dari &lt;i&gt;sales page&lt;/i&gt; tersebut saya jadi tahu apa saja tiga langkah sederhana untuk memulai bisnis internet yang dimaksud JS dalam SMUO yang ditawarkannya. Tiga pilar utama yang diajarkan ebook tersebut adalah; (1) ciptakan produk, (2) buat website untuk menjual produk tersebut, dan (3) datangkan trafik. Benar-benar mudah! Demikian kata saya dalam hati waktu itu. Kebetulan pula waktu itu saya sedang butuh sumber pemasukan setelah tak lagi menjadi &lt;i&gt;guide&lt;/i&gt; dan gagal melanjutkan kuliah ke jenjang S1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir saja saya tertarik membeli SMUO. Namun setelah melihat &lt;i&gt;screenshot&lt;/i&gt; yang dipamerkan, saya justru jadi pikir-pikir lagi. Saya perhatikan baik-baik deretan angka yang ada di tampilan buku rekening itu, jumlahnya selalu Rp45.000 dengan 3 digit akhir yang berlainan satu sama lain. Logika saya langsung bermain. Sejumlah pertanyaan kritis bermunculan di kepala saya. Bukankah harga SMUO Rp90.000? Dari harga tersebut, JS selaku admin memperoleh Rp45.000 dan separuhnya untuk reseller. Dan ingat, calon pembeli juga diingatkan untuk memberikan angka unik di 3 digit terakhir uang yang disetorkan. Jadi, dari seharusnya hanya Rp45.000 masing-masing untuk admin (JS) dan reseller, pembeli harus mentransfer, misalnya, sejumlah  Rp45.212, Rp45.234, Rp45.007, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.bungeko.com"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdJcDKbrpOI/AAAAAAAAA58/yPy7nRMbZq8/s320/ss-fb.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319415319287801058" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan penting dalam benak saya yang kemudian membuat saya batal membeli SMUO adalah, bisnis apa yang sebenarnya dijalankan JS? Apa yang hendak ia ajarkan pada saya dalam ebook SMUO itu? Kalau melihat dari angka-angka dalam &lt;i&gt;screenshot&lt;/i&gt; yang ditunjukkan, bukankah sebenarnya ia sedang menunjukkan transferan dana dari para pembeli SMUO sebelumnya? Artinya, dari berjualan ebook itulah JS memperoleh uang. Dan itulah yang hendak diajarkannya pada saya (dan seluruh pengunjung FormulaBisnis.com) lewat ebook SMUO seharga Rp90.000 tersebut. Bukankah itu yang ia katakan di kalimat awal &lt;i&gt;sales page&lt;/i&gt;-nya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.bungeko.com"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdJZn-Ya4eI/AAAAAAAAA5s/at4eUXc2W9c/s320/fb-2004.bmp" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319412653173170658" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sana saya menyadari kalau apa yang akan diajarkan oleh ebook tersebut (bila saya jadi membelinya) tak lain tak bukan adalah apa yang sedang dijalankan JS dengan berjualan SMUO itu. Artinya, apa yang dibeberkan JS dalam ebook-nya justru sedang dijalankan olehnya bersama FormulaBisnis.com. Maka sayapun urung membeli SMUO. Untuk apa? &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, saya sudah tahu apa yang akan diajarkan, yakni ciptakan sebuah produk informasi seperti SMUO, buat sebuah situs penjual seperti FormulaBisnis.com, dan kemudian alirkan trafik ke situs tersebut. Itu saja &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; rahasianya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pengalaman saya dengan Formula Bisnis, dan itulah &lt;u&gt;mengapa saya tidak membeli SMUO&lt;/u&gt; walaupun sebenarnya saya sempat sangat ingin memilikinya. Ini pengalaman nyata. Saya menyampaikannya hanya untuk &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt; saja. Anda sendiri, bagaimana pengalaman Anda dengan Formula Bisnis?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt; Gambar-gambar diperoleh dari &lt;a href="http://web.archive.org/" target="_blank"&gt;Web Archive&lt;/a&gt;, tepatnya &lt;a href="http://web.archive.org/web/20040505124805/www.formulabisnis.com/rek/buku3.jpg" target="_blank" title="Screenshot penghasilan JS di tahun 2004"&gt;di sini&lt;/a&gt; dan &lt;a href="http://web.archive.org/web/20040129045704/http://formulabisnis.com/" target="_blank" title="FormulaBisnis.com tahun 2004"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;/small&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-3472346567739674749?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/04/mengapa-saya-tidak-membeli-smuo.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdJaD4vYFTI/AAAAAAAAA50/N7E-a5Lq1Wc/s72-c/smuo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-3512227780075627556</guid><pubDate>Tue, 03 Apr 2012 00:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-04-03T07:30:51.757+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Sepakbola</category><title>Rekonsiliasi Setengah Hati</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;M&lt;/span&gt;ENJELANG dan setelah Kongres Tahunan PSSI di Palangkaraya, 18 Maret 2012 lalu, Ketua Umum PSSI Djohar Arifin terus menyatakan niatnya untuk melakukan rekonsiliasi dengan Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI). Demi terwujudnya rekonsiliasi, PSSI berencana mengakui Liga Super Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Pertanyaan yang timbul kemudian, seriuskah niat PSSI ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalamnya samudra dapat diselami, dalamnya hati siapa yang tahu,” begitu kata pepatah. Serius-tidaknya ucapan Djohar hanya dirinya dan segenap pengurus PSSI saja yang tahu. Namun demi kemajuan sepak bola nasional, ucapan tersebut sudah semestinya bersifat serius dan diseriusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Ingin Menang Sendiri&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, dalam kongres yang baru lalu PSSI tak banyak membahas soal dualisme kompetisi dan upaya rekonsiliasi. Dari 9 poin hasil kongres yang dirilis PSSI, hanya 2 poin yang membahas tentang dualisme kompetisi. Itupun isinya mengesankan PSSI hanya ‘mau menang sendiri’ serta ‘merasa benar sendiri’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba baca poin keempat.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Kongres menyetujui penguatan skorsing kepada 32 klub yang telah diputuskan Komite Eksekutif karena mengikuti breakaway league. Namun, kepada seluruh klub tersebut, terbuka kesempatan untuk kembali dengan syarat menyampaikan pernyataan kembali bergabung secara tertulis dan terpublikasikan, juga berjanji untuk memenuhi statuta dan ketentuan yang berlaku.”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Menurut poin tersebut, Kongres menyetujui penguatan skorsing pada klub-klub LSI. Pertanyaannya, &lt;b&gt;kalau ingin rekonsiliasi kenapa justru menguatkan skorsing?&lt;/b&gt; Apa tidak sebaiknya poin tersebut berisi persetujuan terhadap penguatan upaya menuju tercapainya rekonsiliasi dengan klub-klub LSI dalam tempo sesingkat-singkatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PSSI juga hanya mau menerima klub-klub LSI jika menyampaikan surat pernyataan tertulis. Tak cukup sampai di situ, pernyataan tersebut juga harus dipublikasikan! Syarat adanya pernyataan tertulis masih bisa dimaklumi, tapi syarat publikasi? Syarat ini jelas sekali mengisyaratkan bahwa PSSI memosisikan dirinya di pihak yang benar, dan klub-klub LSI di pihak yang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca juga poin keenam.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“PSSI diberikan kewenangan oleh Kongres untuk menyelesaikan dualisme kompetisi dengan berlandaskan 5 skema penawaran yang telah diajukan kepada KONI pada tanggal 12 dan 14 Maret 2012.”&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Poin ini juga menyiratkan sikap ingin menang sendiri. Ingat saat KONI mempertemukan PSSI dengan perwakilan KPSI beberapa hari menjelang Kongres Tahunan PSSI? Belum setengah jalan pertemuan berlangsung, utusan PSSI sudah meninggalkan ruangan karena merasa keinginannya tak dipenuhi KONI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Belajar Mendengar&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa mungkin tercapai rekonsiliasi jika keinginan PSSI saja yang harus terpenuhi? Bagaimana dengan keinginan klub-klub LSI, akankah PSSI mau mendengarkan dan mengakomodir? Jika benar-benar ingin mewujudkan rekonsiliasi, sudah seharusnya PSSI mau mendengar suara klub-klub LSI. PSSI juga harus bersedia mengalah jika memang ada kebijakan yang ternyata menyimpang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djohar selaku ketua umum semestinya memahami alasan klub-klub LSI menolak LPI yang digagas PSSI. Ini bukan soal dendam, tapi soal kepantasan. Benar selama ini LSI masih banyak kekurangan. Buruknya kepemimpinan wasit, pemakaian dana APBD, kasus pengaturan skor, atau maraknya perkelahian antarpemain serta antarsuporter adalah problem utama LSI. Tapi apakah menghentikan LSI dan membuat kompetisi baru adalah solusinya? Bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan 6 klub divisi bawah yang diberi tiket gratis ke kasta tertinggi? PSMS, Persebaya dan Bontang FC seharusnya berlaga di Divisi Utama musim ini. PSM Makassar, Persema dan Persibo bahkan sempat diskorsing oleh PSSI era Nurdin. Maukah PSSI mengabulkan tuntutan kubu LSI yang ingin keenam klub tersebut dikeluarkan dari kompetisi level teratas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi soal dualisme klub. Arema, Persija, Persebaya, Gresik Uited adalah contoh klub yang terbelah dua akibat konflik PSSI-KPSI. Dapatkah PSSI bersikap netral dan mengambil keputusan yang adil dan jujur mengenai hal ini?&lt;br /&gt;Deadline yang diberikan FIFA pada PSSI untuk menyelesaikan masalah dualisme kompetisi sudah lewat. Hingga batas waktu yang ditentukan FIFA kompetisi di Indonesia tetap ada dua, LPI dan LSI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia terancam sanksi. Namun apapun keputusan FIFA upaya rekonsiliasi tetap harus dijalankan. PSSI harus membuktikan niat tersebut serius dan murni demi kepentingan sepak bola nasional. Bukan karena ancaman sanksi FIFA, bukan karena segan pada Presiden, bukan pula karena motif lain. Buktikan bahwa niat mewujudkan rekonsiliasi tidak setengah hati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Baca edisi cetaknya di tabloid BOLA edisi Senin-Rabu, 2-4 April 2012, rubrik Oposan.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-3512227780075627556?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/04/rekonsiliasi-setengah-hati.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><thr:total>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-4960161177473154568</guid><pubDate>Sun, 25 Mar 2012 17:20:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-26T00:20:00.371+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Intermezzo</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Curhat</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Numismatik</category><title>Kolektor Apa Kolekdol?</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;B&lt;/span&gt;UNG mungkin sudah tahu kalau saya berjualan &lt;a href="http://www.uanglama.com"&gt;uang lama&lt;/a&gt;. Usaha jual-beli uang jaman dulu ini sudah saya lakoni sejak pertengahan 2009. Tepatnya setelah saya melakukan liputan soal hobi koleksi uang lama alias numismatik ke sejumlah kolektor top Jogja. Dari liputan, &lt;i&gt;lha kok&lt;/i&gt; saya ikut-ikutan kecemplung menjadi kolektor kecil-kecilan, sekaligus juga pedagang kecil-kecilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Waktu itu saya buta sama sekali soal uang lama. Tapi saya langsung menemukan &lt;i&gt;chemistry&lt;/i&gt; saat mendengarkan cerita Mas Panji Kumala, &lt;a href="http://www.uanglama.com/2011/08/soegiarto-rajanya-koin-kuno.html"&gt;Pak Sugiarto&lt;/a&gt;, serta Pak Whisnu Murti. Ketertarikan pada uang lama semakin bertambah setelah saya menemukan forum numismatis di Kaskus serta membaca-baca sejumlah referensi online. Satu hal yang membuat saya tertarik, &lt;b&gt;mengoleksi uang lama adalah investasi&lt;/b&gt;. Tak ubahnya menyimpan emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Sarana Investasi Menarik&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begini penjelasan Mas Panji saat saya wawancarai untuk keperluan liputan di &lt;i&gt;Harian Jogja&lt;/i&gt;. Kalau kita menabung uang, katakanlah, Rp100.000 di bank, maka 1-2 tahun kemudian nilai uang tersebut justru berkurang. Coba baca ulasan saya berjudul &lt;i&gt;Rajin Menabung Pangkal Kaya?&lt;/i&gt; yang membahas soal kerugian menabung di bank. Ringkasnya, uang Rp100.000 tersebut bakal terus tergerus inflasi dan nilainya semakin turun dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang coba gunakan uang Rp100.000 itu untuk membeli uang lama pecahan, sebagai contoh saja, Rp10.000 tahun 1985. Waktu saya kecil, ini uang pecahan tertinggi. Cuma orang berduit yang di kantongnya ada lembaran uang Kartini ini. Saat ini harga selembar uang Rp10.000 tahun 1985 berkisar antara Rp25.000-Rp35.000 tergantung kondisinya. Katakanlah kita beli yang kondisi biasa-biasa saja seharga Rp25.000/lembar, maka dengan uang Rp100.000 kita bisa memiliki 4 lembar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpan keempat uang lama tersebut barang 1-2 tahun, maka nilainya bisa dipastikan bertambah. Seberapa banyak? Dalam tempo setahun, bolehlah kita berharap harganya bakal naik Rp5.000/lembar. Memang tak banyak &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt;, tapi setidaknya kita tak rugi seperti halnya menabung di bank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ingin yang &lt;i&gt;return of investment&lt;/i&gt;-nya cepat, belikan uang mahar alias uang-uang lama yang biasa digunakan sebagai mas kawin. Asal dapat menemukan pedagang yang pas, kita bisa mendapatkan harga eceran sekitar Rp5.000 hingga Rp12.000/lembar untuk uang lama pecahan Rp1, Rp5, atau Rp10. Di pasaran, selembar Rp1 tahun 1961 paling tidak laku dijual seharga Rp10.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Modal Minimal Hasil Maksimal&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saat kembali serius berjualan uang lama awal Januari lalu, modal saya tak sampai Rp150.000. Uang sebesar itu saya belikan uang lama pecahan Rp1 tahun 1961 dan Rp10 tahun 1959 masing-masing 20 lembar. Boleh percaya boleh tidak, akhir bulan itu juga saya bisa mengantongi keuntungan bersih Rp500.000 lebih sedikit. Padahal tak semua barang terjual. Padahal juga saya tak menjual mahal-mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir 2009, saya membeli 3 lembar uang lama pecahan Rp1000 tahun 1952 seharga Rp 1 juta termasuk ongkos kirim. Ketiga lembar uang itu dalam kondisi baik. Pakai hitung-hitungan kasar saja, Rp 1 juta bagi 3 berarti harga per lembar uang itu sekitar Rp340.000. Mahal? Tunggu dulu. Selembar dari ketiga uang itu dibeli seseorang di Surabaya seharga Rp550.000, lalu selembar lagi laku seharga $49.00 di eBay. Waktu itu kurs rupiah masih di angka Rp9.500/dolar. Sisa selembar lagi masih saya simpan, dan konon kini harganya paling tidak Rp600.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sempat membeli 2 lembar uang Soeharto polymer dengan nomor seri urut seharga hampir Rp200.000. Saya pikir itu terlalu mahal. Nyatanya hanya sekitar 2 pekan kemudian saya bisa menjual kedua lembar uang itu seharga Rp250.000. Keren! Sejak itulah saya semakin meminati sekaligus menikmati berjualan uang lama. Pasalnya, usaha ini sangat pas bagi orang bermodal cekak seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bermodal tipis, tapi saya beruntung bisa memiliki nama domain TOP BGT. Nama domain yang sangat membantu saya mengembangkan usaha jual-beli uang lama ini secara online. Yap, saya sangat bersyukur sekali mempunyai &lt;a href="http://www.uanglama.com"&gt;uanglama.com&lt;/a&gt;. Dengan sewa tak sampai Rp100.000/tahun, saya serasa punya ruko yang sewanya jutaan setahun. Ahamdulillah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pembeli sering menganggap saya &lt;b&gt;&lt;a href="http://www.uanglama.com"&gt;kolektor uang lama&lt;/a&gt;&lt;/b&gt;. &lt;i&gt;Hmmm&lt;/i&gt;, padahal sebenarnya saya hanyalah seorang &lt;b&gt;kolekdol&lt;/b&gt;. Maksudnya, saya memang mengoleksi uang lama. Tapi kalau ada yang mau membeli ya saya &lt;i&gt;dol&lt;/i&gt; (=jual, Jawa) saja. Hahaha...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-4960161177473154568?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/03/kolektor-apa-kolekdol.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-5085235385483854077</guid><pubDate>Tue, 20 Mar 2012 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-03-21T00:10:00.416+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>7 Wonders of Internet</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Internet</category><title>Twitter, Mengawali Era Microblogging</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;J&lt;/span&gt;ANIS Krums mungkin tidak menyangka jika perjalanannya ke kota New York di awal tahun 2009 bakal membuatnya terkenal di seluruh Amerika Serikat, bahkan dunia. Hari itu, 15 Januari 2009, Janis yang berasal dari Sarasota, Florida, tengah berada di dalam sebuah kapal &lt;i&gt;ferry&lt;/i&gt; wisata menyusuri Sungai Hudson yang memisahkan kota New York dengan Weehawken, New Jersey. Tiba-tiba, dari angkasa jatuh benda besar panjang berwarna putih ke tengah sungai, tak jauh dari &lt;i&gt;ferry&lt;/i&gt; yang ditumpangi Janis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Benda besar panjang itu ternyata sebuah pesawat! Begitu pesawat tercebur dan mengapung-apung di permukaan sungai, 155 orang penumpangnya langsung berebut keluar dan berdiri di sayap pesawat. Sebagian lagi duduk kedinginan di atas tangga darurat pesawat yang terbuat dari bahan semacam plastik berisi angin. 5 awak pesawat berusaha keras membantu para penumpang keluar dari badan pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh penumpang &lt;i&gt;ferry&lt;/i&gt; di mana Janis Krums berada sama berteriak kaget melihat insiden tersebut. Awak &lt;i&gt;ferry&lt;/i&gt; dan seluruh penumpang sepakat berbalik haluan untuk menolong para penumpang kapal nahas itu. Ketika &lt;i&gt;ferry&lt;/i&gt; sedang mendekati badan pesawat, Janis memotret pesawat jatuh itu dengan kamera iPhone-nya. Ia lalu &lt;i&gt;login&lt;/i&gt; ke akun Twitpic untuk meng-&lt;i&gt;upload&lt;/i&gt; foto hasil jepretannya ke internet, dan kemudian menulis status di Twitter: “http://twitpic.com/135xa - &lt;i&gt;There’s a plane in the Hudson. I’m on the ferry going to pick up the people. Crazy.&lt;/i&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img border="0" height="310" width="310" src="http://4.bp.blogspot.com/-wfSk0IfjjCc/TsXUUHkYFZI/AAAAAAAAAqI/DIK_fNmXwt4/s320/Twitter_Logo.png" /&gt;&lt;/span&gt;Siapa sangka, inilah foto dan informasi pertama tentang insiden jatuhnya pesawat di Sungai Hudson itu yang diketahui publik. Dengan cepat berita tersebut menyebar di internet, khususnya para pengguna Twitter. Foto yang di-&lt;i&gt;upload&lt;/i&gt; Janis juga segera menjadi konsumsi umum, dan akhirnya sampai ke tangan para jurnalis media-media besar. Para editor berita segera melihat jadwal penerbangan dari bandara LaGuardia, New York City, untuk mencari tahu pesawat apa yang jatuh. Kemudian ditemukan informasi bahwa pesawat US Airways jurusan Charlotte, North Carolina, dengan nomor penerbangan 1549 melakukan pendaratan darurat di Sungai Hudson setelah menabrak sekawanan burung hanya 6 menit setelah lepas landas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;34 menit setelah Janis meng-&lt;i&gt;upload&lt;/i&gt; foto ke Twitpic dan menulis status di Twitter, stasiun televisi MSNBC datang ke lokasi kecelakaan dan mewawancarainya sebagai saksi pertama dalam liputan langsung (&lt;i&gt;live&lt;/i&gt;) mereka. Beberapa saat setelahnya giliran stasiun televisi Fox News yang mewawancarainya—juga dalam liputan langsung, disusul dengan sejumlah pemberitaan di situs-situs berita dan portal Google News.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu nama Janis Krums terkenal di seantero Amerika Serikat, bahkan juga dunia. Program-program dokumenter yang mengangkat jatuhnya pesawat US Airways itu selalu mewawancarai Janis sebagai saksi pertama. Beberapa di antaranya program yang dibuat oleh Channel 4—stasiun televisi Inggris, dan Discovery Channel. Jika para kru pesawat memperoleh penghargaan Master of the Guild Medal dari The Guild of Air Pilots and Air Navigators, ditambah status warga kehormatan dari Walikota New York dan &lt;i&gt;standing ovation&lt;/i&gt; sebelum pertandingan Super Bowl XLIII dimulai, maka Janis Krums memperoleh penghargaan Shorty Awards yang disponsori oleh The John S. and James L. Knight Foundation untuk tweet (status) yang ia tulis di Twitter. Tidak hanya itu, foto yang ia &lt;i&gt;upload&lt;/i&gt; ke TwitPic juga memenangkan penghargaan sebagai Real-Time Photo of the Year.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pengamat di Amerika menyebut kejadian ini sebagai &lt;i&gt;the power of citizen journalism&lt;/i&gt;, kekuatan jurnalisme warga. Namun, bagi para pengguna jejaring sosial—khususnya Twitter, apa yang telah dilakukan Janis Krums merupakan bukti dari semakin menguatnya pengaruh jejaring sosial dalam kehidupan masyarakat modern dewasa ini. Tidak hanya sebagai sarana bersosialisasi di internet, jejaring sosial juga menjadi cara baru untuk mengirim sekaligus mendapatkan berita yang terkadang luput dari pantauan media mainstream seperti koran dan televisi. Atau, dalam kasus Janis Krums, berita yang terlebih dulu diketahui publik sebelum media tahu dan mengangkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pengaruhnya dalam kehidupan sosial dewasa ini, saya menempatkan Twitter pada urutan ketujuh dalam daftar &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/11/7-wonders-of-internet-versi-bung-eko.html'&gt;7 Wonders of Internet&lt;/a&gt; versi &lt;a href='http://www.bungeko.com'&gt;saya&lt;/a&gt;. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya Twitter ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul &lt;i&gt;Twitter, Mengawali Era Microblogging&lt;/i&gt;. Inilah ebook ketujuh atau terakhir dari &lt;b&gt;Seri 7 Keajaiban Dunia Maya&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan &lt;a href='http://www.4shared.com/file/ThVDZa2-/Seri_7_Wonders_of_Internet_Twi.html' target='_blank'&gt;klik di sini&lt;/a&gt; (ukuran file 1.640 KB). Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src='http://3.bp.blogspot.com/-RaehTGu3sTM/To1cPSeWIBI/AAAAAAAAAcg/Lbhj9Dwuv1I/s320/xl_icon.png' width='30' height='30' /&gt; &lt;i&gt;Dipublikasikan dari &lt;b&gt;pelosok daerah transmigrasi&lt;/b&gt; di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, &lt;a href='http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Muaro_Jambi' target='_blank'&gt;Kab. Muaro Jambi&lt;/a&gt;, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-5085235385483854077?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/03/twitter-mengawali-era-microblogging.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-wfSk0IfjjCc/TsXUUHkYFZI/AAAAAAAAAqI/DIK_fNmXwt4/s72-c/Twitter_Logo.png' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-9141148334414334796</guid><pubDate>Sun, 26 Feb 2012 23:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-27T06:13:57.031+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Inspirasi</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Smart Blogging</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Sejarah</category><title>Roma Tidak Dibangun dalam Semalam!</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;U&lt;/span&gt;JAR-UJAR tersebut sudah sangat sering kita dengar, untuk menggambarkan bahwa kota Roma yang indah nan rapi tidak dibuat secara instan dalam semalam. Ujar-ujar bijak ini mengandung makna bahwa kesuksesan tidak bisa dicapai secara singkat. Tidak ada jalan pintas menuju sukses, karena setiap kesuksesan memerlukan proses berliku dan terjal mendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Menurut sejarah yang berbalut mitos, kota Roma dibangun oleh dua saudara kembar Romus (circa 771-753 SM) dan Romulus (circa 771-717 SM) pada tahun 753 SM. Dalam mitologi Romawi, keduanya adalah anak petapa Rhea Silvia dan Mars, Dewa Perang. Kelahiran si kembar menuai masalah sehingga keduanya harus dibunuh. Alih-alih membunuh, pelayan yang diperintah untuk mengeksekusi bayi kembar tersebut malah membuang keduanya ke hutan. Seekor serigala betina menemukan kedua bayi itu dan memeliharanya. Kisah ini digambarkan dalam logo klub sepakbola AS Roma, juga dibuat dalam bentuk patung serigala sedang menyusui Romus dan Romulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img border="0" width="310" src="http://3.bp.blogspot.com/-7IRnTxt-Bp0/T0q8Q7NTLAI/AAAAAAAAA7k/61AsveACbTQ/s320/colloseum.jpg" /&gt;Colloseum, salah satu bangunan megah di Roma.&lt;/span&gt;Seseorang bernama Faustulus kemudian datang dan mengambil Romus dan Romulus. Bersama istrinya, Acca Larentia, ia membesarkan kedua bayi malang tersebut. Saat keduanya dewasa, mereka memutuskan untuk membangun sebuah kota. Namun mereka tidak dapat bersepakat siapa yang akan memerintah kota itu. Maka mereka me-ngadakan semacam taruhan dengan melihat burung di langit. Romus menjadi yang per-tama melihat 6 ekor burung terbang di langit. Tak lama kemudian Romulus melihat 12 ekor burung. Romus melihat pertama kali, namun Romulus melihat lebih banyak. Kesepakatan tidak dapat dicapai, merekapun menempuh jalan kekerasan. Setelah bertarung sekian lama, Romulus membunuh Romus dan memimpin Roma sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Jatuh-Bangun Roma&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak didirikan pada tahun 753 SM, pembangunan Roma terus berjalan seiring dengan laju pergantian kepemimpinan yang menguasai kota tersebut. Tahun 616 SM, raja Tarquinius Priscus mendirikan dua bangunan megah yang dikenal sebagai Forum dan Circus Maximum. Lalu pada 600 SM, sebuah bangunan megah lain bernama Cloaca Maxima mulai dibangun. Diikuti dengan pembangunan Tembok Servian (Servian Wall) oleh raja Servius Tullius pada 565 SM, dan Kuil Jupiter pada 510 SM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di masa pemerintahan Republik (508-27 SM), pembangunan dilanjutkan, terutama sekali kelengkapan infrastruktur kota seperti jalan raya. Pada 312 SM, dua jalan utama yang dinamai Via Appia dan Aqua Appia dibangun. Disusul dengan Via Flamina di tahun 220 SM. Pembangunan kemudian terhenti oleh meletusnya Perang Punic yang pecah sampai 3 kali; 264-241 SM, 218-202 SM, dan 149-146 SM. Ketika Julius Caesar membangun imperium Romawi dan mengangkat dirinya sebagai Kaisar Roma, praktis pembangunan Roma terhenti karena perang dan invasi yang tak henti-hentinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan Roma kembali berjalan di tahun 72, ketika Flavian Amphitheatre atau yang lebih dikenal sebagai Colosseum mulai dibangun. Tahun 125, Kaisar Hadrian merekonstruksi Pantheon menjadi kurang-lebih seperti yang kita lihat sekarang. Tahun 216, Baths of Caracalla selesai dibangun. Disusul dengan dimulainya pembangunan Tembok Aurelian (Aurelian Wall) pada 270.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 395 (versi lain menyebut pada 284), Imperium Romawi pecah menjadi dua. Perpecahan diawali dengan pembangunan Byzantium sebagai ibukota Romawi yang baru oleh Kaisar Constantine I pada 11 Mei 330. Nama tersebut kemudian diganti menjadi Constantinople, dan menjadi pusat kekuasaan Romawi Timur. Sedangkan Romawi Barat membangun ibukota baru bernama Ravenna menggantikan Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski tidak lagi menjadi pusat kekuasaan Romawi, namun kota Roma terus di-kembangkan. Sekitar tahun 320, St. Peter’s Basilica mulai dibangun. Seratus tahun kemudian, Gereja Santa Sabina didirikan. Lalu pada tahun 630, Gereja Santa Agnes di-dirikan. Bangunan ini menjadi gereja Romawi pertama yang dibangun dengan gaya Byzantine. Tahun 1108, Gereja San Clemente dibangun ulang, disusul dengan restorasi Gereja Santa Maria di Trasevere pada tahun 1140. Tahun 1232, Basilica of St. John Lateran selesai dibangun. Pembangunan dan perbaikan gereja-gereja megah ini merupa-kan lanjutan dari dijadikannya Kristen sebagai agama resmi imperium Romawi oleh Kaisar Theodosius di tahun 380.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1452, St. Peter’s Basilica yang dibangun sekitar tahun 320 diruntuhkan untuk kemudian dibangun kembali. Proses pembangunan basilika ini menjadi lebih serius lagi pada masa Paus Julius II, dimulai pada tahun 1506. Dua tahun kemudian, pelukis terkenal Michelangelo dipercaya untuk melukis Sistine Chapel yang juga ter-kenal itu. Lalu di tahun 1547, Paus Paulus III menunjuk sang pelukis sebagai arsitek utama pembangunan St. Peter’s Basilica.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain gereja dan basilika, sejumlah bangunan lain juga didirikan. Seperti Palazzo della Cancelleria yang dibangun pada tahun 1486, dan Villa Farnesina yang selesai di-bangun pada tahun 1519. Sayang, tahun 1527 pasukan Raja Charles V dari Prancis menyerbu Roma dan meruntuhkan kota, sejumlah bangunan megah diratakan dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roma cepat bangkit kembali, dan pembangunan bangunan-bangunan megah dilan-jutkan lagi. Diantaranya adalah Gereja Gesu (1568), Palazzo Farnese (1595), patung Apollo dan Daphne (1624), St. Peter’s Basilica (1626), Piazza Navona (1651), Palazzo di Montecitorio (1694), Trevi Fountain (1732), Piazza del Popolo (1816), dan di masa Italia modern ada Monumen Vittorio Emanuele (1911). Bangunan-bangunan ini masih dapat dilihat sampai sekarang, meski sebagian sudah berupa puing-puing. Dan, adanya bangunan-bangunan inilah yang menjadi daya tarik wisata Roma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Bangkit, dan Terus Bangkit&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, itulah Roma. Kota yang keindahannya kondang sampai ke seluruh dunia, menjadikannya salah satu tujuan wisata pilihan di Eropa, ternyata dibangun dalam masa yang begitu panjang. Jika dihitung dari saat Romus dan Romulus membangun kota ter-sebut pertama kali pada tahun 753 SM, Roma seperti yang kita lihat saat ini dibangun dalam waktu 2763 tahun. Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah pembangunan kota Roma ini layak selalu diingat. Pesannya adalah tidak ada hasil instan, apalagi tanpa kerja keras. Anda mustahil mendapatkan penghasilan berlimpah dan hidup kaya raya hanya dengan ongkang-ongkang kaki. Maaf, Anda salah kalau percaya dengan iklan-iklan di berbagai situs yang menyebut Anda hanya perlu punya keahlian mengetik untuk bisa menghasilkan pendapatan puluhan juta rupiah sebulan dari internet. Sekalipun Anda jago mengetik satu jari, mencari uang di internet butuh keterampilan lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jer besuki mawa bea, demikian kata orang Jawa Timur. Ujar-ujar ini kurang-lebih bermakna bahwa segala sesuatu membutuhkan pengorbanan. Bentuk pengorbanan ini banyak ragamnya, mulai dari pengorbanan uang, waktu maupun tenaga. Banyak orang tidak keberatan mengorbankan uang dan tenaganya untuk sesuatu yang ia inginkan. Namun, sebagian besar orang selalu tidak sabar mengorbankan waktunya. Kebanyakan orang tidak sabar melalui proses menuju puncak suksesnya, sehingga akhirnya terjebak pada pilihan-pilihan instan yang semu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dengan blogger pencari uang. Banyak sekali diantara mereka yang tidak sabar ingin segera menghasilkan puluhan ribu dolar sebulan. Alih-alih menebalkan kesabaran serta memusatkan fokus pada target, mereka malah mencari jalan pintas untuk segera mengantarkan mereka pada tujuan. Memang, ada juga yang berhasil dengan cara pintas begini. Namun keberhasilan tersebut bersifat semu dan tidak bertahan lama. Jalan pintas adalah fatamorgana di gurun pasir, nampak indah di mata tapi tidak nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belajar pada sejarah Roma yang mulai dibangun sejak 2763 tahun lalu, kesuksesan sejati membutuhkan waktu. Dan, kita dituntut untuk sabar serta tetap fokus dalam menjalani proses menuju sukses tersebut. Ingatlah baik-baik dalam memori bahwa Roma tidak dibangun dalam semalam. Demikian juga dengan apapun yang kita impikan dan ingin peroleh, kita membutuhkan waktu dan kerja keras sebelum mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Epilog:&lt;/b&gt; Sejak pertengahan 2009 saya berjualan di eBay. Sempat &lt;i&gt;mandeg&lt;/i&gt; setahun lebih, lalu saya mulai lagi pertengahan 2011. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, barang-barang yang saya pajang laku meski hitungannya rugi. Nah, sejak Januari 2012 lalu saya bertekad untuk serius menekuni jual-beli uang lama di eBay. Saya telah menyusun sebuah target bersama eBay. Saya optimis target itu bisa saya capai, dan saya juga sadar untuk mencapai itu butuh waktu. Cerita pembangunan Roma ini adalah penyemangat saya.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-9141148334414334796?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/02/roma-tidak-dibangun-dalam-semalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7IRnTxt-Bp0/T0q8Q7NTLAI/AAAAAAAAA7k/61AsveACbTQ/s72-c/colloseum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-4797448217585873432</guid><pubDate>Fri, 24 Feb 2012 00:49:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-24T07:49:04.182+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Intermezzo</category><title>Awas, di PayPal Banyak Penipuan!</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;I&lt;/span&gt;NI cerita lucu yang saya alami kemarin (23/2) sewaktu mengambil nomor PIN untuk kartu ATM tabungan saya di salah satu bank milik pemerintah. Sebuah kejadian yang bagi saya tak cuma lucu, tapi juga konyol. Bayangkan, seorang pegawai bank mengeluarkan pernyataan atas nama bank tapi hanya berdasarkan pengetahuannya pribadi yang minim. Akibatnya keterangan jadi tak jelas, pernyataannya juga &lt;i&gt;ngawur abis&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Ceritanya begini. Untuk memperbanyak pilihan rekening guna keperluan transfer dana pembayaran di blogstore &lt;a href="http://www.uanglama.com"&gt;uang lama&lt;/a&gt; saya, pekan lalu saya membuka rekening baru di sebuah program tabungan yang diluncurkan oleh bank tersebut bekerja sama dengan kantor pos. Saya buka rekeningnya di Kantor Pos Pemalang. Pilihan tabungan yang sangat ringan; saldo awal cuma Rp50.000, biaya bulanan Rp2.000, biaya ATM Rp3.000, dan kalau saldo mengendap di atas Rp300.000/bulan mendapat bonus gratis biaya bulanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses pembukaan rekeningnya cepat, tak sampai 10 menit saya sudah memegang buku tabungan plus kartu ATM. Cuma kartunya instan, jadi tak ada namanya. Tak apa, saya boleh menulis sendiri nama saya di atas kartu itu &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;, hehehe. &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, seperti umumnya kartu ATM baru, selanjutnya saya diminta petugas pos untuk datang ke kantor kas bank tersebut untuk meminta PIN agar kartunya bisa digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Kebingungan Pun Dimulai...&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img width="310" src="http://1.bp.blogspot.com/-9IV_IdbcfXA/T0bdSvYSwpI/AAAAAAAAA7Y/3o2myx6XdiM/s320/eBataraPos.jpg" /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; Koprol.com&lt;/small&gt;&lt;br/&gt;Seperti inilah kartu ATM yang saya buka di bank tersebut. Hehe, ketahuan &lt;i&gt;deh&lt;/i&gt; nama banknya.&lt;/span&gt;Sepekan kemudian saya datang ke kantor kas bank yang sempat terkenal dengan program kredit perumahan (KPR) itu. Petugas yang membantu saya seorang wanita berjilbab yang sangat anggun. Senyum dan keramahannya khas pegawai bank. Awalnya saya cuma mau ambil PIN kartu ATM. Tapi kemudian terbetik rasa penasaran saya untuk menanyakan beberapa hal lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal pertama yang saya tanyakan adalah, apakah tabungan tersebut memiliki layanan internet banking? &lt;i&gt;Ealah&lt;/i&gt;, untuk pertanyaan itu saja saya sudah melihat gelagat tidak baik. Awalnya petugas tersebut menjawab spontan, "Bisa &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; pakai &lt;i&gt;internet banking&lt;/i&gt;." Tapi tak lama kemudian dia tampak bimbang, lalu tanpa permisi mengambil amplop ATM yang saya dapat saat membuka tabungan. "Mmm, coba tanya ke CS," katanya kemudian. Saya cuma bisa garuk-garuk kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu setelah nomor PIN kartu ATM saya terima, saya bertanya lagi, "Mbak, boleh tahu nomor kode kliring bank ini?" Rencananya saya mau mendaftarkan rekening bank tersebut ke PayPal. Kebetulan rekening Niaga dan BCA saya sudah lama mati karena saldonya habis setelah lebih dari setahun tak ada transaksi sama sekali. Sebenarnya rekening BNI saya sudah terdaftar di PayPal, tapi saya mau satu rekening lagi. Untuk itu saya butuh 7 digit kode bank seperti yang ditanyakan PayPal saat kita mendaftarkan rekening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Mbak tampak bingung dengan pertanyaan saya. "Kode apa?" Saya berusaha menjelaskan secara sederhana, "Kode bank kalau kita mau menerima transferan dari luar negeri." Pegawai wanita itu tampak mengerutkan kening. "&lt;i&gt;Oh&lt;/i&gt;, kalau itu bisa dilihat dari nomor rekening." Dia lalu menunjukkan satu buku tabungan dan dibandingkan dengan buku tabungan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tabungan yang buka di sini kan kodenya ini (sambil menunjuk 4 digit awal nomor rekening buku tabungan di tangannya). &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, kalau rekening yang buka di kantor pos kodenya ini (sambil menunjuk 4 digit awal nomor rekening buku tabungan saya." Saya pun melongo dibuatnya. Seperti paham kebingungan saya, dia lalu menyarankan saya ke CS. Kebetulan CS-nya sedang melayani seorang &lt;i&gt;customer&lt;/i&gt;, jadi saya menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Di PayPal Sering Terjadi Penipuan? &lt;i&gt;Ngawur&lt;/i&gt;!&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian CS-nya yang juga perempuan, inisialnya JS, mendatangi &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; tempat saya bertanya-tanya tadi. Si &lt;i&gt;teller&lt;/i&gt; mengatakan keperluan saya pada si CS. CS tersebut lantas berbalik badan dan memandang saya lekat-lekat. Dari tempatnya berdiri, sekitar 4-5 meter dari tempat saya duduk, dia bertanya, "Bapak menanyakan nomor kode apa ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya saya kira CS tersebut tidak berbicara pada saya. Tapi berhubung &lt;i&gt;customer&lt;/i&gt; lain yang duduk bersama saya tak ada yang merespon, saya berpikir si Mbak CS itu berbicara pada saya. Karena tak enak berbicara berjauh-jauhan, saya pun mendekati CS tersebut. "Saya mau tahu kode kliring kantor cabang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kening si CS berkerut, "Maaf, untuk apa ya?" tanyanya. "Untuk keperluan transfer dari luar negeri," jawab saya. "Dari Western Union atau apa ya?" tanyanya lagi. "Dari PayPal," jawab saya lagi. Si CS meruncingkan mulutnya. "Setahu saya kalau PayPal itu &lt;i&gt;'kan&lt;/i&gt; pakai kartu kredit, Pak," katanya lagi. Saya tersenyum. Frasa 'setahu saya' ini menjadi alamat buruk bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak pakai kartu kredit juga bisa &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;," kata saya kemudian. Lalu saya mengulangi pertanyaan pertama tadi, "Boleh tahu nomor kode kantor cabang sini &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt;?" &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, di luar dugaan saya si Mbak CS itu menjawab dengan pede. "Bapak, nomornya tidak ada." Saya melongo. Dia melanjutkan, "&lt;b&gt;Bank kami tidak punya kerjasama dengan PayPal, jadi kami tidak menyarankan nasabah kami untuk melakukan transaksi dengan PayPal.&lt;/b&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kening saya berkerut semakin dalam. "Begini, Mbak." Saya berusaha menjelaskan duduk perkaranya, barangkali saja si Mbak CS mengira saya tak paham apa itu PayPal (seperti dirinya, mungkin). "Saya sudah lama pakai PayPal, selama ini tak ada masalah. Saya juga pernah memakai nomor rekening BCA, Niaga, dan BNI untuk menerima transfer dari PayPal, sejauh ini tak pernah ada masalah. Dan, setahu saya juga bank-bank itu tak ada kerja sama dengan PayPal &lt;i&gt;deh&lt;/i&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Mbak tak mau kalah. "Oh, &lt;b&gt;kalau BCA ada kerja sama dengan PayPal&lt;/b&gt;, semua karyawannya dikasih tahu kalau BCA bisa menerima dana dari PayPal. Saya mantan BCA &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;, Pak," katanya. "Tapi kalau bank ini memang tidak ada kerja sama, jadi tidak bisa menerima dana dari PayPal. Dan, kita memang tidak menyarankannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya baru pertama ini dengar pegawai bank tak menyarankan nasabahnya untuk berhubungan dengan PayPal. Saya pun bertanya heran, "&lt;i&gt;Lho&lt;/i&gt;, memangnya kenapa, Mbak?" Si Mbak menjawab dengan yakin, "&lt;b&gt;Soalnya itu kan dunia maya ya, sering banyak penipuan. Jadi kami tidak mau nasabah kami nanti ada masalah.&lt;/b&gt;" Diam sebentar, lalu dia menambahkan, "&lt;b&gt;Saya juga tidak tahu kenapa BCA bekerja sama dengan PayPal.&lt;/b&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat terakhir itu membuat keterangannya semakin tak sinkron satu sama lain, menandakan si Mbak CS ini tak memahami masalah. Jangan salahkan saya kalau langsung yakin si Mbak CS ini tidak paham apa itu PayPal. Dan, maaf kalau saya salah, saya juga yakin si Mbak ini hanya paham internet sebatas FB dan email. Cuma saya mau memastikan dulu, ini &lt;b&gt;pernyataan resmi bank atau pernyataan seorang pegawai bank yang tidak paham apa yang dikatakannya&lt;/b&gt;. Maka saya bertanya, "Maaf, Mbak, ini pernyataan resmi bank ya?" Dan dia menjawab, "Ya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa tak bakal mendapat apa yang saya butuhkan, sayapun pamit sambil senyum-senyum sendiri dan garuk-garuk kepala. Jangan kata di Pemalang yang masih terhitung kota kecil, sewaktu membuka rekening BCA di Jogja dulu saja saya pernah menemui CS yang bingung ditanyai soal ini. Juga di BNI Jogja. Yang agak mending pegawai Niaga Yogya Cab. UGM, berkat bantuan CS Bank Niaga-lah saya bisa memvrifikasi akun PayPal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar berbagi. Mau menambahkan silakan saja...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-4797448217585873432?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/02/awas-di-paypal-banyak-penipuan.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9IV_IdbcfXA/T0bdSvYSwpI/AAAAAAAAA7Y/3o2myx6XdiM/s72-c/eBataraPos.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-5459992550173219564</guid><pubDate>Wed, 15 Feb 2012 17:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-22T00:21:06.497+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Buku</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Karya</category><title>Blogger, Yuk Nulis Buku!</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;ETELAH sempat mengendap lebih dari setahun, dan ditolak oleh lebih dari 5 penerbit di 3 kota, dengan mengucap &lt;i&gt;bismillah &lt;/i&gt;saya memberanikan diri menerbitkan buku &lt;i&gt;&lt;b&gt;Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;, sebuah buku motivasi sekaligus panduan praktis menulis buku bagi para blogger yang tertarik menulis buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Mungkin ada yang bertanya-tanya, naskah yang ditolak oleh lebih dari 5 penerbit &lt;i&gt;kok &lt;/i&gt;berani-beraninya diterbitin &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt;? &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, jawabannya simpel: belum tentu penilaian ke-5 penerbit yang menolak naskah ini benar. Ingat, penerbit menerima atau menolak suatu naskah tak hanya karena kualitas tulisannya, tapi juga faktor-faktor lain semisal nama penulis, tebal-tipis naskah yang bakal berpengaruh besar pada ongkos produksi, atau peluang pasar buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img border="0" height="310" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-pw3GNHbS60c/TzvuRNoh6hI/AAAAAAAAA3Y/85GLlLoB6vw/s400/jnbknbnb_frontcover.png" /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Penulis:&lt;/b&gt; Eko Nurhuda&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Penerbit:&lt;/b&gt; Damar Panuluh Press&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Cet. I:&lt;/b&gt; Februari 2012&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Tebal:&lt;/b&gt; xx + 180 hal.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Harga:&lt;/b&gt; Rp45.000,-&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, buku &lt;i&gt;Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!&lt;/i&gt; ini boleh jadi ditolak karena faktor nama penulis (siapa &lt;i&gt;sih &lt;/i&gt;Eko Nurhuda?) dan atau cakupan pasarnya yang sempit (berapa banyak &lt;i&gt;sih &lt;/i&gt;blogger di Indonesia? Dan berapa banyak dari jumlah itu yang mau membeli buku ini?). Ya, saya selalu berpikiran seperti itu untuk menjaga optimisme saya sebagai penulis buku ini. Memang, tidak tertutup kemungkinan kalau faktor utamanya justru kualitas buku itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jelas tidak mungkin menilai buku ini. Hasil penilaiannya bisa dipastikan bakal subjektif. Karena itu, setelah selesai merampungkan draf awal naskah buku ini pada awal 2011 lalu, saya langsung mengirimkannya ke sejumlah blogger dan penulis senior untuk dimintai komentar. Apa kata mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;i&gt;”Sebuah motivasi yang sangat menggelitik dari Bung Eko. Dan, memang demikianlah seharusnya. Disadari atau tidak, aktivitas utama seorang blogger adalah menulis. Dengan melebarkan sayap ke ranah cetak, berarti Sang Blogger telah ’memaksimalkan apa yang bisa dimaksimalkan’. Membukukan blog adalah salah satu tips yang layak dicoba. Berani? Salut untuk Bung Eko yang telah memulainya.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;b&gt;Marsudiyanto&lt;/b&gt;, Super Blogger ISBA 2009, &lt;a href="http://marsudiyanto.info"&gt;marsudiyanto.info&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Saya kira ini buku yang bagus dan mencerahkan untuk memotivasi teman-teman blogger yang selama ini masih memiliki banyak kendala dalam membukukan tulisan.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;b&gt;Sawali Tuhusetya&lt;/b&gt;, blogger, sastrawan,&lt;br /&gt;penulis antologi cerpen Perempuan Bergaun Putih, &lt;a href="http://sawali.info"&gt;sawali.info&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Saya meyakini apa yang ditulis Dik Eko, bahwa saya yang mengaku sebagai blogger seharusnya malu kalau tidak bisa menulis buku.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;b&gt;Duto Sri Cahyono&lt;/b&gt;, mantan wartawan dan editor sejumlah media, pengelola blog hobiis burung &lt;a href="http://omkicau.com"&gt;omkicau.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Buku ini secara detil, terperinci, dan sistematis menjelaskan proses penulisan buku. Disertai kisah-kisah menarik&lt;/i&gt; behind the scene &lt;i&gt;dunia penerbitan, menumbuhkan motivasi baru bagi ‘amatir’ untuk lebih giat menulis.&lt;/i&gt; It’s not only a how-to book, but a motivation book as well.”&lt;br /&gt;-- &lt;b&gt;Ari Kurniawati&lt;/b&gt;, mahasiswi Jurnalistik Akademi Komunikasi Yogyakarta, Kompasianer, &lt;a href="http://kompasiana.com/aryhadi"&gt;http://kompasiana.com/aryhadi&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;“Buku yang sangat menggugah gairah bagi siapapun yang merasa dirinya bisa dan mau menjadi penulis buku, terlebih bagi seorang blogger. Banyak hal yang bisa dipelajari dari buku ini, seperti menentukan judul buku yang memunyai nilai greget, kiat-kiat menembus penerbit, hingga menerbitkan buku sendiri (&lt;/i&gt;self publishing&lt;i&gt;). Tak cukup sampai di situ, Bung Eko juga memberikan tips agar penulis tetap menegakkan kepala saat naskahnya ditolak penerbit.”&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;-- &lt;b&gt;M. Ali al-Hamidi&lt;/b&gt;, mahasiswa Sosiologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sedang menggarap sebuah novel.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, itu kata mereka. Bagaimana dengan Bung?&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau Bung seorang blogger yang sangat ingin menulis buku dan mengetahui seluk-beluk penerbitan sebuah buku, &lt;i&gt;Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!&lt;b&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; wajib Bung miliki. Tak sekedar teori, buku ini malah lebih banyak mengungkap pengalaman penulis ditambah kisah sukses sejumlah penulis top, dalam menembus dunia penerbitan. Trik dan tips menulis, serta kiat-kiat agar buku yang kita tulis diminati pembaca tentu ada juga. Pokoknya komplit &lt;i&gt;deh&lt;/i&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan buku ini sekarang juga! Harga cukup &lt;b&gt;Rp45.000/eksemplar&lt;/b&gt;, belum termasuk ongkos kirim. Anda dapat melakukan pesanan melalui 2 cara:&lt;br /&gt;(1) &lt;b&gt;Beli di situs &lt;a href="http://www.nulisbuku.com/books/view/jangan-ngaku-blogger-kalau-nggak-bisa-nulis-buku"&gt;Nulisbuku.com&lt;/b&gt;&lt;/a&gt;. Pesananmu akan tiba dalam 1-2 pekan, dibungkus rapi dengan sampul khusus dari NulisBuku.com, serta diplastik sepeti buku-buku yang dibeli di toko buku. &lt;a href="http://www.nulisbuku.com/books/view/jangan-ngaku-blogger-kalau-nggak-bisa-nulis-buku"&gt;Klik di sini&lt;/a&gt; untuk memesan buku ini di &lt;a href="http://www.nulisbuku.com/books/view/jangan-ngaku-blogger-kalau-nggak-bisa-nulis-buku"&gt;NulisBuku.com&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(2) &lt;b&gt;Beli melalui penulis&lt;/b&gt;, caranya cukup dengan SMS ke nomor &lt;b&gt;0813 28 813933&lt;/b&gt;. Dengan memesan langsung pada penulis, buku pesanan Bung bakal mendapat tandatangan dan salam personal dari penulis. Cuma untuk itu Bung harus ikhlas sampul plastik pada buku dilepas. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tunggu apalagi? Yuk, pesan buku &lt;a href="http://www.bungeko.com/2012/02/blogger-yuk-nulis-buku.html"&gt;&lt;i&gt;Jangan Ngaku Blogger Kalau Nggak Bisa Nulis Buku!&lt;/i&gt;&lt;/a&gt; sekarang juga!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-5459992550173219564?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/02/blogger-yuk-nulis-buku.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-pw3GNHbS60c/TzvuRNoh6hI/AAAAAAAAA3Y/85GLlLoB6vw/s72-c/jnbknbnb_frontcover.png' height='72' width='72'/><thr:total>13</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-4241762267140991438</guid><pubDate>Tue, 14 Feb 2012 17:29:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-15T00:29:30.561+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Intermezzo</category><title>Ketika Oriorio Mengekor Oreo</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;IAPA tak kenal biskuit Oreo. Meski dari segi umur kalah jauh dari biskuir Marie Regal, nama Oreo langsung mendominasi sebagai biskuit favorit di Indonesia. Meski tak semuanya pernah mencoba Oreo, tapi siapa yang tak tahu cara enak menikmati biskuit produksi PT Kraft Indonesia ini. Ya, "Diputar, dijilat, terus dicelupin." Begitulah iklan mengajarkan kita cara asyik menyantap Oreo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Kenapa tiba-tiba membicarakan Oreo? &lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, entah kenapa anak sulung saya selalu diam tak berkedip saat iklan Oreo terbaru tayang di televisi. Anak saya ini biasanya tak bisa diam, bahkan ketika menonton film animasi &lt;i&gt;Shaun The Sheep&lt;/i&gt; atau kartun &lt;i&gt;Spongebob Squarepants&lt;/i&gt; kesukaannya. Tapi ketika si Afika dalam iklan Oreo yang "brrrr' muncul, si sulung saya ini langsung diam mematung menatap ke layar kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img border="0" height="130" width="200" src="http://1.bp.blogspot.com/-9fJlBWP37kY/TzqWpFmo2oI/AAAAAAAAA20/57u0rCG6i3Y/s320/oreo.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;Saya dan istri lantas berpikir, jangan-jangan anak saya ini ingin makan biskuit Oreo. Maka pergilah kami bertiga berboncengan motor ke Pasar Banjardawa. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk membeli Oreo. &lt;i&gt;Lho, kok&lt;/i&gt; tidak ke supermarket atau swalayan? Pertama, tempat tinggal kami jauh dari swalayan, sekitar 10-15 menit bermotor. Kedua, harga di pasar jauh lebih murah. Ketiga, saya dan istri tak perlu merias diri. Cukup ganti baju sepantasnya, langsung deh berangkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, sesampainya di toko yang kondang sebagai grosir jajanan kami dibuat bingung. Bukan karena banyaknya pilihan jajanan di sana, tapi karena ternyata si Oreo ini ada kembarannya. Namanya Oriorio, produksi PT Siantar Top. Siapapun yang doyan jajan pasti tahu nama perusahaan makanan ringan terkemuka asal Sidoarjo ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img border="0" height="110" width="310" src="http://1.bp.blogspot.com/-aAv8bl8p7tM/TzqXOHeA59I/AAAAAAAAA3M/RmAgdRjDwO4/s320/bungkus_oriorio.jpg" /&gt;&lt;img border="0" height="150" width="310" src="http://3.bp.blogspot.com/-LW1JefUmiU0/TzqXOLBKnDI/AAAAAAAAA3A/DjHO-SzefEE/s320/bungkus_oreo.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;Dari segi kemasan, Oriorio sangat mirip Oreo. Dengan bungkus dominan warna biru, lalu ada gambar biskuitnya, dan nama Oriorio dicetak dengan jenis huruf yang menyerupai jenis huruf pada nama Oreo. Ketika dibuka, ternyata bentuk biskuitnya pun sama persis! Pola pada permukaan biskuit memang berbeda, tapi dilihat sekilas amat mirip. Rasanya? Beda-beda tipislah kalau kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harganya bagaimana? &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, bagi penganut asas ekonomi seadanya seperti saya, Oriorio jelas jadi pilihan. Coba saja bandingkan. Sebungkus kecil Oriorio isinya 2 buah biskuit, beli 1 pak seharga Rp4.500 dapat 10 bungkus kecil. Sedangkan Oreo, memang satu bungkusnya berisi lebih banyak, yakni 3 biskuit. Namun 1 pak seharga sama, isinya hanya 5 bungkus. Artinya, dengan uang Rp4.500 kami bisa membeli 20 buah biskuit Oriorio, berbanding 15 buah biskuit Oreo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bingung--sekaligus ingin membedakan rasa keduanya, istri saya akhirnya membeli Oreo dan juga Oriorio. Ternyata anak saya suka dua-duanya. Syukurlah. Pertanyaan seriusnya, apakah PT Siantar Top selaku produsen Oriorio memang sengaja 'menjiplak' Oreo dengan harapan ikut laris? &lt;i&gt;Wallahua'lam&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-4241762267140991438?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/02/ketika-oriorio-mengekor-oreo.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9fJlBWP37kY/TzqWpFmo2oI/AAAAAAAAA20/57u0rCG6i3Y/s72-c/oreo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-8736018036779019751</guid><pubDate>Tue, 07 Feb 2012 18:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-08T01:39:02.707+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Curhat</category><title>Kisah 2,5 Jam di Pekalongan</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;ELASA, 7 Agustus 2012. Sekitar pukul 09.25 WIB saya berangkat menuju Pekalongan. Tujuannya cuma satu, mencari kantor Adira Finance cabang Pekalongan. Untuk apa? Kakak ipar saya yang sudah bertahun-tahun bekerja di Adira memberi info sekaligus menyarankan saya untuk melamar di perusahaan pembiayaan tersebut. Kebetulan ada sejumlah posisi yang sedang lowong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Sebagai orang yang anti-seragam dan jam kerja, saya awalnya ogah-ogahan. Meski terlihat antusias bertanya ini-itu tentang Adira dan posisi yang ditawarkan, saya aslinya enggan. Apalagi posisi-posisi yang lowong semuanya tidak saya kenal, sama sekali tak ada gambaran. Karena kakak ipar menyarankan saya mengajukan lamaran untuk posisi Credit Marketing Officer (CMO), maka sayapun menulis lamaran untuk posisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 6 Februari 2012, seharusnya saya sudah berangkat ke Pekalongan. Namun hati saya bimbang. Bermula dari keengganan, lalu ditambah ketidak-tahuan, juga karena minimnya informasi yang diberikan kakak ipar, membuat saya membatalkan niat ke Pekalongan. Kebetulan pula mertua saya pada sibuk, jadi saya beralasan tak bisa pergi karena tak ada yang bisa dititipi anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tiba-tiba saja seorang teman SMA yang menjadi CMO di Indomobil sms. Awalnya cuma bertukar kabar dan bertanya-tanya soal kepenulisan dan dunia penerbitan mandiri. Lama-lama, karena saya ingat teman ini bekerja sebagai--menurut istilah saya--marketing, jadilah saya bertanya-tanya soal dunia marketing di perusahaan pembiayaan sama dia. Setelah berjam-jam bertukar sms, saya jadi mantap. Jadilah kemarin itu saya berangkat bermotor ke Pekalongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;&lt;b&gt;Bermotor 30 Menit, Menunggu 2 Jam&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img border="0" height="250" width="310" src="http://1.bp.blogspot.com/-NfceCNPrgHs/TzFuZupr2sI/AAAAAAAAA2E/-BorR_1p9G8/s320/logo_adira_finance.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;Berangkat pukul 09.25, sampai di Pekalongan pukul 10.10. Saya rasa ini waktu tempuh yang sangat bagus bagi seorang pemula seperti saya. Ya, saya belum pernah bermotor ke Pekalongan dari Pemalang. Apalagi yang dinaiki motor Cina merk Kymco yang di Pemalang sudah tak ada lagi &lt;i&gt;dealer&lt;/i&gt;-nya. Ke kantor Adira yang terletak di kawasan Bendan, ke arah Ponolawen kalau dari barat, juga tak sulit. Saya cukup mengikuti arah bus AKAP dan truk-truk yang ke arah timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, waktu tempuh yang terbilang singkat itu ternyata harus ditebus dengan waktu menunggu yang sangat lama. Masuk ke kantor Adira, saya langsung menemui satpam dan mengatakan ingin bertemu dengan Manajer HRD. Setelah diinterkom ternyata orangnya tak ada di tempat. Hmmm, saya pun harus menunggu. Setengah jam, lalu sejam, dan akhirnya sampai 2 jam! Keren. Padahal satpam memberitahu saya kalau sang manajer sudah tiba di kantor saat saya baru menunggu sekitar 20 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, &lt;i&gt;it's fine&lt;/i&gt;. Saya pernah menunggu lebih lama dari ini. Apalagi kami memang tak ada janji sebelumnya, saya yang &lt;i&gt;nyelonong&lt;/i&gt; begitu saja. Jadi saya berusaha enjoy saja. Ketika kemudian saya dipanggil ke ruangan sang manajer, saya membalas ucapan selamat siang manajer muda tersebut dengan acuh tak acuh, "Selamat siang, Pak. Atau saya kira malah sudah kesiangan." Dia agak terkejut, lalu berkata, "Sudah menunggu lama ya?" Saya cuma tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesi wawancara pun dimulai. Dan, sama seperti wawancara-wawancara yang pernah saya lakukan sebelumnya, saya selalu menjalaninya dengan santai. Saya tak menganggap itu sebagai ajang jaim, karenanya harus bicara baik-baik. Tidak! Saya justru selalu menganggap wawancara seperti mengobrol, bincang-bincang biasa yang seharusnya dilakukan dengan rileks dan nyaman. Begitu juga dengan wawancara di Adira hari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu momen menarik bagi saya adalah saat sang manajer meneliti pengalaman kerja saya. Awalnya dia menanyakan durasi kerja saya yang pendek-pendek di berbagai tempat. Saya jawab apa adanya, dan dia cuma manggut-manggut. Lalu sampailah pada saat tanya-jawab ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manajer Adira: "Ini dari Juni 2009 sampai sekarang berarti menganggur ya?"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya: "Bisa juga dikatakan begitu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manajer Adira: "Ini Mas-nya &lt;i&gt;ngapain aja&lt;/i&gt; selama itu?"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya: "Saya menggarap ini" (sambil mengeluarkan salah satu buku tulisan saya yang sudah terbit, sengaja dibawa untuk hal-hal tidak diinginkan seperti itu)&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Manajer Adira: "Oh, Anda menulis buku? Wah, berarti penghasilannya banyak dong? Ini kan sudah ada pekerjaan?"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saya: "Ya, itu bagi saya pekerjaan, tapi ternyata bagi orang-orang di sekeliling saya itu bukan pekerjaan. Makanya saya disarankan melamar kemari."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;INTI POSTING:&lt;/b&gt; Menulis bagi sebagian orang bukanlah sebuah pekerjaan. Apalagi menjadi blogger! Jadi, kalau Bung punya cita-cita jadi penulis atau blogger, atau penulis sekaligus blogger &lt;i&gt;fulltime&lt;/i&gt;, siap-siaplah mengalami apa yang saya rasakan ini. Tidak ada pengakuan dari orang-orang sekitar, bahkan yang serumah dengan kita. Kalau pengakuan saja tidak ada, apalagi dukungan? Kalau kita tak tahan dan menguat-kuatkan diri, habislah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Well&lt;/i&gt;, ini memang saya masukkan ke label Curhat, jadi harap maklum ya kalau isinya terkesan lebay dan penuh emosi. :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-8736018036779019751?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/02/kisah-25-jam-di-pekalongan.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NfceCNPrgHs/TzFuZupr2sI/AAAAAAAAA2E/-BorR_1p9G8/s72-c/logo_adira_finance.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-3734065650885300384</guid><pubDate>Fri, 03 Feb 2012 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-02-04T00:10:00.204+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>7 Wonders of Internet</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Internet</category><title>Facebook, Interaksi Online Gaya Baru</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;EORANG teman blogger pernah bercerita, setelah mengenal Facebook, waktu onlinenya jadi terasa sempit sekali. Dulu ia biasa menghabiskan waktu untuk &lt;i&gt;blogging&lt;/i&gt;—menulis posting baru, mengunjungi blog lain, dan meninggalkan komentar, lalu sisanya untuk &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt; menggunakan Yahoo!Messenger (YM). Menurutnya, dulu ia hanya menghabiskan 2-3 jam sekali tersambung di internet. Kini, duduk di depan internet sehari-semalam pun rasanya tidak cukup, terutama untuk ber-Facebook ria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Ya, Facebook telah merenggut sebagian besar waktu online para pengguna internet yang mengenalnya. Mulai dari pelajar SMP, karyawan swasta, sampai pegawai negeri keranjingan Facebook. Berjam-jam mereka habiskan untuk meng-&lt;i&gt;update&lt;/i&gt; status di Face-book, mengomentari status teman, &lt;i&gt;chatting&lt;/i&gt;, atau sekedar melihat foto-foto kenalan baru. Tak jarang keasyikan ber-Facebook membuat waktu produktif jadi terbuang percuma, membuat sejumlah perusahaan dan instansi memblok akses Facebook di kantor mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tentu juga masih ingat sejumlah kasus menghilangnya gadis-gadis remaja yang dilaporkan dibawa lari teman baru yang ia kenal dari Facebook. Atau beberapa kasus penipuan yang dilakukan oleh oknum pengguna Facebook terhadap pengguna lain yang baru mereka kenal. Pemberitaan kasus-kasus seperti ini begitu marak di berbagai media, terutama televisi. Tapi, alih-alih membuat imej Facebook jelek, berbagai kasus negatif terkait Facebook ini justru membuatnya semakin terkenal, sekaligus mengundang pengguna baru untuk mendaftarkan diri. Dan, jika suatu saat masuk ke warnet, cobalah iseng-iseng melongok ke bilik sebelah dan lihat apa yang sedang diakses pengguna lain. Bisa dipastikan Facebook ada dalam deretan situs yang sedang dibuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img border="0" height="310" width="310" src="http://2.bp.blogspot.com/-rWvwuVSbSB4/TsXOS3HjF7I/AAAAAAAAApw/9O4GUOKu2AA/s320/facebook_logo.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;Indonesia, menurut sebuah laporan yang diturunkan harian &lt;i&gt;The New York Times&lt;/i&gt; pada April 2010, merupakan negara dengan jumlah pengguna Facebook terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Britania Raya. Jemima Kiss dalam &lt;i&gt;Guardian&lt;/i&gt; edisi 8 Juli 2010 bahkan menulis jumlah pengguna Facebook di Britania Raya hanya 500 ribu lebih banyak dari Indonesia. Mengingat besarnya populasi Indonesia serta angka pengguna internet yang masih terus tumbuh, bukan tidak mungkin jika kelak Indonesia bakal melampaui negaranya Ratu Elizabeth tersebut dalam hal jumlah pengguna Facebook. Di tingkat Asia, jumlah pengguna Facebook Indonesia tidak tertandingi. Itulah sebabnya kemudian hadir Facebook versi bahasa Indonesia yang dirancang khusus bagi para penggunanya di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepopuleran Facebook memang luar biasa. Pertumbuhan angka penggunanya begitu cepat dari tahun ke tahun, membuat situs jejaring sosial hasil kreasi mahasiswa &lt;i&gt;drop out&lt;/i&gt; &lt;a href='http://en.wikipedia.org/wiki/Harvard_university' target='_blank'&gt;Harvard University&lt;/a&gt; Mark Zuckerberg ini melampaui kepopuleran MySpace yang sebelumnya menjadi jejaring sosial terlaris di AS. Menurut data terbaru Google yang saya kutip pada awal Juli 2010 lalu, Facebook merupakan situs yang paling banyak dikunjungi dengan 540 juta &lt;i&gt;unique visitor&lt;/i&gt; (jumlah pengunjung yang datang dari &lt;i&gt;IP address&lt;/i&gt; berbeda) dan 630 milyar &lt;i&gt;pageviews&lt;/i&gt; (total jumlah halaman yang dibuka pengunjung selama mengakses Facebook). Angka ini jauh melampaui MySpace yang menempati urutan 21 dengan jumlah &lt;i&gt;unique visitor&lt;/i&gt; sebanyak 73 juta dan 17 milyar &lt;i&gt;pageviews&lt;/i&gt;, atau Twitter di urutan 14 yang hanya dikunjungi sebanyak 97 juta &lt;i&gt;unique visitor&lt;/i&gt; dan 5,8 milyar &lt;i&gt;pageviews&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data dari Google ini sungguh menarik, mengingat Facebook sendiri dalam rilis resmi di situsnya mengatakan bahwa mereka ‘hanya’ mempunyai sekitar 500 juta pengguna, itupun tidak semuanya merupakan pengguna aktif. Dengan demikian, Facebook ternyata tidak hanya dikunjungi oleh para penggunanya saja, melainkan juga oleh pengunjung lain yang mungkin datang dari mesin pencari atau situs-situs lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat kepopuleran ini, sejak 2005 kata Facebook menjadi sangat familiar di masyarakat luas. Di AS dan sejumlah negara penutur bahasa Inggris lainnya, kata “&lt;i&gt;facebooking&lt;/i&gt;” berarti menjelajahi profil atau mengomentari status Facebook seseorang. Tahun 2008, kamus Collins English Dictionary mengumumkan “&lt;i&gt;facebook&lt;/i&gt;” sebagai kata baru dalam rilis terbaru mereka di tahun itu. Kemudian pada Desember 2009, kamus New Oxford American Dictionary memasukkan kata “&lt;i&gt;unfriend&lt;/i&gt;” sebagai kata kerja baru (&lt;i&gt;verb&lt;/i&gt;). Kata ini merupakan istilah yang biasa dipakai kalangan pengguna jejaring sosial, khususnya Facebook. Dalam kamus New Oxford American Dictionary, kata “&lt;i&gt;unfriend&lt;/i&gt;” bermakna “&lt;i&gt;to remove someone as a ‘friend’ on a social networking site such as Facebook&lt;/i&gt;”. Contoh penggunaannya dalam kalimat—sebagaimana tercantum dalam kamus tersebut, “&lt;i&gt;I decided to unfriend my roommate on Facebook after we had a fight&lt;/i&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat briliannya ide penciptaannya serta bagaimana situs jejaring sosial ini tumbuh sebagai yang paling digandrungi, saya menempatkan Facebook pada urutan keenam dalam daftar &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/11/7-wonders-of-internet-versi-bung-eko.html'&gt;7 Wonders of Internet&lt;/a&gt; versi &lt;a href='http://www.bungeko.com'&gt;saya&lt;/a&gt;. Seperti yang saya janjikan pada posting tersebut, bertepatan dengan tanggal lahirnya Facebook ini saya hendak membagikan sebuah ebook gratis berjudul &lt;i&gt;Facebook, Interaksi Online Gaya Baru&lt;/i&gt;. Inilah ebook keenam dari &lt;b&gt;Seri 7 Keajaiban Dunia Maya&lt;/b&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengunduh ebook tersebut, silakan &lt;a href='http://www.4shared.com/file/YUoEJp2Q/Seri_7_Wonders_of_Internet_Fac.html' target='_blank'&gt;klik di sini&lt;/a&gt; (ukuran file 1.757 KB). Selamat membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src='http://3.bp.blogspot.com/-RaehTGu3sTM/To1cPSeWIBI/AAAAAAAAAcg/Lbhj9Dwuv1I/s320/xl_icon.png' width='30' height='30' /&gt; &lt;i&gt;Dipublikasikan dari &lt;b&gt;pelosok daerah transmigrasi&lt;/b&gt; di Desa Talang Datar, Kec. Bahar Utara, &lt;a href='http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Muaro_Jambi' target='_blank'&gt;Kab. Muaro Jambi&lt;/a&gt;, Jambi, dengan layanan internet XL Axiata&lt;/i&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-3734065650885300384?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/02/facebook-interaksi-online-gaya-baru.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rWvwuVSbSB4/TsXOS3HjF7I/AAAAAAAAApw/9O4GUOKu2AA/s72-c/facebook_logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-1210639870024446780</guid><pubDate>Fri, 06 Jan 2012 12:25:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-06T19:25:05.530+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Inspirasi</category><title>Ibnu Sambodo, Begawan Motor 4 Tak Indonesia</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;P&lt;/span&gt;ERAWAKANNYA kecil, penampilannya juga biasa saja. Tapi jangan anggap enteng kemampuan lelaki bernama Ibnu Sambodo tersebut. Dari tangannya telah lahir mesin-mesin hebat dengan setumpuk prestasi di dunia balap motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Tak cuma di tingkat nasional, Ibnu juga kerap mengharumkan nama Indonesia di pentas balapan Asia. Salah satunya, motor Kawasaki Blitz hasil oprekannya berhasil memenangi &lt;i&gt;race&lt;/i&gt; pertama kelas 110cc di Seri 1 FIM Asian GP yang digelar di sirkuit Sepang, Malaysia, April 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img width="200" src="http://2.bp.blogspot.com/-PY3fifRJjbo/TwblkUto41I/AAAAAAAAAzE/972IBGkBEzs/s320/ibnu_sambodo.JPG" /&gt;Ibnu Sambodo (foto: eko)&lt;/span&gt;Catatan prestasi Ibnu akan lebih panjang lagi bila ditarik ke belakang. Bersama tim (waktu itu) Suzuki Manual Tech yang ia komandani, beberapa kali pembalap-pembalapnya naik podium. Juni 2008, motor oprekannya mengukir dua rekor &lt;i&gt;fastest lap&lt;/i&gt; sekaligus di sirkuit Sentul. Satu di kategori &lt;i&gt;superpool&lt;/i&gt; dengan catatan 1 menit 57,2 detik, dan satu lagi di kategori &lt;i&gt;qualification time trial&lt;/i&gt; (QTT) dengan catatan 1 menit 57,76 detik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bermitra dengan Suzuki sejak tahun 2000, mulai 2009 Manual Tech digandeng Kawasaki. Praktis ini menjadi debut pertama Ibnu menangani mesin dari pabrikan berbeda. Dan ia langsung membuktikan kepiawaiannya dalam meracik mesin motor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain satu gelar di Sepang, sekali lagi Ibnu menaklukkan sirkuit Sentul dengan memecahkan rekor &lt;i&gt;fastest lap&lt;/i&gt; di kategori QTT. Kawasaki Athlete 125cc hasil oprekannya sukses mengantarkan pembalap andalannya, Hadi Wijaya, menorehkan catatan rekor 1 menit 57,657 detik. Hadi bahkan nyaris memenangi lomba kalau saja tidak mengalami gangguan mesin di lap terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan deretan prestasinya itulah Ibnu lantas disebut-sebut sebagai begawan motor 4 tak Indonesia. Ia sangat piawai memodifikasi motor agar bisa berlari kencang di atas lintasan balap. Lelaki yang akrab dipanggil Pakdhe ini bahkan disejajarkan dengan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Jeremy_Burgess"&gt;Jeremy Burgess&lt;/a&gt;, &lt;i&gt;tuner&lt;/i&gt; kondang kelahiran Australia yang telah mengantarkan tiga juara dunia MotoGP termasuk Valentino Rossi. Pasalnya, tak peduli motor merek apa yang dioprek, baik Ibnu maupun Burgess selalu berhasil mengantarkan pembalapnya menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Dari keluarga guru&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tiga kali menorehkan rekor &lt;i&gt;fastest lap&lt;/i&gt; di Sentul dengan dua pabrikan berbeda rasanya cukup untuk menggambarkan kehebatan seorang Ibnu Sambodo di dunia otak-atik motor. Tapi siapa sangka lelaki kelahiran 23 Mei 1974 ini justru berasal dari keluarga guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin darah mekanik saya berasal dari kakek. Kakek saya dulu pembuat alat penangkap ikan,” cerita Ibnu ketika saya temui di rumahnya pada 30 Mei 2009 dalam rangka liputan untuk &lt;i&gt;&lt;a href="http://www.harianjogja.com"&gt;Harian Jogja&lt;/a&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski hidup di keluarga guru, namun Ibnu sudah akrab dengan dunia mekanik sejak kecil. Bila teman-teman sebayanya suka membeli mainan, anak ketiga dari tujuh bersaudara ini memilih membuat sendiri. Ia semakin akrab dengan dunia mekanik ketika akhirnya masuk ke jurusan teknik elektro UGM di tahun 1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, penghasilan orang tuanya yang pas-pasan tak mampu menyokong kuliah Ibnu secara penuh. Alumnus SMA 3 Solo inipun berinisiatif mencari tambahan uang saku dengan menawarkan jasa servis motor. Pelanggan pertamanya adalah teman-teman kosnya sendiri. Yang menarik, waktu itu Ibnu malah belum punya motor sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sampai sekarang saya masih heran, kok bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor,” katanya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Ibnu tak pilih-pilih pelanggan. Ia juga tak pilih-pilih bayaran. Mau dibayar dengan uang oke, hanya diberi nasi bungkus juga ia terima. Alhasil, pelanggannya semakin banyak. Halaman kamar kosnya berubah jadi bengkel dadakan. Tentu saja hal ini menuai protes dari penghuni kos lain karena merasa terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Mendirikan Manual Tech&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img width="310" src="http://1.bp.blogspot.com/-ZQ45BMu_8pA/TwbmfAkAeVI/AAAAAAAAAzQ/23_iiZ1kmVA/s320/ibnu_sambodo_dan_pembalapnya.JPG" /&gt;Ibnu (kanan) dan Hadi Wijaya, salah satu pembalap andalan Manual Tech. (foto: eko)&lt;/span&gt;Terlalu asyik dengan bengkelnya membuat kuliah Ibnu keteteran. Lelaki yang semasa SMP pernah menjadi pelajar terbaik se-Kabupaten Wonogiri ini akhirnya memilih keluar dari kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin saya memang tidak cocok di dunia akademis. Saya cocoknya di dunia praktis,” ujarnya coba memberi alasan. Namun Ibnu tak mengingkari jika biaya menjadi alasan utama dalam pengambilan keputusan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu, Ibnu mulai mengenal dunia balapan. Perkenalan tersebut boleh dibilang tidak disengaja. Kebetulan waktu itu salah seorang tetangga kosnya hobi balap motor dan Ibnu dipercaya mengotak-atik motor tunggangannya. Jadilah Ibnu semacam mekanik tak resmi dari tetangga kosnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring berjalannya waktu, kepiawaian Ibnu mengoprek motor semakin meningkat. Motor-motor yang ia pegang selalu menjadi yang tercepat. Namanya lantas semakin dikenal sebagai mekanik andal di kalangan pembalap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadar akan potensi yang ia miliki, Ibnu kemudian mendirikan tim mekanik yang ia namai Manual Tech. Di bawah bendera tim inilah Ibnu menjual jasa otak-atik motor kepada para pembalap. Dan hasil di atas lintasan menunjukkan betapa motor-motor oprekan Ibnu selalu dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemerlangan Ibnu dan Manual Tech-nya memikat hati sponsor, di antaranya Suzuki. Pabrikan asal Jepang ini berniat mengajak Ibnu bekerja sama membentuk tim balap. Ibnu setuju. Maka lahirlah Suzuki Manual Tech yang mulai ikut balapan di musim 2000. Sepanjang 2000-2008, Suzuki berhasil mendominasi seluruh ajang yang diikutinya kendati tak selalu jadi juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='kutipan'&gt;“Sampai sekarang saya masih heran, &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; bisa teman-teman percaya motornya saya perbaiki. Padahal saya sendiri tidak punya motor.”&lt;br/&gt;&lt;b&gt;--Ibnu Sambodo--&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Kini, bersama Kawasaki Ibnu tak memasang target muluk-muluk. Namun ia menegaskan kalau dirinya selalu berkeinginan untuk menjadi semakin baik dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semua itu kan butuh proses, tidak ada hasil yang instan,” katanya mencoba berfilsafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya apa rahasianya sehingga bisa merajai dunia otak-atik motor, Ibnu hanya tersenyum. Lelaki beristri dokter ini kemudian bercerita, ia sudah suka membaca segala referensi seputar mesin sejak masih SD. Karena itu ia bisa menguasai seluk-beluk mesin dan fungsi masing-masing komponennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya belajar mesin bukan hanya pada kulit yang nampak, tapi juga bagaimana sebuah proses mekanik terjadi. Ini yang tidak dilakukan mekanik lain,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di akhir pembicaraan, Ibnu menyampaikan harapannya pada dunia balap nasional. Ia berpendapat, sudah saatnya Indonesia mulai merintis ajang-ajang balap &lt;i&gt;supersport&lt;/i&gt;. Selama ini yang ada hanya balapan motor bebek. Akibatnya pembalap nasional sukar menembus ajang balapan yang lebih bergengsi di tingkat internasional semacam MotoGP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Contohnya Doni Tata. Karena di sini terbiasa balapan pakai motor bebek, begitu masuk GP ya keteteran,” pungkasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menularkan keahliannya mengoprek motor, Ibnu membuka sekolah mekanik yang diberi nama Manual Tech Course. Dengan sekolah ini Ibnu berharap dapat melahirkan banyak &lt;i&gt;engine builder&lt;/i&gt; di Indonesia. Berbeda dengan mekanik biasa,&lt;i&gt; engine builder&lt;/i&gt; bisa merancang, menganalisa, sekaligus mengembangkan mesin garapan mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga harapan Pakdhe Ibnu Sambodo segera tercapai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-1210639870024446780?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/01/ibnu-sambodo-begawan-motor-4-tak.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-PY3fifRJjbo/TwblkUto41I/AAAAAAAAAzE/972IBGkBEzs/s72-c/ibnu_sambodo.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-5477685045838595559</guid><pubDate>Tue, 03 Jan 2012 14:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-03T21:00:24.698+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Resolusi Juara</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Curhat</category><title>Resolusi 2012: Harus Lebih Baik!</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;S&lt;/span&gt;ETELAH &lt;a href='http://www.bungeko.com/2012/01/review-2011-blog-buku-dan-sepak-bola.html'&gt;mengevaluasi&lt;/a&gt; pencapaian di tahun lalu, seperti tahun sebelumnya, di hari ketiga tahun 2012 ini saya menyusun resolusi. Mau jadi apa saya tahun depan, apa yang hendak saya capai, apa saja yang saya rencanakan untuk dilakukan, semuanya tertuang dalam resolusi ini. Harapannya tentu saja apa yang bakal saya peroleh sepanjang 2012 lebih baik dari pencapaian di 2011. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;a href="http://telkomspeedy.com" target='_blank'&gt;&lt;img src="http://telkomspeedy.com/gambar/blogcontestspeedy.jpg" width='300'/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Karena dunia saya adalah dunia tulisan, dan media yang saya pilih adalah blog, buku, serta kadangkali kolom di media massa, maka fokus utama saya hanyalah pada 3 hal tersebut. Porsi terbesar saya berikan pada penulisan buku, sebab hasilnya lebih menjamin, serta saya sedang merencanakan sesuatu yang berkaitan dengan dunia buku. Adapun blog menjadi prioritas kedua, bagaimanapun saya ingin kembali menikmati manisnya &lt;i&gt;make money online&lt;/i&gt;. Alhamdulillah, sebuah perusahaan periklanan online sedang mendekati &lt;a href='http://www.bungeko.com'&gt;bungeko.com&lt;/a&gt; dan mudah-mudahan terjalin kerjasama yang saling menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Back to Make Money Online&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='kutipan'&gt;&lt;img src='http://4.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/S526xJYUxyI/AAAAAAAAB1c/RG5O6XrmA_E/s320/Cover+422x604.jpg' width='200'/&gt;&lt;/span&gt;Oke, saya mulai dari blog. Meski awalnya blog ini dibuat hanya untuk mengambil &lt;i&gt;screenshot&lt;/i&gt; pelengkap salah satu naskah buku--sudah diterima penerbit, tapi tak kunjung diterbitkan--yang saya tulis pada Desember 2009, semakin ke sini saya semakin tertarik untuk mengembangkan blog pribadi ini sebagai sumber penghasilan online. Setidak-tidaknya bisa menyamai apa yang pernah saya alami bersama ekonurhuda.com, tapi jika bisa lebih dari itu saya akan sangat bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menguangkan blog, tentu saya harus rajin online. Mulai dari meng-&lt;i&gt;update&lt;/i&gt; sampai &lt;i&gt;blogwalking&lt;/i&gt;, semuanya hanya bisa dilakukan jika saya terkoneksi dengan jaringan &lt;a href='http://www.telkomspeedy.com/' target='_blank'&gt;internet&lt;/a&gt;. Karena itu, saya bakal semakin serius mempertimbangkan untuk berlangganan layanan  &lt;a href='http://www.telkomspeedy.com/' target='_blank'&gt;Telkom Speedy&lt;/a&gt;. Niat ini sebenarnya sudah mulai timbul sejak Juni atau Juli tahun lalu. Namun karena memilih mudik lebaran ke Jambi, saya musti berpikir ulang soal langganan internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama di Pemalang saya mengandalkan warnet untuk online. Karena harus keluar rumah, padahal saya dan istri musti mengasuh 2 anak yang masih kecil-kecil, waktu online saya sangat terbatas. Sepekan paling banyak 4 kali online, sekali online hanya 2 jam karena tak ada warnet yang buka nonstop di sini. Tentu saja berinternet model begini sangat tidak bebas. Makanya saya sempat berpikir untuk berlangganan Telkom Speedy agar saya bisa online tanpa batas, biayanya tak terlalu mahal, dan, yang terpenting, tidak perlu keluar rumah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan saja rencana ini terwujud. Satu-satunya penghalang saya adalah soal biaya. Rencananya saya mau pasang paket Socialia, biayanya Rp195.000/bulan. Namun selain belum ada uang untuk registrasi dan memasang pesawat telepon, saya juga masih belum berani bertaruh bakal bisa memenuhi tagihan bulanannya kelak. Jadi dalam waktu dekat saya masih akan mengandalkan warnet, sampai pemasukan stabil sehingga saya berani menyambung koneksi Telkom Speedy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Setahun 4 Buku&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya sebagai mesin penghasil uang, blog ini juga akan saya jadikan tempat untuk mencicil penulisan sejumlah naskah buku. Beberapa naskah sudah saya susun &lt;i&gt;outline&lt;/i&gt;-nya, sehingga saya tinggal menulis bagian demi bagian di sini. Tentu saja diselingi posting-posting personal dan juga posting komersil yang menghasilkan pemasukan jika ada. Setelah seluruh bagian naskahnya komplit, tinggal diedit dan dikompilasi menjadi satu naskah buku yang utuh. Sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai saat ini setidaknya ada 2-3 naskah buku yang penulisannya bisa dicicil di blog ini. Jadi, rasanya tak berlebihan jika saya memasang target setidaknya sepanjang tahun 2012 ini menulis minimal 6 naskah buku di mana 4 diantaranya terbit. Kenapa 4 judul? Karena pada 2010 saya memulainya dengan menerbitkan 2 buku. &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/01/tahun-baru-naskah-buku-baru.html'&gt;Tahun lalu&lt;/a&gt; seharusnya jadi 3 buku, tapi gagal. &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, sesuai urut-urutannya, maka tahun ini targetnya adalah menerbitkan 4 buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencapai target itu, saya akan berusaha keras menulis sebaik mungkin. Kualitas tulisan harus ditingkatkan, gaya bahasa dan penyampaian musti dibuat seenak mungkin. Selain itu, saya juga musti pintar-pintar mencari topik yang sedang dibutuhkan pasar sehingga peluangnya untuk diterima besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Self-Publishing&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kotakkuning"&gt;&lt;img width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-9GUvDvzo0N4/TwMJUdoAHpI/AAAAAAAAAy4/dkLtEH1xhPE/s320/Self%2BPublishing%2BManual.jpg" /&gt;&lt;/span&gt;Bagaimanapun optimisnya saya dengan target setahun 4 buku, namun jika tetap bergantung pada penerbit lain peluang tercapainya bisa jadi 50:50. Contohnya seperti tahun lalu, di mana banyak naskah yang ditolak hingga berkali-kali sampai setahun penuh. Apalagi saya juga sedang berjuang menembus penerbit nasional terkemuka yang proses seleksi naskahnya jauh lebih ketat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu sebagai rencana cadangan saya juga sedang mempersiapkan sebuah penerbitan mandiri (&lt;i&gt;self-publishing&lt;/i&gt;). Naskah-naskah yang saya yakin ada pasarnya, namun mungkin terlalu kecil sehingga penerbit tak berani memproduksinya, bakal saya terbitkan sendiri secara indie. &lt;i&gt;Toh&lt;/i&gt;, dengan teknologi &lt;i&gt;print on demand&lt;/i&gt; (POD) saya tak perlu cetak banyak-banyak. Kalau memang pasarnya cuma 250, ya cetak saja 250 eksemplar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendala mencetak sedikit adalah tak bisa bekerja sama dengan distributor nasional yang rata-rata menyaratkan jumlah cetakan besar dengan alasan agar persebaran bukunya merata. Namun dengan bantuan &lt;a href='http://www.telkomspeedy.com/' target='_blank'&gt;internet&lt;/a&gt; kendala ini bukan lagi masalah besar. Ada banyak sekali toko buku online saat ini, dan saya yakin mereka mau dititipi barang 5-10 eksemplar. Sebagai pendukung, saya akan menjualnya sendiri via blog, Facebook, Twitter, juga memaksimalkan potensi komunitas penyuka buku di GoodReads.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian mempunyai penerbitan mandiri sudah sejak lama sekali saya idam-idamkan. Tepatnya sejak pertengahan 2005 lalu, setelah saya membaca buku kecil berjudul &lt;i&gt;Sukses Besar Tanpa Gelar&lt;/i&gt; karya Yudi Pramuko. Isinya seputar penerbitan mandiri, dan sangat menggugah sekali. Sejak itulah saya menggantungkan impian untuk membangun penerbitan sendiri. Mudah-mudahan bisa mulai berjalan pertengahan tahun ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah resolusi saya di tahun 2012 ini. Hanya 3 poin yang ingin saya capai, namun ketiganya sangat menentukan masa depan saya, juga keluarga kecil saya. May God bless me...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-5477685045838595559?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/01/resolusi-2012-harus-lebih-baik.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/S526xJYUxyI/AAAAAAAAB1c/RG5O6XrmA_E/s72-c/Cover+422x604.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>10</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-6112994665958474014</guid><pubDate>Sun, 01 Jan 2012 13:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-03T21:01:34.726+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Curhat</category><title>Review 2011: Blog, Buku, dan Sepak Bola</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;T&lt;/span&gt;AHUN kembali berganti. Lembaran tahun 2011 sudah ditutup, berganti lembaran-lembaran baru di tahun 2012. Meski tak banyak yang saya peroleh dan capai sepanjang 2011, plus sejumlah target meleset tak tercapai, namun saya musti bersyukur. Memang ada sejumlah target yang tak bisa diraih, tapi saya justru mencapai banyak hal tak terduga sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Sebelum menyusun resolusi untuk tahun 2012, saya melakukan review sederhana terhadap apa-apa yang saya capai dan belum sepanjang 2011 lalu. Karena kegiatan utama saya hanya berkutat pada 3 hal yang kesemuanya masuk dunia tulis-menulis:blog, buku, dan artikel, maka review ini juga hanya akan menyoroti 3 poin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Dimulai dari Blog&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bersama &lt;a href='http://www.bungeko.com'&gt;bungeko.com&lt;/a&gt;, sepanjang 2011 saya memenangkan sejumlah kontes menulis--meski yang gagal menang jauh lebih banyak. Sebagian besar adalah kontes yang diadakan rekan-rekan sesama blogger, seperti &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/10/book-review-youtube-success-story.html'&gt;Pakdhe Abdul Cholik&lt;/a&gt; dan &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/10/book-review-menjawab-ateis-indonesia.html'&gt;Mbak Fanny&lt;/a&gt; yang bekerja sama dengan Bung Eko Arryawan. Yang paling membuat dada saya berdebar-debar kencang adalah saat posting &lt;i&gt;&lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/02/jadi-pemulung-yuk.html'&gt;Jadi Pemulung, Yuk!&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; masuk 20 besar &lt;a href='http://www.vhrmedia.com/2010/detailhasil.php' target='_blank'&gt;BeatBlog Writing Contest&lt;/a&gt; yang diadakan VHRmedia, Maret 2011. Sayang, hingga sekarang janji penyelenggara yang akan membukukan tulisan 20 finalis tak kunjung jelas kabarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kontes, usaha saya untuk meningkatkan jumlah pengunjung bungeko.com dari mesin pencari boleh dibilang ada peningkatan. Ini karena saya kembali menggunakan jurus lama yang dulu sering saya gunakan saat masih mengelola ekonurhuda.com. Apa itu? &lt;b&gt;Menembak &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;. Malah awal Desember lalu blog ini berhasil meraih 1.130 &lt;i&gt;views&lt;/i&gt; dalam 5 hari berkat posting &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/12/foto-bugil-veena-malik-di-fhm-ikut.html'&gt;Foto Bugil Veena Malik di FHM&lt;/a&gt;. Dipublikasikan pada 6 Desember dengan 1.534 &lt;i&gt;views&lt;/i&gt;, posting tersebut langsung mengungguli posting &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/02/sepeda-lipat.html'&gt;Sepeda Lipat&lt;/a&gt; (diposting 8 Februari 2011, 1.342 &lt;i&gt;views&lt;/i&gt;) dan &lt;a href='http://www.bungeko.com/2010/04/radio-dari-masa-ke-masa.html'&gt;Radio dari Masa ke Masa&lt;/a&gt; (26 April 2010, 1.005 &lt;i&gt;views&lt;/i&gt;) yang sepanjang 2009-2011 menguasai puncak daftar posting terlaris blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/12/foto-bugil-veena-malik-di-fhm-ikut.html'&gt;Foto Bugil Veena Malik&lt;/a&gt;, posting kepindahan &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/12/tina-talisa-pindah-channel-ke-indosiar.html'&gt;Tina Talisa ke Indosiar&lt;/a&gt; (3 Desember, 897 &lt;i&gt;views&lt;/i&gt;), &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/09/briptu-eka-frestya-polwan-cantik-di.html'&gt;profil Briptu Eka Frestya&lt;/a&gt; (29 Sep 2011, 708 &lt;i&gt;views&lt;/i&gt;), dan cerita kekonyolan &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/12/suster-ngesot-ditendang-satpam.html'&gt;suster ngesot ditendang satpam di Bandung&lt;/a&gt; (12 Des 2011, 1.983 &lt;i&gt;views&lt;/i&gt;) turut andil menarik banyak pengunjung dari Google. Memang tak terlalu banyak jika dibandingkan blog-blog populer lain di luar sana. Tapi bagi saya pencapaian ini sudah luar biasa di tengah segala keterbatasan yang saya hadapi untuk ngeblog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah ada hubungannya atau tidak, namun belum lama ini sebuah perusahaan periklanan online menawarkan kerjasama untuk bungeko.com. Perusahaan baru tersebut hendak ‘menitipkan’ sejumlah posting komersil pesanan klien mereka di blog ini. Tentu saja saya dapat imbalan. Berapa besar imbalannya sebaiknya saya rahasiakan saja. Tapi yang jelas cukuplah kalau hanya untuk beli susu dan bubur anak-anak. Hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Buku-buku yang Tak Kunjung Terbit&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sayang, peningkatan yang saya alami bersama bungeko.com tak diikuti dengan meningkatnya pencapaian dalam bidang penulisan buku. Sepanjang 2011 saya menulis setidaknya 4 judul buku, namun semuanya ditolak penerbit. Tidak hanya sekali, masing-masing naskah tersebut ditolak lebih dari 2 kali, bahkan ada satu naskah yang ditolak hingga 7 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi jadi makin tidak menyenangkan bagi saya ketika naskah-naskah buku yang sudah diterima berbagai penerbit di Jogja pada 2010 lalu, sampai sekarang tak juga diterbitkan. Entah alasannya apa saya tak tahu, mau bertanya ke penerbit juga sungkan. Pernah sekali saya bertanya pada editor salah satu penerbit yang sudah cukup dekat dengan saya, jawabnya: “Sabar, penulis lain ada yang sampai 2 tahun belum juga terbit.” Hmmm… Meski begitu saya tetap menulis. Saya tidak akan kapok, tidak akan bosan ditolak. Sebaliknya, saya akan sabar hingga ada naskah yang diterima dan buku kembali diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai cadangan, saya juga menyiapkan rencana untuk menerbitkan sejumlah buku secara indie. Ada beberapa naskah yang menurut saya layak jadi referensi, tapi mungkin karena satu dan lain alasan--yang satu ceruk pasarnya terlalu sempit, satunya lagi jika dicetak terlalu tipis--tidak ada penerbit yang berminat. Namun tentu saja tidak dalam waktu dekat. Target saya sih setelah Euro 2012 buku pertama di bawah bendera penerbit sendiri sudah terbit. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;BOLA, BolaVaganza&lt;/i&gt;, Kompasiana, dan detikSport&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untung saja ‘musim paceklik’ di penulisan buku ada gantinya, meski tentu saja kualitas, jumlah honor, dan gengsinya sangat berbeda. Apa itu? Sejak Desember 2010 saya rajin mengirim artikel sepak bola ke sejumlah media olah raga nasional. Awalnya memang coba-coba. Tapi setelah &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/10/book-review-menjawab-ateis-indonesia.html'&gt;artikel pertama saya untuk rubrik Oposan di tabloid BOLA&lt;/a&gt; langsung dimuat, saya jadi bersemangat. Sepanjang Maret-Juni 2011 tercatat 3 tulisan saya nongol di Oposan, ini tidak termasuk surat pembaca yang terpilih sebagai surat pilihan dan mendapat &lt;i&gt;merchandise&lt;/i&gt; berupa kaus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu entah kenapa tulisan-tulisan saya tak pernah dimuat lagi di Oposan. Terhitung sejak menulis &lt;i&gt;Empat Syarat Ketua Umum PSSI&lt;/i&gt; di BOLA edisi 27-29 Juni 2011, tulisan-tulisan saya tak pernah lagi masuk Oposan hingga akhir tahun. Penasaran, saya lantas mencoba media lain. Masuklah saya ke &lt;a href='http://www.kompasiana.com/bungeko' target='_blank'&gt;Kompasiana&lt;/a&gt; dan mengkhususkan diri pada tema-tema sepak bola. Dengan kata lain, awalnya saya hanya menjadikan Kompasiana sebagai ‘keranjang sampah’ tulisan-tulisan saya yang ditolak media cetak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaib, tulisan-tulisan yang tidak diterima BOLA malah kerap jadi &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt; alias artikel pilihan admin Kompasiana. Artikel berjudul &lt;a href='http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/12/06/messi-da-indonesia-dan-kisruh-liga-indonesia/' target='_blank'&gt;Messi da Indonesia dan Kisruh Liga Indonesia&lt;/a&gt; malah nangkring di &lt;i&gt;headline&lt;/i&gt; kanal olah raga Kompasiana hingga beberapa pekan. Lalu profil singkat &lt;a href='http://olahraga.kompasiana.com/bola/2011/11/12/muthia-datau-legenda-sepak-bola-wanita-indonesia/' target='_blank'&gt;Muthia Datau&lt;/a&gt;, juga ditolak BOLA ketika saya kirim untuk rubrik Olepedia, justru diminta admin Kompasiana untuk dimuat di rubrik Freez di harian Kompas edisi Kamis, November 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah asyik di Kompasiana, seorang rekan sesama penulis Oposan bertanya apakah saya tak berminat mencoba berkiprah di BolaVaganza (BV). Majalah ini boleh dibilang ‘adiknya’ BOLA. Saya pikir, kenapa tidak? Awalnya saya hanya mengirim surat pembaca dan opini pendek untuk rubrik PSSI-Watch. &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, ternyata langsung dimuat di BV edisi September 2011. Bulan berikutnya &lt;a href='http://www.bungeko.com/2011/10/tebar-pesona-di-bola-vaganza.html'&gt;BV memuat artikel saya di rubrik Blog Anda&lt;/a&gt;. Asal tahu saja, artikel berjudul &lt;i&gt;Reformasi 1998 dan Reformasi PSSI&lt;/i&gt; itu sebelumnya ditolak BOLA. Ketika saya publikasikan di Kompasiana banyak menuai komentar, lalu saat dikirim ke BV langsung dimuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi semakin penasaran. Saya tak akan bertanya kenapa BOLA menolak tulisan-tulisan saya. Bagi saya lebih baik kirim saja tulisan-tulisan tersebut ke media lain. Kalau ternyata ditolak juga, berarti memang tulisan saya jelek. Kalau dimuat, berarti tulisan saya tak sepaham dengan idealisme BOLA. Itu saja. Maka saya pun mencoba mengirim artikel &lt;i&gt;Pemain Asing dan Prestasi Timnas&lt;/i&gt; yang juga sempat ditolak BOLA ke &lt;a href='http://www.detiksport.com/sepakbola' target='_blank'&gt;detikSport&lt;/a&gt;. Alhamdulillah, hanya beberapa hari setelah email saya kirim, editor detikSport mengontak saya untuk memberitahukan pihaknya akan mempublikasikan artikel tersebut. Silakan &lt;a href='http://www.detiksport.com/sepakbola/read/2011/10/25/114710/1751994/425/pemain-asing-dan-prestasi-timnas' target='_blank'&gt;baca di sini&lt;/a&gt; artikelnya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Konklusi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjadi 'analis' sepak bola yang tulisannya dimuat di sejumlah media cetak dan online nasional sungguh tidak pernah saya bayangkan. Dulu, sekitar tahun 2005, saya memang pernah bermimpi jadi penulis buku-buku sepak bola. Tapi saya tak ingin disebut pakar, apalagi komentator. Karena itu, di tahun 2012 ini fokus saya adalah bagaimana saya bisa kembali melihat buku-buku karya saya terbit. Menulis artikel sepak bola akan terus saya lakukan, &lt;i&gt;I really love this game&lt;/i&gt;, namun fokus saya adalah menulis buku. Ini bukan cuma soal gengsi, tapi juga nafkah bagi keluarga. :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja &lt;i&gt;sharing&lt;/i&gt; kita kali ini. Setelah ini, saya akan berbagi resolusi untuk tahun 2012. Ya, meski saya tahu sudah terhitung telat karena sekarang sudah tanggal 3 Januari. Tapi tak apalah. :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-6112994665958474014?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/01/review-2011-blog-buku-dan-sepak-bola.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-988134579133990079</guid><pubDate>Sat, 31 Dec 2011 17:00:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-02T21:39:51.764+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Karya</category><title>Auld Lang Syne</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;A&lt;/span&gt;DA satu lagu yang selalu diputar di setiap pergantian tahun. Lagu apa itu? &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt;. Tidak peduli di manapun Anda merayakan tahun baru, lagu ini akan selalu diperdengarkan di seluruh penjuru dunia. Mulai dari kafe, klub malam, restoran, stasiun-stasiun radio, sampai televisi, semuanya akan memperdengarkan lagu ini. Tentu saja selain suara nyaring terompet dan dentuman kembang api tepat di detik-detik pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; amat terkenal di negara-negara berbahasa Inggris, terutama di daratan Britania Raya. Satu hal yang wajar, karena lagu ini berasal dari Skotlandia yang merupakan bagian dari Kerajaan Inggris. Karena itu naskah asli lagu ini menggunakan bahasa asli Skotlandia. Hampir mirip dengan bahasa Inggris, namun ada beberapa kata yang sama sekali berbeda dan tidak akan diketemukan di kamus bahasa Inggris manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diterjemahkan, &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; dalam bahasa Inggris berarti “&lt;i&gt;old long since&lt;/i&gt;”. Secara istilah, judul lagu tersebut bisa juga diartikan sebagai “&lt;i&gt;long long ago&lt;/i&gt;”, “&lt;i&gt;days of long ago&lt;/i&gt;”, “&lt;i&gt;in olden days&lt;/i&gt;”, “&lt;i&gt;once upon a time&lt;/i&gt;”, atau “&lt;i&gt;days gone by&lt;/i&gt;”. Selain itu ada pula istilah yang lebih modern untuk &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt;, seperti “&lt;i&gt;for old time's sake&lt;/i&gt;” atau “&lt;i&gt;to the good old days&lt;/i&gt;”. Kesemuanya bermakna sama, yakni sebuah ungkapan untuk mengenang masa-masa indah yang telah berlalu. Karena kesesuaian tema inilah maka lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; kerap dinyanyikan di malam penghujung tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Skotlandia menyebut lagu ini sebagai ‘lagu kebangsaan tahun baru’. Pada tengah malam menjelang pergantian tahun, lagu ini biasa diperdengarkan dalam sebuah perayaan yang dikenal sebagai &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Hogmanay" target="_blank"&gt;Hogmanay&lt;/a&gt;. Dalam bahasa Skotlandia, &lt;i&gt;hogmanay&lt;/i&gt; berarti ‘malam akhir tahun’. Dan perayaan Hongmanay adalah sebuah acara selebrasi menyambut datangnya tahun baru. Acara ini diadakan di seluruh penjuru Skotlandia setiap tanggal 31 Desember dan berlangsung sepanjang malam hingga pagi hari. Tidak jarang perayaan ini baru berakhir di tanggal 2 Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Sejarah &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Asal-usul lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; sedikit membingungkan. Banyak sumber menyatakan bahwa lagu ini awalnya merupakan sebuah puisi yang digubah oleh &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Burns" target="_blank"&gt;Robert Burns&lt;/a&gt;, seorang pujangga Skotlandia, di tahun 1788. Syair puisi tersebut kemudian diubah menjadi nyanyian berjudul sama dan menjadi lagu tradisional Skotlandia. Namun saat menyerahkan salinan naskah lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; ke Museum Musik Skotlandia, Burns meninggalkan catatan yang menyatakan bahwa naskah tersebut ia sadur dari sebuah lagu rakyat yang belum pernah dibukukan dan diklaim oleh siapapun sampai kemudian ia menuliskan naskahnya untuk pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kotakkuning"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://4.bp.blogspot.com/_R2rUB8QhabA/TUFyLxeZkNI/AAAAAAAAAHw/kduyXkdtOLk/s320/guy_lombardo.jpg" width="209" /&gt;&lt;/span&gt;Sumber yang lain menyatakan bahwa sejumlah puisi yang mirip dengan &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; karya Burns sudah dikenal jauh lebih lama sebelum masa Burns. Contohnya puisi karya penyair &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Robert_Aytoun" target="_blank"&gt;Robert Ayton&lt;/a&gt; (1570–1638), &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Allan_Ramsay_%28poet%29" target="_blank"&gt;Allan Ramsay&lt;/a&gt; (1686-1757), dan &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Auld_Lang_Syne" target="_blank"&gt;James Watson&lt;/a&gt; (1711). Bait pertama dan kedua dari puisi yang ditulis James Watson bahkan sama persis dengan yang ditulis Burns. Selain itu frasa &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; juga telah dikenal dan disebutkan dalam beberapa lagu rakyat Skotlandia yang sudah ada jauh sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari semua itu, semua orang sependapat bahwa yang paling berjasa mempopulerkan lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; ke dunia hiburan adalah &lt;a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Guy_Lombardo" target="_blank"&gt;Guy Lombardo&lt;/a&gt;. Lelaki bernama lengkap Gaetano Alberto Lombardo ini adalah musisi warga negara Amerika Serikat kelahiran Kanada. Ia pertama kali mendengar lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; dari komunitas imigran Skotlandia yang tinggal dekat dengannya di London, sebuah kota di selatan Ontario, Kanada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guy Lombardo mendirikan The Royal Canadians Big Band bersama saudara-saudaranya di tahun 1924. Dengan band inilah ia pertama kali memainkan lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; saat manggung di acara perayaan tahun baru di kota New York tahun 1929. Guy Lombardo dan band-nya memainkan lagu tersebut menjelang tengah malam hingga pergantian tahun. Sejak itulah The Royal Canadians Big Band menjadikan &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; sebagai lagu penutup tahun yang selalu mereka mainkan di detik-detik menjelang pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tradisi ini kemudian diikuti oleh radio-radio dan televisi di seluruh Amerika Serikat, melengkapi tradisi yang sudah berkembang sebelumnya di daratan Britania Raya. Begitulah, sampai kemudian tradisi ini mendunia. Sampai saat ini, rekaman lagu &lt;i&gt;Auld Lang Syne&lt;/i&gt; yang dibawakan oleh The Royal Canadians Big Band pimpinan Guy Lombardo masih terus diperdengarkan di Times Square, New York, setiap malam pergantian tahun. Dan lagu ini selalu diputar di urutan pertama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;For auld lang syne, my dear&lt;br /&gt;For auld lang syne&lt;br /&gt;We'll take a cup of kindness yet&lt;br /&gt;For auld lang syne&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(bungeko)&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-988134579133990079?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2012/01/auld-lang-syne.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_R2rUB8QhabA/TUFyLxeZkNI/AAAAAAAAAHw/kduyXkdtOLk/s72-c/guy_lombardo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-5054075046260252494</guid><pubDate>Wed, 28 Dec 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-29T00:10:00.460+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Wisata Jogja</category><title>Rama Sakti, Travel Langganan Bung Eko</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;P&lt;/span&gt;ERTAMA kali ke Pemalang, Juni 2006, saya dibuat bingung sama istri--waktu itu masih berstatus 'teman biasa'. Pasalnya, ia mengajak kami berestafet ria dengan rute Jogja-Semarang-Pemalang. Jadi, dari Jogja kami mencari bis jurusan Semarang. Lalu setelah turun di kawasan Kaligawe, sebelum Terminal Terboyo, kami melanjutkan perjalanan ke Pemalang dengan bus jurusan Semarang-Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Kali pertama menginjakkan kaki di Semarang, saya langsung melihat pemandangan mengerikan. Di atas bis jurusan Semarang-Cirebon yang kami naiki itu terjadi tindak pemerasan secara terang-terangan terhadap penumpang. Modusnya, kelompok pemeras yang terdiri dari 4-5 orang berpura-pura mengamen. Yang menggenjreng gitar hanya satu, tapi yang meminta uang ada banyak. Ternyata itu hanya tipuan. Satu-satu penumpang dikerubuti lalu dirogoh semua kantong baju, celana, dan tasnya. Apapun yang mereka temukan di kantong penumpang mereka ambil tanpa tedeng aling-aling. Gila!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi trauma. Memang saya tak sempat jadi korban, karena sudah kebiasaan sejak dulu tak pernah mengantongi uang atau dompet selama perjalanan. Tas juga saya amankan dengan cara ditaruh di belakang punggung, jadi terhimpit badan dan sandaran kursi. Istri malah tak disentuh sama sekali waktu itu. Namun tetap saja saya tak mau mengulangi rute mengerikan itu. Kali kedua ke Pemalang saya lebih memilih jalur Jogja-Purwokerto-Purbalingga-Pemalang yang jauh lebih bersahabat, plus lebih indah pemandangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika saya mendengar ada &lt;b&gt;travel jurusan Jogja-Pemalang&lt;/b&gt;. Namanya &lt;a href='http://www.ramasakti.com' target='_blank'&gt;Rama Sakti&lt;/a&gt;, dan ternyata tidak hanya ke Pemalang, tapi sampai ke Surabaya dan Jakarta, juga Bandung. Ongkosnya yang tak terpaut jauh dari ongkos bis estafet, membuat saya tertarik mencobanya. Merasa nyaman, apalagi sopirnya ramah dan sering mengajak penumpang mengobrol sepanjang perjalanan, saya jadi ketagihan naik Rama Sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, barangkali Bung tertarik mencoba naik Rama Sakti ke kota manapun di Jawa ini, berikut saya sajikan &lt;b&gt;jadwal lengkap keberangkatan Rama Sakti dari Jogja&lt;/b&gt;, bersama tarif resminya. Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;style type="text/css"&gt;table.tableizer-table {border: 1px solid #CCC; font-family: Arial, Helvetica, sans-serif; font-size: 12px;} .tableizer-table td {padding: 4px; margin: 3px; border: 1px solid #ccc;} .tableizer-table th {background-color: #108C13; color: #FFF; font-weight: bold;} &lt;/style&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;table class="tableizer-table"&gt;&lt;tr class="tableizer-firstrow"&gt;&lt;th&gt;&lt;center&gt;Kota Asal&lt;/center&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;center&gt;Kota Tujuan&lt;/center&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;center&gt;Tarif&lt;/center&gt;&lt;/th&gt;&lt;th&gt;&lt;center&gt;Jadwal Keberangkatan&lt;/center&gt;&lt;/th&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;YOGYAKARTA&lt;/td&gt;&lt;td&gt;JAKARTA&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp. 175.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;16.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;BANDUNG&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp. 140.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;19.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;TASIKMALAYA&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp. 120.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;19.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;CIREBON (Via Selatan)&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   95.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;CIREBON (Via Utara)&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   95.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;LOSARI/TANJUNG&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   95.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;BREBES&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   90.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;TEGAL (Via Utara)&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   80.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;TEGAL (Via Selatan)&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   80.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;SLAWI&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   80.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;BUMIAYU&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   80.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;PEMALANG&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   70.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;COMAL&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   70.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;PEKALONGAN&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   65.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;WELERI&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   50.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;SUKOREJO/CANDIROTO&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   50.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1 jam (07.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;TEMANGGUNG&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   40.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 2 jam (06.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;PARAKAN&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   40.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 2 jam (06.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;WONOSOBO&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   45.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 2 jam (06.00-18.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;BANJARNEGARA&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   55.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;08.00-14.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;SEMARANG&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   45.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1/2jam (06.00-20.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;MAGELANG/MUNTILAN&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   20.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Tiap 1/2jam (06.00-20.00)&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;KUTOARJO&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   35.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00, 15.00, 17.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;KEBUMEN/KUTAWINANGUN&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   40.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00, 15.00, 17.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;GOMBONG&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   40.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00, 15.00, 17.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;PURWOREJO&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   35.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00, 15.00, 17.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;PURWOKERTO&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   50.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00, 15.00, 17.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;CILACAP&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   50.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00, 15.00, 17.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;PATI&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   60.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.30, 08,30, 12.30,14.30, 16.30&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;KUDUS/DEMAK&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   55.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.30, 08,30, 12.30,14.30, 16.30&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;CARUBAN/NGAWI&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   60.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 dan 20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;MADIUN/NGANJUK&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   80.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 dan 20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;KEDIRI&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   80.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 dan 20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;SURABAYA&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp. 100.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 dan 20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;MALANG&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp. 100.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 dan 20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;BLITAR&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp. 100.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 dan 20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;BATU&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp. 100.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00 dan 20.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;SALATIGA&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   40.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;09.00, 14.00, 16.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;PURWODADI&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   50.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.30, 14.30&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;BOJONEGORO&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   65.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00 dan 15.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;CEPU&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   60.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00 dan 15.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;SOLO&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   30.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00 dan 15.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt;&lt;td&gt;&amp;nbsp;&lt;/td&gt;&lt;td&gt;KLATEN&lt;/td&gt;&lt;td&gt;Rp.   30.000,-&lt;/td&gt;&lt;td&gt;07.00 dan 15.00&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/table&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Sumber:&lt;/b&gt; &lt;a href='http://susiloramasakti.blogspot.com/2011/01/tarip-tiket-dan-jam-keberangkatan-rama.html' target='_blank'&gt;http://susiloramasakti.blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-5054075046260252494?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2011/12/rama-sakti-travel-langganan-bung-eko.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><thr:total>5</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-4333710789971617536</guid><pubDate>Sun, 25 Dec 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-26T00:10:00.361+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Wisata Jogja</category><title>Wisata Pantai ke Gunungkidul, Yuk!</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;G&lt;/span&gt;UNUNGKIDUL lebih dikenal sebagai kabupaten paling terbelakang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain letaknya paling jauh dari pusat kota pemerintahan, Gunungkidul juga tandus. Maklum, kabupaten ini mayoritas terdiri dari daerah pegunungan. Namanya saja Gunungkidul, gunung di selatan. Meski begitu jangan sepelekan kabupaten yang satu ini. Di balik ketandusan tanahnya, Gunungkidul menyimpan banyak potensi wisata pantai. Sewaktu masih di Yogya, saya dan teman-teman kos sempat beberapa kali melakukan tur ke pantai-pantai yang ada di Gunungkidul. Seru!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Tur yang saya sebut &lt;b&gt;Tour de Gunungkidul&lt;/b&gt; ini dilaksanakan dua kali. Tur pertama dan kedua jaraknya sepekan, dua-duanya di hari Minggu. Pekan pertama kami hanya mengunjungi &lt;b&gt;Pantai Ngerenehan&lt;/b&gt;, sebuah pantai kecil di mulut teluk yang menghadap ke Laut Selatan. Pantainya lumayan pendek, tak sampai sekilometer. Di kiri-kanan pantai berdiri bukit karang terjal yang menjorok hingga ke tengah laut. Di mulut teluk terdapat batu-batu karang yang meredam ombak deras Laut Selatan. Dengan demikian ombak di Pantai Ngerenehan tidak tinggi sehingga aman untuk mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdhmfbgC7pI/AAAAAAAAA7M/YlcOiGDJ3lY/s320/Ngerenehan+Bay6.JPG" width='500' /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdhOMs_XFdI/AAAAAAAAA68/M-eZX0FgiPo/s320/Ngerenehan+Bay1.JPG" width='500' /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://2.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/Sdjpy7kQdXI/AAAAAAAAA7U/4FF_bJk22-Y/s320/Ngerenehan+Bay4.JPG" width='500' /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Ngerenehan kita tak cuma bisa mandi, tapi juga makan ikan. Setiap hari para nelayan hilir-mudik ke laut melalui pantai ini, jadi ikannya sangat berlimpah. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam untuk bisa makan ikan laut di Ngerenehan. Harganya cukup bersahabat &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;. Sebagai gambaran, waktu teman saya membeli seekor ikan hiu kecil plus 4-5 ekor ikan pari dengan harga Rp15.000. Tidak ditimbang? Hehehe, nelayan di sana main kira-kira saja. Asal harga sudah &lt;i&gt;deal&lt;/i&gt; ya sudah, ikan dilepas. Asyik, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdjrzpUMEAI/AAAAAAAAA7c/DEARorcEuEE/s320/Pict%210195.jpg" width='500'&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Pantai Sepanjang nan Panjang&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sepekan setelah mengunjungi Ngerenehan, kami berangkat lagi ke selatan Yogyakarta. Kali ini tujuannya &lt;b&gt;Pantai Sepanjang&lt;/b&gt;. Di mana itu? Tidak jauh dari Ngerenehan. Jaraknya sekitar 5 kilometer ke arah timur, tepatnya sebelum Pantai Baron. Di sini pemandangannya sangat indah. Sesuai namanya, Pantai Sepanjang benar-benar sebuah pantai yang panjang. Melihat ke kanan-kiri hanya hamparan pasir putih yang memanjang. Di kejauhan tampak bukit karang nan tinggi membatasi area pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://3.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdjszHqsAWI/AAAAAAAAA7k/JIIJKj7XIUw/s320/Photo0233.jpg" width="500" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan Ngerenehan, di Sepanjang kita tidak boleh mandi. Masuk ke laut saja kalau bisa jangan. Kenapa? Pertama, arus lautnya deras. Selain itu kontur pantainya juga sangat curam. Berbeda dengan kebanyakan pantai yang landai hingga ke tengah laut, kontur Pantai Sepanjang layaknya jurang. Sekali kita masuk ke laut dan terseret arus, bakalan repot &lt;i&gt;deh&lt;/i&gt; yang menolong. &lt;i&gt;So&lt;/i&gt;, kalau di sini enaknya cuma jalan-jalan menyusuri pantai, terus naik ke bukit untuk melihat hamparan Laut Selatan, dan kalau sudah capek istirahat di gubuk-gubuk yang banyak tersebar di sepanjang pinggiran pantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://1.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/Sdjurh90FKI/AAAAAAAAA7s/oUBlJXahqH0/s320/Photo0230.jpg" width="500" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Asyik, bukan? Selama ini nama Ngerenehan dan Sepanjang kalah tenar dibanding Pantai Baron, Trisik, Kukup, dan pantai-pantai Gunungkidul lain yang ada di brosur-brosur keluaran Dinas Pariwisata DI Yogyakarta. Padahal pesona kedua pantai ini tidak kalah dibanding pantai-pantai lain. Dan satu kelebihan utama keduanya, masih sepi pengunjung! Sepinya pengunjung membuat pantai ini tenang, dan juga bersih dari sampah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas mengagumi pemandangan alam di Sepanjang, perjalanan kami lanjutkan ke timur. Ya, kami meneruskan perjalanan ke timur Yogyakarta. Semua pantai kami masuki meski hanya melihat secara sekilas-sekilas saja sambil lewat. Sampai di suatu desa, entah namanya apa, ban belakang motor saya bocor. Bukan bocor &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt;, orang tempat pentilnya secara ajaib bisa lepas dari ban. Jadilah kami berhenti dulu karena saya harus mengganti ban. Untung saja ada bengkel tak jauh dari TKB alias tempat kempisnya ban. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;&lt;img src="http://4.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdjvJD7BIXI/AAAAAAAAA70/goYcUWkm7xU/s320/IMAG0039.JPG" width="500" /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sekitar jam 7 malam sampailah kami di pantai paling timur Jogja, Pantai Sadeng. Pantai ini merupakan sebuah pelabuhan tempat para nelayan berlabuh setelah mencari ikan di laut. Ikan-ikan di sini juga murah-murah. Jadi kami pun sepakat patungan membeli ikan dan ujung-ujungnya tentu saja makan-makan. Karena teman-teman banyak yang memesan ikan bakar, acara makan-makan sampai memakan waktu sejam lebih. Sekitar jam 20.00 lebih sedikit kami beranjak pulang ke kota. &lt;i&gt;Eh&lt;/i&gt;, begitu mau pulang &lt;i&gt;ko&lt;/i&gt; baru ingat kalau waktu itu malam Jum'at. Walah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski capeknya bukan main--sampai di kos sudah lewat tengah malam, perjalanan tersebut benar-benar menyenangkan. Suatu saat ingin saya mengulangi perjalanan itu lagi. Karena sekarang sudah berkeluarga, mungkin kelak saya akan mengulanginya bersama anak dan istri. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-4333710789971617536?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2011/12/wisata-pantai-ke-gunungkidul-yuk.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tMKheo93qf8/SdhmfbgC7pI/AAAAAAAAA7M/YlcOiGDJ3lY/s72-c/Ngerenehan+Bay6.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-3798077089935899171</guid><pubDate>Fri, 23 Dec 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-02T21:51:19.596+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Smart Blogging</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Pernik</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Jurnalistik</category><title>Dicium Rapat-rapat, di Paha Direnggangkan</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;E&lt;/span&gt;IT, jangan berpikir "17+" dulu membaca judul posting ini. Sekilas memang kesannya seperti mengarah-arah ke "suasana ranjang", tapi yakinlah bahwa isi posting ini sangat jauh sekali dengan "bayangan-bayangan menggairahkan" itu. &lt;i&gt;So&lt;/i&gt;, dibaca sampai habis ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Judul di atas adalah sebuah rumus rahasia yang diberikan guru Bahasa Indonesia saya sewaktu SMP dulu. Rumus apa? Rumus tentang pemakaian kata "di" yang baik dan benar sesuai aturan EYD. Kesannya &lt;i&gt;kok nyeleneh&lt;/i&gt;, tapi justru ke-&lt;i&gt;nyeleneh&lt;/i&gt;-annya itulah yang membuat saya tetap mengingat lekat rumus sederhana tapi penting ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, rumus tersebut sudah lebih dari 15 tahun lamanya tetap lengket dalam kepala saya. Rumus inilah yang menjadi rambu-rambu saat saya kebingungan menggunakan kata "di". Kenapa bisa selengket itu? Pertama, jujur saja, kalimatnya asyik karena nyerempet-nyerempet ke arah "ehem-ehem". Kedua, rumus tersebut simpel tapi jelas sekali membedakan kerancuan pemakaian kata "di" yang biasa kita jumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat &lt;i&gt;blogwalking&lt;/i&gt;, saya kerap menjumpai posting yang ditulis secara serampangan dari kaidah tata bahasa. Belepotan. Salah satu kesalahan umum yang biasa dijumpai adalah pemakaian kata "di" yang masih salah kaprah. &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, dengan rumus sederhana yang diberikan guru SMP saya ini, saya yakin Bung sekalian bakal dengan mudah mengingat bagaimana &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; si "di" ini seharusnya digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Dua Jenis Penggunaan "Di"&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="bingkaibesar"&gt;&lt;img border="0" height="310" width="310" src="http://2.bp.blogspot.com/-5bgLp2_YGbY/TsY52e2ksXI/AAAAAAAAAqw/iIpnR4qdKq8/s320/ciuman.jpg" /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Ilustrasi:&lt;/b&gt; casavina.com&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;Secara simpel dapat diterangkan bahwa kata "di" mempunyai dua fungsi, yakni sebagai kata depan dan awalan. "Di" sebagai kata depan menunjukkan (atau digunakan bersama dengan penunjuk) waktu dan atau tempat.  Kalau "di" sebagai awalan menunjukkan (atau digunakan sebelum) kata kerja, biasanya untuk membentuk bentuk pasif. Contoh "di" sebagai kata depan adalah "di makam", sedangkan contoh "di" sebagai awalan adalah "dimakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, perbedaan fungsi ini membedakan cara penulisan kata "di" menjadi dua pula. Kata "di" sebagai kata depan ditulis terpisah dari kata yang mengikutinya. Contohnya, "di makam" dan bukannya "dimakam". Atau "di sana", bukannya "disana". Sebaliknya, kata "di" sebagai awalan ditulis menyatu dengan kata yang mengikutinya. Contohnya "ditulis", dan bukannya "di tulis". Atau "dijual", bukannya "di jual".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bingung? Kalau begitu ingat-ingat saja rumus ini: "Dicium rapat-rapat, di paha direnggangkan". "Cium" adalah kata kerja. Kata "di" di depannya berfungsi sebagai awalan sehingga penulisannya disambung jadi satu. Sementara itu "paha" adalah kata benda yang menunjukkan tempat sehingga kata "di" di sana berfungsi sebagai kata depan dan penulisannya dipisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana, masih berpikiran "17+" setelah membaca habis posting ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt; Posting ini merupakan &lt;i&gt;repost&lt;/i&gt; dengan perubahan seperlunya dari artikel saya di situs jurnalis warga Wikimu.com. Artikel aslinya bisa dibaca &lt;a href='http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7142' target='_blank'&gt; di sini&lt;/a&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-3798077089935899171?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2011/12/dicium-rapat-rapat-di-paha.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5bgLp2_YGbY/TsY52e2ksXI/AAAAAAAAAqw/iIpnR4qdKq8/s72-c/ciuman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-1585958798273258694</guid><pubDate>Wed, 21 Dec 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2012-01-02T21:52:08.826+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Inspirasi</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Broker Properti</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Kontes</category><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Wirausaha</category><title>Lisa Kuntjoro, Ratu Broker Properti Indonesia</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;T&lt;/span&gt;AK lengkap rasanya membicarakan profesi &lt;a href='http://century21.co.id/' target='_blank'&gt;broker properti&lt;/a&gt; tanpa menyebut nama &lt;b&gt;Lisa Kuntjoro&lt;/b&gt;. Sosok satu ini boleh dibilang ratunya broker properti Indonesia. Ada juga yang menyebutnya Ratu Pondok Indah, mengingat wilayah operasionalnya di kawasan perumahan elite Pondok Indah, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;a href="http://century21.co.id/" target='_blank'&gt;&lt;img width="300" src="http://seocontest.century21.co.id/assets/images/blog_badges.png"/&gt;&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;Sebutan ratu broker properti Indonesia rasanya memang pantas disandang Lisa. Wanita kelahiran Solo, 26 September 1956, ini berulangkali meraih penghargaan atas prestasinya yang sangat menakjubkan. Bayangkan saja, mulai terjun di dunia broker properti pada Juli 1993, ia dapat langsung melejit sebagai Top Sales Associate (Top Producer) tahun itu juga. Sepanjang Juli-Desember 1993 Lisa berhasil menjual 9 unit &lt;a href='http://century21.co.id/' target='_blank'&gt;rumah&lt;/a&gt; mewah dengan nilai transaksi rata-rata antara Rp1,5-3 milyar. Ia pun kemudian mendapat kehormatan diundang menghadiri konferensi ERA Internasional di San Antonio, Amerika Serikat, sebagai satu-satunya perwakilan dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1994 ia gagal mempertahankan posisinya di puncak. Tapi kegagalan tersebut ditebusnya dengan prestasi yang lebih fenomenal. Sepanjang 1995-1998 ia terus-menerus membukukan penjualan terbaik dan meraih gelar Top Producer Sales Associate sebanyak 4 kali berturut-turut. Di Indonesia, prestasi 4 kali berturut-turut ini terbilang langka dan belum ada yang bisa menyamainya sampai sekarang, setidaknya sampai posting ini ditulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img border="0" height="200" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-7gdZwQuGR14/Tsn_xIt7A5I/AAAAAAAAArg/Q5tRgg3QfM8/s320/lisa_kuntjoro.jpg" /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; rumahku.com&lt;br /&gt;Lisa Kuntjoro, awalnya hanya ibu rumah tangga biasa.&lt;/small&gt;&lt;/span&gt;Lisa kembali gagal meraih posisi puncak di tahun 1999. Saat itu ia sedang memusatkan pikiran dan waktunya untuk membantu sang suami mendirikan kantor &lt;i&gt;member broker&lt;/i&gt; sendiri. Jadi, boleh dibilang ia tidak gagal karena tahun itu ERA Home Pondok Indah milik suaminya resmi berdiri. Setelah itu konsentrasinya kembali pada penjualan dan ia pun langsung melesat ke posisi teratas. Tahun 2000, 2001, dan 2003 gelar Top Producer direngkuhnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain penghargaan Top Producer yang terus diraihnya hampir setiap tahun, Lisa juga memperoleh &lt;i&gt;award&lt;/i&gt; sebagai ERA Winner’s Circle yang juga terus diterimanya secara berturut-turut sejak 1993. Berkat prestasinya tersebut, ia berulangkali diundang ke kantor pusat ERA Internasional dan mendapat piagam Lifetime Achievement plus sebuah patung garuda keemasan dari ERA Indonesia. Penghargaan yang, sampai saat posting ini ditulis, baru Lisa seorang yang memperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Tak Sengaja Jadi Broker Properti&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bicara masalah penghasilan, &lt;a href='http://century21.co.id/' target='_blank'&gt;komisi&lt;/a&gt; Lisa telah mencapai ratusan juta rupiah tiap tahun. Mantan anggota Dharma Wanita yang dikenal sebagai jagoan di pasar sekunder (rumah tangan kedua) ini mengaku mampu menjual rata-rata 2-3 unit rumah per bulan. Karena daerah operasinya adalah kawasan perumahan elite di Jakarta, maka nilai transaksi yang dibukukannnya mencapai angka milyaran rupiah. Asal tahu saja, harga sebuah rumah di Pondok Indah berkisar antara Rp 1,5-3 milyar. Dengan komisi penjualan sebesar 1% saja, Lisa dapat mengantongi antara Rp 15-30 juta hanya dari satu transaksi penjualan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pengakuannya, dari penjualan 2-3 unit rumah setiap bulan paling tidak Lisa memperoleh komisi sebesar Rp 45-90 juta. Lihat, bukankah ini penghasilan yang lumayan besar? Padahal sebelumnya lulusan akademi ISWI ini tidak memiliki pengalaman menjual sama sekali. Ia murni seorang ibu rumah tangga yang menghabiskan waktu luangnya dengan berbagai kegiatan sosial bersama para istri pegawai di lingkungan Departemen Perindustrian. Terjun sebagai broker properti juga dilakukannya secara tidak sengaja. Ketika itu, dalam sebuah perjalanan Lisa duduk bersebelahan dengan seorang istri pejabat. Mengetahui Lisa tinggal di kawasan Pondok Indah, istri pejabat tadi bertanya bagaimana caranya bisa mencari rumah di sana. Sang istri pejabat mengatakan kalau dirinya sebenarnya telah lama ingin mempunyai rumah dan tinggal di perumahan elite tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kotakkuning"&gt;&lt;img border="0" width="200" src="http://4.bp.blogspot.com/-1oQ-GxO1cyE/TsoMxH_bVSI/AAAAAAAAAr4/CU3XVJVQ9dY/s320/pondok_indah.gif" /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Ilustrasi:&lt;/b&gt; Google Maps&lt;/small&gt;&lt;br /&gt;Peta kawasan Pondok Indah.&lt;/span&gt;Lisa yang telah lama tinggal di Pondok Indah hapal betul kawasan tersebut. Berbekal hal itulah ia lantas mengutarakan keinginannya untuk membantu istri pejabat tersebut. Tapi selanjutnya Lisa berubah pikiran. Ia malah menceritakan pengalamannya kepada seorang temannya yang kebetulan berprofesi sebagai &lt;a href='http://century21.co.id/' target='_blank'&gt;broker&lt;/a&gt; di ERA Home. Siapa sangka, sang teman kemudian menyarankan Lisa untuk terjun menjadi broker properti saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tak punya pengalaman menjual, Lisa tak langsung menerima saran tersebut. Ia berkonsultasi dulu dengan suaminya. Ternyata sang suami mendukung saran teman Lisa tadi. Jadilah Lisa berketetapan hati untuk menjadi broker properti. Ia pun dapat mengabulkan janjinya pada istri pejabat yang pernah ditemuinya dulu dengan mencarikan sebuah rumah mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='subjudul'&gt;&lt;b&gt;Bukan Ibu Rumah Tangga Biasa&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu kehidupan Lisa berubah. Ia bukan lagi penggerak Dharma Wanita, tapi telah menjadi seorang pemasar &lt;a href='http://century21.co.id/' target='_blank'&gt;properti&lt;/a&gt; handal. Kemauan belajar yang kuat membuatnya selalu memperbaiki diri dari waktu ke waktu sehingga terus-menerus menerima penghargaan sekaligus komisi besar. Dengan jenjang karir yang ditempatinya sekarang, Associate Director, komisi ratusan juta rupiah per tahun diperolehnya. Belum lagi capaian peringkat Emerald Producer yang memberinya komisi kumulatif antara Rp 2,25-2,75 milyar per tahun. Jumlah yang mungkin tidak pernah didapatkannya sebagai istri seorang pegawai negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Lisa tinggal menikmati hasil kerja kerasnya. Ia tidak perlu lagi bersusah-payah mengelilingi kawasan Pondok Indah untuk mencari rumah yang akan dijual pemiliknya. Koneksi dan jaringannya yang luas membuatnya dapat dengan mudah memperoleh rumah untuk di-&lt;i&gt;listing&lt;/i&gt;, masuk daftar jual. Ia juga tidak terlalu &lt;i&gt;ngoyo&lt;/i&gt; dan cenderung menikmati profesinya. Yang paling penting baginya saat ini bukan lagi komisi, melainkan kepuasan klien yang ia bantu. Hal tersebut baginya jauh lebih berharga daripada uang, berapa pun nilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, Lisa Kuntjoro telah membuktikan bahwa menjadi broker properti adalah salah satu pilihan tepat untuk meraih karir sekaligus penghasilan berlimpah. Mau mengikuti jejaknya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-1585958798273258694?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2011/12/lisa-kuntjoro-ratu-broker-properti.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7gdZwQuGR14/Tsn_xIt7A5I/AAAAAAAAArg/Q5tRgg3QfM8/s72-c/lisa_kuntjoro.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-8231217356302798131</guid><pubDate>Mon, 19 Dec 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-20T00:10:00.102+07:00</atom:updated><title>7 Cara Membuat Konten yang Search Engine Friendly</title><description>&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Catatan:&lt;/b&gt; Tulisan ini merupakan saduran dari tulisan Daniel Scocco, pemilik &lt;a href="http://dailyblogtips.com/" target="_blank"&gt;DailyBlogTips.com&lt;/a&gt; yang juga pakar di bidang &lt;i&gt;search engine optimization&lt;/i&gt; (SEO) dan promosi blog. Artikel yang saya sadur berjudul “7 Ways to Make your Content Search Engine Friendly” dan terdapat di eBook “&lt;a href="http://www.ziddu.com/download.php?uid=ba6elJWoca2ilJunt6yZlJyiaa%2BWlZyn9"&gt;Chitika Blog Bash&lt;/a&gt;” halaman 47. Untuk memperoleh eBooknya, silakan klik &lt;a href="http://www.ziddu.com/download.php?uid=ba6elJWoca2ilJunt6yZlJyiaa%2BWlZyn9"&gt;di sini&lt;/a&gt;.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;K&lt;/span&gt;ONTEN memang raja, namun sebagus apapun konten blog kita jika orang tidak dapat menemukannya di &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; sama saja bohong. Disukai atau tidak, mayoritas pengguna internet memulai petualangan di internet melalui Google sebagai &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; terkemuka, di mana mereka menemukan sebagian besar informasi yang dicari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Jangan salah sangka dulu. Kita tentu saja harus menulis untuk pembaca yang tak lain adalah manusia, karena menulis semata-mata untuk &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; hanya akan menghasilkan artikel yang membosankan. Bung boleh saja menulis dengan menerapkan prinsip-prinsip SEO dasar, namun jangan korbankan kualitas tulisan. Berikut ini 7 cara untuk membuat konten yang &lt;i&gt;search engine friendly&lt;/i&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Gunakan keyword terpilih&lt;/b&gt;: misalkan Anda menulis posting tentang gambar-gambar lucu yang Anda temui di internet, akan diberi judul apa posting tersebut? “&lt;i&gt;What a funny image&lt;/i&gt;” atau “&lt;i&gt;What a funny picture&lt;/i&gt;”? Dari sudut pandang pembaca mungkin tidak ada bedanya. Namun jika menggunakan judul yang kedua, peluang untuk memperoleh trafik dari &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; jadi lebih besar karena “&lt;i&gt;funny picture&lt;/i&gt;” 39 kali lebih banyak dicari ketimbang “&lt;i&gt;funny image&lt;/i&gt;”. Bung dapat menggunakan layanan Overture milik Yahoo! untuk melakukan riset &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Fokus pada &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; tertentu&lt;/b&gt;: tentunya bagus sekali jika Anda dapat menulis sejumlah topik dalam satu posting dan menempatkan semua topik tersebut dengan baik di &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt;. Tapi realitanya tidak bisa seperti itu. Bung harus fokus pada satu topik di setiap posting untuk menjaga konsistensi &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. Gunakan &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; di judul posting&lt;/b&gt;: judul posting merupakan faktor terpenting dalam sistem algoritma &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt;. Idealnya judul posting mengandung &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; utama dari keseluruhan posting, dan tentu saja pastikan judulnya pendek namun deskriptif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Gunakan keyword di tempat yang tepat&lt;/b&gt;: selain menempatkan &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; di judul posting, Bung juga dapat meletakkannya di beberapa tempat strategis lain di isi posting. Tempat strategis yang dimaksud adalah di awal dan akhir posting. Bisa merupakan kata pembuka atau penutup, bisa juga bagian dari kalimat awal atau kalimat terakhir. Biasanya &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; memberikan poin lebih pada &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; yang diletakkan pada tempat-tempat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Gunakan 'alt tag' dan 'title tag'&lt;/b&gt;: saat menambahkan gambar, selalu gunakan 'alt tag' dan 'title tag'. Kedua tag ini digunakan oleh &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; untuk mengenali gambar tertentu dan tentunya akan menambah nilai bagi &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; yang digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Tebalkan &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; dan jadikan &lt;i&gt;italic&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;: jika digunakan dengan benar, &lt;b&gt;penebalan&lt;/b&gt; dan peng-&lt;i&gt;italic&lt;/i&gt;-an &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; tidak hanya akan membuat konten lebih terstruktur, tapi juga akan memberikan nilai tambah bagi &lt;i&gt;keyword&lt;/i&gt; tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Gunakan h2 dan h3 header&lt;/b&gt;: seperti halnya poin sebelumnya, penggunaan h2 dan h3 header akan membuat konten lebih mudah diindeks oleh &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt;. Selain itu &lt;i&gt;search engine&lt;/i&gt; juga melihat judul, header dan subheader untuk menentukan topik apa yang dikandung sebuah halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah 7 cara yang disarankan Daniel Scocco. Kalau ingin melihat versi aslinya, silakan &lt;i&gt;download&lt;/i&gt; eBook "&lt;a href="http://www.ziddu.com/download.php?uid=ba6elJWoca2ilJunt6yZlJyiaa%2BWlZyn9"&gt;Chitika Blog Bash&lt;/a&gt;" &lt;a href="http://www.ziddu.com/download.php?uid=ba6elJWoca2ilJunt6yZlJyiaa%2BWlZyn9"&gt;di sini&lt;/a&gt;, atau kunjungi &lt;a href="http://dailyblogtips.com/" target="_blank"&gt;DailyBlogTips.com&lt;/a&gt; untuk memperoleh tips-tips segar seputar SEO dan blogging. Semoga bermanfaat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-8231217356302798131?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2011/12/7-cara-membuat-konten-yang-search.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><thr:total>4</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-3072734637821269840</guid><pubDate>Sat, 17 Dec 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-18T00:10:00.519+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Intermezzo</category><title>True Story: Kencing di Alfamart</title><description>&lt;span class="dropcap"&gt;K&lt;/span&gt;EJADIAN ini belum lama. Tepatnya di hari kedua bulan Ramadhan yang baru lalu, berarti tanggal 2 Agustus 2011. Ceritanya saya bersama istri dan Damar, anak pertama kami yang saat itu baru berusia 14 bulan, &lt;em&gt;ngabuburit &lt;/em&gt;ke lapangan &lt;strong&gt;Desa Banjardawa, Kec. Taman, Pemalang&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;Namanya juga desa, tempat rekreasi keluarga yang paling banyak dikunjungi adalah pasar dan lapangan desa. Kebetulan sekali jalan menuju lapangan melewati pasar, yakni Pasar Banjardawa. Seperti halnya di tempat-tempat lain, selama Ramadhan di sepanjang jalan tampak orang-orang berjualan aneka hidangan untuk berbuka puasa. Terutama sekali di dekat pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang berbuka, kami beranjak pulang. Di jalan arah pulang berjejer warung-warung dan toko, termasuk Alfamart. Tepat di depan Alfamart saya melihat promo sirup, harganya murah. Kebetulan sekali saya memang sedang mencari sirup. Tak membuang waktu segera saya belokkan sepeda motor ke halaman Alfamart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;&lt;b&gt;Tempat Kejadian Pipis (TKP)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/10/1318170510280008446.jpg" width="200" /&gt;&lt;small&gt;&lt;b&gt;Foto:&lt;/b&gt; koleksi pribadi&lt;/small&gt;&lt;br/&gt;Damar, kecil-kecil “berani” mengencingi Alfamart. ^_^&lt;/span&gt;Awalnya saya cuma mau mencari sirup dan beberapa minuman ringan untuk berbuka. Namun rupanya anak saya betah. Saat saya dan istri sibuk memilih-milih, Damar yang baru sekitar sebulan bisa berjalan malah berkeliling sendiri. Sambil tertawa-tawa sendiri dia mengelilingi rak demi rak. Untungnya sifat usilnya tidak muncul. Kalau tidak, bisa-bisa berantakan semua isi rak Alfamart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10 menit kemudian saya dan istri sudah siap dengan belanjaan kami. Tapi Damar di mana? &lt;em&gt;Oh&lt;/em&gt;, rupanya dia sedang asyik bermain-main di depan tumpukan krat aneka minuman ringan. Sambil mengeluarkan suara seperti orang meracau dipukul-pukulnya tepi krat berisi minuman ringan berbotol-botol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hampiri dia sambil mengajaknya pulang. Damar menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mau keasyikannya diganggu. Saya bujuk dia untuk pulang. Akhirnya dia mau, dan segera menghampiri pelukan saya. Tapi, aduh, &lt;em&gt;kok &lt;/em&gt;basah? Apa ini? Kata saya begitu Damar berada di pelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, pasti ngompol ini anak, saya membatin. Benar saja. Di lantai tempat di mana Damar berdiri tadi tampak genangan air. Tak mungkin itu tetesan air hujan dari atap, juga bukan rembesan air AC. Bisa saya pastikan itu air kencing Damar karena celananya juga basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;&lt;b&gt;Kucing-kucingan&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ow ow, saya jadi salah tingkah. Kalau ketahuan karyawan Alfamart bisa repot &lt;em&gt;nih&lt;/em&gt;. Mau saya bersihkan sendiri tak ada kain atau pel yang bisa digunakan. Padahal posisi ngompolnya sangat ‘strategis’, dari kasir nampak jelas, dan tak jauh dari pintu belakang khusus karyawan. Tepat di persimpangan antar rak pula. Kalau dibiarkan begitu saja, bisa-bisa orang terpeleset dibuatnya. Apa akal? Ya sudahlah, cuek saja. Anggap saja tidak terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tak ketahuan siapa-siapa—terutama staf Alfamart, saya gendong Damar sedemikian rupa sehingga celananya yang basah tak terlihat. Istri saya yang sedang melihat-lihat bedak bayi saya panggil. Saya serahkan seluruh belanjaan dan dompet pada istri, biar dia saja yang bayar ke kasir sekaligus sebagai alibi saya. Hehehe…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Magrib sebentar lagi. Dua wanita berseragam di kasir sudah kasak-kusuk menanyakan waktu berbuka. Istri saya membayar belanjaan, sengaja memakai uang pas biar bisa cepat pulang. Ya, juga supaya kami bisa cepat-cepat keluar dari Alfamart dan terbebas dari ‘tuduhan’ yang tentu bakal sangat memalukan bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran istri saya membayar. Yang kami beli cuma 2 botol sirup, beberapa bungkus mi instan, beberapa buah pampers, dan makanan ringan untuk camilan Damar. Proses pembayarannya cepat, terlebih karena istri membayar dengan uang kecil. Begitu istri menerima plastik belanjaan dan struk, saya tersenyum. Aman, bisik saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun berjalan ke pintu keluar. Saya membukakan pintu untuk istri, dan bergegas menyusul melangkah keluar begitu istri sudah melewati lubang pintu. Belum jauh dari pintu segera saya berikan Damar ke istri, saya sendiri cepat-cepat ke motor dan menghidupkannya. Adzan magrib terdengar, langit Pemalang sudah berubah kelabu. Saya memacu motor lebih kencang dari biasanya agar cepat-cepat sampai ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang saya dan istri masih sering tertawa sendiri bila mengingat kejadian tersebut. Berkat kejadian itu saya seolah memiliki ‘kedekatan emosional’ dengan Alfamart. Bukan berarti saya mau anak saya mengencingi Alfamart lagi &lt;em&gt;lho&lt;/em&gt;. Hehehe...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-3072734637821269840?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2011/12/true-story-kencing-di-alfamart.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><thr:total>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-5832413229746353897.post-4758539940267419328</guid><pubDate>Thu, 15 Dec 2011 17:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2011-12-16T00:10:00.390+07:00</atom:updated><category domain='http://www.blogger.com/atom/ns#'>Pernik</category><title>Membasmi Bau Ketek dengan Tawas</title><description>&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;&lt;center&gt;"Burket? Gak banget deh!"&lt;/center&gt;&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="dropcap"&gt;P&lt;/span&gt;ERNAH dengar &lt;i&gt;kan&lt;/i&gt; kalimat itu? Dulu kalimat tersebut sangat populer seiring dengan gencarnya iklan sebuah produk deodoran yang dibintangi artis belia Shandy Aulia. Kalimatnya mengena sekali karena "burket" alias "bubur ketek" adalah keluhan umum. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Begitu juga dengan "basket" alias "basah ketek", atau minimal "bauket" alias "bau ketek". Dan saya yakin setiap orang pasti jengkel dengan hal yang sangat tidak diinginkan ini. &lt;i&gt;So&lt;/i&gt;, bagaimanapun dan apapun caranya akan mereka lakukan agar terbebas dari "burket", "basket", ataupun "bauket".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class='iklanadsense'&gt;&lt;script type='text/javascript'&gt;&lt;!-- google_ad_client = "ca-pub-6326186393537805"; google_ad_host = "pub-1556223355139109"; /* Bungeko.com 300x250 */ google_ad_slot = "5526706084"; google_ad_width = 300; google_ad_height = 250; //--&gt;&lt;/script&gt; &lt;script src='http://pagead2.googlesyndication.com/pagead/show_ads.js' type='text/javascript'&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, iklannya Shandy Aulia tadi mempromosikan produk penghilang "burket", "basket", dan "bauket". Harganya &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; relatif bagi masing-masing orang, jadi saya tidak akan bilang ini murah atau mahal. Yang mau saya bahas di sini adalah efeknya yang agak mengkhawatirkan itu &lt;i&gt;lho&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah memakai produk yang diiklankan Shandy Aulia itu, dan juga produk sejenis, untuk beberapa waktu. Maklum, sebagai pria dengan "tingkat curah keringat tinggi", saya butuh sesuatu agar ketiak saya tidak berbau menyengat. Hasilnya ketiak saya memang tidak berbau lagi. Tapi efeknya ketiak jadi panas dan lama-kelamaan warnanya menjadi lebih gelap. Apakah Anda juga mengalami hal serupa? Saya tentu tidak tahu. Yang jelas semenjak itu saya menyetop pemakaian produk seperti itu meski "basket" plus "bauket" kerap menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="kutipan"&gt;&lt;img border="0" height="310" width="200" src="http://3.bp.blogspot.com/-_Byb_eaNL4A/TsZDPL0G23I/AAAAAAAAAq8/qgWj8c1b2BQ/s320/ketiak.jpg" /&gt;Ketiak kering dan bebas bau pangkal percaya diri. Percaya &lt;i&gt;deh&lt;/i&gt;.&lt;/span&gt;Ternyata, &lt;i&gt;eh,&lt;/i&gt; ternyata, ada satu solusi jitu untuk mengatasi persoalan ini. Konsepnya &lt;i&gt;back to nature&lt;/i&gt; karena sama sekali tidak memakai bahan kimia. Asli murni alami. Hasilnya? Tidak berbeda dengan yang pabrikan dengan merek terkenal dan iklan jor-joran &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;. Kalau Anda ingin bebas dari masalah "burket", "basket", atau "bauket" tapi tidak mau memakai produk pabrikan yang diiklankan di tivi dan koran, saya punya solusinya. Apa itu? Pakailah &lt;b&gt;tawas&lt;/b&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawas? Apa itu? Mungkin ada diantara Bung yang bertanya-tanya demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawas adalah semacam batu yang dulu dipakai oleh nenek moyang kita untuk menghilangkan bau ketek secara tradisional. Fungsinya seperti deodoran yang beredar di pasaran itu. Asal tahu saja, bahan dasar deodoran itu tawas &lt;i&gt;lho&lt;/i&gt;. Berhubung ini bahan alami, selain bau ketek yang menyengat hilang tanpa bekas, ketiak kita juga tidak akan terasa panas pada saat memakainya. Permukaan ketiak pun dijamin tidak akan bertambah gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada garansi? Tidak ada. Tapi saya sudah membuktikannya sendiri. Sudah sejak pertengahan 2006 saya memakai tawas untuk menghilangkan "burket", "basket", juga "bauket". Waktu itu istri--dulu masih tunangan--yang mengenalkan deodoran alami ini pada saya. Tanpa ragu, sayapun membuang deodorannya Shandy Aulia dan beralih ke tawas. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, manjur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt; kesannya kuno &lt;i&gt;banget&lt;/i&gt; ya pakai tawas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa bilang kuno? Kita saja yang suka sok modern dan menganggap budaya sendiri warisan leluhur sebagai hal yang ketinggalan jaman. Sebagai info, di Amerika Serikat sana malah ada satu perusahaan yang khusus memproduksi tawas sebagai deodoran. Hebatnya lagi perusahaan ini tidak hanya melayani pembeli dari AS, tapi juga seluruh dunia. Coba saja lihat situsnya di &lt;span style='color:#0000cc;'&gt;www.tawascrystal.com&lt;/span&gt;. Untuk melihat koleksi produk mereka bisa dilihat di &lt;span style='color:#0000cc;'&gt;www.tawascrystal.com/products/tawas.htm&lt;/span&gt;. Menariknya lagi, situs ini juga menerangkan apa itu tawas, dan mengapa kita sebaiknya memakai tawas dan bukannya deodoran sebagai penghilang bau ketiak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertarik menggunakan tawas sebagai deodoran pembasmi bau ketiak? Tak usah repot-repot pesan ke Amerika segala, di pasar-pasar tradisional ada banyak &lt;i&gt;kok&lt;/i&gt;. Harganya? Dijamin sangat bersahabat. Saya biasa membeli sebungkus tawas dengan harga Rp1.000 yang bisa dipakai hingga berbulan-bulan. Irit, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran? Makanya cobalah pakai tawas untuk membasmi bauket!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5832413229746353897-4758539940267419328?l=www.bungeko.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://www.bungeko.com/2011/12/membasmi-bau-ketek-dengan-tawas.html</link><author>noreply@blogger.com (Eko Nurhuda)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-_Byb_eaNL4A/TsZDPL0G23I/AAAAAAAAAq8/qgWj8c1b2BQ/s72-c/ketiak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></item></channel></rss>
